
"Ano sayang. Duh...nyenyak sekali kamu ti-dur-nya," ucapan mantan mama mertuaku makin keujung makin lirih.
Mata mama terbelalak dengan kedua tangan menutup mulutnya saat berjalan kearah Delano dan menatap putranya itu. Mama langsung menjerit histeris, hingga kami langsung berhambur mendekat kearah mama. Tidak hanya mama, kami yang melihat keadaan Anopun ikut syok dan histeris. Tubuhku bahkan lemas seketika.
"Sayang," Dios menopang tubuhku dengan satu tangannya. Sementara tangannya yang lain menggendong Marta.
"Ya Allah Ano...maafin mama Ano...maafin mama nak...akhhhhh..." Mantan mama mertuaku menjerit histeris saat melihat putranya itu dia temukan dalam keadaan mengenaskan.
Tidak hanya mama, papa dan adik iparku juga menangis histeris. Sementara aku yang lemas tak berdaya juga ikut terisak.
"Hiks...kenapa kamu lakukan itu Ano...kenapa kamu ninggalin mama. Mama minta maaf, mama salah. Tolong kembali, hiks...."
Mama mengguncang-guncang tubuh Delano yang sudah sangat kaku dan kulitnya yang sudah membiru itu. Meski papa sangat sedih, papa mendekat kearah putranya itu dan menutup matanya setelah membaca do'a.
"A-Ano," ucapku lirih dengan air mata yang meleleh dipipi.
Aku jadi teringat masalalu bersama Ano. Pria berhati lembut, dan bertutur kata halus itu membuatku pernah jatuh cinta padanya. Bahkan sangat mencintainya, hingga mau menerima segala kekurangannya.
Aku jadi terngiang-ngiang dengan suaranya saat terakhir kali dia menelponku. Suara yang lirih dan penuh keputusasaan. Harusnya aku sudah menyadari kalau hal ini akan terjadi padanya. Dengan mengumpulkan sisa tenagaku, aku mencoba bangkit dan ingin memastikan apa yang aku lihat adalah nyata.
Aku melihat disekeliling kamar kami dulu, masih tersimpan semua foto pernikahan kami. Tanpa ada yang kurang satupun. Aku juga melihat satu figura yang berisi foto saat kami masih berpacaran. Saat itu dengan fose dia memelukku dari belakang. Aku menelan ludahku yang terasa nyangkut ditenggorokkan. Dengan tangan bergetar, aku coba menekan tombol kamera yang dipasang dipenyangga berkaki tiga.
Di video itu sangat jelas, Ano merekam itu sebelum dirinya meregang nyawa. Isak tangis mama, papa dan adik iparku mereda, saat mereka mendengar suara Delano di video itu.
"Hallo. Disaat kalian menemukan video ini, pasti kalian sudah tidak bisa bicara denganku lagi. Maaf kalau aku mengambil langkah ekstrim ini. Bukannya aku pengecut karena tidak mau menerima kenyataan. Tapi aku tidak suka menjadi orang yang tidak berguna, dan dijauhi oleh seluruh lapisan masyarakat terlebih itu..."
Kata-Kata Delano terhenti dan kemudian tertunduk.
"Terlebih itu keluargaku. Terutama orang tuaku dan adikku."
__ADS_1
Mendengar ucapan Delano, mama dan papa kembali terisak.
"Maafkan Ano. Karena Ano sudah mengecewakan kalian. Ano belum bisa membuat kalian bahagia. Tapi apapun yang terjadi, semuanya tidak bisa aku sesali lagi. Kalian juga tidak perlu repot mendo'akanku, karena sudah dipastikan aku akan masuk neraka."
"Ma, pa, Ano sayang kalian. Ano tidak marah dan sakit hati karena kalian membuangku. Jaga adik baik-baik. Buat dia jadi orang berguna dan bukan orang gagal sepertiku. Aku berharap dia bisa memenuhi semua keinginan mama dan papa yang belum terwujud."
Mama dan papa semakin terisak, saat mendengar ucapan Delano yang panjang lebar.
"Caren,"
Mataku langsung tertuju pada layar kamera, saat Delano menyebut namaku. Aku tidak ingin melewatkan satu katapun, saat pria itu sudah menyebut namaku.
"Maafkan aku yang sudah berbohong tentang perasaanku padamu," ujar Delano yang membuat keningku mengerut.
"Aku sudah berbohong saat aku mengatakan kalau aku tidak pernah mencintaimu dan hanya mencintai sejenis. Sejujurnya aku sangat mencintaimu Caren. Apa kau tahu? saat pertama kali kita masuk kuliah, aku sudah lama memperhatikanmu. Namun aku baru punya keberanian menyatakan perasaanmu saat kita hampir lulus kuliah."
"Saat aku menyatakan perasaanku waktu itu, itu sungguh-sungguh dan murni. Tapi disamping itu aku juga sedang tidak berdaya. Kamu tahu pak Hartono kan? dia guru di SMAku. Orang yang pertama kali melecehkan aku dan merekam kejadian itu, saat aku sudah dibius olehnya."
"Namun suatu hari aku nekat merampas ponselnya saat dia tengah tertidur dan mengahapus setiap video kami saat sedang bercinta. Aku baru bisa bebas, dan bisa lulus dengan tenang. Namun ternyata itu hanya angan-anganku saja, Hartono malah menjebakku kembali dengan bos di tempatku bekerja. Orang yang aku anggap sebagai kekasihku selama ini."
