
Lagi-Lagi aku salah prediksi. Aku berpikir Dios tidak ada di rumah, karena tante Sekar pernah bilang kalau Dios akan pergi ke Klub pukul 5 sore. Aku mendatangi rumah tante Sekar saat waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku hanya ingin memberikan puding buah mangga, yang buahnya dia berikan padaku kemarin. Namun aku sangat terkejut, saat yang membukakan pintu adalah Dios.
Dios menatapku dengan tatapan tajam. Entah mengapa Dios berubah jadi sosok yang menakutkan bagiku. Aku sudah tidak mengenalnya lagi, dia sudah berubah kembali seperti saat pertama kali kami bertemu.
"Aku harap ini terakhir kalinya kamu menginjakkan kaki ke rumahku. Kamu jangan pernah berharap aku akan mengulangi kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Dulu aku melakukannya karena pendampingku tidak setia. Dan kebetulan tetanggaku juga seorang wanita murahan, yang bisa aku pakai buat memuaskan nafsuku yang jarang tersalurkan."
"Sekarang aku sudah menikahi wanita terbaik dalam hidupku. Yang pastinya dia setia, dan tidak akan pernah mengkhianatiku. Aku tidak tahu dengan cara apa kamu bisa menemukan keberadaanku, tapi kalau tujuanmu datang kembali padaku hanya mengharap kita bersama, lebih baik kamu segera bangun dari mimpimu."
"Aku tidak akan pernah menikahi wanita tidak baik-baik,"
"Wanita tidak baik-baik?" aku sungguh tidak tahan dengan hinaannya. Air mataku merebak seketika.
"Tentu saja wanita yang berselingkuh bukan wanita baik-baik, apapun alasannya. Itu jelas sekali kalau wanita seperti itu adalah wanita murahan,"
Deg
Kata-Kata Dios begitu terngiang-ngiang ditelingaku. Air mataku semakin bertambah deras. Aku merasakan sesak di dadaku.
"Pergilah yang jauh dari hidupku. Jangan tampakkan lagi wajahmu dihadapanku. Bagaimana rasanya di campakkan ha? dicampakkan suami, dicampakkan selingkuhan? sakit?" hardik Dios.
Tubuhku gemetar. Lututku terasa tidak bisa lagi menopang tubuhku. Disaat tubuhku melemas, Suara tante Sekar menjadi penguatku seketika.
"Sayang. Siapa yang datang?" tanya tante Sekar dari atas tangga.
Aku bergegas menyeka air mataku. Aku letakkan puding mangga di meja teras, dan bergegas pergi dari rumah itu dengan tangis yang pecah.
"Itu Caren kan? kenapa dia pulang?" tanya Sekar.
"Katanya dia cuma mau ngantar ini buat kamu." Jawab Dios.
"Puding?" Sekar mencium aroma puding itu di dekat hidungnya.
"Ah...puding mangga. Aromanya sangat segar. Dia baik kan?" tanya Sekar.
"Tidak ada wanita baik-baik yang suka berselingkuh dibelakang suaminya." Jawab Dios.
Sekar menghela nafas. Dia tahu Dios tidak menyukai Caren, yang diapun tidak tahu penyebabnya apa.
"Aku berangkat ya?" ucap Dios yang mengulurkan tangannya.
Sekar meraih tangan Dios dan menciumnya. Dios kemudian mencium kening istrinya itu dan pergi ke klub dengan motor sport.
Sekar membawa puding mangga ke dalam dengan hati senang. Diapun memasukkannya ke dalam kulkas, untuk didinginkan terlebih dahulu.
Tring
__ADS_1
Tring
Tring
Ponselku berdering. Aku melirik kearah pinselku, yang ternyata tante Sekarlah yang menghubungiku. Aku menyeka air mataku, aku usahakan suaraku kubuat sebaik mungkin agar tante Sekar tidak tahu, kalau aku sedang menangis saat ini.
"Ya tante?"
"Kamu kenapa buru-buru pulang? kok nggak ngobrol dulu sama tante?"
"Caren sakit perut. Pengen pup." Jawaku konyol.
"Kan bisa numpang dirumah tante. Padahal tante pengen ngobrol sama kamu," ucap tante Sekar yang membuatku tersenyum kecut.
"Besok-Besok lagi. Oh ya bagaimana rasa pudingnya?" tanyaku.
"Belum tante makan. Mau nunggu dingin dulu, soalnya tante masukkin kedalam kulkas." Jawab tante Sekar.
"Semoga suka ya?"
"Emm. Pasti enak. Dari wanginya saja seger banget, tentu saja rasanya pasti enak." Jawab tante Sekar.
"Ya. Karena Caren membuatnya penuh cinta," ujarku sembari terkekeh.
Setelah aku berpikir panjang, aku memutuskan untuk menemuinya untuk terakhir kali. Aku ingin saat aku meninggalkannya nanti, aku tidak memiliki beban apapun. Aku juga tidak ingin dianggap menjadi pelakor dalam rumah tangga mereka, dan mengulang masa lalu kelam yang berujung menyakitkan.
