TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
69. Ancaman


__ADS_3

Dios melerai pelukkan kami. Dan kemudian menyeka air mataku. Diciumnya kening dan kedua mataku. Sebelum akhirnya dia mencium bibirku sedikit lebih lama, dan dahsyatnya tangisku tiba-tiba langsung mereda. Setelah pagutan kami terlepas, kami duduk bersandar didinding, dengan kepalaku bersandar didadanya.


"Bagaimana ini kak. Aku sangat merindukan Marta. Dimana kita harus menemukannya? bagaimana kalau dia dijual oleh sindikat penculikkan anak?" tanyaku.


Saat ini aku tidak bisa berpikiran jernih lagi. Aku sangat panik dan merasa sangat kehilangan. Namun elusan tangan Dios dikepalaku membuat aku sedikit tenang.


"Bagaimanapun caranya, Marta harus kita temukan. Kita tunggu kabar dari polisi dulu," ujar Dios.


"Kalau Marta tidak ditemukan, maka aku tidak ingin hidup lagi. Marta segalanya bagiku kak," ujarku yang kembali terisak.


"Kumohon jangan katakan itu. Itu artinya kamu tidak ingin aku hidup juga. Kamu dan Marta adalah hidupku. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Yakinlah, kita pasti segera bertemu dengan Marta," ujar Dios.


Sementara itu di tempat berbeda, Rendy dengan tergesa-gesa memasuki rumahnya. Dan kebetulan Leni dan Suwito tengah minum teh sembari membaca koran.


"Sudah pulang kamu dari janda gatal itu?" tanya Leni.


"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan pada Mama. Aku harap mama jangan berkilah, karena kasus ini sudah di limpahkan ke kantor polisi," ujar Rendy.


"Apa maksudmu?" tanya Leni.


"Dimana mama sembunyikan Marta, alias anaknya Caren?' Rendy langsung menebak, dia tidak ingin berbasa -basi.


"Marta siapa yang kamu bicarakan? jangan asal menuduh kalau tidak punya bukti?" tanya Leni.


"Ma. Kedua orang suruhan mama sudah terendus polisi. Apa mama tidak tahu? kalau rumah Dios memiliki cctv?" ucap Rendy.


"Sebelum terlambat dan kasus ini belum dilimpahkan dikejaksaan, sebaiknya mama beri tahu Marta ada dimana. Urusan Caren biar aku yang membujuknya, agar dia tidak memperpanjang kasus ini lagi," sambung Rendy.


"Tapi kalau mama bersikeras tidak mau memberitahu keberadaan Marta, maka jangan salahkan Rendy kalau Rendylah yang akan memasukkan mama ke penjara," ucap Rendy.


"Kamu ngancam mama?" tanya Leni


"Anggap saja begitu." Jawab Rendy.


"Rendy. Kamu jangan kelewatan nuduh mamamu sembarangan," ucap Suwito yang mulai bersuara.


"Papa berdo'a saja. Semoga ini tidak ada kaitannya dengan papa. Dan mama, jangan nanti menangis saat orang suruhan mama itu tertangkap. Rendy sudah memperingatkan mama,"


Rendy mulai ingin melangkah pergi. Namun langkahnya kembali terhenti dan menoleh kearah orang tuanya.


"Oh ya mulai hari ini aku keluar dari rumah ini. Sebelum mama memberitahu keberadaan Marta, maka jangan harap aku mau kembali lagi ke rumah ini," ucap Rendy.


"Apa maksud kamu bilang begitu? kamu lebih mementingkan anak itu dari mama kamu sendiri?" tanya Leni.


"Tentu saja aku berpihak pada kebenaran. Mama pikir kenapa aku ingin menjadi seorang abdi negara? itu karena aku ingin menegakkan keadilan, dan juga mengayomi masyarakat. Apa mama pikir seragamku itu cuma kupakai untuk bergaya, atau terlihat keren dimata orang lain?"

__ADS_1


"Nggak ma. Rendy hanya ingin kedua orang tua Rendy bangga, bahwa putra mereka memiliki seorang abdi negara yang jujur. Tapi kalian sudah merusak semuanya dengan berbuat kriminal, dan Rendy terpaksa menutupi kebusukkan kalian."


"Sekarang karena Rendy tidak kuat lagi melihat tingkah mama, Rendy lebih memilih keluar dari rumah ini. Oh ya, aku akan segera menikahi Caren, kalau mama tidak segera memberitahu keberadaan Marta," sambung Rendy dan segera ingin melangkah pergi.


"Tunggu!" tanpa Leni tahu, Rendy menerbitkan senyum kemenangam.


"Oke mama akui Marta mama yang culik. Mari kita buat kesepakatan," ucap Leni yang membuat Rendy jadi berbalik.


"Dan mama ingin membuat kesepakatan harus ada wanita itu disini," sambung Leni.


"Baiklah. Aku akan menelponnya agar dia kemari. Sebaiknya mama jangan berbuat nekat lagi. Aku tidak akan segan-segan menyakiti orang tuaku sendiri, kalau mama sudah bersikap kelewatan," ujar Rendy.


Rendy kemudian menelponku, yang tengah berbincang serius dengan Dios. Aku segera meraih ponselku, dan menerima panggilan itu.


"Ren. Kamu bisa kerumah tidak? mama ingin bicara denganmu, ini tentang Marta," ucap Rendy.


