
"Pa, Ma, aku sudah memutuskan kalau aku ingin bercerai dari Dios," ucapku tanpa ragu.
"Jangan bicara sembarangan. Kalian itu ada anak, jangan memikirkan ego masing-masing yang berujung merugikan, dan mengorbankan anak kalian itu," ujar papa.
"Iya Ren. Sebaiknya kalian bicarakan dulu baik-baik," timpal mama.
"Mau dibicarakan baik-baik gimana ma? orangnya juga tidak bisa dihubungi. Kalau dia ada akal dan pikiran, seharusnya dia pikirin dong nasib anak istrinya gimana. Karena dia sudah gila tidak waras, ya itu kejadiannya. Lupa anak istri. Biarin dia nggak pulang-pulang, bila perlu mati aja sekalian mahluk dua itu," aku bersumpah serapah tidak terkira.
"Nyebut kamu Ren. Jangan ngomong sembarangan," ucap papa.
"Pokoknya hari ini juga kita pulang ke kota J. Aku sudah tidak mau lagi tinggal dirumah ini. Aku seolah merasa numpang idup disini, sementara tuan rumahnya nggak tahu kemana," air mataku sudah merebak.
"Pikirkan dulu matang-matang. Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Dios, sehingga dia sampai tidak pulang begini. Sejujurnya papa malah khawatir, kalau terjadi sesuatu dengan dia," ucap papa.
"Pokoknya aku tidak perduli lagi apa yang terjadi sama dia pa. Sekarang mending kita segera berkemas dan pergi dari rumah ini," ucapku dengan tegas.
"Ya sudah pa. Sebaiknya kita turuti saja kemauan Caren. Anggap saja kita sedang liburan," timpal mama.
"Nggak ada liburan. Ini pulang untuk selamanya," aku sedikit merasa dongkol dengan papa dan mama, karena menganggap ucapanku hanya sekedar main-main. Padahal emosiku sudah sampai di ubun-ubun.
Aku kemudian membantu papa dan mama berkemas, karena aku sudah tidak sabar ingin pergi dari rumah mewah itu. Setelah membantu papa dan mama berkemas, akupun mengemasi pakaianku dan Marta. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku benar-benar ingin menghilang tanpa meninggalkan pesan dan kesan apapun untuk Dios.
"Nyonya. Nyonya mau kemana? jangan pergi tanpa memberitahu tuan Dios dulu. Takutnya kami yang kena pecat nyonya," tanya pelayan.
"Kalian tenang saja. Katakan saja kalau tuan kalian bertanya. Aku sudah pergi jauh tidak usah dicari lagi." Jawabku dengan lantang.
Aku melihat para pelayan saling melihat satu sama lain. Terlihat sekali wajah cemas diraut muka mereka.
"Ma. Gendong Marta ya? biar aku dorong kursi roda mama," ucapku.
"Iya." Jawab mama.
Aku perlahan mulai mendorong kursi roda, saat Marta sudah kuletakkan di pangkuan mama. Namun saat papa membuka pintu utama, papa cukup terkejut karena Dios tiba-tiba sudah berada dihadapan kami.
Mata Dios terlihat bingung, saat papa menyeret dua koper besar pakaian, dan dua tas diatas koper.
"Kalian mau kemana?" tanya Dios.
__ADS_1
"Tidak usah hiraukan dia pa. Ayo kita pergi!" ujarku yang langsung mendorong kursi roda mama.
Namun langkahku terhenti, saat Dios menghadang kami.
"Aku tahu kamu marah besar padaku, tapi setidaknya dengarkan dulu penjelasanku," ujar Dios.
Aku sempat menatap wajah suamiku itu. Terlihat ada lingkaran hitam dibawah kelopak matanya. Dan aku yakin itu karena dirinya kurang tidur.
"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Bagiku satu minggu ini sudah jelas Dios. Kamu segera urus surat perceraian kita. Kirim ke alamat rumahku di kota J. Nanti akan aku tanda tangani. Aku sudah capek berurusan denganmu lagi. Terima kasih sudah membuat kekacauan dalam hidupku," aku berkata dengan tidak bisa lagi menahan air mataku yang ingin mendesak keluar.
"Sayang. Aku mohong jangan berkata begitu. Kamu paling tahu, kalau aku itu sangat mencintaimu. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku,"
"Minggir!" hardikku.
Aku tidak ingin lagi mendengarkan ocehan Dios. Melihat wajahnya saja aku sudah sangat emosi jiwa.
"Tidak mau. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku. Please...."
Aku yang hilang kesabaran langsung mendorong tubuh Dios dengan kuat, hingga tubuh besar tegap itu terhuyung.
"Aku bilang minggir brengsek!" nafasku sampai naik turun saat mengatakannya.
"Dasar mulut sampah!"
Plakkkkkkk
Sekuat tenaga aku melayangkan tamparan diwajahnya. Tanganku sampai bergetar setelah melakukannya. Tidak hanya tangan, tubuhku juga ikut gemetar. Dios kemudian meraih tanganku, agar aku memukulnya kembali.
"Tampar aku sepuasmu, pukul aku, atau apapun yang kamu mau. Tapi aku mohon jangan pergi. Aku nggak bisa tanpa kamu dan Marta," air mata Dios merebak diwajahnya.
