TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
89. Penyakit Yang Sama


__ADS_3

6 Bulan Kemudian....


"Emm cantiknya istriku," ujar Dios sembari memeluk aku yang tengah mematut diri dicermin.


perutku yang tambah besar, membuatku sudah sulit berjalan. Kini aku baru tahu, mengandung bayi kembar lebih sulit dari hamil tunggal. Pembesaran perutku juga lebih besar dari hamil biasa.


"Sayang. Pengen makan gudeg nih," ujarku dengan suara sedikit manja.


"Lagi? bukankah baru kemarin kita makan gudeg?" tanya Dios.


"Gudeg kemaren rasanya istimewa. Disana juga menyediakan banyak kuliner lainnya." Jawabku.


"Baiklah. Kamu bersiaplah sekarang ya?" ucap Dios.


"Makasih sayang," aku melonjak senang.


Cup


Aku kecup pipi Dios dengan mesra, dan segera mengganti bajuku dengan pakaian longgar super jumbo. Aku memang tidak khawatir akan berat bayiku yang besar. Karena kami sudah memutuskan, kalau aku akan melakukan operasi cesar nantinya.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


"Kayaknya ada tamu yang datang. Kamu buruan turun ya? aku lihat dulu siapa yang datang," ujar Dios.


"Ya." Jawabku sembari tersenyum.


Aku bergegas mengenakan pakaianku, sementara Dios segera keluar dari kamar untuk melihat tamu kami yang datang.


Tap


Tap


Tap


Dios menuruni anak tangga, dan berpapasan dengan pelayan yang baru akan memanggilnya.


"Ada tamu tuan," ujar pelayan.


"Siapa?" tanya Dios.


"Saya belum menanyakan namanya. Orangnya juga belum kupersilahkan masuk. Soalnya takut tuan," ujar Pelayan.


"Takut? takut kenapa?" tanya Dios.


"Dandanannya aneh. Dibilang pengemis bukan, dibilang bukan, seperti pengemis. Lusuh, kurang terawat." Jawab Pelayan.


Dios tidak menanggapi ucapan Pelayan, dia segera menuruni tangga untuk memastikan tamu itu. Saat Dios membuka pintu, dia menemukan sosok wanita yang sedang membelakangi dirinya. Tubuh kurus itu dibalut dengan pakaian gamis dan jilbab seadanya.

__ADS_1


"Siapa ya mbak?" tanya Dios, yang membuat wanita itu jadi berbalik badan.


"Vi-Vika?" Dios sangat terkejut saat melihat kondisi Vika yang memprihatinkan.


Wajah cantik dan montok yang sering wanita itu banggakan dulu, kini nyaris tinggal tulang berbalut kulit. Entah apa yang terjadi pada wanita itu, Dios jadi bertanya-tanya dalam hatinya.


"Dios...hiks...."


Vika langsung berhambur kepelukkan Dios. Sementara aku yang baru turun dari tangga, sedikit mengerutkan dahiku karena melihat suamiku dipeluk oleh wanita lain. Diam-Diam aku mengendap, karena aku ingin tahu siapa wanita itu dan kenapa dia sampai memeluk suamiku. Namun saat aku mendengar Dios menyebut nama Vika, aku jadi terkejut. Karena aku sama sekali tidak menduga bahwa Vika penampilannya menjadi seperti itu. Ada apa dengannya?


Dios perlahan mendorong tubuh Vika yang ringkih. Dia mengajak Vika duduk di kursi teras.


"Ada apa denganmu? kenapa kamu jadi seperti ini? apa kamu sakit?" tanya Dios bertubi-tubi.


"Ya. Aku sakit Dios. Begitu sulit aku menemukanmu, karena aku cuma ingat kamu bilang membuka usaha di Yogya. Ditambah aku tidak lagi memiliki nomor kontakmu. Beruntung karena kamu sudah menjadi WO terkenal di kota ini, jadi aku tidak sulit mencari keberadaanmu." Jawab Vika.


"Kamu sakit apa? kenapa bisa sekurus ini?" tanya Dios.


"Aku kena HIV Di. Hiks...." Jawaban Vika membuat Dios sangat terkejut dan Syok.


Tidak hanya Dios, aku juga sampai merinding. Beruntung aku dan Dios sudah memeriksakan diri, dan kami dinyatakan negatif. Kalau seandainya kamu belum periksa, mungkin aku akan pingsan lagi seperti waktu itu.


