TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
36. Diajak ke Klub


__ADS_3

"Caren. Kamu lagi apa?" tanya tante Sekar diseberang telpon.


"Tadi lagi main ponsel tante. Ada apa tan?" tanyaku.


"Ikut tante yuk bentar. Jam 10 an kita pulang," ujar tante Sekar.


"Mau kemana tan?" tanyaku.


"Kita pergi ke klub. Biar kamu tahu klub yang tante kelolah." Jawab tante Sekar.


"Apa akan aman jika aku ikut tan?" tanyaku


"Tentu saja, orang tidak akan berani macam-macam, kalau tante ada disana." Jawab tante Sekar.


"Baiklah aku ikut,"


Aku memutuskan untuk ikut dan pergi menemani tante Sekar datang ke Klub.


"Suami tante mana?" tanyaku.


"Dia sudah pergi lebih dulu. Aku sudah bilang padanya kalau aku akan mengajak temanku pergi ke klub."


"Apa dia tidak keberatan?" tanyaku.


"Tidak. Oh ya, dia sudah memakan omelet yang kamu buat kemarin," ujar tante Sekar.


"Benarkah? apa dia menyukainya? takutnya tidak sesuai dengan selera suami tante," tanyaku.


"Dia nggak pilih-pilih makanan. Dia juga bilang omeletnya enak. Bahkan rasanya mengingatkan dia pada mantan istrinya dulu,"


Kini aku mengerti. Meski dia mendapatkan berondong, tapi ternyata pria itu seorang duda. Entah mengapa aku jadi berpikiran buruk tentang pria itu.


"Nanti akan tante kenalkan kamu sama suami tante. Tapi maaf kalau dia terlihat agak cuek dan sombong ya? dia punya masa lalu yang buruk, jadi agak trauma jika harus berdekatan dengan wanita,"


"Aneh sekali. Tapi kenapa dia tidak takut sama tante?" tanyaku penasaran.


"Yah...mungkin selain status istrinya, aku juga sudah dianggap seperti ibunya. Sebenarnya kalau di ceritakan secara lengkap, hubungan kami tidak seperti yang orang lain bayangkan. Apa kamu tahu? bahkan meski sudah menikah selama 3 bulan lebih, kami belum pernah melakukan hubungan suami istri,"


"Eh? kok gitu tan? apa tante yakin dia itu pria yang tulus? bahkan nafkah batin saja dia tidak mau kasih," tanyaku.


"Bukan dia yang nggak mau kasih. Tapi tante yang menolak. Dulu di awal-awal pertemuan kami, dia sudah aku anggap seperti adik bahkan seperti anakku sendiri. Dia pernah menyelamatkan tante dari perampokkan, dan sejak itulah aku ingin dia menetap di rumahku menjadi bodyguardku."

__ADS_1


"Karena tinggal satu atap tapi tidak ada ikatan, dia mungkin merasa kurang nyaman. Dan akhirnya menawarkan pernikahan. Tentu saja awalnya aku ragu. Tapi setelah aku pikir-pikir, apa yang ingin aku jaga dari dia. Harta tidak penting bagiku, yang penting ada yang menjagaku. Paling tidak saat aku mati, mayatku bisa ditemukan dalam keadaan baik."


"Apa tante mencintainya?" tanyaku penasaran


"Bagaimana ya tante menjelaskannya. Kalau tante bilang cinta, takutnya dibilang tidak tahu diri. Tante ini sadar betul sudah tua. Tante juga sudah mengalami menepouse. Jadi sangat merepotkan dia yang gairahnya masih meletup-letup."


"Lagipula penyakit yang tante derita membuat tante kehilngan selera untuk berhubungan seksual," sambung tante Sekar.


"Emang sebenarnya tante Sekar sakit apa sih?" tanyaku.


"Diabetes. Sekarang karena pengaruh obat, ginjal tante juga kena." Jawab tante Sekar.


"Tante," aku meraih tangan tante Sekar dengan wajag sedih. Entah mengapa melihat wajahnya, jadi mengingatkan aku pada mama. Aku berharap mama selalu sehat disana.


"Tidak apa. Setiap yang bernyawa pasti akan mati Sudah aku katakan, saat ini tante hanya ingin menikmati hidup dengan damai,"


"Hey...kenapa kamu menangis?" tanya tante Sekar.


