
"Wah...kantung janinnya ada dua. Selamat ya bu, anda saat ini tengah mengandung bayi kembar," ucap dokter.
Tentu saja perkataan dokter membuatku ternganga. Lain denganku, lain pula dengan reaksi Dios. Wajah suamiku itu sangat semringah, wajah yang seperti baru dapat menang lotre.
"Sayang. Aku sangat bahagia sekali," ucap Dios sembari mengecup punggung tanganku.
"Ini vitaminnya jangan lupa di tebus ya pak? karena ibu Caren tidak mengalami mual dan muntah, jadi ini cuma diberi suplemen makanan saja," ujar dokter.
"Baik dok, terima kasih." Jawab Dios.
Dios kemudian membantuku turun dari tempat tidur pasien. Dia memapahku berjalan keluar menuju pintu setelah mengambil resep dari dokter.
Kamipun kembali keruanganku untuk beristirahat. Dan kabar bahagia kembali kami dengar dari perawat yang kami tugaskan untuk menjaga anakku. Dia bilang kini suhu tubuh Marta sudah 37°c.
Dios berkali-kali mengecup kedua tangannku. Baru kali ini aku merasakan Bahagia, saat Dios menemaniku saat-saat kehamilanku.
"Rasanya aku tidak bisa melukiskan betapa bahagianya aku saat ini. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Terima kasih karena kamu selalu memberikan kebahagiaan yang bertubi-tubi untukku," ucap Dios.
"Kak. Apa kamu akan selalu seperti ini selamanya? tiba-tiba aku takut kakak akan tergoda dengan wanita lain seperti yang kita lakukan dulu," ucapku.
"Aku tahu ketakutanmu. Tapi dulu kita melakukan kesalahan karena banyak faktor yang mendukung. Sekarang situasinya sudah berbeda, kamu dan anak-anak merupakan sumber kebahagiaanku. Aku nggak mungkin menyia-nyiakan kalian." Jawab Dios.
"Aku mohon jangan kecewakan aku lagi. Karena kalau sampai itu terjadi, meski anak satu lusinpun aku akan tetap pergi ninggalin kamu," ucapku.
"Tentu saja. Kamu dan anak-anak adalah harta yang paling berharga bagiku. Aku berjanji dan bersumpah akan setia hingga akhir hayatku." Jawab Dios.
"Kak. Aku mau melihat Marta, aku kangen sama dia," ucapku.
"Akan aku ambilkan kursi roda. Kamu jangan sampai kelelahan. Atau mau aku gendong?" tanya Dios sembari menaik turunkan alisnya.
"Malu kali yank...emangnya cuma aku doang yang hamil di dunia ini? jangan lebay." Jawabku yang dibalas kekehan oleh Dios.
Aku kemudian di didorong Dios dengan menggunakan kursi roda. Aku sudah tidak sabar ingin menjenguk putraku lagi. Namun saat kami keluar dari pintu ruanganku, kami malah bersitatap dengan Delano yang tengah di papah oleh mantan mertuaku. Dibelakang mereka juga ada mantan ibu mertuaku, dan mantan adik iparku.
"Papa, mama?" aku menyapa mereka dan mencium tangan mereka.
"Ano kamu kenapa?" aku melihat Delano seperti orang kedinginan, dengan banyak ruam di tubuhnya.
"Delano sedang sakit. Ini kami mau bawa dia periksa ke dokter. Sudah satu minggu ini dia nggak mau makan dan malah timbul ruam begini. Takutnya dia kena cacar," ujar mantan mertuaku.
"Kamu kenapa? kamu sakit juga?"
"Nggak ma. Cuma mau kontrol saja. saat ini aku tengah hamil lagi." Jawabku.
Mantan mertuaku melirik kearah Dios. Mungkin dia ingin tahu pria yang sudah berhasil mencuri hatiku itu.
"Wah...selamat ya? sayang, Delano belum menemukan tambatan hati lagi setelah bercerai dari kamu. Padahal mama sudah kepengen banget gendong cucu,"
Aku melirik kearah Delano, yang ternyata melirik juga kearahku dan kemudian tertunduk..
"Ya sudah kami bawa Delano berobat dulu ya Ren?"
__ADS_1
"Ya ma. Caren do'akan semoga Delani cepat sembuh. Ano, cepat sembuh ya?"
"Makasih." Jawab Delano seadanya.
Aku menatap punggung mereka yang semakin menjauh, entah mengapa wajah Delano menyiratkan ketakutan saat ini. Aku dan Dios kembali melanjutkan rencana kami yang ingin melihat keadaan Marta. Kami memutuskan akan membawa Marta pulang, jika memang sudah memungkinkan.
"Bagaimana dok? apa anak kami sudah bisa diperbolehkan pulang?" tanyaku pada dokter yang menangani putraku.
"Sebaiknya kita lihatkan sampai malam ini saja ya bu? takutnya panas tubuhmya akan megulang. Kalau malam ini suhu tubuhnya tetap normal, maka besok pagi kalian bisa pulang." Jawab dokter.
Kami menuruti saran dokter. Karena kami tidak ingin terjadi sesuatu dengan putra kami. Dan setelah keesokkan harinya Marta sudah dinyatakan sembuh, barulah kami ingin pulang ke rumah.
"Apa kita akan langsung pulang ke Yogya?" tanyaku.
"Jangan dulu. Tunggu semuanya stabil. Kondisimu sedang hamil muda, sebaiknya kita konsultasikan lagi pada dokter. Aku takut kamu tidak diperbolehkan naik pesawat," ujar Dios.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanyaku.
