
Sudah satu minggu sejak aku berhubungan dengan Dios, aku tidak melihatnya lagi. Sebenarnya bukan karena pria itu pergi, tapi memang aku yang menghindar darinya. Ketika Delano berangkat bekerja, berbagai usaha dia lakukan agar bisa bertemu denganku. Tapi aku tidak pernah lagi membukakan pintu untuknya. Aku sudah bertekad akan mengakhiri hubungan terlarang antara aku dan dia.
Ting
"Kangen kamu. Kenapa kamu hindarin aku? kamu nggak kangen sama aku?"
Aku hanya membaca isi chatnya itu tanpa ada niat membalas sedikitpun. Dan satu-satunya akses komunikasi antara aku dan diapun sudah aku putuskan. Aku akhirnya memblokir nomornya dari kontakku.
Entah apa yang aku rasakan saat ini. Aku tiba-tiba merasakan sakit saat aku melakukan itu semua.
Tring
Tring
Tring
"Hallo?"
"Sayang. Bisa aku minta tolong siapin pakaianku ke dalam koper? aku harus melakukan perjalanan bisnis lagi," ujar Delano.
"Baiklah. Tapi ini yang terakhir ya? pokoknya sepulang dari sana kita harus cari rumah baru dan kita jual rumah kita yang ini,"
"Iya oke sayangku." Jawab Delano.
Aku mengakhiri panggilan itu. Aku tidak hanya memasukkan pakaian Delano kedalam koper, tapi aku juga memasukkan beberapa pakaian kedalam tas. Sesuai misiku waktu itu. Aku ingin menyelidiki perihal tentang isu perselingkuhan Delano.
Setelah aku siapkan semuanya, tidak berapa lama kemudian Delano tiba untuk mengambil kopernya. Setelah mobilnya jalan, motor yang aku siapkanpun melaju mengikuti dirinya dari belakang.
__ADS_1
Aku mengerutkan dahiku, saat kulihat mobil Delano tidak pergi menuju bandara, stasiun maupun terminal. Mobil itu pergi menuju kawasan apartemen mewah. Jantungku berdegup dengan kencang. Segala pemikiran buruk sudah bersarang dibenakku. Tapi aku masih mau berpikiran positif tentang suamiku.
Aku sengaja memarkir motorku diseberang apartemen dengan cepat. Karena aku tidak mau kehilangan jejak Delano. Apapun yang terjadi hari ini aku ingin mengetahui semua tentag dia. Ah...aku bersyukur, karena aku tidak kehilangan jejaknya. Aku melihat Delano meyeret kopernya memasuki sebuah lift. Aku sebisa mungkin menjaga jarak dengannya, agar penyamaranku tidak diketahui olehnya.
Aku melihat Delano menekan tombol lantai 19. Aku dengan sigap menekan tombol dengan angka yang sama, namun di lift yang berbeda. Hanya berjarak waktu 3 atau 5 detik dirinya lebih dulu dariku, sehingga aku sama sekali tidak kehilangan jejaknya.
Aku melihat Delano menyusuri koridor sembari menyeret kopernya. Dan amku melihat dia berhenti di depan salah satu apartemem yang aku sendiri tidak tahu siapa pemilik apartemen itu. Aku pikir Delano akan mengunjungi temannya, tapi yang aku lihat Delano malah tidak menekan bell apartemen itu. Delano menekan beberapa digit di sebuah kotak segi empat yang memiliki beberapa susunan angka.
Ceklek
Pintu Apartement itu terbuka, dan Delano masuk kedalamnya. Pikiran burukku langsung menyeruak. Aku pikir Delano memiliki wanita simpanan, yang dia sembunyikan dalam apartemen itu.
Hampir 2 jam aku menunggu, namun batang hidung Delano sama sekali tidak muncul. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku pikir bukan hari ini keberangkatan Delano ke kota L yang pernah dia katakan. Aku memutuskan untuk mencari penginapan disekitar wilayah Apartemen itu. Aku ingin menyidikinya hingga tuntas.
Tiga hari sudah berlalu. Tidak ada yang aneh dari aktifitas Delano yang aku lihat selama 3 hari ini. Dia selalu berada di apartemen itu tanpa pergi ke kantor ataupun pergi ke luar kota seperti yang dia katakan.
