TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
26. Basah


__ADS_3

Seminggu janji Delano pulang, seminggu pula Dios mebuatku basah. Entah apa dia yang ketagihan, atau aku yang kegatalan. Yang pasti aku benar-benar merasa puas bermain dengannya.


Baru saja Delano mengabariku, dia akan kembali besok pagi. Dan entah mengapa hatiku jadi gelisah saat ini. Aku melirik jam dinding rumahku, dan waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku menyibak tirai jendela rumahku, dan aku lihat rumah Dios masih tampak gelap. Yang artinya Dios belum pulang bekerja.


Aku putuskan membuat puding coklat. Menghabiskan sisa bahan yang ada di kulkasku. Aku berniat membuat puding itu untuk menyambut kepulangan Dios.


Setelah pudingku jadi, aku mendengar motor Dios datang dihalaman rumahnya. Aku bergegas keluar, dan membawa puding hasil karyaku.


"Kak," aku menyapanya dengan senyuman.


"Sayang. Apa yang kamu bawa?" tanya Dios setelah mencium keningku.


"Puding coklat." Jawabku.


"Wah...pasti enak ini," ujarnya.


"Tapi kita masukin kulkas dulu kak. Lebih enak dalam keadaan dingin,"


"Baiklah sayangku," ujar Dios


Dios membuka pintu rumahnya setelah memasukkan kunci kelobang pasangannya. Aku kemudian meletakkan puding kedalam kulkasnya.


Dios memelukku dari belakang, dan bermain di ceruk leherku. Aku menghadap kearahnya, dan kemudian kami kembali berciuman mesra. Entah kenapa aku merasakan sedih saat ini, dan Dios bisa merasakannya lewat ciuman kami.


"Ada apa. Hem?" tanya Dios.


"Besok Delano pulang." Jawabku.


"Oh...jadi kamu mulai tidak mengharapkan kepulangan suamimu lagi. Hem?" tanya Dios sembari terkekeh.


Aku tidak menjawab ucapannya, sebagai gantinya aku mendekap hangat tubuhnya. Dios mencium puncak kepalaku, sungguh aku merasa disayang olehnya.


"Kamu tenang saja. Meski suamimu pulang, kita masih bisa saling berhubungan," sambung Dios.


Ah...dia sungguh tidak tahu. Bukan itu sumber kesedihanku. Jujur saja, aku sudah mulai terbiasa dengannya. Aku benar-benar menikmati tiap kali bercinta dengannya.


Aku menjauhkan diriku darinya, dan memasang senyum terbaikku.


"Mandilah kak. Tubuh kakak bauk asem," aku berpura-pura memegang hidungku.


"Emm...sepertinya kita belum pernah mencoba di kamar mandi," ujar Dios sembari mengedipkan matanya kearahku.


"Apaan sih kak?" aku merona dengan ucapannya.


Tanpa basa basi dia menggendongku dan membawaku masuk ke kamarnya. Dia melucuti pakaian kami, dan menarikku masuk kedalam kamar mandi.


Zrassssss

__ADS_1


Dios memutar kran shower. Meskipun kamar mandi itu belum memiliki bathup, tapi kamar mandi itu memiliki shower. Dios mengajakku berbasah-basahan dibawah sana, sembari kami berpagut mesra. Sungguh suasana itu sangat romantis menurutku. Suasana yang tidak pernah aku dapatkan saat bersama dengan Delano.


Dios kemudian membuatku berpegang pada dinding kamar mandi. Dia kemudian memasukiku dari arah belakang, dan mulai memompaku perlahan. Oh...ini benar-benar terasa nikmat aku rasakan. Dios sangat pandai membuat diriku melayang. Aku memutuskan akan bermain sepuasnya hari ini, karena besok aku akan segera pergi.


Aku menarik tangan Dios, dan merebahkan tubuh pria itu diatas tempat tidur.


"Sayang. Ada apa denganmu hari ini? kelihatannya berga*rah sekali. Hem?" tanya Dios.


Aku sama sekali tidak menjawab ucapannya. Aku langsung meraih kejantanannya, dan menenggelamkannya kedalam liang basahku.


"Ah...sayang...aku menyukainya. Bergeraklah lebih cepat," lengguh Dios


Aku menuruti ucapannya. Aku menaik turunkan pinggulku, dan Dios tambah meracau dibawahku.


"Ah...sayang terus...."


Aku semakin mempercepat gerakkanku, karena aku sendiri sudah merasa akan segera mengerang.


"Emmpptt...ah...ah..."


