TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
35. Ragu


__ADS_3

Aku menggeliat saat kami sudah tiba di stasiun Surabaya. Pinggangku cukup pegal, mungkin karena aku sedang hamil saat ini, jadi aku mudah merasa lelah. Setelah aku dan tante Sekar menurunkan barang-barang kami, kami kemudian menyewa taksi untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan.


"Kamu pikirkan saja dulu tentang pekerjaan yang tante bilang tadi. Bukan apa-apa, kamu sedang hamil saat ini. Tente tidak ingin kamu mengambil resiko mahal, karena tempat seperti itu bukan tempat biasa,"


"Apa yang membuat tante ragu mempekerjakan aku disana?" tanyaku.


"Selain kamu hamil. Kamu itu sangat cantik dan berbody indah. Tante takut ada pelanggan yang tertarik sama kamu, dan berbuat yang tidak-tidak." Jawab Sekar.


Melihat tante Sekar meragukanku, aku jadi ikut ragu. Pasalnya perkataan tante sekar terdengar menyeramkan di telingaku.


"Baiklah akan aku pikir-pikir lagi."


"Iya sebaiknya kamu fokus saja dengan kehamilanmu. Kapan tafsiran persalinanmu?" tanya tante Sekar.


"Diperkirakan 4 bulan lagi lahiran." Jawabku.


"Baguslah. Artinya tidak lama lagi kamu lahiran, barulah bisa masuk kerja," ujar tabte Sejar.


"Tante. Bisakah tante merahasiakan kehamilanku pada siapun termasuk suami tante?"


"Kenapa? lama-lama orang akan tahu juga," tanya tante Sekar.


"Aku cuma mau cari nyaman saja untuk sementara. Tante tahu sendiri, sekarang aku sudah tidak punya suami. Aku nggak mau orang berpikir negatif tentangku."


"Kamu benar. Ya tante akan lakukan itu," ujar tante Sekar.


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, kamipun tiba di depan pagar rumah tante Sekar. Rumah tante Sekar sangatlah mewah. Untuk sampai ke rumahnya saja, harus melewati halaman rumahnya yang mungkin butuh waktu satu menit jika berjalan kaki.


"Masuklah," ujar tante Sekar setelah wanita itu membuka kunci rumahnya.


"Suami tante nggak ada di rumah?" tanyaku.


"Dia pasti sedang tidur saat ini. Soalnya tiap malam dia harus mengontrol Klub. Jadi pagi-pagi dia baru pulang, dan tidur.


"Kalau begitu biarkan saja. Beliau pasti lelah,"


"Tunggu ya. Biar tante buatkan sarapan buat kita," ujar tante Sekar.

__ADS_1


"Caren ikut saja tante. Tante juga pasti lelah, jadi kita bisa bikin sama-sama,"


"Baiklah. Apa yang ingin kamu makan. Hem?" tanya tante Sekar.


"Omelet mie." Jawabku yang entah mengapa aku ingin sekali memakannya.


"Omelet mie? bagaimana cara membuatnya? tante belum pernah memakan itu," tanya tante Sekar.


"Kalau begitu biar Caren yang buatkan. Tante duduk saja di meja itu,"


"Emm...kalau begitu buat tiga ya? sekalian buat suami tante juga,"


"Siap." Jawabku.


"Caren. Tante tinggal dulu ya? tante mau memastikan kalau suami tante masih tidur, atau sudah bangun," ucap tante Sekar.


"Ya tante."


Kulihat tante Sekar segera berlalu dan menaikki anak tangga menuju kamar atas. Aku menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya meneruskan pekerjaanku.


Tidak berapa lama kemudian aku melihat dia turun kembali, dengan wajah segar. Sepertinya tante Sekar sudah mandi dan mengganti pakaiannya.


"Sudah tante." Jawabku.


"Kamu mau mandi dulu, atau sarapan dulu?"


"Sarapan dulu tante. Sepertinya anakku sudah kelaparan." Jawabku sembari terkekeh.


