TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
88. Trauma


__ADS_3

Sejak meninggalnya Delano kesehatanku sudah dua hari ini memburuk. Rasanya bayang-bayang Delano jadi menghantuiku. Aku selalu terbangun di tengah malam, dan menangis seorang diri. Begitu besar rasa bersalah yang aku rasakan pada mantan suamiku itu, hingga aku merasa terjebak pada rasa bersalah itu sendiri.


"Sayang. Kamu harus makan ya?" tanya Dios dan langsung kujawab dengan gelengan kepala.


Kuakui Dios sangat sabar menghadapiku yang tengah mogok apopun sekarang ini. Aku benar-benar lupa kalau saat ini ada anak yang sedang aku kandung.


"Sayang. Coba kamu lihat aku! tatap mataku," ujar Dios sembari meraih kedua sisi wajahku. Aku melihat wajah Dios dan menatap mata suamiku itu.


"Apa kamu tidak khawatir kalau aku akan cemburu melihatmu yang seperti ini? sudah dua hari kamu mengabaikanku, mengabaikan Marta. Bahkan kamu juga mengabaikan kedua anak kita yang ada dalam perutmu. Kasihan mereka yank,"


"Sampai kapan kamu mau seperti ini? kalau dengan kematian bisa membuatmu mengingatku, lebih baik aku nyusul si Delano saja,"


Hap


Aku langsung menutup mulut Dios dengan telapak tanganku. Air mataku mengucur sembari menggelengkan kepalaku. Aku kemudian berhambur kepelukkan Dios sembari terisak. Dios membelai rambutku dan sesekali mencium puncak kepalaku.


"Maafin aku," ucapku disela isak tangisku


"Akan aku maafkan kalau kamu menghabiskan makanannya," ujar Dios yang langsung kuangguki dengan kepalaku.


Dios kemudian dengan telaten menyuapiku makan hingga habis. Setelah selesai mkan aku langsung menggenggam tangan Dios.


"Sayang. Kita besok pulang ke Yogya ya?" tanyaku.


"Kok tiba-tiba? kamu nggak mau melepas kepergian Delano selama 7 hari dulu?" tanya Dios dan langsung kujawab dengan gelengan kepala.


"Kenapa. Hem?" tanya Dios.


"Aku takut kamu cemburu." Jawabku asal padahal bukan itu alasan yang sebenarnya.


Mendengar jawabanku itu, Dios jadi terkekeh.


"Sayang. Aku nggak sepicik itu. Lagipula aku yang merebut kamu dari dia, seharusnya aku yang minta maaf sama dia. Tapi sayangnya aku nggak punya kesempatan buat bilang seperti itu sama dia," ucap Dios.


"Kenapa harus terburu-buru jika memang kamu masih ingin disini. Aku nggak apa-apa kok," sambung Dios.


Aku menghela nafas berat. Justru sebenarnya aku tidak mau lama-lama disini. Berada di kota ini membuatku semakin teringat padanya, dan semakin aku teringat akan penghianatanku padanya. Dan saat aku teringat itu semua, rasa bersalahku akan kembali mencuat.


"Tidak kak. Aku ingin cepat pergi dari kota ini. Sore ini kita pergi ke rumah mamanya Delano buat berpamitan. Mungkin kita akan kembali dalam jangka waktu yang lama. Kita pergi juga berkunjung ke pusara Delano," ujarku.


"Baiklah. Sekarang kamu istirahat ya! sudah dua hari kamu kurang tidur. Biar aku nyuapin makan Marta dulu," ujar Dios.


"Emm." Aku mengangguk dan menuruti saran Dios.


Dios kemudian membantuku berbaring dan menarik selimut untukku. Karena sudah dua hari kurang tidur, maka aku sangat cepat terlelap.


Waktu menunjukkan pukul 3 sore, saat Dios membangunkanku. Dia tidak ingin kemalaman saat mengunjungi pemakaman Delano dan rumah kedua orang tua mantan suamiku itu. Aku bergegas bangun, dan membersihkan diri agar terlihat segar. Setelah itu kami pergi kepemakaman lebih dulu.

