TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
44. Sejarah Tak Mungkin Berulang


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Masuk!" ujar Dios tanpa memperdulikan siapa yang masuk ke ruangannya saat ini.


Sejak mengetahui Dios pemiliki klub itu, Vika kembali ingin menemui Dios secara pribadi.


"Dios," sapa Vika yang membuat Dios menghentikan aktifitasnya yang tengah mengetik data di laptopnya.


"Katakan apa maumu!" ujar Dios dan kembali sibuk dengan Laptopnya.


Vika dengan penuh percaya diri duduk dipangkuan Dios. Sejenak Dios mendiamkan perilaku Vika terhadapnya, dia ingin memberikan harapan palsu pada wanita itu. Vika yang merasa Dios ingin memberikan dia kesempatan, tersenyum genit kearah mantan suaminya itu. Vika kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Dios, dengan dada yang sengaja dibusungkan.


"Aku tahu kamu masih memiliki perasaan padaku, dan cinta mati padaku. Dios, aku minta maaf padamu untuk kejadian diwaktu yang lalu. Aku akui aku salah, karena sudah berselingkuh dibelakangmu waktu itu. Tapi Dios, itu karena kamu tidak bisa memenuhi gaya hidupku."


"Sekarang kamu sudah berbeda. Kamu sudah punya segalanya bukan? aku janji akan berubah jadi orang yang lebih baik. Ayo kita rencanakan program anak. Aku akan memberikan anak berapapun yang kamu mau," sambung Vika.


Vika kemudian menundukkan wajahnya kearah Dios, karena ingin mencium mantan suaminya itu. Namun Naas, niatnya itu tertahan karena telapak tangan besar Dios menahan hampir separuh wajah Vika.


"Kamu mau turun sendiri dari pangkuanku, atau aku akan mendorongmu hingga jatuh mengenaskan ke lantai," tegas Dios.


Vika mendadak turun dari pangkuan Dios, karena kata-kata pria itu terdengar mengerikan di telinganya.


"Di-Dios," ucap Vika lirih.


"Aku tidak tahu datang darimana rasa percaya dirimu yang begitu besar itu. Tapi biar aku tegaskan padamu, Sejarah tak mungkin berulang diantara kita."


"Pertama. Sekarang aku sudah beristri. Yang kedua, aku sama sekali tidak memiliki perasaan lagi padamu. Dan yang ketiga, tolong kamu jangan pernah lagi mengganggu kehidupanku," sambung Dios.

__ADS_1


Mendengar ucapan Dios, Vika jadi terkekeh. Dan cenderung tertawa keras. Tawa yang membuat Dios sangat jengkel mendengarnya


"Dios. Kamu tidak perlu berbohong padaku, hanya karena kamu sedang marah padaku saat ini," ucap Vika.


"Aku tidak berbohong padamu. Tapi terserah juga kalau kamu tidak percaya, karena aku sama sekali tidak perduli kamu mau percaya atau tidak," ujar Dios.


"Tentu saja aku tidak percaya. Aku tahu Caren sudah bercerai dari Delano, dan aku lihat dia juga tengah mengandung saat ini. Kalau kamu sudah menikah dengannya, mana mungkin kamu berada di Surabaya sementara Caren berada di bandung," ucap Vika.


Dios terkejut saat Vika mengatakan Caren tengah berada di bandung saat ini.


"Da-Darimana kamu tahu kalau Caren berada di Bandung saat ini?" tanya Dios.


"Tentu saja aku tahu, karena dua hari yang lalu aku bertemu dengannya dibandung." Jawab Vika.


Greppppp


Dios mencengkram dengan erat bahu Vika, dia begitu bahagia saat mengetahui keberadaan Caren saat ini. Minimal dirinya sudah menemukan titik terang.


"Awww sakitt...Dios," Vika meringis kesakitan.


Dios melepaskan cengkraman tangannya.


"Vika tolong kamu katakan padaku dimana kamu bertemu dengan Caren. Ini sangat penting bagiku," ujar Dios.


"Sudahlah Dios buat apa kamu mengharapkan dia lagi. Dia sedang mengandung saat ini. Kamu kembali saja padaku," ucap Vika.


