
Dios melangkah kearahku, dan berhenti tepat dihadapanku. Dia ingin memelukku, tapi aku menahannya dengan tanganku.
"Aku tidak tahu apa maksud kakak berprilaku seperti ini. Tapi aku ingin menanyakan satu hal padamu tentang kejadian satu minggu yang lalu, dan bunga yang ku terima seminggu terakhir ini," tanyaku dengan menatap lekat kearah matanya.
"Kenapa? bukankah kamu juga tidak masalah dengan itu? lagipula aku ingin menjenguk anakku." Jawab Dios asal.
"Anak apa yang kamu bicarakan. Lagipula kamu tidak bisa berbuat seenaknya. Apa karena kamu menganggapku wanita murahan, wanita gampangan, bukan wanita baik-baik, jadi kamu seenaknya menyentuhku?"
"Jangan karena aku mencintaimu, kamu bisa berbuat seenaknya padaku. Kamu seorang pria beristri. Hiduplah bahagia bersama Sekar, jangan lagi memperdulikanku. Bukankah kamu yang minta agar aku pergi sejauh mungkin? bukankah kamu yang minta agar aku mati saja? jadi kenapa kamu melakukan itu padaku?"
Karena terlalu emosi, aku sampai meneteskan air mataku. Rasanya terlalu sesak, karena selama ini aku selalu menyimpan banyak uneg-uneg dan kesedihan.
Grepppp
Dios tiba-tiba memelukku dengan erat. Pria itu juga ikut menangis.
"Maafkan aku karena mulutku sudah menyakiti hatimu. Semua penderitaan yang kamu alami selama ini, sebenarnya hasil dari perbuatanku, dan hawa nafsuku. Sayang, aku sangat mencintaimu meskipun aku sudah menikah dengan Sekar."
Aku segera mendorong dada Dios, karena aku tidak bisa menerima kata-katanya yang seolah seenaknya saja mempermainkan wanita.
"Jangan mentang-mentang kamu menikahi orang yang lebih tua darimu, kamu jadi bersikap tidak tahu diri. Kedudukkan yang kamu dapatkan sekarang, itu bukan murni dari hasil kerja kerasmu. Kamu yang mengambil keputusan untuk menikahinya, jadi kamu harus belajar mencintainya,"
"Tapi aku tidak bisa, meskipun aku sudah mencobanya. Tiada hari tanpa aku memikirkanmu, mulutku berkata benci namun pada kenyataannya aku sudah bersikap munafik. Aku hanya mencintaimu Caren, aku hanya mencintaimu,"
Aku tahu perkataannya itu sebuah ketulusan. Sejak dulu aku tahu dimatanya itu memang banyak cinta untukku. Tapi sekarang situasinya sudah berbeda. Dia bukan milikku lagi, dan aku tidak mungkin hidup bahagia diatas penderitaan wanita lain. Sekar pernah bilang padaku bahwa hubungan mereka bukan seperti pasangan suami istri pada umumnya, tapi aku bisa melihat binar cinta dimata wanita berusia beda usia puluhan tahun denganku itu.
"Lalu kamu mau bagaimana sekarang? apa kamu ingin kita mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu? kamu ingin aku jadi pelakor dalam rumah tanggamu?" tanyaku yang membuat Dios terdiam.
"Coba kamu katakan padaku kamu maunya bagaimana? Sekar orang baik kak, jangan sakiti dia. Aku tidak mau kita melakukan hubungan terlarang lagi seperti dulu. Aku ingin menjalani hidupku dengan benar kali ini,"
__ADS_1
"Tapi kamu juga harus memikirkan anak kita?"
"Ya justru karena aku memikirkan anak kita, makanya aku mau jadi orang benar. Kamu maunya apa sih? kamu mau nikahin aku? nggak kan?" tanyaku dengan berapi-api.
Dios kembali terdiam. Aku melihat priaku itu sedang dilema dan mengusap wajahnya berkali-kali.
"Aku sudah mengikhlaskan kamu dengannya. Aku sudah mengikhlaskan apa yang terjadi dalam hidupku. Biarkan aku bahagia berdua dengan anakku, dan kakak hidup bahagia berdua dengannya. Kita jalani saja hidup kita masing-masing. Aku sudah lelah kak,"
"Aku akan mencari solusinya," ujar Dios.
"Hanya ada dua solusi yang baik kak,"
"Apa?" tanya Dios.
