
Dios mendorong tubuhku perlahan, untuk menyudahi pelukkan kami. Aku bergegas menyeka air mataku, dan tersenyum sembari menatap Dios.
"Selamat tinggal kak. Aku do'akan kamu dan tante Sekar hidup bahagia. Jangan sakiti dia, karena dia orang baik," aku berkata seolah aku orang paling bijak.
"Tidak perlu mengajariku. Aku jauh lebih tua darimu. Kamu itu masih tergolong anak-anak. Tentu saja aku bahagia bersama Sekar, karena kami saling mencintai,"
Aku tersenyum kecut mendengar ucapan Dios. Tidak banyak kata lagi yang ingin aku katakan pada pria yang sama sekali tidak menginginkan kehadiranku disani. Aku kemudian berbalik badan sembari mengusap-usap perutku, dan menekan handle pintu.
Aku kemudian menutup pintu perlahan, dan bersandar di daun pintu dengan menutup mulutku karena tangisku sudah pecah seketika.
Pranggggggg
Pranggggggg
Pranggggggg
Aku bisa mendengar dari luar pintu, kalau Dios sedang menghancurkan barang-barang di dalam sana. Entah apa yang terjadi dengannya, mungkin dia sedang melampiaskan kebenciannya padaku dengan menghancurkan barang-barang itu.
Aku bergegas melangkah pergi. Karena aku tidak ingin terlambat datang kerumah. Ada hal yang harus aku kerjakan setelah sampai dirumah. Beruntung malam ini taksi sedang ramai, jadi aku tidak kesulitan saat pulang kembali ke rumah.
Setelah sampai di rumah aku bergegas membuat sepucuk surat untuk tante Sekar. Aku tidak ingin dia kebingungan karena aku menghilang tiba-tiba. Setidaknya itulah caraku yang ingin menghormatinya, karena selama ini dia selalu baik padaku.
Aku menulis itu dengan seluruh perasaanku yang kutuangkan kedalamnya. Namun tetap saja aku tidak membongkar semuanya hingga akhir. Aku tidak ingin membuat bara dalam rumah tangga Dios dan Sekar, karena mereka sejatinya orang-orang yang pernah baik terhadapku.
Setelah selesai menulis surat, Aku segera melipatnya namun tidak kumasukkan dalam amplop. Aku tidaj sempat lagi membeli amplop, karena aku juga harus pergi pagi-pagi sekali.
Aku letakkan surat diatas meja, dan aku bergegas memasukkan pakaianku kedalam koper. Aku baru tinggal di kota ini, tapi sepertinya aku tidak berjodoh dengan tempat ini. Aku putuskan akan merantau ke kota lain. Kota yang mungkin akan menerimaku dengan terbuka.
Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, namun mataku sepertinya masih enggan menutup. Aku menikmati sisa-sisa waktu di fajar hari, dengan membayangkan saat-saat indah bersama Dios. Saat-Saat kami bercinta dengan panas, dan saat-saat terakhir aku memeluknya beberapa jam yang lalu.
Membayangkan itu, lagi-lagi air mataku meleleh. Begitu kejam rasanya takdir mempermainkan hidupku. Aku yang seorang putri dirumah orang tuaku, kini sudah berubah jadi musafir yang sama sekali tidak memiliki tujuan hidup.
Waktu kian lama kian berlalu, saat sang pemanggil sudah datang, aku bergegas menyelesaikan dua rakaat kewajibanku. Sembari kulantunkan bait-bait do'a memohon keselamatan. Agar Tuhan menuntun perjalananku, hingga aku dan calon anakku selamat sampai tujuan.
Setelah selesai aku segera menyeret koperku. Kukunci pintu kontrakkanku, dan akan aku titipkan pada tante Sekar bersama suratku.
__ADS_1
Suasana rumah tante Sekar masih tampak sepi. Tapi satpam penjaga gerbang rumahnya sudah terbangun, sembari menyesap segelas kopi.
"Pak. Aku titip ini buat tante Sekar ya?" aku memanggil satpam di gardu dalam pagar, tanpa masuk lebih dulu.
"Loh neng Caren mau kemana?" tanya Satpam.
"Mau pergi pak, perginya buru-buru." Jawabku.
"Nggak masuk dulu pamitan Sama nyonya Sekar?"
"Tidak pak. Saya cuma titip surat aja. Lagian nggak enak bangunin beliau sepagi ini kan?"
"Ya sudah nanti saya kasih sama beliau," ujar Satpam.
"Makasih ya pak?"
