
Berada satu minggu di rumah sakit, aku akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Jangan ditanya kenapa aku bisa lama berada di rumah sakit, itu karena kekonyolan yang dilakukan Dios saat aku selesai dioperasi. Dokter menyarankan, agar aku jangan minum terlalu berlebihan saat baru selesai di operasi. karena dikhawatirkan jahitanku basah dan lambat kering.
Entahlah apa alasannya, namun seperti itulah yang mampu aku tangkap oleh indera pendengaranku. Namun beda denganku, beda pula dengan Dios. Karena aku dilarang minum air terlalu banyak, jadilah Dios memberiku satu tetes setiap aku ngomong kehausan.
Flashback
"Kak haus," aku merengek meminta Dios agar memberikan aku air minum. Entah mengapa sehabis operasi mulut, lidah, dan tenggorokkanku terasa kering. Aku benar-benar kehausan.
"Iya." Dios meraih air mineral gelas yang sudah dia siapkan sejak 1 jam yang lalu. Dan tidak habis-habis sampai saat ini.
Namun baru saja pipet menempel dibibirku, Dios sudah menariknya kembali.
"Kak. Aku belum selesai minumnya. Pipetnya baru aja nempel. Belum juga aku menghisapnya kak," ucapku kesal.
"Belum ya?" tanya Dios yang membuat mataku langsung mendelik kearahnya.
Dios kembali menempelkan kembali pipet itu dibibirku, dengan sigap aku menahan tangan Dios agar aku bisa minum lebih banyak. Namun Dios segera menarik gelas air mineral itu, hingga tinggallah pipet saja yang nyangkut dibibirku. Aku langsung menangis, karena aku benar-benar masih kehausan.
"Sayang. Jangan menangis, kamu kan dengar sendiri apa kata dokter. Kamu tidak boleh minum banyak-banyak, nanti luka operasimu bonyok," ujar Dios.
"Biarin bonyok. Aku sudah tidak tahan dengan hausnya." Jawabku.
"Jangan begitu. Kalau lambat sembuh, bagaimana caramu menyusui anak-anak kita?"
Aku terdiam. Aku terpaksa menganggapnya itu sebagai pengorbananku sebagai seorang ibu. Namun yang namanya haus, tetap saja haus. Meski aku makan banyakpun, Dios dengan teguh hanya memberiku setetes dua tetes air. Aku sudah seperti kena siksa oleh suamiku sendiri. Dan kejadian diluar dugaanpun terjadi. Malam harinya suhu tubuhku meningkat, karena aku terkena dehidrasi.
Dokter sempat mengira aku terkena infeksi pada luka operasi, sehingga menyebabkan aku deman tinggi. Namun setelah di cek, luka operasiku baik-baik saja. Aku bahkan sempat di USG karena takut ada benda asing yang tertinggal di dalam perutku. Namun setelah diperiksa, dokter tidak menemukan apapun dan dinyatakan tidak ada masalah pada luka operasiku.
"Dokter. Apa ini ada kaitannya dengan air minum?" tanyaku yang mulai membuka suara.
Dokter mengecek mulutku, dan mataku. Dan aku dinyatakan kekurangan cairan.
"Apa ibu Caren tidak minum?" tanya dokter
Aku kemudian menceritakan pada dokter tentang apa yang terjadi. Dokter itu sampai tertawa, karena mendengar kejadian lucu yang tengah aku alami.
"Ya Tuhan...sepertinya sudah terjadi miss komunikasi disini. Maksud saya jangan minum berlebihan, bukan berarti ibu minumnya satu tetes. Karena ada kejadian pasien yang saat sadar minum air terlalu berlebihan, hingga menyebabkan luka pada operasi tidak cepat mengering,"
Mendengar penjelasan dokter, aku langsung menoleh pada Dios. Dios terkekeh memperlihatkan giginya yang putih, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aku kemudian melengos sebal.
"Jadi aku boleh minum banyak sekarang dok?" tanyaku penuh harap.
"Oh harus. Disamping ibu sudah dehidrasi, ibu juga sedang demam tinggi saat ini. Jadi harus banyak-banyak minum biar panasnya cepat turun." Jawab dokter.
Perkataan dokter laksana aku menemukan oase dipadang tandus. Bibirku tersungging, dan mataku berbinar bahagia.
"Ini yank minumnya," ujar Dios menyodorkan air mineral gelas padaku yang sudah tertancap pipet diatasnya.
__ADS_1
Mataku melirik sebal kearahnya, aku meraih air itu dan meminumnya hingga tandas.
"Aku mau yang botol besar. Belikan aku 10 botol," ucapku yang membuat dokter ikutan terkekeh.
"Jadi ceritanya balas dendam nih," ujar Dios.
"Gara-Gara dia nih dok, aku jadi demam. Mungkin dia sengaja, agar cepat jadi duda," ucapku yang membuat dokter geleng-geleng kepala.
"Ya maaf yank. Namanya juga nggak tahu. Aku begitu juga karena takut kamu kenapa-kenapa. Tapi ternyata aku salah. Maaf ya?"
"Iya. Tapi cepetan cari air minumnya, aku nggak lega kalau cuma minum pakai gelas kecil begitu." Jawabku.
