
Aku menciumi Marta disetiap inci wajah bayi itu, dengan air mata yang berurai. Dios tersenyum melihat Aku yang begitu menyayangi putranya itu.
"Kenapa tidak dari dulu aku dipertemukan denganmu sayang. Kamu adalah sosok wanita hebat dan kuat yang pernah aku miliki. Kamu juga keibuan, yang pastinya aku tidak akan khawatir membiarkan anak kita berada dibawah pengasuhanmu," batin Dios.
Dios mengelus puncak kepala Caren, kemudian membawa kepala itu dalam dekapannya.
"Caren. Kakak ingin minta maaf atas semua perbuatan yang kakak lakukan padamu selama ini," ujar Mia.
Aku menyeka air mataku, dan membawa Marta duduk disalah satu sofa. Dios kemudian duduk disebelahku, sembari mengelus-elus pipi Marta yang gembul.
"Iya Ren. Kakak juga minta maaf sama kamu. Sungguh kami khilaf," timpal Rudi.
"Sudahlah kak. Yang penting kalian sudah dengan tulus meminta maaf dan mengembalikan Marta pada kami. Capek kalau membuat hal ini sampai kemeja hijau. Kalau bisa berdamai, kenapa tidak?" ucap ku sembari tersenyum.
"Kok gitu yank? kamu nggak mau minta pendapatku gimana? aku ini papanya Marta loh. Dia sudah membuat Martaku kehilangan kasih sayang orang tuanya dalam beberapa hari," ucap Dios.
"Sudahlah kak. Capek ribut-ribut. Aku cuma mau hidup tenang bersama anakku," ujar Caren.
"Sama aku nggak?" tanya Dios.
"Ya. Sama kakak juga." Jawabku.
"Ya ampun Di. Ingat umur kali Di. Kekanakkan!" ucap Rendy.
"Syirik aja yang digedein," ucap Dios.
"Emm...ja-jadi gimana dengan mama kami Ren? kamu mau kan mencabut tuntutan kamu terhadap mama?" tanya Rudi.
"Mas...." Rendy merasa tidak enak hati padaku. Karena walau bagaimanapun Mamanya tetap bersalah, dan banyak melakukan tindak pidana terhadapku.
"Tidak apa kak. Bagiku semuanya sudah lewat. Meski tante berbuat salah, tapi itu dia lakukan demi kakak juga. Sekarang tante pasti sudah menyadari kesalahannya, itu yang paling penting sekarang ini," ujarku.
"Hah...aku nggak tahu kenapa mama nggak bisa melihat ketulusan dan kebaikkan kamu sejak awal. Kalau seandainya beliau cepat merestui, pasti kita sudah jadi suami istri sekarang," ucap Rendy dengan memberikan lirikkan maut pada Dios.
"Bisa saja. Tapi dalam mimpi ya?" ejek Dios.
"Belagu sekarang loe Di. Waktu itu aja mewek terus kayak bencong," ucap Rendy sembari mencebikkan bibirnya, dan dibalas kekehan oleh Dios.
Kami memutuskan untuk ke kantor polisi bersama-sama. Pikiranku sudah bulat untuk mencabut gugatan terhadap tante Leni. Tante Leni akhirnya dibebaskan dari tahanan.
"Caren. Tante benar-benar minta maaf sama kamu. Gara-Gara kesombongan tante, kamu jadi terpisah dengan Marta beberapa waktu," ujar tante Leni sembari menggenggam erat kedua tanganku.
"Sudahlah tante. Semuanya sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupku. Sekarang tante juga tidak perlu khawatir atau salah paham lagi tentang hubunganku dengan kak Rendy. Kami cuma berteman, karena aku sudah memiliki orang yang aku cintai sendiri,"
Dios yang merangkul pundakku, mengelus-elus lenganku.
"Terima kasih Caren. Sungguh kamu berjiwa besar. Seandainya itu berada di posisi tante, belum tentu tante mau memaafkan dengan mudah," ucap tante Leni.
"Itulah kenapa semua pria menyukainya. Termasuk anak anda. Karena Caren memiliki hati yang baik. Itulah sebabnya aku sangat mencintai dia," ujar Dios dengan bangga.
__ADS_1
Setelah keluar dari kantor polisi, kamipun memutuskan untuk makan siang bersama disalah satu restauran. Banyak hal yang kami perbincangkan disana. Aku membiarkan kan Mia menggendong Marta sepuasnya.
"Di. Loe kumpul kebo lagi?" bisik Rendy.
"Kumpul kebo apa maksdumu?" bisik Dios.
"Tinggal serumah, seranjang bersama, Keramaspun satu kamar mandi yang sama," bisik Rendy.
"Boro-Boro bro. Yang ada kami pisah kamar. Dia nggak mau gue sentuh. Padahal udah pengen banget nyelup," bisik Dios.
"Bokis loe,"
"Suwer. Pusing kepala atas dan bawahku," ucap Dios.
"Kenapa dia nggak mau? kan udah biasa juga kalian gituan," bisik Rendy.
"Ini gara-gara mantan biniku yang terakhir itu. Ternyata wanita kalau udah cemburu sangat berbahaya bro,"
"Lagian loe ada-ada aja. Nenek-Nenek loe goyang juga," bisik Rendy sembari terkekeh.
"Sialan loe," Dios memukul bahu Rendy.
Kalian bisik-bisik apa sih?" tanyaku yang penasaran, saat melihat Dios dan Rendy yang bisik-bisik sejak tadi.
