
Rendy perlahan membuka mata, kepalanya terasa sedikit berdenyut. Matanya melihat disekitarnya, dan menyadari kalau saat ini dirinya tengah berada di rumah.
"Kamu sudah bangun?" tanya Leni sembari membawa nampan yang diatasnya ada segelas obat pereda mabuk.
"Aku tidak apa-apa ma," ujar Rendy yang menolak obat yang disodorkan oleh Leni.
"Kamu kenapa pakai acara mabuk-mabuk segala sih? untung ada orang yang anterin kamu sampai rumah, bagaimana kalau ada orang jahat yang manfaatin situasi?" tanya Leni.
"Ada yang anterin? siapa ma?" tanya Rendy.
"Namanya Dios. Katanya dia bartender di klub." Jawab Leni.
"Dimana dia sekarang?" tanya Rendy.
"Pagi-Pagi sekali sudah pergi. Bahkan dia menolak saat mama menawarkan dia sarapan dan memberinya sejumlah uang." Jawab Leni.
"Biar nanti aku temuin dia lagi untuk ngucapin terima kasih," ujar Rendy.
"Lagian kamu ngapai pakai acara mabuk sih? apa ini ada hubungannya dengan patah hatimu?" tanya Leni.
"Patah hati apaan sih ma? aku cuma pengen kesana aja." Jawab Rendy.
"Sayangnya saat mabuk kamu terlalu jujur. Bahkan Diospun tahu tentang Melisa," ujar Leni yang membuat Rendy jadi terdiam.
"Aku mau mandi biar segar," ucap Rendy untuk mengalihkan pembicaraan.
Pria itu segera bangkit dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu di tempat berbeda Dios mampir ke pasar tradisional, setelah pulang dari rumah Rendy. Dios ingin belanja kebutuhannya di rumah untuk menghemat biaya hidupnya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk mengecek berapa jumlah uang di ATM pemberian Sekar.
"Teh susu satu mbak," Dios memesan teh susu saat dirinya bertemu warteg di dalam pasar.
Dios meraih gorengan, dan memakannya sebagai pengganjal perut sebelum makan siang.
Plukkkkk
Gorengan Dios terlepas dari tangan, saat tidak sengaja matanya melihat keberadaan Caren diantara kerumunan orang-orang pasar. Dios bergegas bangkit dari tempat duduknya, karena ingin menemui Caren.
"Eh...mas bayar dulu dong. Mau nyuri ya? enak aja udah makan nggak bayar," teriak pemilik warung.
"Eh? nggak mbak. Nanti saya kembali lagi, ada orang yang ingin saya temui." Jawab Dios yang sesekali menoleh kearah Caren yang tengah memilih sayuran.
"Alasan. Ganteng-Ganteng nyolong," ucap wanita parubaya itu.
Dios dengan kesal mengeluarkan dompet. Dia meraih uang satu lembar 50 ribuan, dan meletakkannya diatas meja begitu saja. Dios bergegas memasukkan dompetnya kembali. Namun saat dia berbalik badan, dirinya tidak melihat Caren lagi. Dios bergegas mencari keberadaan Caren, namun hasilnya nihil.
Dios duduk di pinggir trotoar. Wajahnya sangat kusut. Dia sangat yakin kalau orang yang dia lihat memang benar-benar Caren.
__ADS_1
"Paling tidak aku tahu, kalau saat ini Caren juga berada di Yogyakarta. Peluang untuk bertemu dengannya masih sangat besar. Dios, bersemangatlah!" ucap Dios yang memberi semangat pada dirinya sendiri.
Dios memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia ingin beristirahat, karena nanti malam dia kembali masuk malam lagi.
"Dios itu siapa kamu, selain bartender di klub?" tanya Leni sembari menyuapkan makanannya.
"Bisa dibilang teman baruku." Jawab Rendy dengan santai.
"Kamu jangan berteman dengan orang tidak jelas," ucap Baron.
"Iya pa." Jawab Rendy yang tidak ingin memperpanjang cerita.
*****
"Kamu datang lagi?" tanya Dios sembari mengocok-ngocok minuman pesanan pelanggan.
"Makasih sudah mengantarku semalam." Jawab Rendy.
"Tidak masalah. Lain kali kalau niat mabuk, bawalah teman. Sangat berbahaya kalau pergi sendiri," ucap Dios.
