
Dios menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu kamarku sebelum pergi.
"Aku lihat ada banyak barang dalam kardus besar, kalian baru beli barang?" tanya Dios.
Deg
Jantungku berdegup saat Dios menayakan hal itu padaku. Aku jadi tidak tega membohonginya. Tapi itu harus aku lakukan, karena aku tidak ingin dia mengetahui kepergianku nanti.
"Eh? i-iya. Belum sempat aku menyusunnya," ujarku.
"Suatu saat nanti aku juga akan membelikan barang-barang mahal untukmu. Saat ini aku tengah mengumpulkan uang, aku ingin membuka usaha besar, dan bisa membelikan apapun yang kamu mau. Kamu bersabar ya?"
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Sekuat hati aku menahan, agar air mataku tidak tumbang karena terharu mendengar ucapannya.
"Aku pulang ya?" ucapnya.
"Emm." Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju.
Aku tutup pintu kamarku setelah kepergiannya. Air mataku jadi jatuh. Ternyata Dios sudah merasuk terlalu jauh dalam hatiku, hingga aku jadi takut kehilangannya. Aku menyeka air mataku dengan cepat, aku tidak ingin larut daalm perasaanku sendiri. Aku menyadari sedang keblinger saat ini.
Aku bergegas mengepak barang-barangku sebanyak mungkin. Lebih cepat lebih baik aku pergi dari sini. Menunggu satu minggu terasa lama bagiku.
Ting
Sebuah chat masuk dari Dios, dia ingin mengajakku nonton ke bioskop. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah.
"Kamu nolak, karena lebih suka kita perang keringat ya?"
Aku terbelalak saat membaca isi chat Dios. Apa tubuhnya itu terbuat dari besi? tidak merasakan lelah sama sekali. Setelah aku pikir-pikir, daripada dia menghajarku lagi, akhirnya aku setuju dengan ajakkannya untuk nonton bioskop bersamanya.
"Kamu sangat cantik sayang," dia memuji dandananku, membuat aku jadi tersipu.
Aku memelukknya dengan erat saat berada dibelakangnya. Setelah menempuh jarak hampir 25 menit, kamipun tiba di salah satu bioskop yang sering banyak di kunjungi orang-orang di kota J.
"Wah...wah...wah...sepertinya kamu tidak sabar lagi nunggu kami sampai ketok palu, untuk bisa jalan dengan suamiku," ujar Vika dari belakang tubuhku.
Deg
Aku melirik ke kanan dan ke kiri, ada banyak orang yang tiba-tiba memperhatikan kearah kami, karena mendengar ucapannya.
"Tutup mulutmu!" Dios menekankan tiap kata-katanya, dengan setengah berbisik.
__ADS_1
"Kenapa? suamimu tidak memuaskanmu ya? ya aku akui, Dios mampu untuk itu. Tapi sayang dia kere. Hebat sekali kamu ya? kamu menikmati uang karier suamimu, sementara kamu mencari kepuasan dengan suamiku. Dasar ja**ng!"
Air mataku tidak bisa lagi aku tahan. Aku cukup malu, karena orang-orang menatapku dengan tatapan mengintimidasi. Aku bergegas pergi dari situ, tanpa menghiraukan apapun lagi.
Tap
Dios mencekal tanganku, untuk menghentikan langkahku. Pria itu membawaku kedalam dekapannya untuk meredakan tangisku.
"Maaf," kata itu meluncur dari mulutnya sembari mengusap-usap puncak kepalaku.
Setelah tangisku mereda, Dios mengajakku kesuatu tempat, yang belum pernah aku datangi. Sebuah danau buatan, yang dia bilang menjadi tempat dirinya menenangkan diri, saat sedang suntuk atau bersedih.
Dios menggenggam tanganku, sembari mengusap air mataku.
"Kamu tidak usah pikirkan kata-katanya itu, karena sama sekali nggak ngaruh bagiku," ucap Dios.
"Sama kakak nggak ngaruh, itu karena rumah tangga kakak memang sudah hancur sama dia. Aku sangat takut dia mengadu sama Delano. Aku nggak mau rumah tanggaku hancur kak," ucapku sembari terisak.
Dios terdiam, aku tidak perduli meski dia sakit mendengar ucapanku.
