
"Dios bangun!" Suaraku yang menggelegar membuat Dios yang tertidur lelap bangun seketika.
Kulihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin kepalanya sedikit pusing akibat terkejut.
"Sayang. Kamu mau membunuhku ya? kalau aku kena serangan jantung bagaimana?" tanya Dios seperti tanpa dosa.
"Lalu bagaimana denganmu? kamu tanpa persetujuanku membawanya kesini? itu lebih dari sekedar membuatku serangan jantung. Kamu sudah gila ya?" tanyaku dengan nafas yang naik turun.
"Gimana aku mau minta pendapatmu? ponsel kamu saja tidak bisa dihubungi. Lagian kenapa kamu keberatan juga? kita kan tidak nungguin dia disana, jadi kita bisa mengawasi semuanya disini. Sayang kasihan dia, apa kamu tahu? saat aku memaksa pergi, dia sampai jatuh dari tempat tidur, karena tidak ingin aku pergi meninggalkan dia. Tolonglah pengertianmu," ujar Dios panjang lebar.
"Nggak. Aku nggak mau ngerti, dan nggak akan mau ngerti. Dios, apa kamu sadar? kamu sudah melukai hatiku. Kamu...."
Suaraku tercekat, karena air mataku merebak tak terkendali.
"Apa karena aku jauh lebih muda darimu, pendapatku sama sekali tidak kamu hargai? kenapa setelah berumah tangga, aku baru merasa sama sekali tidak cocok denganmu,"
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Dios.
"Aku pikir dengan terpaut usia hingga hampir 13 tahun, aku bisa mendapatkan orang yang lebih mengerti, mengayomi, dan bijaksana. Tapi ternyata aku keliru, kamu cuma melakukan apa yang menurutmu benar saja."
"Kamu bilang aku cemburu dengan orang sekarat? meski sekarat, kalian itu mantan suami istri. Pernah berbagi ranjang yang sama, air liur yang sama, bahkan kamu sudah berkali-kali menidurinya. Bagaimana aku nggak cemburu?"
"Sekarang dia ada disini, dia cuma mengharap perhatianmu. Lalu aku dan Marta bagaimana? haruskah aku jadi orang asing dulu untuk sementara waktu sampai dia mati?"
"Nggak Dios. Hatiku tidak sekuat itu. Sekarang kamu tinggal pilih, mau hidup sama aku, atau hidup dengan wanita itu," tanyaku
Bukannya menjawab pertanyaanku, Dios malah meraih kedua tanganku untuk dia cium.
"Sayang. Aku mohon mengertilah posisiku kali ini saja. Kumohon padamu," ujar Dios memelas.
Aku menarik kedua tanganku sembari menggelengkan kepala.
"Aku sudah tahu jawabanmu. Daripada kamu bingung harus memilih yang mana, sebaiknya biar aku saja yang mundur,"
"Kamu jangan ngomong gitu yank. Kalau kamu memang tidak setuju dia disini, minimal bantu aku cari solusinya biar dia mau tinggal dirumahnya sendiri," ujar Dios.
"Kalau kamu bisa bersikap tegas dari awal, tidak akan terjadi hal seperti ini. Kamu sendiri yang membuat semuanya menjadi rumit. Pokoknya kamu nggak usah bingung-bingung, aku sudah memutuskan kalau aku yang akan mengalah," ucapku dengan tegas.
__ADS_1
Grepppp
Dios memelukku dengan erat. Aku tahu dia sedang dilema saat ini. Sesaat kemudian dia melepaskan pelukkannya itu.
"Bantu aku bicara dengannya. Aku merasa tidak sanggup membicarakan hal ini dengannya," ucap Dios.
Aku terdiam. Jelas aku juga tidak tega mengusir wanita lemah itu hanya karena besarnya rasa cemburuku.
"Aku tidak mau. Kamu yang membawa dia kesini, jadi kamu sendiri yang harus memulangkannya," ujarku.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, aku akan mengusirnya sesuai keinginanmu," ucap Dios yang kemudian melangkah pergi keluar kamar.
Aku menghela nafas panjang, mungkin aku memang sudah kelewatan dan tidak punya hati dalam hal ini. Tapi ini salah satu bentuk pertahananku. Akh tidak mau kecolongan lagi seperti yang sudah-sudah.
Perlahan aku mengekor dibelakang Dios, aku ingin tahu apa yang dibicarakan suamiku itu dengan mantan istrinya.
"Ma. Aku perlu bicara dengan Sekar
Aku pinjam Sekar dulu ya?" tanya Dios pada mama yang tengah asyik ngobrol dengan tante Sekar.
"Ya silahkan." Jawab mama.
Dios tiba-tiba berlutut di depan Sekar yang tengah duduk di kursi roda. Digenggamnya kedua tangan wanita itu, yang membuat dadaku sedikit bergemuruh.
"Sekar. Aku minta maaf padamu sebelumnya. Aku salah dan keliru karena mengira Caren akan setuju aku membawamu kemari. Aku mohon pengertianmu, aku tidak bisa mempertaruhkan rumah tanggaku demi menjagamu."
"Tapi kamu jangan pula salah paham terhadap Caren. Dia wanita yang baik, tapi dia saat ini sedang merawat ibu dan ayahnya juga. Sementara aku sibuk bekerja. Besok aku antar kamu kembali ke Surabaya ya? aku akan bantu kamu mencari perawat terbaik untuk merawatmu nanti," ucap Dios.