"Aku nggak percaya pada siapapun saat ini. Bahkan sahabatku sendiri sudah menghianatiku," ujar Rendy yang mulai curhat.
"Kamu hanya naas bertemu teman seperti itu. Tapi tidak semua orang seperti sahabatmu itu," ujar Dios.
"Sering. Bahkan bisa dibilang sudah langganan. Tapi tidak masalah juga bagiku. Itu bisa membuatku lebih kuat menjalani hidup ini." Jawab Dios.
"Siapa yang menghianatimu?" tanya Rendy.
"Mantan istri." Jawab Dios.
"Jadi kamu duda?" tanya Rendy terkekeh.
"Duda dua kali malah." Jawab Dios.
"Anjir. Enak yang udah pernah kawin," ujar Rendy konyol.
"Behh...bukan lagi." Jawab Dios terkekeh.
"Hah...sayangnya aku gagal," ujar Rendy.
"Tidak masalah. Ada masanya kamu akan merasakan hal itu juga. Jangan putus asa. Lagipula wanita di dunia ini banyak. Kadang kita terlalu sibuk nyari jodoh jauh, ternyata jodoh kita malah orang yang dekat dengan kita," ucap Dios.
Entah mengapa Rendy jadi teringat dengan Caren. Wanita cantik berstatus janda yang selalu menemani hari-harinya akhir-akhir ini. Mengingat itu Rendy jadi senyum-senyum sendiri.
"Kalau melihat senyummu itu, sepertinya tidak lama lagi patah hatimu itu akan sembuh," sindir Dios.
__ADS_1
"Sebenarnya ada wanita yang sedang dekat denganku akhir-akhir ini. Dia cantik, anggun dan lembut. Tapi dapatin dia pasti rintangannya akan berat kedepan," unar Rendy.
"Kenapa? apa dia anak Sultan?" tanya Dios.
"Bukan itu. Statusnya itu yang buat berat." Jawab Rendy.
"Kenapa?" tanya Dios.
"Dia janda beranak satu." Jawab Rendy.
"Kenapa emangnya kalau janda? janda juga banyak yang terhormat loh," tanya Dios.
"Kalau aku sih nggak masalah. Tapi keluargaku yang kurang asyik. Daripada melihat dia tekanan batin karena merasa direndahkan, lebih baik menyingkir secara perlahan. Padahal dia orangnya sangat cantik loh," ujar Rendy.
"Itu artinya cintamu belum terlalu dalam padanya. Saat rasa cinta itu sudah kuat, jangankan sekedar restu, bahkan badaipun akan sanggup kamu terjang," ucap Dios.
"Aku aja mantan istri keduaku beda usia hampir 15 tahun. Dia lebih tua dariku. Tidak masalah dengan itu. Soal keharmonisan bisa kita yang mengatur. Yang penting luruskan dulu niat kita," sambung Dios.
"Nanti dululah. Kayaknya aku mau nata hati dulu. Lagian masih banyak waktu. Siapa tahu nanti bisa dapatin perawan kan ya?" Rendy terkekeh.
Dios kembali membuat minuman racikkan yang dia buat, sembari berbincang banyak hal dengan Rendy. Saat waktu menunjukkan pukul 1 malam, Rendypun pamit karena dia ingin pulang ke rumahnya.
Waktu menunjukkan pukul 1. 30.Saat Rendy tiba di rumah .Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini dia pulang dalam keadaan sadar. Dia segera istirahat, karena pagi-pagi dia harus pergi bertugas.
"Lagi apa?" tanya Rendy diseberang telpon.
"Buat sarapan."Jawabku
"Sarapan apa?" tanya Rendy.
"Omelet." Jawabku
"Mau dong. Aku kesitu ya?"
"Kakak nggak kerja?" tanyaku.
"Ini lagi siap-siap." Jawab Rendy.
"Ya udah nanti aku buatin. Jangan nggak jadi mampir loh. Nanti siapa yang mau makan," aku menegaskan.
"Pasti. Aku jadi pengen makan itu." Jawab Rendy.
"Ya udah aku tunggu,"
Kami mengakhiri percakapan itu. Aku segera membuatkan satu porsi omelet lagi untuk Rendy. Selang 10 menit kemudian Rendy datang dengan mengenakan baju dinasnya yang gagah.
__ADS_1