Aku akhirnya ambruk diatasnya, setelah pelepasanku yang kedua kalinya sudah datang. Dios mencium keningku, dan sedikit mengangkat bokongku. Pria itu kemudian menghujamkan miliknya dari arah bawah, dan aku kembali melengguh nikmat.


Dios berkali-kali mengganti posisi kami, dan berkali-kali pula suaraku melengking saat mendapat pelepasan yang kesekian kalinya. Dan tidak berapa lama kemudian, Diospun mendapatkan pelepasannya.


Hosh


Hosh


Hosh


"Kakak sudah makan?" tanyaku.


"Belum." Jawabnya.


"Kita makan mie instan saja. Mau?" tanyaku.


"Tentu saja. Panggil aku setelah selesai," ujarnya.


Aku melilitkan handuk ditubuhku dan pergi kedapur setelah mencuci milikku yang dipenuhi lelehan Ca*ran cinta milik Dios.


Aku memasak dua bungkus mie instan kuah, dengan dua butir telur ceplok di dalamnya. Setelah selesai aku memanggil Dios, untuk makan bersama. Aku makan dengan masih menggunakan handuk, sementara Dios makan dengan menggunakan celana boxer tanpa baju. Namun setelah makan hal tak terdugapun terjadi, Dios mengangkat tubuhku, dan kemudian melepas handukku dan boxernya. Dia meletakkan aku diatas meja. Ini sungguh benar-benar gila dan sangat menyenangkan.


"Ah...kak...."


Aku melengguh berkali-kali, saat pria itu menghujam keras milikku. Kami kembali bertukar keringat, hingga kami sama-sama puas dengan permainan itu. Dan tidak terasa kami bermain hingga jam 10 malam.


"Kak. Aku pulang ya?"

__ADS_1


"Nanti. Aku masih kangen," rengeknya sembari kami berpelukkan diatas sofa, setelah mengakhiri percintaan kami diatas meja.


"Aku takut ketiduran. Besok pagi Delano pulang," ujarku.


"Tidakkah kita bermain sepuasnya? nanti subuh akan aku antar pulang,"


"Jangan gila." Aku mendorong dadanya dan kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaianku.


Grepppp


Dios memelukku dari belakang, dan meletakkan dagunya di ceruk leherku.


"Rasanya aku tidak rela dia menyentuhmu lagi," ujar Dios.


"Inilah yang aku takutkan dari hubungan terlarang ini. Kita menjadi tamak dan rakus, sehingga timbul niat yang tidak baik,"


"Maaf," ujarnya lirih.


Cup


Aku mencium bibirnya sedikit lebih lama. ingin sekali aku katakan padanya, agar dia menjaga dirinya saat kepergianku nanti. Aku kemudian memeluk tubuh kekar Dios dengan erat. Begitu berat rasanya aku meninggalkan dia. Dan tanpa sepengetahuannya, aku seka air mataku namun masih saja ketahuan olehnya.


"Hey... ada apa? kenapa kamu nangis?" tanya Dios sembari menyeka sisa air mataku.


"Tidak apa-apa. Aku cuma lelah." Jawabku.


Cup


Dios mencium keningku, dan membawaku kembali dalam dekapannya.


"Maaf. Harusnya aku tidak memforsir tenagamu, karena melayani nafsu besarku. Terkadang aku sampai lupa diri saat bercinta denganmu,"


"Apa saat bersama Vika kamu juga begitu?" tanya ku.


"Tidak. Kami tidak pernah melakukannya lebih dari sekali meskipun aku ingin." Jawab Dios.


Aku tersenyum tipis. Ada rasa bangga dihatiku, karena aku wanita satu-satunya yang bisa memenuhi nafsu besarnya itu.


"Kak. Seandainya suatu saat kita berpisah, aku mohon kamu harus hidup jauh lebih baik dari ini. Jangan bersedih, apalagi sampai menangisiku,"


Dios tiba-tiba menjauhkan tubuhku darinya, sembari mencengram erat pundakku.


"Berjanjilah kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Aku rela menjadi pria simpananmu sampai maut memisahkan kita. Berjanjilah," ujar Dios.


"Ya. Aku berjanji,"


Dios kembali membawaku kedalam pelukkannya, dan mencium puncak kepalaku berkali-kali.

__ADS_1


"Maafkan aku kak. Maafkan aku,"


Aku mengeratkan pelukkanku pada tubuh kekar Dios. Sungguh saat ini aku merasakan sedih yang sangat luar biasa.


__ADS_2