TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
75. Diskusi


__ADS_3

"Pa, Ma. Sekarang Dios dan Caren sudah menikah. Caren dan Dios pengen kalian ikut kami ke Yogykarya. Karena usahanya Dios sedang berkembang disana," aku dan Dios berusaha membujuk orang tuaku agar mau ikut kami pindah ke Yogja.


"Kalian saja yang pergi. Kami tidak masalah ada disini," ujar Papaku.


"Tapi pa. Siapa yang akan mengurus kalian? kalau mama masih bisa melihat, pasti aku tidak akan khawatir. Sekarang mama tidak bisa melihat, sementara kaki papa lumpuh. Aku khawatir kalau ninggalin kalian berdua dalam keadaan seperti ini," ucapku dengan mata berkaca-kaca.


"Mama dan papa takut merepotkan kalian. Kalian baru mau merintis usaha, kalau ada kami disana, biaya hidup kalian akan bertambah. Kalau disini, papa masih bisa menggunakan uang pensiunan papa buat makan," ucap papa.


"Papa jangan bilang begitu. Kalian sama sekali tidak merepotkan kami. Lagipula kami adalah anak kalian, kalau bukan kami siapa lagi yang mau merawat kalian?" ucap Dios.


"Ah...Caren beruntung sekali punya suami sebaik kamu Dios," ucap mama.


"Akulah yang beruntung mendapatkan keluarga baru seperti kalian. Sekarang kebahagiaanku sudah lengkap. Aku sudah memiliki istri, anak, dan juga kedua orang tua," ujar Dios.


"Baiklahlah kalau begitu rumah ini kita jual saja," ujar Papa.


"Kenapa dijual pa?" tanya Dios.


"Ya Kalau kita pindah kesana, rumah ini akan tinggal. Daripada jadi sarang hantu, mending dijual saja kan?" Jawab Papa.


"Jangan pa. Ini adalah aset simpanan. Daripada dijual, mending kita sewakan saja. Kan bisa dapat duit, sementara rumah tetap jadi milik kita," ucap Dios.


"Benar kata Dios pa. Kalau suatu saat kita pengen liburan kesini, atau Marta pengen kuliah di kota ini, kan kita tidak repot lagi buat cari rumah," ujarku.


"Ya sudahlah. Papa ikut saja sesuai kemauan kalian. Rumah ini juga milik kalian. Kalau bukan buat anak cucu, ya untuk siapa lagi." Jawab Papa.


Aku dan Dios saling berpandangan dan tersenyum. Kami cukup lega, karena mereka tidak terlalu sulit untuk dibujuk.


"Sekarang kami bantu kalian berkemas ya?" tanyaku.


"Emang kapan kita mau berangkat?" tanya papa.


"Besok pa. Dios tidak bisa ninggalin usahanya lama-lama. Soalnya klien banyak yang pengen minta Dios menangani pernikahan mereka secara langsung." Jawabku.


"Iya. Kami menurut saja," ujar papa.


Aku melihat mama tampak murung sejak tadi. Entah apa yang beliau pikirkan saat ini.


"Mama kenapa ma?" tanyaku.


"Mama sekarang buta. Mama merasa mamalah yang paling merepotkan kalian nantinya. Kalau nanti kami membuat kalian kerepotan dan mengeluarkan biaya besar. Kalian titipkan saja kami ke panti jompo." Jawab mama.


"Hanya anak-anak yang tidak punya akhlak, yang tega menitipkn orang tuanya ke panti jompo. Padahal mereka mampu buat ngurus orang tuanya. Mama jangan pernah punya pemikiran seperti itu. Do'akan Dios banyak rejeki, nanti Dios akan bawa papa dan mama pergi kontrol ke rumah sakit besar."


"Kalau memang masih bisa di operasi dan terapi, maka kita akan mengambil kesempatan itu," sambung Dios.


"Tapi itu akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Masa depan kalian masih sangat panjang. Anak-Anak kalian butuh biaya pendidikkan yang tinggi. Mama dan papa sudah tua juga. Sayang uangnya kalau cuma buat mengobati orang renta seperti kami," ujar Mama.

__ADS_1


"Ma. Dios dan Caren percaya akan keberkahan ikhlas mengurus orang tua. Dios percaya Tuhan nggak akan membiarkan Dios kesulitan, karena ada banyak orang yang Dios hidupi. Dios ikhlas kok," ucap Dios.


Aku melihat Mama dan papa menyunggingkan senyum terbaik mereka.


"Kami selalu mendo'akan anak-anak kami mendapat keberkahan dan rejeki yang berlimpah." Jawab Mama.


"Ya sudah ayo Caren dan Dios bantu buat berkemas," ujarku.


Dios mendorong kursi roda papa, sementara aku membantu mama. Setelah sampai di kamar mereka, akupun membantu mama duduk ditepi tempat tidur.


Dios kemudian menurunkan koper dari atas lemari, dan mulai menyusun pakaian papa dan mama.


"Sayang. Tolong turunkan koper satunya lagi. Biar aku bantu masukin pakaian mama," ucapku.


Dios menurunkan satu koper lagi untukku dari atas lemari. Aku mulai memilah-milah pakaian mama yang bisa dibawa pergi. Setelah kurasa sudah cukup, aku dan Dios memutuskn untuk mengajak papa dan mama jalan-jalan dan juga makan di restauran. Kami ingin menikmati jalan-jalan di kota J sepuasnya, sebelum akhirnya kami pergi merantau ke Yogya.