"Pertama. Biarkan kita menjalani hidup kita masing-masing dan tidak saling mengganggu. Suatu saat aku pasti bisa menemukan pria yang bisa menerima anakku dan aku dengan tulus,"
Ku lihat Dios menggelengkan kepalanya tanda tak rela.
Dios mematung. Dua pilihan yang kuberikan tidak ada yang enak baginya. Tapi sejujurnya aku ingin sekali dia bersikap tegas. Aku akan menguji seberapa besar cintanya padaku. Namun saat melihat kebimbangan diwajahnya, aku hanya bisa tersenyum sinis karena aku sudah tahu jawabnnya.
"Aku sudah tahu jawabannya kak. Silahkan kakak pergi dari sini, dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku," aku bergegas pergi meninggalkannya dengan air mata yang sudah merebak.
"Sayang tunggu!" Dios mencekal tanganku.
Langkahku terhenti, namun wajahku tidak menoleh kearahnya. Aku terlalu sibuk menghapus air mataku yang tidak bisa aku kendalikan lagi.
"Tolong beri aku waktu menyelesaikan semuanya. Tolong jangan berpikiran macam-macam. Aku akan mencoba bicara dengan Sekar," ujar Dios.
"Tidak kak. Kalau melihat dari kebaikkannya, dia pasti akan menyuruh kakak menceraikannya dan menikahiku," ucapku.
__ADS_1
"Dan aku tidak mau itu terjadi. Dia sangat membutuhkanmu, terlebih dia memiliki penyakit yang cukup serius. Jadi mau tidak mau akulah yang harus mundur disini," sambungku.
"Tidak begitu. Kamu juga harus memikirkan anak kita. Apa kamu mau anak kita lahir tanpa ayah?"
"Ya apa bedanya juga kalau seandainya kita nikah secara siri? itu sama saja kak. Tolong kamu harus ngerti juga posisiku." Jawabku tak kalah sengit.
"Hah...pada intinya aku tidak mau dimadu. Pada intinya aku tidak ingin berbagi suami. Tidak masalah bagiku tidak menikah denganmu, yang penting aku tidak mau di cap sebagai pelakor,"
"Tolong bersabarlah. Besok aku akan kembali ke Surabaya. Aku akan mencari jalan tengahnya. Disini aku sedang membuka usaha sembari mencarimu. Aku sangat bersyukur bertemu Vika, dan dia menceritakan tentang pertemuanmu dengannya. Caren, aku benar-benar minta maaf atas semua kelakuanku padamu selama ini. Gara-Gara aku kamu harus mengalami nasib seperti ini,"
"Sudahlah kak. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku...hemmmpphht"
Dios tiba-tiba mencium bibirku dan memagutnya dengan lembut. Aku berusaha mendorong Dios, namun dia semakin memperdalam ciumannya.
Hah
Hah
Hah
Ciumannya terlepas setelah pasokkan oksigen sudah menipis.
"Kak jangan seperti ini, aku merasa bersalah dengan Sekar," ucapku lirih. Aku tahu tubuhku lebih jujur dari mulutku.
"Aku sangat merindukanmu, mencintaimu. Kumohon bersabarlah. Tidak masalah kalau kamu mau bersikap egois, karena kamu ingin memberikan yang terbaik buat anak kita. Begitu juga denganku, aku tidak akan membiarkan kamu dan anak kita terlantar."
"Jika memang aku harus melepaskan segalanya demi hidup denganmu, maka aku akan melakukannya. Caren, jika itu terjadi. Maukah kamu hidup dari nol bersamaku?" tanya Dios.
Aku menatap mata Dios, pertanyaan itu menurutku sangat menyentuh. Akhirnya kata-kata yang inginku dengar dari mulutnya terucap juga. Mungkin aku terdengar egois, tapi bukankah cinta tidak bisa di paksakan?
__ADS_1
Aku memeluk Dios sembari mengangguk. Dios kembali mencumbuku, namun aku dengan tegas menolaknya. Aku tahu ujung dari cumbuan itu pasti akan berakhir diatas tempat tidur. Cukup satu kali aku kecolongan, aku akan membuatku lebih berharga dan akan menunggunya menyelesaikan masalah diantara kami lebih dulu.
Dios akhirnya pulang. Dan dia berjanji akan kembali tiga hari lagi untuk membawa hasil diskusinya dengan Sekar. Dan aku sangat berharap Dios kembali padaku, dengan membawa cinta yang utuh hanya untukku dan meninggalkan segala kemewahan semunya.