TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
59. Obat Gelisah


__ADS_3

Dios yang gelisah segera menghubungi Rendy. Dia tidak tahu apa hubungannya menghubungi Rendy dengan rasa gelisahnya itu.


"Ya Di?" tanya Rendy diseberang telpon.


"Bagaimana temanmu itu? apa sudah lahiran?" tanya Dios.


"Sudah. Anaknya laki-laki, sehat selamat." Jawab Rendy sembari mengedipkan mata kearahku.


"Ah...syukurlah," ujar Dios.


"Kenapa? kamu kayak yang lega gitu kedengarannya," tanya Rendy.


"Aku nggak tahu kenapa hatiku sangat gelisah, dan nggak tahu pula kenapa setelah mendengar temanmu lahiran gelisahku jadi hilang." Jawab Dios.


"Mungkin karena orang yang kamu cintai itu juga melahirkan dibulan ini, kamu jadi merasakan hal seperti itu," ujar Rendy.


"Mungkin. Ya sudah ya, kayaknya ada klien baru lagi yang datang," ujar Dios.


"Wah...selamat ya?"


"Mungkin ini rejeki anakku. Aku ingin ngumpulin duit buat pendidikkan anakku nanti."


"Amiin,"


Percakapan itu berakhir dengan senyum merekah dibibir Dios.


"Siapa?" tanyaku pada Rendy yang tengah menerbitkan senyum dibibirnya.


"Teman baruku. Sama sepertimu, dia sedang menunggu orang yang dia cintai lahiran. Tapi sayangnya orang yang dia cintai itu entah dimana,"


"Loh kok gitu? mereka bertengkar?" tanyaku penasaran


"Bisa dibilang begitu. Pokoknya rumitlah kisah cintanya dia. Beruntung aku sedang berada ditempat kerjanya, jadi aku langsung pinjam mobilnya buat ngantar kamu,"


"Kalau gitu kapan-kapan aku harus ngucapin terima kasih sama dia," ujarku.


"Tentu. Oh ya...emmm nanti mas Rudi dan mbak Mia akan kesini menjengukmu,"


"Oh ya? makasih, maaf sudah merepotkan mereka."


"Tidak masalah. Emm....Ren,"


"Hem?"


"Nanti kalau Mas Rudi dan mbak Mia kesini bicara yang membuat kamu tersinggung, maklumi saja ya?"

__ADS_1


"Ada apa kak?" tanyaku penasran.


"Waktu itu dia pernah minta tolong sama aku, buat menyampaikan maksudnya yang ingin mengadopsi anak kamu. Aku tahu kamu sangat menyayangi anakmu, dan nggak mungkin mau dipisahkan. Jadi kalau dia ngomong yang aneh-aneh nggak usah didengarkan ya?"


"Aku mengerti.Tidak masalah, itu mungkin pembawaan mereka yang sudah menginginkan seorang anak,"


Belum kelar obrolan kami, Kak Rudi dan kak Mia membuka handle pintu untuk menjengukku.


"Ren. Selamat ya?"


Kak mia tersenyum senang dan mengucapkan selamat padaku.


"Makasih kak. Maaf sudah merepotkan kalian menjengukku,"


"Tidak apa. Kami sudah menganggapmu keluarga. Kamu setelah ini mau bagaimana? apa kamu ingin mengurus anakmu sendiri?" tanya Mia.


"Iya kak." Jawabku seadanya.


"Bagaimana caranya? kamu tidak mungkin mengurus anak melulu, tanpa mencari nafkah untuk menghidupi dia," tanya Mia.


Aku melirik kearah Rendy. Aku merasa obrolan kami sudah mulai mamanas. Rendy hanya memberikan kode anggukkan kearahku.


"Aku masih memiliki sedikit tabungan. Mungkin kedepannya aku akan membuka usaha kecil-kecilan." Jawabku.


"Maksud kakak. Kalau kamu memang nggak sanggup, kakak saja yang mengadopsi anakmu. Kamu harus pikirkan juga pendidikkan dia kedepannya," ucap Mia.


"Aduh...kalau kamu butuh ayah dari anakmu, tentu kamu nggak akan berada di kota ini. Mungkin dia juga lagi sibuk membuat anak yang baru dengan istri mudanya. Kita sebagai orang tua juga nggak boleh egois. Pikirkan mental anak. Bagaimana perasaannya saat dia tahu lahir tanpa seorang ayah,"


Sungguh ucapan kak Mia begitu mengusik perasaanku. Rendy yang melihat mataku sudah berkaca-kaca jadi tidak enak hati.


