TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
41.Syok


__ADS_3

Sekar mengerutkan dahinya saat melihat reaksi Dios yang menurutnya sedikit berlebihan.


"Ada apa? kenapa kamu seperti terkejut begitu?" tanya Sekar.


"Eh? ti-tidak. Apa dia benar-benar tidak mengatakan apapun padamu?" tanya Dios.


"Tidak. Hah...ingat dia, aku jadi tidak berselera makan." Jawab Sekar sembari mendorong piringnya kedepan.


Dios menelan makanannya meskipun terasa susah. Dan entah mengapa pula tubuhnya jadi terasa lemas, karena syok mendengar kepergian Caren.


"Caren. Dua kali, sudah dua kali kamu membuatku begini. Kenapa kamu harus hadir kembali dan membuat hidupku kacau. Sekarang kamu pergi hanya karena aku menyuruhmu pergi? tidakkah kamu mengerti kalau aku hanya sedang marah padamu," batin Dios.


"Padahal aku sangat berharap bisa menggendong anaknya setelah anak itu lahir. Jadi aku bisa merasakan juga jadi seorang ibu. Aku tidak tahu, apa sebenarnya pemicu dia tiba-tiba pergi," Sekar mengurut keningnya.


"Ap-Apa anak?" Dios Syok.


"Ah...padahal aku sudah berjanji akan merahasiakan tentang kehamilannya." Jawab Sekar.


"Ha-Hamil?" tanya Dios dengan bibir bergetar.


"Iya. Dia sedang hamil 5 bulan. Ya meski dia hamil dari sebuah kesalahan, meski itu anaknya dari hasil perselingkuhannya, tapi dia sangat menyayangi anak itu. Dia bilang itu adalah buah cintanya dengan pria yang sangat dicintainya. Dia bahkan rela mengorbankan rumah tangganya, padahal mantan suaminya mau mengakui anak itu sebagai anaknya."


Tubuh Dios menegang sekaligus gemetar. Dia jadi teringat saat malam itu dia sempat mendorong Caren, hingga tubuh wanita itu membentur meja. Dia bahkan tidak memperdulikan Caren yang meringis kesakitan, karena dia mengira Caren hanya berpura-pura.


"Hari dimana dia tahu kalau itu itu anak hasil dari perselingkuhannya, dia langsung bergegas pergi menemui kekasih hatinya. Dia sangat bahagia, dan sangat bersemangat ingin menemui kekasihnya itu dan memberitahu kalau mereka akan mempunyai anak."


"Tapi Caren sangat kecewa, saat tiba disana rumah kekasihnya itu sudah dijual pada orang lain. Tapi Caren tidak menyalahkan kekasihnya yang sudah meninggalkannya itu, karena dia sadar dialah yang sudah menyuruh kekasihnya itu untuk melupakan dia. Meski pada kenyataannya, dia sangat menderita selama jauh dari kekasihnya itu,"


"Apa kamu tahu? demi mempertahankan anak itu, bahkan dia diusir dari rumah dan tidak diakui anak oleh orang tuanya. Bahkan saat aku bertemu dengannya di kereta, dia sedang menangis tersedu-sedu karena tidak tahu harus pergi kemana."


"Entah dia ada dimana saat ini. Entah apa yang akan terjadi padanya, saat harus mengurus anak itu seorang diri tanpa pengalaman apapun."

__ADS_1


Tes


Tes


Tes


Air mata Dios mengucur sederas air terjun dari ketinggian. Ingin rasanya dia berteriak sekeras mungkin, ingin rasanya dia melubangi kepalanya sendiri karena menyesali semua kebodohannya.


"Apa yang sudah aku lakukan? a-aku bahkan hampir membunuh anakku sendiri. Aku bahkan sudah menyakiti wanita yang sangat aku cintai. Sekarang aku harus bagaimana? aku harus mencarinya kemana?"


"Sayang. Kamu kenapa? kenapa kamu menangis? kamu terharu mendengar kisah hidup Caren ya?" tanya Sekar.


"Eh? hah...iya." Dios bergegas menghapus air matanya.


"Kamu sih. Giliran ada dia kamu sangat galak sama dia. Jangan-Jangan dia pergi karena takut sama kamu," ujar Sekar terkekeh.