__ADS_1


"Ano. Aku datang lagi untukmu. Apa kamu baik-baik saja disana? aku harap Tuhan membukakan pintu maaf padamu seluas-luasnya untuk orang baik sepertimu. Mungkin kata-kataku ini sudah sangat terlambat, tapi aku benar-benar minta maaf untuk semua dosa-dosaku terhadapmu selama kita masih menjadi suami istri. Aku juga sudah memaafkan semua kesalahanmu Ano."


"Besok rencananya aku akan kembali ke Yogya. Aku akan memulai hidup baru disana bersama suami dan anak-anakku. Nanti aku akan mengunjungimu lagi setiap aku pulangn ke kota J. Tenang disana ya No? semoga kamu tenang disisi-Nya," tubuhku bergetar karena terisak. Aku tidak bisa melupakan saat-saat indah bersamanya, dan semua kebaikkannya padaku selama ini.


Dios merangkul pundakku yang bergetar, untuk menenangkan aku yang lagi-lagi merasa bersalah. Dios bahkan membantu menyeka air mataku dengan selembar tisu yang mungkin dia sudah siapkan sejak tadi.


Setelah aku cukup lega menumpahkan semua beban dihatiku, aku dan Dios pergi dari situ dan melanjutkan perjalanan kami ke rumah orang tua Delano. Sama denganku, ternyata mama Delano tengah terguncang saat ini. Saat aku datang, dia langsung memelukku sembari terisak.


Aku melihat ada perubahan di rumah itu. Diruang tamu banyak sekali terdapat foto Delano yang terpajang. Bahkan ada juga foto pernikahan kami yang dicetak dalam ukuran besar. Sejujurnya aku jadi merasa tidak enak hati pada Dios. Aku takut dia keberafa. akan hal itu. Aku menoleh kearahnya, namun dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Ada satu lagi yang terlihat perubahan baru. Kini orang tua Delano sudah berani membuka jendela dan pintu tanpa takut digunjing orang lagi. Tetangga orang tua Delano juga sudah mulai ramah lagi dengan keluarga Delano Mungkin mereka sudah menyadari kekeliruan mereka.


"Ma. Caren kesini karena besok Caren dan suami mau terbang ke Yogya," ujarku saat melerai pelukkanku dengan mantan mama mertuaku.


"Secepat itu?" tanyanya yang terlihat sekali ada aura terkejut.


"Iya ma. Suami Caren sudah terlalu lama meninggalkan usahanya. Kalau lagi ramai, karyawannya suka kelabakkan. Kalau ada Dios, mereka tidak perlu bingung untuk mencari solusi jika ada masalah." Jawabku seadanya.


"Iya juga ma. Nggak mungkin Caren lama-lama disini. Orang tuanya nggak ada yang ngurus kalau gitu," timpal papa.


Terlihat mama menghela nafas. Terlihat sekali kalau wanita parubaya itu sangat berduka sekali kehilangan Delano. Karena walau bagaimanapun, Delano putra satu-satunya , dia pasti sangat merasa kehilangan Delano.


"Ya sudah. Hati-Hati kalau gitu," ujar Mama.


"Tadi sebelum kesini Caren sempat mampir ke pemakaman Delano. Caren janji, saat kembali kesini nanti, aku akan mengunjungin makamnya Delano dan juga mengunjungi mama," ucapku.


"Pasti ma." Jawabku.


Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya kami berpamitan pada orang tua Delano untuk pulang ke rumah. Kami akan menyiapkan pakaian buat keberangkatan kami besok.


"Aku minta maaf ya kak. Karena orang tua Delano memajang foto pernikahan kami di ruang tamunya. Aku tidak menyangka kalau mereka akan begitu," ujarku.


"Kenapa harus minta maaf? aku mengerti perasaan orang tuanya. Mungkin dengan berbuat demikian, rasa bersalah dan kehilangan bisa mengobati duka yang mereka rasakan."


Aku membaringkan kepalaku diatas pangkuan Dios. Dios dengan lembut membelai rambutku. Dan tiba-tiba rasa kantuk itu kembali menyerang. Aku tidak sadar kapan aku sudah menembus mimpi didalam kegelapan.