"Mbak bicara seperti itu karena mbak nggak pernah merasa jadi seorang ibu. Tidak ada seorang ibu yang mau dipisahkan dari anaknya," timpal Rendy.


"Rendy. Jaga bicaramu. Dia mbakmu!" hardik Rudi.


"Kenapa saat istrimu bicara yang tidak-tidak mas diam saja? istri juga perlu diberitahu kalau sedang melakukan kesalahan. Bukan malah diam-diam mendukung apa yang dia lakukan."


"Caren ini orang lain bagi kita. Kita baru mengenalnya, tapi kita malah meminta hal yang berharga dari dia. Hal yang kalianpun tahu bagaimana perjuangannya selama ini agar bisa bertahan demi anaknya. Kalau kalian menginginkan anak, sebaiknya adopsi di panti asuhan saja," sambung Rendy.


"Kak sudahlah. Tahan emosimu, aku nggak apa-apa kok." Aku merasa tidak enak hati, karena aku, mereka jadi bertengkar sesama saudara.


"Sayang. Ayo kita pulang," ujar Mia.


"Mbak. Aku minta maaf ya?"


Aku sempatkan meminta maaf pada pasangan suami istri yang tidak menggubris ucapanku sama sekali, dan pergi begitu saja dari ruanganku.

__ADS_1


"Caren. Aku minta maaf atas nama mas Rudi dan mbak Mia. Kamu pasti jadi tidak enak hati setelah mendengar ucapan kasar mereka," ucap Rendy.


"Nggak apa kak. Ucapan mereka ada benarnya juga. Mereka tentu tidak tahu persiapanku menyambut kelahiran anakku bagaimana. sudahlah tidak usah diperpanjang, nggak enak. Aku ngerti perasaan mereka yang sudah sangat ingin memiliki anak,"


"Terus terang aku malu sama kamu," ujar Rendy.


"Apaan sih kak. Kayak ngomong sama siapa aja. Kalian itu sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri,"


Rendy menatapku dengan tatapan tidak biasa. Aku memalingkan wajahku, karena aku tidak ingin salah menafsirkan arti tatapannya padaku. Walau bagaimanapun aku menyadari kekuranganku apa. Sebagai seorang janda beranak satu, tidak mungkin bisa memikat perjaka tampan dan seorang abdi negara hebat seperti dia.


"Aku rasa wajah anakmu tidak mirip kamu," ujar Rendy.


"Yah...wajahnya semua milik ayahnya. Sungguh tidak adil bukan?"


"Kok gitu?" tanya Rendy.


"Yalah nggak adil. Aku yang ngandung, aku yang merasa sakit melahirkan, tapi wajahnya nggak ada mirip aku. Kesel deh," aku mengerucutkan bibirku, sementara Rendy jadi terkekeh.


"Itu mungkin disebabkan kamu benci sama ayahnya, atau malah karena sering merindukan dia." Jawab Rendy.


"Rindu apaan. Sudahlah nggak usah bahas dia lagi. Aku dan dia suatu ketidakmungkinan lagi."


"Jangan begitu. Rahasia Tuhan itu nggak ada yang tahu," ucap Rendy.


Aku terdiam. Aku jadi teringat dengan Dios. Namun disaat bersamaan aku jadi terngiang-ngiang suara panas dari mulut Sekar saat mereka sedang bercinta di siang itu. Yang membuat moodku kembali buruk saat mengingatnya.


Kriekkkkk


Suster yang baru ganti aplusan terlihat masuk sembari membawa tensi ditangannya.


"Ibu. Apa adik bayinya sudah diajari menyusui?" tanya suster.


"Belum sus." Jawabku apa adanya.


"Mulai diajarkan ya bu. Biar asinya lancar. Semakin sering dihisap, nanti asinya semakin banyak keluar. Nanti istrinya dibantu ya pak?"


"Eh?" aku melihat wajah Rendy memerah karena malu. Aku sekuat mungkin menyembunyikan tawaku saat melihat ekspresi aneh diwajahnya.


Suster itu kemudian memeriksa tekanan darahku sekitar hampir 1 menit.


"Tensinya normal ya bu. 110/ 80. Apa mau saya bantu buat ngajarin menyusui?" tanya Suster.


"Boleh sus." Jawabanku membuat mata Rendy jadi melotot dan aku kembali mengulum senyumku.


"A-Aku keluar sebentar ya?" tanya Rendy.

__ADS_1


"Ya." Jawabku singkat.


Rendy segera ngacir saat melihatku mulai melepas kancing bajuku satu persatu, dan tawaku jadi lepas, saat melihat pria itu sudah keluar dari ruanganku.


__ADS_2