"Justru karena dia mengandung, aku harus menemukannya. Karena bayi yang sedang dia kandung adalah anakku." Jawaban Dios membuat Vika tercengang. Harapan ingin memiliki Dios kembali seperti panggang jauh dari api.


"Aku mohon beritahu aku Vika. Kamu tahu sendiri aku sudah sejak lama menginginkan seorang anak, tapi kamu tidak bersedia memberinya untukku. Sekarang aku sudah memiliki harapan, aku mohon jangan patahkan harapanku lagi,"


Vika melihat Dios begitu menderita. Bahkan dia melihat Dios tengah menangis saat ini.

__ADS_1


"Aku akan memberikan berapapun uang yang kamu mau. Kamu suka uang kan? aku akan memberikannya padamu, asalkan berikan aku informasi tentang keberadaan Caren," ujar Dios.


Dios menuliskan sebuah cek senilai 25 juta untuk dia berikan pada Vika, dan kemudian menyodorkan cek itu pada Vika. Namun diluar dugaan Dios, wanita yang biasa maniak dengan yang namanya uang itu mendadak mendorong cek itu kembali ke arah Dios. Vika kemudian menyeka air mata Dios dengan kedua ibu jarinya.


"Entah dulu apa yang ada dalam pikiranku, hingga aku menyia-nyiakan orang yang sangat mencintaiku demi uang. Sekarang saat orang itu mencintai wanita lain, aku merasa wanita itu sangat beruntung memilikimu."


"Dulu mungkin kamu memang tidak memiliki uang, tapi kamu memiliki cinta yang begitu besar untuk pasanganmu. Dios, aku minta maaf kalau selama kita bersama aku tidak bisa menjadi istri yang baik dan patuh buatmu. Aku juga menolak saat kamu menginginkan keturunan dariku. Sekarang kamu sudah memilikinya dari orang lain, aku ucapkan selamat untukmu."


"Aku bertemu dengan Caren di kota bandung. Dia berada di salah satu toko bunga, sebagai tukang merangkai bunga. Aku lupa apa nama toko bunganya, tapi itu tidak jauh dari cibaduyut," sambung Vika.


"Benarkah?" tanya Dios sembari menyeka sisa air matanya.


Vika bisa melihat wajah Dios berseri kembali. Bahkan senyum itu sudah sangat lama dia tidak melihatnya.


"Vika. Dengarkan aku, berhentilah dari pekerjaanmu yang sangat merugikan tubuhmu itu. Ambilah cek ini, kamu bisa gunakan untuk modal usaha kecil-kecilan. Jangan pula kamu terlalu memanjakan gaya hidupmu itu," ucap Dios.


"Aku pasti akan berhenti. Tapi saat ini aku tengah menjalani kontrak proyek besar, dan seperti biasa atasanku ingin aku memberi service terbaik untuk calon rekan bisnisnya," ujar Vika.


"Kalau bisa. Bekerjalah karena kamu memiliki skil atau kemampuan. Kalau seperti itu, bukan keahlianmu yang dia gunakan, tapi tubuhmu. Hanya diri kamu sendiri yang bisa menghargai kehormatanmu," ucap Dios.


"Aku mengerti. Dios, aku do'akan agar kamu dan Caren bahagia. Jangan pernah sakiti dia, kamu pasti tahu rasanya disakiti kan?" tanya Vika.


"Aku mengerti." Jawab Dios.


"Aku pergi," ujar Vika sembari pergi tanpa membawa cek dari Dios.


Dios menghela nafas lega. Paling tidak dia sudah menemukan titik terang keberadaan Caren saat ini.


"Selanjutnya aku harus bagaimana? apa aku harus memberitahu Sekar? tapi kalau aku beritahu, bagaimana kalau dia jadi bersedih?" ucap Dios lirih.


Kini Dios jadi dilema sendiri. Kalaupun dia tidak memberitahu Sekar, bagaimana caranya dia pergi ke Bandung? dia harus mencari alasan yang tepat bukan? Dios memijat kepalanya, dia sangat pusing saat ini. Semalaman dia berpikir keras, bagaimana cara memberitahu sekar tentang Caren. Atau mencari alasan pergi ke bandung, tanpa memberitahu keberadaan Caren disana.

__ADS_1


__ADS_2