
Dios tampak sibuk mengurus berkas-berkas pernikahan kami. Kami memutuskan hanya mengundang penghulu dan beberapa saksi untuk pernikahan kami. Setelah semua berkas lengkap, keesokkan harinya kamipun melaksanakan pernikahan kami dikediaman orang tuaku.
Hari ini aku mengenakan baju kebaya berwarna putih dan Dios mengenakan baju kemeja berwarna senada. Suasana haru tampak meliputi acara ijab qobul itu, setelah semua orang mengucapkan kata Sah untuk pernikahan kami.
Aku dan Dios sungkeman pada kedua orang tuaku. Aku dan Dios kemudian saling berpelukkan, karena kami sangat terharu saat ini. Dios kemudian menempelkan keningnya di keningku.
"Sekarang kita sudah Sah menjadi suami istri. Rasanya ini seperti mimpi bagiku. Tetanggaku, kekasihku, dan kini menjadi istriku," ucap Dios.
"Ya. Tetangga yang awalnya dingin dan cuek. Namun sangat menggairahkan," bisikku ditelinga Dios.
"Sayang. Ini masih terlalu siang, untuk mengajakku bertempur. Tunggu sampai malam pertama kita nanti ya?" ucap Dios sembari mengedipkan mata.
"Malam pertama apanya. Ini sudah malam ke 100 kali." Jawabku sembari terkekeh.
Aku melihat Dios melihat jam dipegelangan tangannya. Yang membuatku jadi bertanya-tanya.
"Ada apa kak?" tanyaku.
"Masih jam 11. Kenapa malam terasa lama." Jawab Dios yang membuat mataku jadi melotot kearahnya. Sementara Dios hanya nyengir kuda.
Suasana rumahku sudah berangsur sepi. Marta terlihat diajak mama dan papa ke kamar mereka untuk bermain. Dios yang melihat suasana begitu mendukung, tidak sabar dan segera menarikku ke dalam kamar.
"Kak. Ini masih siang. Nanti kalau Marta Nangis gimana? ka-kakak kan kalau main sangat lama. Kasihan papa, mama nantinya," ujarku.
"Tapi aku sungguh tidak tahan lagi sayang. Please sebentar saja," ucap Dios.
"Aku pastikan dulu Marta tidur atau tidak," ujarku yang segera kabur tanpa persetujuan Dios.
Perlahan aku ngintip apa yang dilakukan Marta saat ini. Ternyata Marta tengah berada dalam gendongan mama. Mata putraku itu sudah terlihat sayu, dan tandanya ingin segera tidur.
"Sepertinya sebentar lagi dia tidur Ma. Biarkan aku membawanya ke kamar. Biar mama dan papa bisa istirahat," ucapku.
"Benarkah? ya sudah kamu tidurkan dia," ujar mama.
Aku kemudian mengambil Marta dari gendongan mama, dan membawanya ke kamarku.
__ADS_1
"Kok malah bawa Marta? jadi gimana ini urusannya? pusing kepalaku yank," tanya Dios.
"Marta udah mau tidur kak. Kasihan papa mama juga mau istirahat. Biar aku susui dulu dia. Sebentar lagi pasti tidur." Jawabku yang langsung mengeluarkan aset berhargaku.
"Enak sekali Marta ya? papa yang pengen, kamu yang dapat," sindiran Dios membuatku terkekeh.
Tidak butuh waktu lama, Marta benar-benar terlelap. Dios segera menarikku keatas sofa, dan kami dengan sigap melepaskan pa**ian kami masing-masing. Sejujurnya tidak hanya Dios, aku juga sangat menginginkan hal itu terjadi.
"Keduanya bertambah menjulang sayang," ujar Dios saat dia mulai me**mas kedua b*kit besarku.
Aku tidak menanggapi ucapannya lagi, karena s**tuhannya sudah membuatku terbuai. Dios kemudian men*iumku, dan me**mat bi**rku. Karena ha*rat kami sudah lama tidak tersalurkan, kami ber*iuman dengan rakusnya hingga kami begitu cepat kehabisan pasokkan oksigen.
"Sayang...aku sangat mencintaimu," ujar Dios disela-sela nafasnya yang memburu.
Aku tidak mampu membalas ucapan cintanya itu. Dengan aku mende**h dibawahnya, seharusnya dia sudah tahu kalau aku sangat menyukai apa yang dia lakukan padaku. Dan beberapa saat kemudian, aku men**rang panjang ketika mendapat pe**pasan pertamaku.