Diospun bergegas membeli air mineral botol yang aku inginkan.
Flashback Off
Setelah mengurus semua administrasi, kamipun pulang kerumah. Mama dan papa menyambut kedatangan kami. Dirumah kami juga sudah ramai, karena kami langsung mengadakan acara aqiqah untuk kedua anak kami. Dan pada malam harinya barulah kami bisa beristirahat.
oeeeekkk
Oeeeekkk kedua putraku menangis bersamaan. Sementara Marta tidur bersama baby sitter di kamar anak. Aku bisa mendengar suara anakku menangis, tapi mataku enggan sekali terbuka. Angan-Angan ingin beristirahat, tentu saja hanya bisa berada dalam hayalan saja.
"Kak,"
"Hem?"
"Yank aku ngantuk. Nggak kuat banget," ujar Dios.
Aku akui Dios memang lelah selama menungguiku di rumah sakit. Meski aku yang melahirkan, tapi semua urusan dia yang mengerjakan. Termasuk mencuci bekas persalinanku dan juga ari-ari anakku.
"Kak. Mereka nanti kelaparan," ujarku.
Dios segera bangkit dan mengambil anak-anakku. Aku kemudian membuka kancing bajuku dan mengeluarkan kedua aset berhargaku. Dios membantu Delano menyusu disebelah kanan, sementara Devano disebelah kiri.
"Emm...haus banget ya nak? enak banget ya bisa nyusu. Nggak tahu deh bagian papa kapan," ucap Dios.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku saat mendengar ucapan Dios.
"Masih lama ya yank? aku ngantuk banget ini," ujar Dios lagi.
"Aku juga ngantuk. Kamu mau enaknya aja ya? bikinnya aja yang semangat kamu. Giliran ngasuh anak ogah-ogahan," entah mengapa aku jadi terpancing emosi.
"Beginilah kira-kira saat aku lahiran Marta dulu. Nggak ada suami, nggak ada orang tua, semua dikerjakan sendiri. Beruntung ada Rendy, aku sangat terbantu sama dia. Dia itu pria siaga,"
"Oh maksud kamu aku nggak siaga?" Dios juga mulai terpancing emosi. Mungkin karena bawaan lelah, kami jadi sama-sama eror.
"Ya buktinya ini? baru anak lahir seminggu sudah banyak keluhan. Apa kamu tahu si Rendy yang bukan bapaknya saja, dia yang nguburin ari-ari anak kita. Dan ngasuh Marta saat aku sedang di dapur lagi masak," aku kembali membanding-bandingkan Dios dengan Rendy.
__ADS_1
"Kok jadi bandingin aku sama dia?"
"Siapa yang bandingin? itu emang kenyataannya,"
"Ya sudah nikah saja sama Rendy,"
"Ya sudah aku mau kalau dia mau." Jawabku kesal.
Dios terdiam. Aku juga jadi terdiam. Cuma ada suara jam dinding yang berdetak dikeheningan malam.
"Mentang aku sudah tua, sepertinya kamu sudah mulai mencari ancang-ancang buat ninggalin aku. Mungkin kalau aku nggak berdaya lagi, aku buru-buru kamu kubur hidup-hidup. Setelah itu kamu bisa nikah lagi," ujar Dios membuka suara.
"Jangan ngomong ngawur. Kalau aku mau ninggalin kamu, sudah dari dulu aku lakukan. Apalagi masalah usia," ujarku.
"Terus kenapa kamu marah-marah?" tanya Dios.
"Siapa yang marah-marah? kenapa kakak sensitif sekali," ucapku.
Kami kemudian saling bertatapan, sesaat kemudian kami sama-sama terkekeh. Dios kemudian me**mat bibir ku dengan aku yang masih menyusui kedua bayiku.
"Maaf ya yank? padahal kamu pasti sangat lelah," ujar Dios sembari mengusap puncak kepalaku.
"Aku juga minta maaf kak. Padahal kamu juga lelah. Aku malah mengungkit-ungkit kebaikkan pria lain," ucapku.
"Yank,"
"Hem?"
"Nifasnya masih lama ya?" tanya Dios.
"Nggak tahu. Tapi kata orang kalau nifas orang operasi cesar lebih cepat. Emang kenapa kak?" tanyaku.
"Pengen gituan yank." Jawab Dios.
Mataku langsung melotot kearahnya. Aku tidak habis pikir, karena Dios bisa-bisanya berpikiran mesum saat ini.
"Jangan coba-coba kak. Pokoknya aku mau pasang kontrasepsi IUD dulu. Aku nggak mau hamil lagi kak," ujarku.
"Kok nggak mau? kita kan belum punya anak perempuan yank?" tanya Dios.
"Enak aja kakak ngomong. Kakak pikir enak perut disayat-sayat? ini sangat ngilu, sakit, perih tahu nggak? enakkan lahiran normal." Jawabku.
"Hah..iya baiklah. Padahal aku pengen sekali punya anak 11," ujar Dios.
"11 mbahmu ndegek. Sono buntingin kambing." Jawabanku yang membuat Dios tertawa keras.
Aku menutup mulut Dios, karena aku tidak ingin kedua anakku bangun setelah mereka lelap karena kekenyangan.
__ADS_1