
Aku bangun lebih dulu dari tante Sekar dan Dios. Aku lihat pelayan belum ada juga yang bangun. Aku bergegas membuat omelet mie, sebanyak 3 omelet dan meletakkannya diatas meja. Tidak berapa lama kemudian aku melihat tante Sekar dan Dios menuruni anak tangga sembari bergandengan tangan. Lagi-Lagi hatiku terasa diremas, saat melihat pemandangan itu.
"Tante silahkan sarapan sama Om. Aku pulang dulu ya tan,"
Aku ingin segera kabur dari situ. Karena aku merasa tidak sanggup melihat kemesraan pasangan beda usia itu.
"Kok pulang? sarapan sama-sama dong," ujar tante Sekar.
Aku melirik kearah Dios, yang sudah memasang wajah masam. Pria itu kemudian menarik kursi untuk Sekar, dan membuat wanita parubaya itu duduk dengan nyaman. Perlakuan Dios benar-benar sangat manis untuk wanita itu, hingga siapapun yang melihatnya pasti akan iri.
"Duduklah! kita sarapan bersama," ujar tante sekar kembali.
Aku terpaksa menuruti ucapan tante Sekar, untuk menghargai wanita parubaya itu.
"Sayang. Bisakah kamu memasakkan aku mie instan kuah dengan telur ceplok?" tanya Dios pada tante Sekar. Perkataan Dios sangat lembut, hingga Aku hampir mengira dia mengatakan hal itu padaku.
"Loh kenapa dengan omeletnya? katamu kemaren omeletnya enak," tanya tante Sekar
"Aku tidak suka omelet lagi. Terlebih ini sedikit berminyak. Aku nggak mau tenggorokkanku sakit. Nanti berikan saja omeletnya pada anjing belakang rumah." Jawab Dios.
Sungguh hatiku sakit mendengar ucapan Dios. Aku tahu, dia sangat benci padaku saat ini.Aku sebisa mungkin menahan air mataku, agar tidak jatuh di hadapan mereka.
Sekar melirik kearahku. Mungkin dia takut aku tersinggung mendengar ucapan Dios. Namun aku secepat mungkin merubah ekspresi wajahku menjadi ceria kembali.
"Maaf ya Caren. Suami tante agak blak-blakan orangnya," ujar tante Sekar.
"Tidak masalah tante. Aku ngerti kok. Mungkin Om takut terkena batuk. Maklum, dimusim pendemi begini kita memang harus waspada bukan?" ucapku dengan senyum yang kubuat semanis mungkin.
"Tunggu sebentar ya sayang. Aku buatkan dulu," ujar tante Sekar.
"Tante dan Om duduk saja, biar aku yang buatkan," ucapku yang sembari mendorong kursi ke belakang.
"Tidak perlu. Aku ingin buatan istriku sendiri," ucapan Dios begitu lantang, hingga membuat tante Sekar mengerutkan dahinya.
"Eh? emm...Caren. Biar tante buat sendiri saja. Sepertinya berondongku mau bermanja-manja dengan tante," ucap tante Sekar yang berusaha mencairkan suasana tegang itu.
Aku makan dalam diam. Kutundukkan wajahku dalam-dalam, aku tidak berani menatap kearah Dios. Aku percepat makanku, hingga saat tante Sekar membawa makanan untuk Dios, akupun sudah menyelesaikan makanku.
"Tante aku pulang dulu ya? belum mandi, rasanya gerah," aku mencari alasan agar cepat pergi dari situ.
"Ah...ya sudah kalau gitu. Nanti kalau kamu suntuk, kamu boleh main kesini lagi," ujar tante Sekar.
__ADS_1
"Iya tante." Jawabku.
"Om," aku sapa Dios, namun pria itu sama sekali tidak menggubris sapaanku.
Aku langsung berbalik badan. Karena air mata yang sejak tadi aku tahan sudah tidak sabar ingin dikeluarkan. Setelah aku berhasil keluar dan menutup pintu rumah itu, tangisku langsung pecah seketika. Hatiku benar-benar merasa tersayat saat ini.
"Sayang. Kamu tidak menyukai Caren ya?" tanya Sekar.
"Darimana kamu ketemu teman seperti itu. Berhati-Hatilah dalam memilih teman. Siapa tahu dia berniat jahat padamu," tanya Dios.
"Sayang. Hanya karena kamu trauma dengan masa lalu, bukan berarti semua orang mau berniat jahat pada kita,"
"Kamu tidak tahu saja. Karena dialah, aku tidak bisa percaya pada siapapun lagi, terlebih seorang wanita muda," batin Dios.