Dengan nekad aku pergi keluar rumah. aku ingin menemui Dios di Klub malam untuk terakhir kalinya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, akupun tiba di Klub itu. Sejujurnya aku takut datang sendirian, karena saat masuk pertama kalipun aku melihat ada banyak orang yang berbuat tidak senonoh di setiap sudut. Suara-Suara merdu yang kutahu itu apa, bisa aku dengar saat kami melewati beberapa kamar remang.
Tapi demi bertemu Dios. Aku tidak takut apapun lagi, aku harus bertemu dengannya meskipun lagi-lagi mendapat hinaan yang menyakitkan. Setelah masuk, aku segera berjalan dengan cepat dan menyelinap tanpa diketahui siapapun.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Jantungku berdegup, saat mendengar suara tegas Dios. Aku menekan handle pintu dan berjalan hingga tepat di depan meja Dios. Dios yang belum menyadari kedatanganku, masih sibuk dengan laptop di depannya. Aku meremas gaun longgar yang aku kenakan, karena tidak ada suara barulah Dios menegakkan kepalanya.
Dia cukup terkejut saat melihatku ada di depannya. Dia menoleh kebelakangku karena mengira tante Sekar datang bersamaku.
"Aku datang sendiri," ucapku dengan suara sedikit bergetar.
__ADS_1
"Wah...hebat sekali. Kamu sampai tidak sabar menggoda suami orang, dan langsung menemui mangsamu ditempat tujuan,"
Dios bangkit dari tempat duduknya dan mendekat kearahku. Dia mengelilingi aku hingga berhenti tepat dibelakangku.
"Kenapa? apa kamu merindukan re**san tanganku?" bisik Dios sembari me**mas kedua aset berhargaku. Re**san itu begitu kasar, hingga bukannya aku merasa nikmat, tapi aku merasakan sakit yang luar biasa.
"Di-Dios hentikan!" ucapku lirih.
"Kenapa? bukankah kamu merindukan hujamanku wanita murahan?" Dios menghardikku.
Greppppppp
Aku tidak perduli dia menghinaku, aku hanya merindukan pelukkannya. Namun Dios yang tidak suka aku sentuh langsung mendorongku hingga pinggangku membentur meja.
"Akkhhh...."
Perutku terasa kram seketika. Air mataku bertambah merebak. Aku benar-benar merasakan sakit di daerah perutku.
"Heh...dasar wanita murahan yang suka bermain trik. Kalau Sekar tahu temannya ingin menggoda suaminya, menurutmu apa yang akan dia lakukan?"
Aku sekuat mungkin menahan rasa sakit di hati dan perutku. Kutarik nafasku dalam-dalam, dan kuusap-usap perutku beberapa kali. Aku hanya berharap anakku baik-baik saja.
"Berhentilah berpura-pura. Apa kamu pikir kamu akan berhasil menggodaku? wanita di dunia ini sangat banyak. Jangan sok cantik kamu!"
"Ka-Kak Dios. Hinalah aku sesuka hatimu. Bencilah aku atau bila perlu pukullah aku. Tapi aku cuma ingin mengatakan satu hal padamu. Sejak terakhir perpisahan kita waktu itu, tidak ada satu haripun aku tidak memikirkanmu. Aku mencintaimu sebanyak yang tidak kamu tahu. Aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku...."
"Cukup! aku muak mendegarnya. Wanita pembohong sepertimu, tidak layak dipercaya. Sekarang lebih baik kamu enyah dari hadapanku, sebelum aku berbuat kasar padamu!" hardik Dios.
Aku tergugu. Tangisanku pecah sepecah-pecahnya.
"Izinkan aku memelukmu terakhir kalinya kak. Setelah itu aku akan pergi dari kehidupanmu untuk selamanya," ucapku disela isak tangisku.
"Trik apalagi yang kamu rencanakan? apa kamu pikir aku bisa kamu kelabuhi? kalau mau pergi, ya pergi saja. Atau lebih baik kamu mati saja sekalian!"
Deg
Perkataan Dios yang terakhir, seperti sebuah belati yang menusuk jantungku.
"Jadi kakak tidak mau memberikan pelukkan terakhir padaku? siapa tahu esok hari aku sungguh-sungguh mati,"
Kali ini aku melihat Dios terdiam. Mata kami saling tatap, dan sesaat kemudian dia memalingkan wajahnya.
"Cepatlah peluk. Aku takut kamu mati besok jadi hantu penasaran, karena tidak mengizinkan kamu memelukku. Awas saja kalau ini cuma trik, aku tidak akan mengampunimu,"
Aku menyeka air mataku sembari tersenyum. Aku berhambur kedalam pelukkannya, pelukkan yang sangat aku rindukan. Satu tanganku mengelus perutku. Aku berharap anakku juga bahagia, karena dia bisa memeluk ayahnya meski kemudian hari mungkin tidak akan bertemu lagi.
__ADS_1