"Nggak tahu nih Rendy. Pertanyaannya sangat aneh." Jawab Dios.
"Kok aku?"
"Dios sialan loh. Gimana kalau ibunya dengar? kapan gue nanya gitu? teman sialan," ucap Rendy setengah berbisik.
Mata kami jadi menoleh kearah ibu-ibu yang memiliki berat tubuh berlebih. Aku jadi mencubit paha Dios sedikit lebih keras.
"Auuuu sayang sakittt...." Dios setengah berteriak.
"Kamu kan yang memperhatikan tuh dada ibu-ibu?" aku berbisik diteliga Dios.
"E-Enggak!" elak Dios.
"Jujur aja. Dasar kamu, sudah ketagihan dengan ibu-ibu ya? hukumanmu ditambah jadi 5 tahun," bisikku.
"Ampun yank jangan! 3 tahun aja sudah beku calon anak kita didalam. Apalagi 5 tahun? aku bisa-bisa jadi sama kayak patung malin kundang," bisik Dios.
Tante Leni dan om Suwito cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan kami.
Setelah kami makan siang bersama, kami memutuskan untuk kembali kerumah kami masing-masing.
"Sayang. Aku pergi keluar sebentar ya?" ucap Dios, saat kami baru sampai di rumah
"Kita kan baru sampai? kok pergi lagi?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Ini urusan WO. Ada klien baru lagi,"
Aku mengerti Dios saat ini sudah jadi orang sibuk. Akupun mengizinkan dia untuk pergi. Selang 1 jam Dios pergi, diapun kembali. Namun ada yang aneh saat dia masuk ke kamarku, wajahnya itu tampak berseri-seri.
"Ada apa kak? kelihatannya senang sekali," tanyaku yang penasaran.
Bukannya menjawab, pria itu malah berlutut didepanku sembari memberikan sebuket bunga mawar merah dari balik punggungnya. Namun bukan bunga itu saja yang membuat pipiku merona, tapi karena Dios menyodorkan sebuah cincin emas putih untuk melamarku menjadi istrinya.
Ah...betapa aku sangat bahagia sekali. Setelah melalui badai dan cobaan yang panjang, akhirnya kami disatukan kembali.
"Kamu mau kan jadi istriku?"
Pertanyaan Dios itu membuat kepalaku. mengangguk dengan cepat. Diiringi air mataku yang merebak. Setelah cincin indah itu tersemat dijariku, aku langsung berhambur kepelukkannya. Dan sesaat kemudian kami saling berpagut mesra sebagai pengerat hubungan cinta kami.
"Kapan kita kembali ke kot J?" tanya Dios.
"Ke kota J? buat apa?" tanyaku yang lula sama sekali, bahwa menikah masih membutuhkan wali.
Aku melihat Dios menghela nafasnya dengan berat. Dios kemudian mengajakku duduk di tepi tempat tidur, untuk berbincang.
"Sayang. Aku itu sangat mencintaimu. Aku ingin mendapatkanmu dengan cara benar. Kita harus kembali ke kota J, karena aku ingin sekali mendapatkan restu kedua orang tuamu." Jawab Dios.
Air mata haruku kembali merebak. Dios dengan sabar menyeka air mataku yang seolah masih banyak stoknya itu.
"Ta-Tapi bagaimana kalau papa dan mama tidak merestui kita? mereka sudah membuangku. Mereka tidak menginginkan aku lagi sebagai anak," tanyaku sembari terisak.
"Akulah yang salah dalam hal ini. Aku harus bertanggung jawab. Karena aku, kamu terusir dari rumah. Akulah yang telah mengacaukan hidupmu," ucap Dios.
"Kita berjuang bersama ya? pokoknya kita harus sabar. Meskipun papamu memukulku, kamu jangan marah. Biarkan dia melampiaskan semuanya padaku. Tapi aku sangat berharap setelah melihat Marta, hati mereka luluh dan menerimaku sebagai menantunya," sambung Dios.
"Aku takut sekali papaku memarahimu, memakimu atau bahkan memukulmu. Kamu tidak tahu saja, betapa kerasnya dia,"
"Tidak masalah. Wajar saja kalau beliau kesal padaku. Mungkin kalau aku diposisinya, aku juga begitu. Siapa yang tidak marah kalau anaknya dihamili,"
Aku menepuk bahu Dios, karena pria itu terlalu fulgar menurutku.
"Sayang,"
"Hem?"
"Pengen." Jawab Dios.
"Pengen apa? mintak ditabok?"
"Ckk...apa perkataanmu itu sungguh-sungguh membuatku tersiksa selama 3 tahun?" tanya Dios.
"Tentu saja. Kamu buktikan saja ucapanku itu main-main atau serius,"
Sejujurnya aku ingin sekali tertawa saat melihat Dios yang tampak frustasi. Bukan aku tidak peka akan keinginanya itu. Tapi aku ingin hubungan kami kali ini dimulai dengan benar. Bukan sekedar mementingkan nafsu. Ya meski tetap saja, disetiap kesempatan yang mendukung, kami selalu berciuman mesra. Tapi kalau untuk lebih dari situ, aku menolaknya dengan tegas.
__ADS_1
"Sabar ya sayang? aku akan memberikan kamu hak sepenuhnya setelah kita menikah. Hubungan kita tadinya diawali dengan kesalahan, jadi kali ini aku ingin memulainya dengan kebenaran,"
Ucapanku itu seperti angin segar bagi Dios. Pria itu kemudian kembali memagut bibirku dengan mesra.