"Kamu benar Sekar. Dia memang pergi gara-gara aku. Gara-Gara keegoisan aku. Aku yang sudah menghancurkan hidupnya, aku sudah menyakitinya, bahkan aku sudah menghinanya. Ya tuhan...aku merasa aku ini sudah bukan manusia lagi,"


"Kamu sakit? kita kerumah sakit ya?"


"Tidak usah. Aku mau tidur saja. Mungkin ini efek dari begadang," ujar Dios.


"Ya sudah istirahatlah. Kalau gitu aku akan membuatkanmu sup daging buat makan siang," ujar Sekar.


"Emm." Dios mengangguk.


Dios kemudian menaiki tangga dan pergi ke kamarnya. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini. Bahkan saat tiba di kamar Dios kembali menangis sesegukkan. Dia benar-benar menyesali dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Bajingan kamu Dios. Kamulah yang sudah membuatnya terjebak dalam situasi sulit. Kamu bahkan mendorongnya saat dia ingin memelukmu karena merindukanmu. Caren...kumohon kembalilah sayang...kembalilah...hiks," tubuh Dios merosot di daun pintu.


Dios benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan kesempatan, agar bisa bersama dengan Caren.

__ADS_1


"Aku harus mencarinya kemana sekarang? surat. yah...Sekar bilang dia meninggalkan surat, siapa tahu di surat itu ada petunjuk kan?"


Dios segera bangkit dan mencari keberadaan surat dari Caren. Dan akhirnya dia menemukan surat itu dalam laci lemari baju. Dios memabaca kata demi kata surat yang Caren tulis untuk Sekar. Air mata Dios kembali merebak setelah membaca isi surat itu.


"Dasar bodoh. Kamu mendo'akan agar aku bahagia bersama Sekar. Padahal kamu tidak tahu, pernikahan seperti apa yang kami jalani. Sekar hanya ingin ada orang yang menjaganya, sementara untuk urusan hati dia sama sekali tidak bisa mengisi kekosongan yang aku rasakan selama ini,"


"Kamu bilang kota ini tidak cocok untukmu, itu berarti kamu tidak berada di kota ini lagi. Kemana aku harus menemukanmu?"


Dios berbaring diatas tempat tidur. Dios memejamkan matanya dan kembali mengingat saat-saat indah bersama Caren. Saat-Saat terakhir dirinya berpelukkan dengan Caren. Tanpa Caren tahu, dirinya malam itu sangat menikmati pelukkan itu. Tanpa Caren tahu, dirinya sangat merindukan wanita itu, dan tanpa Caren tahu dirinya menangis terisak saat Caren pergi dari ruangan itu.


"Kenapa diantara kita selalu berujung dengan penyesalan. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan kesempatan pertemuan yang diberikan Tuhan padaku. Padahal aku sangat menderita berjauhan dengannya selama ini. Tapi kenapa kamu harus mendengarkan ucapan amarahku? kenapa kamu tidak mau bersabar sebentar saja. Kenapa hiks ...."


Dios lagi-lagi terisak dengan tubuh bergetar. Pria itu bahkan membungkus dirinya dengan selimut tebal, hingga dirinya jatuh tertidur.


Kriekkkk


Sekar mendorong pintu kamar dan mendapati Dios tengah membungkus dirinya dengan selimut. Waktu sudah menunjukkan pukul hampir 1 siang. Sekar ingin membangunkan Dios untuk mengajaknya makan siang.


"Sayang. Bangunlah! ayo kita makan siang bersama," ujar Sekar.


Namun tidak ada pergerakkan dari Dios. Hingga Sekar terpaksa membuka selimut yang menutupi tubuh Dios. Sekar sangat terkejut, saat mendapati tubuh Dios tengah bergetar. Ditatapnya kening Dios yang ternyata tengah mengalami demam tinggi.


Sekar bergegas membawa Dios ke rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan suami berondongnya itu.


"Bagaimana keadaan suamiku dok?" tanya Sekar.


"Demamnya cukup tinggi. Pak Dios harus di opname, agar kesehatannya cepat membaik." Jawab dokter.


"Lakukan yang terbaik. Saya ingin suami saya cepat sembuh," ujar Sekar.


Sekar menatap wajah Dios yang sedikit agak pucat. Dia sangat mengkhawatirkan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2