*****


Aku menghela nafas saat melihat pemandangan dari ketinggian atas pesawat. Semakin pilot menaikkan pesawat, semakin hatiku mearsa seperti ada yang terlepas. Bayang-Bayang kenanganku bersama dengan Delano sudah menghilang jauh bersama pesawatku yang membumbung tinggi di pesawat.


"Apa kamu masih merasakan berat?" tanya Dios.


"Tidak. Aku yakin Delano juga pasti tidak suka melihatku dalam kesedihan yang berlarut-larut." Jawabku tegas.


"Kalau begitu tidurlah. Perjalanan kitanmasih lumayan lama," ujar Dios.


"Emm." Aku mengangguk dan menuruti ucapan. Dios.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan singkat, kamipun kembali ke Yogya. Aku sudah tidak sabar ingin bercerita banyak hal dengan orang tuaku. Tentu saja mereka sangat terkejut dengan berita yang kubawa. Terutama papaku. Dia masih ingat betul saat dia pernah bersitegang degan Delano, saat kami bercerai dipengadilan.


"Kasihan sekali dia. Padahal usianya masih sangat muda dan produktif. Tapi kenapa dia harus memilih jalan pintas seperti itu," ucap papa.


"Dia juga pria yang baik sebenarnya. Ramah dan sopan satun. Papa kalau teringat kejadian yang di pengadilan itu, jadi sangat menyesal," sambung papa.


"Ano pasti sudah memaafkan papa. Papa jangan lagi memikirkan hal itu," ucapku.


Aku jadi takut papa terlalu memasukkannya dalam pikiran, hingga membuat tekanan darahnya meningkat dan menyebabkannya jatuh sakit. Aku memutuskan tidak ingin memperpanjang ceritaku, dan segera kembali ke kamarku.


Saat aku membuma pintu kamarku aku melihat Delano tengan meletakkan Marta di dalam box bayi, karena Marta sudah tertidur.


"Kemarilah sayang," ujar Dios.


Aku mendekat perlahan, dan langsung naik keatas ranjang. Dios menepuk pahanya, agar aku berbaring di pangkuannya itu.


"Maukah kamu menceritakan tentangmu dan Delano saat-saat kalian berpacaran dulu? aku jadi penasaran cara berpacaran anak muda diusia kalian," tanya Dios.


"Eh? sa-sama aja kok." Jawabku.


"Tapi aku ingin mendengar kebaikkan-kebaikkan apa yang sudah dia lakukan padamu," ucap Dios.


"Tidak ada yang istimewa. Kami berpacaran terbilang sangat sehat. Selama berpacaran satu tahun lebih, bahkan kami tidak pernah berciuman." Jawabanku ditertawakan oleh Dios.


Dios sama sekali tidak percaya dengan ucapanku. Mataku melotot karena aku tidak suka melihatnya mengejekku. Dan tawa Dios jadi reda seketika saat melihat bibirku mengerut.


Cup


Dios mengecup bibirku, dan sedikit me**matnya.


"Apa sungguh bibirmu masih perawan saat kalian berpacaran?" tanya Dios.


"Nggak mau cerita ah. Kamu nyebelin tahu nggak. Kelihatan sekali kalau kamu waktu pacaran dengan Vika sering berciuman." Jawabku.


"Tidak hanya berciuman, kami bahkan sering melakukannya. Tapi sayangnya aku tidak beruntung, aku bukan orang pertama yang melakukan itu padanya," ujar Dios.


"Itu dasar kakaknya aja yang oon. Udah tahu barang bekas malah dipacarin selama 5 tahun. Pasti kamu puas banget ya bercocok tanam sama dia? jangan-jangan tiap hari?" tanyaku iseng.


"Ya."


Jawaban Dios sungguh membuatku jengkel dan cemburu. Aku jadi kesal membayangkan saat-saat kemesraan dia dengan wanita lain.


"Itu hanya masa lalu," ujar Dios.


"Memang masa lalu, tapi aku merasa sangat dirugikan karena mendapat barang bekas super," ucapku.


"Tapi supernya bisa memuaskanmu," timpal Dios.

__ADS_1


Aku mencubit perut Dios, dan dia malah tertawa keras.


__ADS_2