Air mata kesedihan sudah membanjiri wanita itu. Sejujurnya aku juga tidak tega, tapi aku ingin mencegah hal- hal yang tidak diinginkan.
"Bolehkah aku bicara dengan Caren dulu?" tanya Sekar disela isak tangisnya.
"Tidak perlu. Hasilnya akan sama saja. Karena sebelum bicara denganmu, kami berdua diskusi lebih dulu. Sekar, aku mohon mengertilah. Kamu juga pasti tidak enak hati kalau sampai kami bertengkar tiap hari gara-gara kamu berada disini," ucap Dios.
"Baiklah aku mau pulang sekarang," ujar Sekar.
"Besok saja. Nanti aku yang akan mengantarmu," ucap Dios.
__ADS_1
"Tidak! pokoknya aku mau sekarang. Kamu juga tidak perlu repot mengantarku. Toh kalau aku mati dijalan tidak ada juga yang menangisiku. Kenapa kalian jahat sekali, aku hanya ingin mati dalam keadaan punya keluarga. Dan kalianlah yang aku anggap keluarga saat ini. Hiks...."
"Maaf Sekar. Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Aku juga tidak berdaya. Maaf," ucap Dios lirih.
Sekar berhambur kepelukkan Dios. Dan yah...saat melihat dua orang itu menangis sembari berpelukkan, aku merasa aku menjadi orang yang paling jahat sedunia. Tapi apa aku benar-benar salah sepenuhnya?
"Aku mohon antar aku pulang hari ini juga. Kumohon," ujar Sekar.
"Aku akan bicarakan hal ini ke Caren. Aku nggak mau dia salah paham padaku dan ke kamu juga," ujar Dios.
"Emm." Sekar mengangguk.
Aku menghadang langkah Dios dan Sekar, saat suamiku itu mendorong Sekar yang tengah duduk di kursi roda.
"Sayang. Aku dan Sekar...."
"Apa tante sungguh-sungguh menganggap kami keluarga?" tanyaku untuk memastikan.
"Ya. Hanya kalian keluarga yang aku punya sekarang. Caren, tante minta maaf kalau kehadiran tante membuat suasana hatimu menjadi buruk. Aku minta izin padamu, agar Dios mengantar tante kembali ke Surabaya," ujar tante Sekar.
"Maaf tante, bukannya aku kejam sama tante. Pengalaman yang sudah-sudah cukup menjadi pelajaran bagiku. Aku juga tidak memiliki hati yang luas dan kuat, saat melihat Dios memperhatikan mantan istrinya," ujarku.
"Sayang sudahlah. Aku sudah mau ngantar dia pulang, tidak usah diperpanjang lagi," ucap Dios yang tidak suka aku membahas hal itu langsung dengan Sekar.
"Tidak kak. Aku ingin tante Sekar tahu dan juga merasakan apa yang aku rasakan saat dulu kamu lebih memilih dia, daripada menepati janjimu padaku yang tengah mengandung anakmu,"
"Rasanya sakit sekali. Tapi jangan tante kira aku bicara seperti ini karena ingin membalas dendam. Balik lagi aku melakukan ini karena tidak mau masalalu yang dulu terlulang lagi. Aku mohon pengertiannya tante,"
"Kamu bisa nggak sih kalau ngomong lihat-lihat dulu? aku juga kalau mau selingkuh juga mikir. Apa mungkin aku mau selingkuh dengan orang yang sedang tidak berdaya begini? kamu punya hati nggak sih ngomong gitu dengan orang yang lagi sakit keras gini? bisa nggak kamu kesampingkan dulu egomu itu," ucapan Dios begitu menusuk. Aku tidak suka dia yang memarahiku didepan orang lain, terlebih itu mantan istrinya.
"Terserah kamu Dios. Kalau kamu nggak terima dengan ucapan aku juga terserah. Aku cuma mau meluapkan apa yang aku rasa saja," aku pergi tanpa menoleh lagi.
Aku putuskan untuk kembali ke kamar dan menumpahkan kesedihanku disana. Dios kemudian masuk ke kamar tanpa menyapaku dan memasukkan pakaiannya kedalam tas ransel. Tanpa berkata apapun dia langsung pergi begitu saja. Sungguh sikap Dios itu sangat menyakitkan buatku.
Aku bergegas melihat dari jendela kamar. Aku lihat Dios dihalaman tengah mendorong Sekar dengan kursi roda sampai kedepan pintu gerbang. Ada pula sebuah taksi yang sudah menunggu mereka di depan pagar. Dios kemudian membantu tubuh kurus Sekar masuk ke dalam mobil. Taksi itu kemudian meluncur, setelah Dios juga ikut masuk ke dalam
*****
__ADS_1
Ini adalah hari ketiga Dios tidak ada kabar sejak pria itu mengantar Sekar kerumahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, sehingga dia sampai mengabaikan aku dan juga tidak ingat dengan anaknya. Namun tidak ada niat pula aku ingin memastikan dia kesana. Aku sudah cukup trauma dengan masa lalu, dan takut ada hal-hal yang tidak aku inginkan terjadi
Namun di hari ke 7 aku sudah tidak tahan lagi. Kini aku yang mencoba menghubungi dia lebih dulu. Aku hanya ingin kepastian. Namun yang membuatku kesal adalah, ternyata nomor itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Kemana Dios? apa yang terjadi sebenarnya?