Sebenarnya apa yang dilakukan Delano di apartemen itu? atau hanya aku saja yang salah menebak? atau jangan-jangan dalam apartemen itu ada beberapa wanita yang sengaja mereka simpan, dan dipakai secara beramai-ramai? ah...membayangkan semua kemungkinan itu membuat kepalaku berdenyut. Aku tidak tahu kenapa Delano membohongiku. Aku tidak tahu bagaimana caranya menanyakan hal ini pada dia saat dirinya pulang nanti.
Kali ini aku mencoba menghubunginya lewat ponselku. Tapi sama seperti waktu itu, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Dan sore di hari ke 5 aku baru mengetahui satu fakta baru yang aku temukan. Delano keluar dengan celana pendek dan baju kaos oblong. Dia seperti menerima telpon dari seseorang dengan tawa yangrenyah.
Yang jadi pusat perhatianku kali ini adalah, ponsel yang dia gunakan untuk berkomunikasi. Aku yakin itu bukan ponsel yang biasa dia gunakan saat bersamaku. Itu ponsel baru dan cukup mahal. Karena aku melihat logo buah yang ada bekas gigitan. Apa dia baru membeli ponsel itu? atau selama ini dia menggunakan dua ponsel tanpa sepengetahuanku?
Hampir 3 minggu aku memata-matai suamiku. Tapi aku sama sekali tidak menemukan hal aneh, atau tanda-tanda persingkuhannya. Aku memutuskan pulang kerumah, karena aku pikir aku sudah keterlaluan mencurigai suamiku. Setelah kupikir-pikir mungkin dia berbohong tentang kepergiannya karena takut aku rewel dan menyusulnya ke apartemen itu. Dan itu akan mengganggu pekerjaannya.
Aku berpikir teman-teman prianya yang datang adalah kolega perusahaan. Yang datang untuk membahas kerja sama antar perusahaan. Ah...bodohnya aku percaya dengan bualan Dios. Sudah barang tentu dia membual padaku, karena ingin merebutku dari Delano. Dia ingin rumah tanggaku hancur, sama seperti ruamh tangganya.
Aku tiba di rumahku sekitar pukul 4 sore. Aku melihat Dios berada di teras rumahnya, dan bangkit setelah melihat kedatanganku. Saat aku turu dari motor, dia langsung menarik tanganku dan menyeretku masuk kedalam rumahnya. Aku berusaha berontak, tapi aku tidak mau berteriak karena aku tidak mau membuat Dios malu.
__ADS_1
Brakkkk
Pintu rumahnya tertutup dengan keras.
Tap
Tap
Dios mengurungku dengan kedua tangannya, sementara aku sudah terpojok didinding rumahnya.
"Apa kamu membenciku?" tanya Dios.
"Tidak." Aku menjawab sembari melengos. Aku tidak mau menatap matanya, karena aku takut tergoda lagi dengannya.
"Ada apa denganmu? kamu kemana saja? sudah sebulan aku tidak melihatmu, tidak bisa menghubungimu. Kamu sengaja menghindariku, bahkan kamu memblokir nomor ponselku.'
"Bukankah memang seharusnya aku melakukan itu? kak. Aku tidak mau kita berhubungan lagi, aku mohon bantu aku untuk menjadi orang yang lebih baik."
"Pembohong. Aku tahu kamu memiliki perasaan padaku. Aku tahu kamu mencintaiku. Kenapa kamu selalu menyangkal itu sih?" tanya Dios.
"Aku tidak pernah mencintaimu. Kamu salah paham kak." Jawabku dengan berapi-api.
"Salah paham apa sih? kamu bahkan meneriakkan namaku berkali-kali saat aku menghujammu dengan keras. Aku tidak mungkin salah mengingat, kalau kamu sangat menyukai saat bercinta denganku. Kenapa kamu jadi munafik begini?"
"Munafik apa sih kak? aku ini wanita bersuami. Sudah sewajarnya aku menyadari kesalahanku, dan ingin memperbaiki diri. Kakak jangan lagi mempengaruhiku,"
"Dan satu lagi. Terima kasih atas semua kebohongan dan fitnah yang kamu lontarkan untuk suamiku. Selama 3 minggu ini aku sudah menyelidikinya alias membuntuti suamiku. Tidak ada istilah selingkuh yang kamu katakan itu. Tidak sekalipun aku melihatnya bergaul dengan wanita manapun. Jadi aku menarik kesimpulan, kamu memfitnahnya, karena kamu ingin merebutku darinya," aku tersenyum sinis kearahnya.
__ADS_1
Mendengar ucapanku Dios jadi tertawa keras. Dan aku tidak senang mendengar tawanya itu.