
"Baby. Mereka ini rekan bisnisku di luar kota. Mereka juga punya kekasih masing-masing. Seperti aku dan kamu,"
"Jadi saat ketempat mereka, papi juga bercinta dengan kekasih mereka? papi selingkuh dari aku?" tanya Delano manja.
"Kamu cemburu. Hem?" tanya pria itu sembari mencubit dagu Delano pelan.
"Ya iyalah cemburu. Aku itu mencintai papi." Jawab Delano.
Aku menutup mulutku sendiri saat mendengarnya. Aku benar-benar merasa jijik pada Delano. Aku sempat berpikir dia melakukannya karena tidak percaya diri dengan kekurangannya. Aku berpikir akan memaafkannya, karena aku juga sadar kalau aku juga sama sepertinya.
Tapi ternyata aku keliru. Delano sejak awal memang tidak pernah mencintaiku. Aku hanya dia jadikan sebagai tameng, untuk menutupi orientasi seksualnya yang tidak normal. Delano brengsek! berkali-kali aku mengumpat pria itu dalam hatiku.
"Aku juga mencintaimu sayang. Papi janji ini terakhir kalinya," ujar pria itu.
"Janji ya pi? aku itu cuma pengen papi dan aku menjadi yang satu-satunya diantara kita," ucap Delano.
"Kalian duluan aja ya? aku masih mau sekali lagi," ujar pria itu pada teman-temannya.
Setelah teman-temannya pergi,Delano dan pria tua itu kembali bercinta diatas sofa. Aku bisa melihat Delano begitu bernafsu saat melakukannya dengan pria itu. Dia bahkan bergerak lincah diatas pria parubaya itu dengan meneriakkan nama pria itu berkali-kali.
Aku mengepalkan tanganku. Aku bersumpah akan meminta cerai dari Delano, meskipun ada anak diantara kami.
"Oh...baby...ini sangat nikmat,"
Aku bisa mendengar pria parubaya itu mengerang panjang dengan nafas terseggal-senggal.
Setelah percintaan panas itu usai, pria parubaya itu kulihat kembali memakai pakaiannya. Setelah berbincang sebentar, pria itu berpamitan pada Delano setelah berciuman mesra lebih dulu.
Ceklekkk....
__ADS_1
Aku melihat Delano menutup pintu Apartemennya dan meraih uang diatas meja. Delano kemudian mencium-cium uang itu dengan senyum mengembang dibibirnya. Aku melihat Delano berjalan menuju kamar itu. Langkahnya terhenti, saat suaraku memanggil dirinya dari balik punggungnya.
"Delano," aku memanggilnya dengan Air mata merebak di pipiku.
Delano perlahan berbalik badan, dengan wajah yang sudah pucat pasi karena melihat kehadiranku di depannya.
"Sa-Sayang," ucapnya lirih.
Aku melangkah kearahnya dengan langkah kaki besar, dan tergesa-gesa. Aku kemudian mengayunkan tanganku, untuk melepaskan rasa emosi dan sakit hati yang bersarang di dadaku.
Plakkkk
Dengan sekuat tenaga aku menamparnya. Aku tidak menyangka selama ini Delano sudah menipuku.
Tap
Delano menangkap tanganku, dan membawaku kedalam pelukkannya. Aku merasakan kalau saat ini dia juga terisak. Entah apa arti tangisannya itu, tapi yang pasti aku sedang merasa jijik berada dalam pelukkannya saat ini. Pria tampan dan gagah dimataku selama ini, tidak lebih dari pria berdubur lunak.
"Maaf," hanya itu kata yang keluar dari mulut pria itu.
"Pokoknya aku mau cerai. Aku akan membesarkan anakku sendiri," ujarku.
"Please jangan lakukan itu. Keluargaku akan bertanya-tanya nantinya. Aku nggak mau mereka tahu aku seperti ini," ucap Delano.
"Dasar egois kamu! kamu ngorbanin aku, demi tameng keluargamu? kamu lebih rendah dari anjing Delano. Dasar otak babi kamu! " hardikku.
