TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
66. Amarah Rendy


__ADS_3

"Apa kata temanmu? apa dia baik-baik saja?" tanyaku yang penasaran. Terlebih saat kulihat semu merah diwajah Rendy.


"Marta baik-baik saja. Meski awalnya dia kerepotan karena aku hanya membawa baju Marta, tapi tidak membawa celananya. Aku juga lupa bawa pempers." Jawab Rendy sembari nyengir kearahku.


Aku sudah bisa membayangkan betapa kerepotannya sahabatnya itu.


"Emm...Ren. A-Anu, temanku bilang kamu harus memeras ASImu. Tadi Marta sempat menolak saat dia diberikan susu formula. Mungkin karena rasanya berbeda, jadi Marta tidak suka," ujar Rendy.


"Eh?" aku memang lupa soal itu. Aku mendadak menatap kearah dadaku yang memang sedikit bengkak, kerena stok ASIku yang mulai penuh kembali. Karena aku melihat kearah dadaku, Rendy jadi mengikuti arah tatapanku dan kemudian memalingkan wajahnya.


"Emm...kak. Aku minta tolong lagi ya? tolong belikan botol susu dan pompa Asi," ucapku yang sebenarnya merasa tidak enak karena terus merepotkan Rendy.


"Beli dimana?" tanya Rendy.


"Kayaknya di Apotik ada deh kak." Jawabku.


"Tapi dimana aja boleh deh asalkan ada. Aku minta maaf ya kak? lagi-lagi aku merepotkan kakak," sambungku.


"Tidak masalah. Santai saja Ren. Lagipula penyebab kamu begini juga orang tuaku. Jadi sudah sewajarnya aku menggantikan posisi dia untuk bertanggung jawab merawatmu," ucap Rendy.


"Ya sudah aku berangkat cari dulu ya?"


"Ya kak. Makasih kak sebelumnya," ucapku.


Rendy kemudian bergegas pergi. Namun tanpa aku tahu, pria itu pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


Tok


Tok


Tok


Rendy mengetuk pintu kamar Leni dengan sedikit lebih keras.


Kriekkkk


"Rendy? kamu ngapain ngetuk-ngetuk kamar mama malam-malam begini? sudah hampir jam 9. Kamu baru pulang kerja?" tanya Leni.


"Rendy pulang kerjanya sudah dari beberapa jam yang lalu. Tapi jadi telat pulang karena kelakuan mama yang bar-bar." Jawab Rendy.


"Kelakuan bar-bar apa maksud kamu?" tanya Leni yang mulai emosi.


"Ya apa namanya kalau bukan bar-bar? ngapain mama melakukan penganiayaan terhadap Caren? mama sadar nggak sih ma? mama itu sudah melakukan tindak kekerasan? mama bisa masuk penjara kalau Caren memperkarakan hal ini."


"Dan apa mama tahu? karena kelakuan mama itu, Caren sampai masuk rumah sakit, dan mengalami gegar otak. Anaknya nangis sampai kehilangan suara, karena Caren jatuh pingsan tidak ada yang mengurus,"


"Kalau Rendy nggak cepat datang, Rendy nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Kalau Caren sampai mati, mama pasti membusuk di penjara," Rendy meluapkan rasa amarahnya yang meledak-ledak.


"Bagus sekali Rendy. Terlihat jelas sekali kalau kamu lebih membela wanita itu ketimbang wanita yang sudah melahirkan dan mmebesarkan kami sampai kamu jadi orang seperti sekarang ini,"


"Rendy nggak belain siapapun ma. Mama ngerti nggak sih ma? kalau perbuatan mama itu salah dan merugikan orang lain. Mama dan Caren sama-sama wanita, masak mama sama sekali tidak memiliki rasa empati sama sekali," ucap Rendy.