"Aku sudah menyerahkan pada orang kepercayaanku." Jawab Dios.
Aku akhirnya menurut saja dengan keputusan Dios itu. Aku menganggap kepergian kami di kota J sebagai acara liburan keluarga yang tertunda waktu itu.
"Sayang. Apa ada makanan yang ingin kamu makan?" tanya Dios.
"Tidak ada." Jawabku.
"Kok tidak ada? biasanya orang hamil akan ngidam yank? kamu jangan nahan diri ya? mumpung aku ada disini, disamping kamu. Aku juga pengen kerepotan saat memenuhi hasrat ngidammu."
Aku meraih wajah Dios, dan mencium bibirnya yang mengerucut itu.
"Saat ini belum ada. Lagian kata orang setiap anak itu beda-beda. Bahkan ada yang sampai lahir tidak merasakan ngidam sama sekali," ucapku.
"Masak sih yank? yah...jangan dong. Harus ada ya nak? biar papa merasakan juga cari makanan yang mamamu mau," ucap Dios sembari mencium-ciun perutku.
Aku hanya bisa tersenyum, saat melihat aksi Dios yang menggelitik hatiku itu.
"Iya pa. Saat ini dedek sudah kenyang karena mama mendapat perhatian papa,"
Aku menirukan suara anak dalam perutku, seolah-oleh mereka tengah bicara pada Dios.
"Kamu diam disini ya? biar aku kupaskan buah buat kalian," ujar Dios.
"Aku mau buah pear," ucapku.
"Oke nyonya Dios." Jawab Dios.
*****
"Sayang. Kita jadi ngemallnya?" tanya Dios.
"Jadi. Susu sama pempers Marta sudah habis. Kita harus nyetok, biar nggak repot." Jawabku.
__ADS_1
"Jangan lupa masukkin juga list susu hamil. Anak-Anak kita yang lain juga butuh asupan gizi yang cukup," ujar Dios.
"Ya. Aku sudah mencatatnya." Jawabku.
"Ya sudah aku mandi sebentar ya yank? rasanya lengket kalau nggak mandi," ujar Dios.
Dios memang merasa resah akhir-akhir ini, karena perutnya yang tidak lagi sispack seperti dulu. Aku sudah berulang kali mengatakan padanya, bahwa aku tidak mempermasalahkan itu. Tapi menurutnya perut berototnya itu adalah aset berharganya. Kata dia karena perut itu pula aku tergila-gila saat berada dibawah kungkungannya. Dasar Dios konyol!
Dan jadilah karena kepanikkan perut buncitnya itu, Dios jadi rajin berolah raga lagi. Meski bukan jenis olah raga ekstrim, tapi aku cukup merasa kasihan padanya.
"Yank. Aku sudah kelihatan kurus belum?" tanya Dios saat dipinggangnya sedang terlilit handuk, dan memperlihatkan perut buncitnya itu.
"Ya ampun sayang, baru juga olah raga dua hari. Lagian sudah aku bilang, aku nggak masalah dengan perut buncitmu itu. Bisa jadi itu karena bawaan aku yang hamil. Iya kan? " aku membujuk Dios agar tidak terlalu memusingkan urusan perutnya yang buncit.
"Tapi aku nggak PD yank. Semua baju kemejaku yang lama sudah tidak muat lagi. Rasanya juga sesak kalau buat jalan jauh," ucap Dios.
"Ya terserah saja. Sekarang buruan pakai baju. aku sudah tidak sabar pengen ke mall. Tiba-Tiba aku pengen banget makan es krim," ujarku.
"Ah...akhirnya kamu ngidam juga yank. Seneng deh, nanti aku suapi kamu ya yank?"
"Nggak gitu juga kali yank. Malu, udah tuwir." Jawabku.
Begitulah hari-hari yang aku jalani selama pulang ke kota J. Namun ketenanganku kembali terusik, saat di hari ke 7 Delano tiba-tiba menghubungiku dengan terisak.
"Ano? ada apa?" tanyaku diseberang telpon.
"Caren. Aku butuh bicara serius denganmu. Mari kita bertemu," ucap Delano.
"Ada apa sebenarnya? kenapa harus bertemu? kenapa nggak lewat telpon saja? Ano, sekarang aku sudah punya suami dan anak. Jadi aku nggak bisa sebebas itu perginya. Kalau memang ada yang perlu di bicarakan, ngomong saja sekarang," ucapku
"Apa kamu sungguh tidak apa kalau aku mengatakanya lewat telpon?" tanya Delano
"Tidak masalah." Jawabku.
"Dimana suamimu?" tanya Delano.
"Lagi joging." Jawabku.
"Kalau begitu tunggu sampai suamimu datang, bukankah kamu tengah hamil sekarang?" tanya Delano.
"Ya. Aku hamil anak kembar sekarang." Jawabku.
"Benarkah? selamat ya Ren? semoga kebahagiaan selalu dilimpahkan Tuhan untukmu. Maafkan kesalahanku yang dulu-dulu. Sekarang kamu sudah bahagia, aku juga turut bahagia untukmu," ucap Delano.
"Ano. Sampai kapan kamu akan hidup seperti itu? itu hanya keindahan semu. Kasihan papa dan mama,"
"Aku sudah mengecewakan mereka Caren. Dan sekarang merekapun ingin membuangku, sama seperti kamu dulu," ucapan Delano membuatku sangat terkejut.
"Ano suamimu sudah datang. Apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanyaku.
"Ca-Caren. A-Aku dinyatakan positif HIV."
__ADS_1
Sungguh jawaban Delano membuatku terkejut, dan tidak terasa sampai meneteskan air mata.