"Enak?" pertanyaan konyol meluncur dari mulut Dios.
"Selalu." Jawabku ambigu.
"Sekarang gantian buat aku melayang," ujar Dios.
"Sayang kamu sangat ni*mat," ucap Dios disela dirinya yang membenamkan miliknya dengan dalam, sembari menyemburkan ca*ran cinta miliknya.
Dios kemudian menggendongku kedalam kamar mandi. Dia langsung mengajakku membersihkan diri.
"Kok langsung bersih-bersih?" tanyaku yang heran.
"Kita bisa melanjutkannya nanti malam. Nggak enak kalau papa atau mama manggil kita dalam keadaan kotor." Jawab Dios yang kemudian menurunkanku dari gendongannya.
"Bersucilah!" ujar Dios.
Aku menuruti perintah suamiku itu. Kami berdua akhirnya mandi bersama, dengan saling menggosok punggung kami masing-masing.
"Kak. Apa rencana kita setelah ini?" tanyaku sembari Dios menggosok punggungku
__ADS_1
"Tentu saja kita harus kembali ke Yogya." Jawab Dios.
"Ma-Maksudku bagaimana dengan kedua orang tuaku?" tanyaku.
Aku ingin tahu seberapa Dios mencintaiku, dan seberapa Dios menganggap orang tuaku adalah orang tuanya juga.
"Apa yang kamu katakan sayang. Tentu saja papa dan mama harus ikut kita. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengurus mereka."
Sungguh jawaban Dios membuatku sangat terharu. Aku sampai berhambur dalam pelukkannya sembari terisak. Aku sungguh tidak menyesal pernah melakukan kesalahan dengannya, karena aku melakukannya dengan orang yang tepat.
Dios menyeka air mata haruku, dan kemudian mencium keningku.
"Bisa dibilang aku ini besar dijalanan. Aku sudah tidak memiliki siapapun didunia ini. Dulu aku bersikeras tidak ingin melepaskan Vika, karena menganggapnya duniaku setelah kedua orang tuaku. Bahkan meski dia berselingkuh berulang kali, aku selalu memaafkannya."
"Tapi sejak aku bertemu denganmu, dan kamu hadir memenuhi kekosonganku dalam hatiku. Kamu memberikan cinta dan kasih sayang yang tidak Vika berikan untukku meskipun diawal-awal hubungan kami. Aku merasa sangat beruntung memilikimu, terlebih sekarang aku memiliki anak denganmu."
"Sekarang kebahagiaan itu sudah lengkap. Aku tidak hanya memilikimu dan Marta, tapi juga memiliki papa dan mama," sambung Dios.
"Apa kamu sungguh tidak keberatan? mereka sudah cacat sekarang. Aku takut mereka merepotkanmu," tanyaku lagi.
"Merepotkan apa. Ini sudah tugas kita sebagai anak-anaknya mengurusi mereka. Nanti kalau kita ada rejeki, kita akan bawa mama dan papa kontrol kerumah sakit. Siapa tahu ada solusi untuk penyakit mereka." Jawab Dios.
"Tapi itu pasti membutuhkan biaya yang besar?" tanyaku.
"Aku sudah biasa hidup susah. Modal buka usaha WO juga karena diberi oleh Sekar. Jadi buat apa takut miskin? harta itu nggak akan dibawa mati. Kalau habis ya sudah, rejeki bisa dicari lagi. Kenapa kamu mengkhawatirkan hal sepele seperti itu?"
"Aku takut memberatkanmu." Jawabku
"Aku tersinggung loh kamu bilang begitu. Itu artinya kamu tidak memperbolehkan aku menganggap mereka sebagai kedua orang tuaku," ujar Dios.
"Eh? bu-bukan begitu. Kamu jangan marah,"
"Tidak! aku sudah terlanjur marah." Jawab Dios dengan wajah datar.
"Sayang jangan marah ya?" aku merayu Dios dengan bergelendot manja di dadanya.
__ADS_1
"Aku nggak akan marah, kalau kamu mau sekali lagi," bisik Dios.
Aku memukul dada Dios, karena ternyata dia mengerjaiku. Dios kemudian kembali memagut bibirku, dan kali ini giliran kamar mandi yang menjadi sasaran tempat bercinta kami.