"Sudah cukup kamu bersandiwara selama ini Dios. Sekarang tidak lagi. Aku sudah cukup menahan sabar. Kamu pikir aku ini kamu anggap apa? seenaknya kamu pergi tanpa kabar berita, lalu seenaknya kamu pulang seperti tanpa dosa. Nggak Dios....aku sudah cepek memaklumi sikapmu yang selalu mengambil keputusan sendiri, tanpa pernah melibatkan aku di dalamnya."
"Sekarang terserah saja. Aku juga sudah menyerah. Aku ingin hubungan kita selesai sampai disini," sambungku.
"Aku minta maaf karena aku tidak menghubungimu selama seminggu. Tapi aku punya alasan,"
"Iya. Alasanmu karena kamu ingin merawat mantan istri kamu itu dengan sepenuh hati. Kalau dia sembuh bisa kamu kawini lagi," aku mengoceh tidak karuan.
__ADS_1
"Bukan begitu. Aku mohon dengarkan aku dulu. Dihari kami akan pergi ke bandara, Sekar tiba-tiba drop. Mungkin karena banyak pikiran dan tekanan batin parah. Aku membawanya kr rumah sakit yang biasa kita datangi. Dan setelah diperiksa gula daranya lebih dari 1000, dan gagal ginjal yang dia derita sudah semakin parah. Itulah sebabnya dia jadi tidak sadarkan diri dan kemudian koma."
"Bagus Dios. ternyata kamu ada di kota ini tapi kamu tidak pulang barang sejenak? ponsel sengaja kamu matikan? hanya apa? hanya karena kamu ingin merawat dia kan? kamu baik dengan orang lain, sementara anak istri kamu abaikan? pergilah Dios, aku benci sama kamu!"
Aku palingkan wajahku dengan air mata yang sudah tidak terkendali.
"Aku ingin tapi aku tidak berdaya. Aku tidak bisa meninggalkannya, karena kalau dokter membutuhkan keluarganya untuk menebus obat dan melengkapi berkas, siapa yang mau membantunya? sementara ponselku tidak tahu tercecer kemana. Percayalah, aku juga tidak berdaya. Tolong mengertilah posisiku, aku tidak mungkin membiarkan orang yang membutuhkan pertolongan kuabaikan saja."
"Aku tahu aku salah. Tapi coba kamu pikir dari sudut pandang yang lain juga yank. Aku membantunya hanya urusan manusiawi, tanpa ada maksud apa-apa," sambung Dios.
"Mau unsur cinta juga boleh. Setelah dia sembuh nanti, kamu bisa menikah lagi dengannya. Aku tidak perduli kamu mau ngapain aja sama dia,"
Aku kembali mendorong kursi roda mama. Namun perkataan Dios yang terakhir, membuat langkahku terhenti dan cukup syok.
"Saat ini Sekar sedang menunggu mama di rumah sakit. Saat sadar dia ingin kornea matanya diperiksa, dan berharap cocok dengan mama. Dan untungnya itu benar-benar cocok. Saat ini dia tidak punya banyak waktu lagi. Dia ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya," ucap Dios.
Aku berbalik badan tiba-tiba dan menatap mata Dios, untuk mencari kejujuran disana. Namun kejujuran itu sangat jelas dimatanya.
"Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan. Kita harus segera menemui Sekar sebelum semuanya terlambat," ujar papa.
Semua orang seperti menunggu keputusanku. Namun dasar hatiku yang lemah, aku akhirnya ikut juga ke rumah sakit. Aku ingin langsung melihat kondisi tante Sekar saat ini.
Sesampai di rumah sakit. Aku melihat tante Sekar dirawat di ruang ICU. Semua alat bantu kehidupan terpasang dibeberapa titik tubuh tertentu. Ah...apa aku ini benar-benar tidak manusiawi waktu itu? aku membiarkan wanita tua lemah seperti ini dirawat orang yang tidak dia percayai. Dia hanya percaya pada Dios dan juga padaku. Tapi aku malah menolaknya tanpa nurani.
Andai waktu itu dia ku izinkan tinggal diruamahku, mungkinkah kondisinya akan membaik? apa mungkin dia jadi begini karena ulahku juga?
"Masuk ke ruang ini tidak boleh ramai-ramai, dan harus bergantian. Pakai baju khusus yang sudah disediakan," ujar Dios.
Aku yang ingin masuk lebih dulu, bergegas memasuki ruangan itu dan meraih baju khusus yang sudah di siapkan. Aku melangkah perlahan dan mendekati tempat tidur tante Sekar. Aku genggam tangan tante Sekar, hingga wanita itu jadi membuka matanya.
"Ca-Caren...tan-te min-ta maaf," begitu sulit tante Sekar bicara, karena ada alat bantu pernafasan yang menutupi mulut dan hidunganya.
"Tante. Harusnya Caren yang minta maaf. Maaf karena keegoisanku, tante jadi berakhir di rumah sakit. Hiks...." Aku terisak.
"Ma-Ta tante bu-at mama ka-mu. Jangan sia-siakan Di-os. Dia orang ba-ik,"
Aku menganggukkan kepalaku. Tiba-Tiba ada yang berbunyi di salah satu monitor. Perawat jagapun menekan tombol yang entah akupun kurang memperhatikannya, hingga suara itu tidak lagi berbunyi.
__ADS_1
Aku bingung saat dokter dan perawat segera berkumpul seperti mendiskusikan sesuatu. Akupun terpaksa keluar ruangan dulu. Dan aku cukup terkejut, karena mereka ingin langsung mengoperasi mama dan tante Sekar, untuk operasi kornea mata sesuai keinginan tante Sekar.