"Baiklah." percakapan kami berakhir sampai disitu saja, karena aku segera ingin pergi ke rumah Rendy.


"Ada apa?" tanya Dios.


"Mamanya Rendy ingin aku kesana. Rendy juga bilang ini menyangkut soal Marta." Jawabku.


"Aku berharap hilangnya Marta tidak ada sangkut pautnya dengan wanita tua itu. Karena kalau sampai itu benar, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengannya," ucap Dios.


"Jadi ucapan Rendy soal ranjang itu memang tidak ada kan?" tanya Dios.


"Kak. Aku hanya melakukan kesalahan itu denganmu. Aku tidak mungkin melakukan kesalahan itu dengan orang lain lagi." Jawabku.


"Kenapa?" tanya Dios iseng.


"Ten-Tentu saja itu karena aku hanya mencintaimu." Jawabku dengn tersipu malu.


Dios meraih kedua sisi wajahku, dan kami mulai berciuman kembali. Kalau bukan karena aku teringat dengan Marta, sudah pasti ciuman itu berujung diatas ranjang.


"Kak. Kita harus berhenti. Tante Leni menungguku," ujarku.


"Baiklah. Aku akan mengantarmu," ucap Dios.


"Tapi kakak harus berjanji, kakak harus mengendalikan emosi kakak itu,"


"Tergantung pada orang itu bersikap padamu. Cukup sekali saja dia membuatmu berada di rumah sakit. Kalau sampai sekali lagi dia berbuat seperti itu, maka aku yang akan mengirimnya ke kuburan," ucap Dios.


"Kakak jangan begitu. Minimal kakak pandang persahabatan kakak dengan Rendy. Apa kakak tahu? Rendylah selama ini yang membantuku.Termasuk saat dia mengantarku kerumah sakit, ketika aku hendak melahirkan Marta. Dia...."


Dios menutup mulutku dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Jangan lagi mengingatkan aku tentang kesalahan yang membuatku menyesalinya seumur hidupku. Seharusnya aku yang berada diposisinya," ujar Dios tertunduk.


Aku menyeka air mata Dios. Aku tahu suasana hatinya buruk, saat mengingat itu semua.


"Kita lupakan yang sudah terjadi, karena itu tidak akan terulang lagi. Sekarang yang kita harus pikirkan tentang keselamatan anak kita,"


Grepppp


Dios kembali memelukku dengan erat. Pelukkan yang membuatku merasa sangat nyaman.


"Maafkan aku. Aku tidak ada disaat masa sulitmu. Aku tidak ada disaat kamu butuh. Kamu pasti sangat menderita selama ini," ucap Dios.


"Aku sudah memaafkan semua kesalahan kakak itu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupku. Ayo kita jangan buang waktu lagi, kita pergi ke rumah Rendy sekarang,"


Kamipun bergegas pergi ke rumah Rendy. Sesampai disana kami melihat Rendy dan kedua orang tuanya sudah menunggu kedatanganku. Aku berjalan masuk lebih dulu, sementara Dios datang belakangan karena ingin memarkirkan mobilnya dengan benar.


"Tante," aku sapa tante Leni yang wajahnya terlihat masam kearahku.


Diluar dugaan kami, tante Leni langsung bangkit dari duduknya dan kembali menyerangku. Wanita itu menarik rambutku dengan kuat, dan rasanya sakit sekali.


"Kamu ya. Gara-Gara kamu anakku jadi melawanku. Kenapa nggak mati saja kamu janda gatal,"


"Mama hentikan ma! mama sudah gila ya?" hardik Rendy.


Rendy berusaha melerai tante Leni. Namun semakin Rendy menarik wanita itu menjauh, semakin kuat pula cengkraman tangan wanita itu di rambutku. Mendengar ada keributan, Dios bergegas datang untuk memastikan. Dan dia sangat murka, saat melihat aku tengah dianiaya oleh tante Leni.


Dengan kekuatan penuh Dios mendorong tante Leni, hingga wanita itu tersungkur kelantai.


"Kamu masih belum bertaubat juga? kali ini aku yang akan membuatmu masuk rumah sakit,"


Dios melepaskan pelukkannya dariku, dan ingin memberi pelajaran pada tante Leni. Aku secepat kilat memeluk kak Dios dari belakang, untuk mengendalikan amarahnya yang sudah terlanjur meledak.


Sementara itu, Rendy tampak heran melihat kedekatanku dengan Dios. Terlebih melihat Emosi Dios yang berlebihan sebagai seorang kenalan baru menurutnya.


"Lepaskan aku Caren. Aku harus memberikan dia pelajaran. Wanita ini sudah kelewatan," ucap Dios.


"Sudah kak cukup. Kakak lupa dengan apa yang aku katakan tadi?" aku masih berusaha agar membuat emosi Dios mereda.


"Kamu lihat sendiri sekarang kan? seperti apa wanita yang kamu cintai ini. Pria manapun dia goda, termasuk sahabatmu sendiri," ucap Leni.


"Tutup mulutmu brengsek!" hardik Dios.


"Tidak bisakah kalian bersikap tenang? disini kita mau berdiskusi, kenapa jadi ribut begini?" timpal suwito.


Dios memalingkan wajahnya dari Leni. Aku mengelus-elus dada Dios dari arah belakang, agar emosi pria mereda. Sementara itu Rendy menatap kearahku dengan tatapan rasa cemburu yang membara.

__ADS_1


__ADS_2