"Aku kadang merasa malu pada diriku sendiri. Selama ini aku selalu banyak mengeluh, padahal disekitarku banyak pelajaran yang bisa kupetik,"


"Yah...inilah siklus kehidupan. Oh ya, apa kekasih gelapmu itu belum kamu temukan?" tanya tante Sekar.


Aku terkekeh mendengar pertanyaan tante Sekar yang mengatakan Dios seorang kekasih gelap.


"Jangan begitu. Menurut pandanganku, meski kalian salah. Tapi itu sudah takdir. Bukan kesalahan kalian sepenuhnya, karena keadaanlah yang membuat kalian melakukan kesalahan."


"Sekarang diantara kalian sudah punya anak. Jika kalian berjodoh, kalian pasti akan di pertemukan lagi," sambung tante Sekar.


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, kamipun tiba di salah satu klub terkenal. Klub itu berada tidak jauh dari mall terkenal di surabaya, yaitu tunjungan plaza.


"Kamu lihat bangunan megah itu?" tante Sekar menunjuk ke arah mall Tunjungan Plaza.


"Ya. Apa itu mall tante?" tanyaku.


"Betul. Sudah puluhan tahun tante tinggal di kota ini. Tapi kalau masuk ke mall itu terkadang masih suka sesat,"


"Kok bisa?" tanyaku.


"Mall itu sangat besar dan luas. Bahkan disana mereka mempunyai lebih dari dua bioskop." Jawab tante Sekar.


"Benarkah? mewah sekali," ujarku.

__ADS_1


"Nanti kapan-kapan tante akan ajak kamu belanja buat kebutuhan anak kamu," ujar tante Sekar.


Tante Sekar sangat baik. Selain ramah dan baik hati, dia juga bersikap keibuan. Hanya saja aku tidak mengerti, kenapa Tuhan memberikan dia cobaan tidak memiliki anak hingga saat ini.


Kami melangkah masuk ke dalam klub. Aku melihat penjaga klub bagian depan membungkukkan badan tanda hormat pada tante Sekar.


Tante Sekar meraih tanganku dan mengajakku berjalan beriiringan dengannya. Mungkin tante Sekar takut aku hilang, dan di culik om-om hidung belang.


Meski aku tidak mengenakan pakaian sexy, tapi aku masih terlihat cantik dengan gaun hitam yang aku kenakan. Dengan gaun hitam itu, perut buncitkupun tidak kelihatan.


"Kamu mau minum apa, biar kita pesan dulu. Nanti akan diantar ke ruang pribadiku," tanya tante Sekar.


"Softdrink saja." Jawabku.


"Oh iya, aku hampir lupa kalau kamu sedang hamil saat ini. Soalnya kamu kayak nggak kelihatan hamilnya," ujar tante Sekar sembari terkekeh.


Tante Sekar akhirnya memesan tiga softdrink dan beberapa camilan untuk kami nikmati di ruang pribadinya.


"Suami tante ada diruangan pribadi?" tanyaku.


"Ya. Dia sudah menunggu kita." Jawab tante Sekar.


Kamipun berjalan, dan menaiki lift menuju lantai atas. Setelah sedikit berjalan beberapa langkah kaki, kami akhirnya tiba di sebuah ruangan.


Tok


Tok


Tok


Tante Sekar menjaga sopan santunnya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Padahal menuruku itu tidak diperlukan, karena itu ruangan pribadinya sendiri.


"Masuk!"


Tante Sekar menekan handle pintu dan kamipun melangkah masuk.


"Sayang. Kami sudah datang," ujar tante Sekar yang memanggil suaminya dengan sebutan kata sayang.


Pria yang tengah duduk di kursi kebesaran itu membalikkan tubuhnya sembari berdiri untuk menyambut kedatangan kami. Namun saat dia melihat kearah kami, akupun cukup terkejut.


"Di-Dios,"

__ADS_1


Aku hanya bisa menyeru namanya dalam hati. Sementara mata pria itu cukup melebar saat menyadari keberadaanku. Mata itu perlahan meredup, mungkin dia tidak ingin istrinya tahu. Tante Sekar kemudian mencium bibir Dios sekilas, aku bergegas memalingkan wajahku. Hatiku sangat sakit saat ini, secepat kilat kuseka air mataku. Aku tidak ingin tante Sekar tahu kalau Dios pernah menjadi bagian dari hidupku.


__ADS_2