"Aku kasihan dengannya. Kehidupan dia sangat rumit. Dia diselingkuhi suaminya yang seorang Gay, ya meskipun dia selingkuh juga dengan tetangganya. Tapi saat pisah dengan selingkuhannya karena terpaksa, dia baru sadar kalau dia sangat mencintai selingkuhannya itu."
"Setelah suaminya ketahuan seorang gay, diapun minta cerai, dan kembali ingin menemui pria yang dicintainya itu. Tapi sudah terlambat, karena pria itu sudah pindah,"
"Naasnya dia juga di usir oleh keluarganya," sambung Sekar.
"Kenapa?" tanya Dios penasaran.
Kata-Kata Sekar terhenti, karena dia teringat dengan janjinya pada Caren, yang tidak akan menceritakan perihal kehamilannya saat ini.
"Pokoknya ada satu alasan, yang membuat keluarganya tidak bisa menerima Caren dalam keluarga itu lagi. Pada intinya ini ada sangkut pautnya dengan pria itu." Jawab Sekar.
"Heh. Meskipun kisahmu cukup menyedihkan, tapi semuanya sudah terlambat. Setekah kamu tahu suamimu gay dan bercerai, kamu baru ingin kembali padaku? jangan harap!" batin Dios.
"Pokoknya jangan terlalu akrab dengannya. Aku tidak suka wanita itu, sepertinya dia orang jahat," ucao Dios.
"Eh?" Sekar jadi terdiam. Dia tidak bisa berjanji akan mematuhi ucapan Dios dalam hal itu.
"Sayang. Kita ke super market yuk? kita belanja bulanan," ajak Sekar.
"Ya." Jawab Dios.
Merekapun pergi ke Supermarket setelah sarapan. Ingin rasanya Sekar mengajak Caren, tapi dia yakin Dios tidak akan setuju.
"Kamu beli susu hamil untuk siapa?" tanya Dios.
"Oh itu...mau disumbangkan. Jadi rencananya aku mau nyumbang susu hamil dan buah untuk pasien di rumah sakit jiwa." Jawab Sekar berbohong.
__ADS_1
"Baik sekali istriku. Hem?" Dios mengusap puncak kepala Sekar.
"Iya dong. Istri siapa dulu," Sekar tersenyum.
Karena sudah terlanjur bilang ingin menyumbang, Sekar membeli susu hamil sedikit lebih banyak. Sekar juga membeli buah-buahan untuk Caren.
Setelah selesai, merekapun pulang kerumah.
"Kamu kapan ke rumah sakit?" tanya Dios.
"Rumah sakit?" sekar yang lupa sama sekali tidak mengingat ucapannya sendiri.
"Katanya kamu mau nyumbang susu dan buah untuk pasien di rumah sakit jiwa?"
"Oh...itu bisa besok saja. Atau di paketkan saja. Biar Kesannya nggak pamerkan?"
"Benar juga. Ya sudah, ayo kita istirahat," ucap Dios.
Dios dan Sekarpun tidur siang bersama. Namun Sekar lebih dulu bangun, dan langsung mengantarkan susu dan buah untuk Caren. Caren yang tengah meratapi nasib, keluar membuka pintu dengan mata sembab.
"Hey...kenapa dengan matamu? kamu habis nangis?" tanya Sekar.
"Aku cuma teringat ayah dari bayiku." Jawabku seadanya.
"Kamu sabar ya? kalau kalian jodoh, pasti kalian akan disatukan kembali," ujar tante Sekar
"Aku tidak berharap lagi dia berjodoh denganku. Aku hanya ingin dia menyayangi anaknya saat dia tahu aku sedang mengandung saat ini,"
"Pasti. Kalau mendengar ceritamu, pria itu pasti memiliki pribadi yang penyayang. Saat dia tahu kamu punya anak dengannya, dia pasti sangat bahagia," ucap tante Sekar.
"Semoga." Jawabku.
"Sudahlah jangan sedih lagi. Lebih baik kamu beri anakmu minuman dan buah bergizi dulu," ujar tante Sekar sembari menyodorkan beberapa kotak susu hamil dan buah-buahan.
"Tante ini banyak sekali?"
"Tidak masalah. Demi cucuku." Jawab tante Sekar.
"Bukan cucu, tapi anak," ujarku.
Aku lihat mata wanita itu berbinar saat aku mengatakan anak yang aku kandung juga anaknya. Aku tahu wanita parubaya itu sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidupnya.
__ADS_1