__ADS_1


"Ya makanya kamu jangan keras kepala. Ngapain kamu dekat-dekat dengan janda itu? anggap itu peringatan pertama dari mama. Kalau sampai kamu masih dekat sama dia, dia tidak hanya berada di rumah sakit saja nantinya. Mama akan masukin dia ke dalam kuburan bila perlu," ucap Leni.


"Dan Rendy orang yang pertama kali akan memasukkan mama kedalam penjara," ujar Rendy.


Plakkkkk


Leni memberi tamparan yang cukup keras pada Rendy, hingga kepala pria itu jadi tertoleh kesamping.


"Anak durhaka kamu. Siapa disini yang keluarga kamu? mama, atau dia? kalau kamu kelewatan seperti ini, jangan salahkan mama akan melakukan hal yang lebih ekstrim lagi pada wanita itu," ucap Leni.


Brakkkkk


Leni membanting pintu dengan cukup keras. Rendy mengusap-usap pipinya yang masih terasa panas karena tamparan dari Leni. Rendy melirik arloji dipegelangan tangannya, dan bergegas mengganti baju seragamnya dengan baju santai. Setelah itu dia bergegas mencari apotik 24 jam, untuk mencari pompa ASI dan botol susu.


Setelah menemukan apa yang dia cari, diapun bergegas ke rumah sakit untuk menemuiku kembali.


"Caren. Kamu belum tidur?" tanya Rendy yang melihatku terlihat menunggunya dengan gelisah.


"Aku nggak bisa tidur kak. Aku kepikiran Marta. Apa dia mau minum susu formulamya atau tidak. Kalau tidak dia pasti kelaparan." Jawabku.


"Sebentar. Biar aku cuci dulu botol susu dan pompa Asinya. Bagusnya sih dengan air panas, tapi sekarang sangat darurat. Kamu harus cepat mompa ASInya kan? biar cepat nanti aku berikan sama temanku," ujar Rendy.


"Banyak sekali kakak beli botol Susunya?" tanyaku yang keheranan.


"Tentu saja harus banyak. Kamu bisa memerahnya lagi, saat aku mengantarkan botol yang pertama. Jadi Marta nggak sempat putus ASI nya." Jawab Rendy.


"Makasih ya kak? seharusnya Ayah Marta yang mengambil peran ini, tapi ini malah kakak yang direpotkan," ucapku yang tidak enak hati dengan semua kebaikkan Rendy.


"Jangan begitu. Marta sudah kuanggap seperti anakku sendiri," ujar Rendy sembari melangkah kearah washtafel untuk mencuci botol susu dan pompa ASI untukku.


Rendy sampai bengong saat melihat cairan putih yang kuhasilkan. Aku langsung menepuk bahunya karena tidak ingin dia berpikiran yang tidak-tidak


"Kakak pergi dulu ya? nanti kakak kembali lagi," ujar Rendy.


"Kakak tidak usah kembali kesini. Sebaiknya kakak istirahat di tempat sahabat kakak saja. Kakak juga butuh istirahat. Atau sekalian bantu sahabat kakak buat jagain Marta," ucapku.


"Baiklah. Kamu jaga diri disini. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku. Ponselmu aku letakkan dalam loker," ujar Rendy.


"Iya." Jawabku.


Rendy bergegas membawa ASIP dan pergi ke rumah Dios. Sementara itu saat ini Dios tengah begadang, karena Marta ternyata sangat rewel. Mungkin Marta merindukan ibunya.


Dios memang sengaja tidak ingin meminta bantuan pelayan, karena dia ingin merasakan sendiri menjadi seorang ayah yang begadang mengurus anaknya. Dia sengaja melakukan itu dan menganggap itu sebagai bentuk untuk menebus rasa bersalahnya pada putranya.


Tok


Tok


Tok


Kriekkkkk

__ADS_1


Dios terkejut saat melihat Rendy berdiri di depan pintu. Rendy melirik kearah botol susu yang Dios buatkan. Susu itu tampak baru berkurang sedikit.