Namun saat di restauran, aku tidak sengaja melihat Delano makan bersama dengan seorang pria. Pria yang pernah aku lihat sewaktu di apartemen waktu itu. Pria yang pernah Delano akui sebagai kekasihnya. Delano masih seperti dulu. Tetap tampan dan menawan. Hanya saja tubuhnya sedikit lebih kurus dari terakhir kali aku bertemu dengan dia di kota Bandung.


Tanpa sengaja dia melihat kearahku, dan aku melihat kearahnya. Delano kemudian melihat kearah Dios yang tengah menggendong anak kami. Delano tersenyum kearahku, dan aku menerbitkan senyum kearahnya. Mungkin dia sudah mengerti, kalau saat ini aku sudah menemukan kebahagiaan. Dan aku juga tetap menghormati pilihannya, yang tetap memilih menjadi seorang gay.


"Sayang. Kenapa kamu tidak makan?" tanya Dios.


Dios mengikuti arah pandangku, dan jadi bersitatap dengan Delano. Delano menganggukkan sedikit kepalanya kearah Dios, dan Dios melakukan hal yang sama.


"Mama mau makan udang? biar Caren kupaskan ya?" aku yang duduk disebelah mama, harus melayani beliau yang saat ini memang memiliki kekurangan.


"Apa saja. Yang penting mama bisa makan." Jawab Mama.


*****


"Yakin tidak ada yang ketinggalan?" tanya Dios.


"Nggak ada kak. Semua cukup." Jawabku.


"Kalau begitu mari kita berangkat," ujar Dios.


Kamipun memesan driver online yang saat ini sedang digandrungi banyak masyarakat. Setelah mobilnya tiba, kami bergegas memasukkan barang-barang kami dan segera pergi ke bandara.


"Dios?" sapa seorang wanita, saat kami berada diruang tunggu.


"Vika?"


Dios melirik kearahku, mungkin dia takut kalau aku cemburu melihat mereka masih akrab.


"Hai mbak. Apa kabar?" aku menyapa Vika dengan seutas senyum dibibirku.


"Baik. Sepertinya kalian sudah menikah ya? ini anak kalian?" tanya Vika.

__ADS_1


"Iya ini anak kami. Kamu mau kemana?" tanya Dios.


"Mau ke Surabaya. Sekarang aku sudah buka salon kecantikkan disana." Jawab Vika.


"Kamu masih...."


"Tidak lagi. Kamu benar, pria-pria itu akan mencampakkan aku setelah menemukan wanita yang baru dan lebih muda. Sejujurnya aku juga sudah lelah, aku juga ingin menata hiupku saat ini," ucap Vika.


"Baguslah kalau begitu. Kamu bisa memulai hidup baru lagi kalau begitu," ujar Dios.


"Ini kalian mau kemana?" tanya Vika.


"Kami mau berangkat ke Yogya. Sekarang kami menetap disana, karena aku buka usaha WO." Jawab Dios.


"Benarkah? nanti kalau modalku sudah cukup, boleh dong aku tanya-tanya tentang seputar usahamu itu? siapa tahu aku mau buka usaha WO juga," tanya Vika.


"Boleh." Jawab Dios.


Tidak berapa lama kemudian suara pemberitahuan untuk pesawat yang akan menuju Yogya telah disiarkan.


"Kami duluan ya Vik. Jaga dirimu baik-baik," ujar Dios.


"Iya." Jawab Vika dengan mata berkaca-kaca.


Aku tahu betul apa yang dirasakan Vika saat ini. Kalau aku tidak salah menebak, wanita itu kini tengah diliputi oleh rasa penyesalan yang mendalam. Tapi tentu saja aku harus mengucapkan terima kasih yang banyak pada Vika. Mungkin kalau dia tidak menyia-nyiakan Dios waktu itu, aku tidak akan pernah bersatu dengan pria hebat itu.


"Mbak," aku menganggukkan kepalaku dan kemudian memapah mama menuju pesawat yang akan kami tumpangi.


"Bagaimana perasaan kakak saat bertemu lagi dengan mantan istrimu itu?" tanyaku saat kami sudah duduk didalam pesawat.


"Sama seperti perasaanmu pada Delano saat ini. Kamu hanya menganggapnya teman bukan? begitu juga aku." Jawab Dios.


"Apa kakak tidak membencinya?" tanyaku lagi.


"Buat apa? banyak membenci membuat hati kita jadi kotor. Kalau hati sudah kotor, hiduppun tidak tenang. Dia adalah masalaluku, masalalu adalah guru dari pengalaman yang bisa aku petik. Kalau kita bisa berdamai, kenapa kita harus saling membenci." Jawab Dios.


Aku merebahkan kepalaku dipundak Dios. Pria itu memang dewasa sesuai usianya, aku beruntung memiliki pria sempurna seperti dia.


"Emang kamu masih menaruh dendam pada Delano?" tanya Dios.


"Kalau dendam sih enggak. Tapi sedikit kesal." Jawabku.


"Kenapa?" tanya Dios.


"Keperawananku harus kuserahkan dengan PLT. Rugi sekali rasanya." Jawabku.


"PLT? apa itu?" tanya Dios.

__ADS_1


"Penyuka lobang tahi."


Jawabanku membuat Dios terkekeh. Kalau tidak mengingat saat ini sedang berada didalam pesawat, Dios pasti sudah tertawa sangat keras.


__ADS_2