"Sama-Sama."
Aku menyeret koperku sedikit jauh dari rumah itu. Karena masih terlalu pagi, taksi belum ada yang lewat di kawasan itu. Jadi aku terus menyeret koperku, hingga aku lelah.
"Bandara pak," kali ini aku ingin pergi secepat mungkin, dan pesawat terbang adalah alat transportasi tercepat menurutku.
Aku tidak ingin membuang banyak waktu. Sembari taksi berjalan menuju bandara, otakku sembari berpikir. Kota mana yang akan menjadi tujuanku kali ini. Dan setelah aku berpikir dan menimbang cukup keras, akhir ya aku memilih kota bandung menjadi kota tempat pelabuhanku. Kata orang disana udaranya sejuk, dan aku butuh kesejukkan itu untuk mendamaikan hatiku yang tengah panas terbakar.
Hanya butuh waktu 30 menit, bagiku untuk sampai ke bandara. Aku langsung memesan tiket keberangkatanku saat itu juga. Dan aku sangat beruntung, pagi itu penumpang agak sepi. Dan aku ikut penerbangan pagi itu juga.
Jantungku berdegap degup. Entah mengapa, semakin pesawat melambung ke udara, semakin air mataku mengucur tak terhingga. Dadaku benar-benar merasa sesak, bayang-bayang wajah Dios seakan menari-nari dipelupuk mataku.
"Selamat tinggal cintaku. Semoga engkau selalu berbahagia. Aku akan menjaga anak kita dengan baik. Aku akan mencurahkan segala kasih sayangku padanya, menggantikan peran ibu sekaligus sosok ayah baginya. Aku tidak berharap kita bertemu lagi, karena kalau sampai kita bertemu lagi, aku tidak menjamin aku bisa bersikap sebaik ini,"
*****
"Nyonya. Nona Caren tadi pagi nitip ini buat nyonya," ujar Satpam.
"Caren? ini kan kunci rumahnya? dia pergi kemana pak?" tanya Sekar.
__ADS_1
"Tidak tahu nyonya. Tapi tadi saya lihat dia membawa koper besar." Jawab Satpam.
Sekar bergegas pergi ke kamar. Dia ingin mengambil kaca mata bacanya yang berada di kamar itu.
Dear...tante Sekar yang ku sayang....
Maaf Caren pergi tanpa pamit. Bukan Caren tidak mau, tapi Caren takut tidak sanggup pergi, setelah melangkahkan kaki yang tak tentu arah ini.
Maaf kalau selama ini Caren punya salah atau merepotkan Om dan tante. Itulah sebabnya aku merasa tidak cocok berada di kota ini dan ingin mencari kota yang bisa menenangkan hatiku ini.
Tante jaga kesehatan. Patuh minum obat. Caren do'akan tante cepat sembuh dan bahagia selamanya bersama om Dios.
Sudah dulu ya tan, salam sayang selalu.
Caren Martadinata.
Air mata Sekar jatuh, setelah membaca surat itu.
"Ah...Caren. Padahal tante sangat berharap bisa menggendong anakmu. Setidaknya tante bisa merasakan menjadi seorang ibu melalui anakmu itu. Ternyata jodoh kita cuma sampai sini ya," ucap Sekar lirih.
Suasana hati Sekar mendadak buruk. Dan itu cukup mengganggu kesehatannya yang sangat dilarang stres berlebih.
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, saat Dios pulang dari Klub malam. Pria itu sama sekali tidak menyadari suasana hati Sekar yang sedang tidak baik. Pria itu hanya mengira Sekar masih tidur, dan diapun pergi membersihkan diri.
Hari demi hari telah berlalu. Dios merasakan tiba-tiba ada yang hilang, namun dia tidak tahu itu apa. Namun perubahan mencolok juga terjadi pada Sekar, istrinya itu jadi lebih pendiam.
"Kemana temanmu itu? tumben tidak kelihatan?" tanya Dios.
"Pergi." Jawab Sekar singkat dengan wajah datar.
"Pergi kemana? kepasar?" Dios masih mengira Caren masih berada di kota itu.
"Tidak tahu. Dia cuma meninggalkan surat untukku. Katanya dia tidak cocok berada di kota ini.Sepertinya dia sudah pergi jauh entah kemana. Nomor hpnya pun tidak bisa di hubungi lagi." Jawab Sekar.
Deg
__ADS_1
Jantung Dios seolah dipukul pakai palu. Tanpa sadar pria itu melepaskan Sendok hingga menimbulkan kegaduhan dipiringnya.