"Marta rewel ya? dia nggak mau minum susu formula?" tanya Rendy.


"Iya. Dari tadi nangis terus. Aku belum istirahat menggendong dia sejak tadi," ucap Dios.


"Ini aku bawakan ASI peras buat Marta," ujar Rendy sembari mengeluarkan dua botol ASIP dan meletakkannya diatas meja.


"Banyak sekali? apa kamu membantu memerasnya?" ledek Dios.


"Kalau aku ikut membantu, bukan acara meras ASI jadinya. Malah main yang lain." Jawab Rendy sembari terkekeh.


"Marta pasti nggak setuju punya bapak tiri mesum kayak kamu," ujar Dios.


"Apalagi kamu. Karuan kalau aku mah belum nyelup, lah kamu? udah nggak karuan nyelup sama siapa aja." Jawab Rendy.


"Semprul," ujar Dios.


Dios kemudian duduk di tepi tempat tidur sembari memberikan ASIP untuk Marta. Awalnya Marta menolak, karena mungkin dia mulai hafal bentuk antara puncak dada dan puncak karet botol susu. Namun setelah mengenal isi didalamnya, Martapun minum dengan lahap dan langsung menghabiskan satu botol ASIP.


"Sepertinya dia tahu kalau isinya ASI ibunya. Bukankah ini sangat hebat? ah senangnya melihat dia sudah kenyang. Apa anakku juga serewel dia?" ucap Dios.


"Wanitamu pasti mengurusnya dengan baik. Kamu jangan khawatir, suatu saat kamu pasti akan menggendong anakmu," ujar Rendy.


"Oh ya. Kamu sudah membenahi kartumu yang hilang belum?" tanya Rendy.


"Belum sempat. Nanti kalau ada waktu luang akan aku benari."Jawab Dios.


"Cepat dibenari. Siapa tahu wanitamu itu menghubungimu lagi kan?"


"Iya. Oh ya jadi sebenarnya ibunya Marta sakit apa?" tanya Dios.


Rendy menghela nafas sebelum akhirnya mulai bercerita.


"Ini semua ulah mama. Mama menganiaya dia dan menyebabkan dia jadi gegar otak." Jawab Rendy.


"Ya Tuhan Ren...ganas sekali ibu kamu. Apa tante tidak kasihan dengan Marta? ya ampun Ren, maaf ya kalau menurutku ibumu sudah sangat keterlaluan," ucap Dios.


"Ya aku juga merasa begitu. Mama orang yang sangat keras kepala, dan masih bersikeras ingin menganiaya dia, kalau aku masih ingin mendekatinya," ujar Rendy.


"Kasihan jandamu itu. Kalau begini caranya kamu nggak usah deketin dia lagi. Jandamu itu bisa mati. Sepertinya ancaman mamamu tidak main-main," ujar Dios.


"Haruskah aku melakukan itu? dengan kejadian ini aku malah semakin ingin melindunginya. Tapi kamu ada benarnya juga. Aku takut dia kembali kena imbasnya. Tidak hanya dia, aku takut Marta juga jadi sasaran Mama," ucap Sendy.


"Ah...aku jadi ingat cut patkay kalau begini," ujar Dios.


"Cut patkay? cut patkay siapa ?" tanya Rendy yang lupa dengan sosok manusia berhidung babi itu.


"Sejak dulu beginilah cinta. Deritanya tiada akhir." Jawab Dios.


"Sialan. Aku kira siapa, hidungmu itu yang mirip cut patkay," ujar Rendy.

__ADS_1


"Nggak tahu diri. Hidung siapa yang disini paling lepek. Nggak lihat hidungku sudah kayak paruh burung? hidungmu itu yang lebih mirip hidung babi. Mancung kok keatas," Dios meledek Rendy yang hidungnya memang sedikit lebih pesek darinya.


Bukannya tersinggung, Rendy malah jadi tertawa keras.


__ADS_2