Delano tiba-tiba terkekeh saat mendengar makianku. Tawanya itu makin lama makin keras, hingga sampai mengeluarkan air mata. Ingin rasanya aku meninju wajahnya saat ini. Namun kata-katanya setelah tawa itu mereda, membuat tubuhku menegang seketika.
"Kamu mengumpatku dengan hewan sekebun binatang. Tapi kamu lupa, kalau kamuntidak lebih baik dariku Caren. Apa kamu pikir aku tidak cukuo berbesar hati, saat menerina istriku yang hamil dari ****** pria lain?" tanya Delano.
__ADS_1
Deg
Jantungku seolah berhenti berdetak, apa Delano sudah tahu tentang perselingkuhanku?
"Yah...meskipun aku tidak tahu siapa penanam bibit itu, tapi aku tidak masalah untuk membesarkannya dan kupinjamkan nama belakangku padanya,"
"Apa maksdumu? apa kamu menuduhku berselingkuh? ini anak kamu, darah daging kamu," tanyaku. Aku tidak ingin terjebak dengan kata-kata Delano yang mungkin hanya asal menebak.
"Aku tidak hanya asal menuduh,"
Delano berjalan kearah sofa dengan santainya, sembari menghempaskan uang diatas meja.
"Perlu kamu ketahui, aku tidak akan pernah punya anak. Karena aku sudah melakukan Vasektomi. Aku sama sekali tidak berkeinginan untuk punya anak, karena aku memamg seorang Gay. Aku minta maaf karena sudah melibatkanmu. Tapi kamu juga tidak pernah kekurangan saat bersamaku. Apapun maumu selalu aku turuti. Bahkan rumah mewah kita itu sudah ku beli atas namamu. Seharusnya cukup untuk membayar semua kerugianmu bukan?"
Tubuhku bergetar saat mendengar ungkapan dari mulut Delano. Tiba-Tiba aku jadi teringat sosok Dios, dan itu artinya anak yang sedang aku kandung saat ini adalah anak pria itu.
Entah apa yang aku pikirkan saat itu, kenapa aku hanya terpikir kalau anak ini hanya anak Delano. Padahal sudah jelas-jelas kuantitas berhubungan lebih sering aku dengan Dios, daripada dengan Delano.
"Hanya kamu sendiri yang tahu itu anak siapa. Caren, mari kita buat kesepakatan. Aku akan tetap mengakui anak itu sebagai anakku, dan semua kebutuhanmu tetap aku penuhi secara melimpah ruah. Tapi dengan satu syarat, tetaplah disisiku, sampai aku tidak menginginkannya lagi," ucap Delano.
Aku tatap mata Delano. Sesaat kemudian aku jadi ikut tertawa dengan keras. Menurutku urat syaraf malu Delano sudah putus saat ini. Bagaimana bisa dia dengan percaya dirinya aku mau menjadi istrinya, hanya karena di iming-imingi uang.
Aku beranjak dari tempat dudukku, dan melangkah kearah pintu keluar. Namun sesaat sebelum aku benar-benar keluar, aku menghentikan langkahku dan menoleh kearahnya.
"Tunggu surat cerai dariku. Jangan bertele-tele, dan tidak usah datang ke pengadilan. Aku ingin cepat bercerai darimu. Kamu tenang saja, biar aku yang mencari alasan untuk keluargamu dan keluargaku. Aku jamin keluargamu tidak akan tahu prilaku menyimpangmu," ujarku yang kemudian menutup pintu dengan sangat keras.
Braaakkkkkkk
Air mataku merebak saat pintu itu sudah tertutup rapat. Aku melangkah dengan langkah gontai. Sunggu perbuatan Delano tidak bisa aku maafkan. Aku sadar, aku juga salah. Tapi aku bersalah, karena dialah yang memberikan kesempatan pada pria lain untuk masuk kedalam hatiku.
__ADS_1
Ah ....aku memperbesar langkah kakiku, sembari menyeka air mataku. Aku ingin segera menemui Dios pria pujaanku yang sangat aku rindukan. Aku yakin dia akan senang saat tahu aku sedang mengandung anaknya. Karena aku tahu, dia sangat menginginkan seorang anak sejak dulu.