"Awalnya aku hanya ingin menguras harta pria itu, karena aku tidak ingin dirugikan secara sepihak. Namun saat aku tahu kekuranganku dimalam pertama kita, aku menjadi lemah dan tidak percaya diri. Maafkan aku yang selalu memunggungimu setiap kita usai bercinta. Bukan karena aku tidak punya hati, tapi itu karena aku merasa malu padamu. Aku tahu kamu tidak pernah merasa puas denganku. Aku tahu kamu sangat kecewa. Sampai akhirnya aku tahu kalau kamu berselingkuh dibelakangku,"
Aku tertunduk saat Delano mengatakan hal itu. Aku merasa ditelanjangi, meskipun itu sudah terlanjur terjadi.
"Aku merasakan sakit saat itu, tapi aku tidak bisa marah karena aku tidak jauh berbeda denganmu. Aku tahu kamu tidak puas denganku dan hanya ingin mencari pelampiasan. Namun saat kamu mengatakan dirimu hamil, aku sangat terluka Caren. Karena aku tahu itu bukan anak kita."
Aku kembali terisak saat mendengar ucapan Delano.
"Tapi aku tidak mengatakannya dan mau mengakui kalau itu adalah anakku juga. Aku sadar dengan kekuranganku, meski begitu aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin membahagiakanmu dengan cara yang berbeda. Aku ingin membuatmu bahagia dengan limpahan materi, karena aku tidak bisa membahagiakanmu saat diranjang."
__ADS_1
"Kau tahu? aku sangat bahagia saat kamu mengajakku pindah dari rumah kita yang lama.
Dan aku sangat bahagia saat kamu memutuskan hubunganmu dengan dia. Meski itu bukan anakku, aku berjanji dalam hatiku bahwa aku akan membesarkannya seperti putraku sendiri. Karena aku sadar aku tidak akan bisa memiliki anak karena sejujurnya aku tidak melakukan vasektomi, melainkan aku pria yang mandul,"
Aku sangat syok mengetahui fakta demi fakta yang baru Delano ungkap setelah kematiannya.
"Meski kita bercerai waktu itu, sebenarnya aku masih berharap kita bisa kembali rujuk. Aku bahkan berjanji dengan diriku sendiri akan berhenti dari orientasiku yang menyimpang itu. Karena setelah aku pikir-pikir cuma kamu yang bersedia menerimaku, memahamiku selama ini. Tapi sayangnya kamu menolakku mentah-mentah,"
"Saat kamu meninggalkan aku, aku sangat hancur. Karena tujuanku mencari uang hanya untuk kamu, untuk membahagiakanmu. Meskipun caranya dengan cara salah. Maafkan aku karena tidak memberikan harta gono gini dengan benar, aku hanya ingin menahanmu agar kita tidak bercerai. Tapi ternyata aku gagal mempertahankanmu, karena hatimu sudah terpikat padanya ,"
"Sekarang aku sudah pergi. Rumah ini sudah aku balik nama atas namamu. Jangan dijual ya? aku janji nggak akan jadi hantu kok. Rumah ini adalah kenang-kenangan kita. Kalau kamu jual, kenangannya akan ikut musnah. Aku do'akan agar kamu selalu bahagia Caren. Karena cara mencintai tertinggi adalah disaat aku mampu ikhlas melepaskan orang yang aku cintai agar bisa mencari kebahagiaannya sendiri."
"Buat mama dan papa. Ada sertifikat apartemen di loker lemari pakaian. Juga koleksi jam tangan, juga kartu ATM yang pinnya hari ulang tahunku. Gunakan uang itu untuk biaya pendidikkan adik,"
"Selamat tinggal Caren. Semoga kamu selalu bahagia. Aku mencin-....hufffttt"
Di video itu bisa kami lihat Delano merasakan sakit di dadanya dan mulai mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Terakhir Delano masih mencoba melambaikan tangan sembari mencoba tersenyum. Dan akhirnya dia mematikan video itu.
Tangisku langsung pecah. Bukan hanya tangisku, tangis kedua orang tuanya juga sama. Aku kemudian berlari kearah Delano dan bersimpuh dihadapan pria yang tidak bernyawa itu.
"Maafkan aku hiks...maafin aku Ano...huhuhu," aku benar-benar tergugu.
"Aku tahu kalian masih sangat berduka. Tapi Ano harus segera kita kebumikan. Kasihan dia," ujar Dios.
Dios kemudian memberikan Marta padaku, sementara dia mengangkat Delano untuk diletakkan diatas tempat tidur.
"Apa kita perlu memanggil pihak berwajib?" tanya Dios.
"Tidak perlu. Aku tidak ingin Delano jadi konsumsi publik. Aku ingin dia segera dimakamkan saja. Dan kalau bisa jangan sampai berita penyebab kematiannya keluar," ujar papa.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mengurus semuanya. Kalau begitu aku akan memberitahu pengurus masjid dulu," ujar Dios.
Dios kemudian pergi keluar kamar. Aku menatap wajah Delano yang sudah membiru. Entah obat jenis apa yang dia makan untuk mengakhiri hidupnya itu. Tapi jujur saja aku sangat merasa bersalah pada mantan suamiku itu.