"Aku yang akan menanggung resikonya." Jawab Dios.
"Aku akan menikahimu," ujar Dios.
Mendengar ucapannya, tentu saja aku jadi tertawa keras.
"Tentu saja kakak mau menikahiku, karena memang itulah tujuan kakak sebenarnya,"
"Kenapa kalau itu memang tujuanku? karena aku memang mencintaimu? kenapa kamu jadi menolakku secara terang-terangan? apa karena karierku tidak sebagus suamimu? apa karena aku kere?"
Dia melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak aku sukai. Aku tidak pernah memandang rendah orang lain berdasarkan materi. Tapi mungkin ini kesempatanku membuat dia agar membenciku.
"Tentu saja. Apa kamu pikir hidup itu melulu makan cinta? kita hidup perlu uang. Dan kamu tidak akan pernah bisa memenuhi gaya hidupku. Kamu bilang kamu mencintaiku, sekarang juga aku minta kamu belikan aku kalung berlian, kamu mampu tidak?"
Dios terdiam setelah mendengar ucapanku. Wajahnya berubah jadi sendu. Sungguh aku tidak tega melihatnya.
"Aku janji suatu saat akan membelikanmu kalung berlian, bersabarlah!" ujarnya lirih.
"Tidak mau! aku maunya sekarang. Kalau kamu tidak mampu, lebih baik lupakan saja hubungan kita,"
Aku beranjak dari tempat dudukku, dan ingin pergi dari situ.
__ADS_1
Greppppp
Dios memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar karena terisak.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu Caren, aku sangat mencintaimu. hiks...."
Ah...sungguh tangisannya terdengar pilu ditelingaku. Aku sadar aku sudah sangat keterlaluan padanya.
"Kak. Sejak awal hubungan kita memang sudah salah. Apa yang Vika katakan juga tidak salah. Lebih baik kakak cari wanita lain saja, yang pastinya tidak perlu melakukan hubungan sembunyi-sembunyi seperti ini," ujarku sembari melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku.
"Tidak mau. Aku hanya menginginkanmu." Jawab Dios.
"Hah. Ya sudahlah, percuma saja membicarakan ini denganmu. Kamu tidak akan mengerti dengan posisiku. Sekarang lebih baik kita pulang saja,"
Aku beranjak dan pergi ketempat motor parkir. Dios segera menyusul, dan kamipun pulang. Namun pada akhirnya bukan pulang untuk menenangkan diri masing-masing, Dios malah kembali meniduriku secara berulang-ulang. Kalau sudah begini aku tidak bisa menyalahkan Dios lagi, karena pada akhirnya aku juga menginginkan sentuhannya yang begitu membuatku mabuk.
Benar apa yang Vika katakan. Delano memang tidak bisa membuatku puas, sementara Dioslah yang mampu memuaskanku. Dios memang tidak bisa memenuhi gaya hidupku, tapi dia bisa membuatku nyaman saat bersamanya.
Aku melirik kearah Dios yang terdengar mendengkur karena kelelahan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, saat kami menyudahi percintaan panas yang tidak terhitung jumlahnya itu.
Diam-Diam aku beranjak dari tempat tidurnya, dan menyelinap pergi setelah berpakaian.
"Hah. Bersabarlah Caren, hanya tinggal beberapa hari lagi kamu akan bebas dari rasa bersalahmu terhadap Delano. Anggap saja kamu melayani Dios, sebagai bentuk kompensasimu karena meninggalkan dia saat sedang sayang-sayangnya,"
Aku membersihkan diriku dari sisa-sisa percintaanku dengan Delano. Setelah itu aku tidur dengan nyaman di kamarku sendiri.
Tring
Tring
Tring
Belum sempat aku terlelap, suara ponselku berdering. Dan itu berasal dari Dios.
"Sayang. Kamu pulang?" tanya Dios dengan serak.
"Iya." Jawabku singkat.
"Kenapa pulang? aku kehilangan guling hangatku," rengeknya diseberang telpon.
Ah...andai dia suamiku, tentu aku tidak akan berpikir dua kali untuk menerjang miliknya, dan menenggelamkannya lagi kedalam lobang kenikmatanku.
__ADS_1