"Ya sudah ayo," ujar tante Sekar.


"Loh...suami tante mana?" tanyaku.


"Sesuai dugaan, dia masih tidur." Jawab tante Sekar.


"Biarkan saja tante. Beliau pasti kelelahan. Diusia senja seperti itu, pasti tenaga juga kurang fit," ucapku yang sok tahu.


Mendengar ucapanku, tante Sekar mendadak terkekeh.

__ADS_1


"Jadi kamu mengira tante menikah dengan aki-aki ya?" tanya tante Sekar.


"Loh. Emangnya salah ya tan?" tanyaku yang merasa tidak enak.


"Entah Tuhan mungkin kasihan sama tante yang hidup sebatang kara ini. Sehingga tante dipertemukan dengan berondong ganteng dan baik hati. Dia lebih muda 15 tahun dari tante. Tapi dia memperlakukan tante benar-benar layaknya seorang istri. Maklum saja, selain tua tante juga punya penyakit serius."


"Eh? tan-tante, maaf nih kalau lancang. Apa tante percaya begitu saja dengan dia? bagaimana kalau kebaikkannya itu hanya modus? maaf, tante kan kaya raya. Bisa jadi itu hanya karena ingin harta tante saja,"


"Tante mengerti kekhawatiranmu. Tapi dia ini pria yang berbeda. Meski berada di klub malam, dan bertemu wanita cantik. Dia sama sekali tidak tergoda. Ya terdengar naif sih emang, tapi tante juga bisa memaklumi kalau dia menyukai wanita lain. Walaubagaimanapun dia masih muda, dan dia pasti menginginkan seorang anak suatu hari nanti."


"Jadi bagaimana kalau niatnya itu memang salah?" tanyaku penasaran.


"Tante tidak perduli. Mungkin tidak lama lagi tante juga akan mati. Harta nggak bisa dibawa kedalam kubur, aku ikhlas menyerahkan semua harta dan aset untuk dia. Yang penting tante saat ini ada yang menjaga, itu saja sudah cukup."


Aku terdiam. Bertemu tante Sekar membuatku mendapat pengalaman baru. Jika anak muda sepertiku masih memikirkan urusan dunia, maka tante Sekar sudah tidak ditahap seperti itu lagi.


Satu lagi yang membuatku penasaran. Aku ingin sekali melihat suami berondong tante Sekar yang katanya baik hati itu.


"Emm. Enak," ujar tante Sekar saat sudah mencicipi omelet buatanku dengan mencocolnya ke dalam mangkok kecil yang berisi saus sambal dan mayonaise.


"Makan yang banyak tante. Nanti kalau kurang bisa aku buatkan lagi," ujarku.


"Habiskan makananmu. Nanti akan tante temani buat cari kontrakkan di depan. Atau kamu mau tinggal di rumah tante saja?"


"Eh? nggak usah tante. Biar aku ngontrak sendiri saja." Jawabku.


"Baiklah,"


Setelah Selesai sarapan, kamipun pergi keseberang jalan untuk mencari kontrakkan yang tante Sekar maksud. Dan aku sangat bersyukur, karena ternyata kontrakkan itu ada satu yang kosong.


Tante Sekar membantuku menyusun barang-barang. Dimataku tante Sekar sosok yang sangat ramah dan baik hati meskipun dia orang yang berada.


"Kamu kalau butuh apa-apa jangan sungkan. Sebelum kamu lahiran, tante akan mencukupi kebutuhanmu," ujar tante Sekar.


"Tidak perlu tante. Aku masih ada tabungan sedikit. Jadi masih bisa buat sampai lahiran nanti,"


"Kalau kamu butuh teman ngobrol, atau apa. Kamu datang saja ke rumah,"

__ADS_1


"Emm. Terima kasih tante" Aku menganggukkan kepalaku.


Tante Sekar kemudian kembali ke rumahnya, karena ingin beristirahat. Begitu juga denganku, setelah membersihkan diri akupun memutuskan untuk tidur sejenak.


__ADS_2