"Ka-Kamu kena HIV?" tanya Dios.


"Ya Di. Itulah sebabnya aku datang menemuimu karena aku ingin menyampaikan dua hal padamu." Jawab Vika.


"Hal apa?" tanya Dios.


"Pertama. Aku tidak tahu kapan pastinya aku terjangkit virus ini. Kalau memang sudah lama, aku takut kamu juga terkena virus ini Di. Meskipun kita jarang berhubungan sewaktu kita masih menikah, tapi kita pernah melakukannya beberapa kali. Kamu harus segera memeriksakan diri." Jawab Vika.


"Terima kasih Vik. Tapi alhamdulillah aku sudah memeriksakan diri sekitar 6 bulan yang lalu. Dan hasilnya dinyatakan negatif," ujar Dios.


"Ka-Kamu test itu untuk apa? apa kamu tahu kalau aku sudah terkena HIV?" tanya Vika.


"Bukan. Mungkin kamu belum tahu kabar, bahwa Delano sudah meninggal 6 bulan yang lalu." Jawab Dios.


"De-Delano meninggal? apa dia terkena HIV?" tanya Vika terkejut.


"Ya. Dia positif terkena HIV." Jawab Dios.


"Jadi dia meninggal karena HIV? jadi orang HIV cepat meninggal? hiks...." Vika histeris.


Aku jadi kasihan melihat Vika. Sepertinya dia sangat ketakutan saat ini.


"Hey...tenangkan dirimu. Delano bukan meninggal karena penyakit itu, dia meninggal karena bunuh diri." Jawaban Dios cukup membuat reda tangis Vika.


"Kamu harus sabar. Ini ujian buat kamu, meskipun berat," sambung Dios.


"Tapi aku nggak sanggup Di. Aku lari kesini karena aku tidak diterima lagi oleh lingkungan warga sekitar rumahku. Tidak hanya mereka, keluargaku juga tidak mau menerimaku. Mereka bilang penyakitku ini adalah sebuah aib," ujar Vika.


Lagi-Lagi sekumpulan orang bodoh. Aku jadi kesal sendiri mendengarnya.

__ADS_1


"Jadi hal kedua apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Dios.


"Di. Aku tahu kamu orang baik, kita bersama lebih dari 10 tahun. Aku tidak punya siapa-siapa lagi Di selain kamu. Kamu mau kan Di menampungku di rumahmu? aku jadi pembantumu juga tidak apa-apa Di. Aku cuma butuh makan, dan tempat tinggal sampai aku mati."


Jawaban Vika membuatku sangat terkejut. Aku tahu betul perangai Dios yang lemah. Terlebih sudah ada pengalaman bersama Sekar dulu. Dia paling tidak tega melihat orang lain susah dan menderita.


Nafasku terasa naik turun menunggu jawaban Dios yang kini tengah terdiam. Aku sangat takut kebiasaannya yang suka tidak meminta pendapatku kembali terulang. Tapi sungguh, kalau sampai Dios melakukan itu lagi, aku bersumpah akan meninggalkannya tanpa ragu.


"Vik. Aku tahu kesulitanmu saat ini. Tapi maaf aku tidak bisa menampungmu disini. Bukannya aku kejam atau tega padamu, tapi aku punya anak, istri dan mertua yang harus dijaga perasaannya."


"Aku sudah pernah sekali melakukan kesalahan, dan aku hampir kehilangan orang yang aku cintai. Aku tidak mau melakukan kesalahan serupa, hanya karena aku merasa kasihan padamu,"


"Tapi kamu bisa meminta pendapat Caren terlebih dahulu?" tanya Vika.


"Untuk kali ini aku tidak perlu lagi meminta pendapatnya. Aku yang menolak tegas. Aku tidak mau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dikemudian hari. Yang akan memporak-porandakan rumah tanggaku yang sudah harmonis. Aku sangat bahagia sekarang, Caren sebentar lagi akan melahirkan anak kembar kami,"


"Jadi maaf ya Vik, Aku nggak bisa bantu. Meski kita pernah bersama, tapi tetap saja kita itu berstatus mantan suami istri," sambung Dios.


Aku tersenyum dibalik pintu saat mendengar ucapan Dios. Ternyata semua kekhawatiranku tidak terjadi. Dios benar-benar sudah berubah, dan sangat menghargaiku.


"Tapi kami bisa membantu kak Vika buat bicara keorang-orang yang mengerti,"


Aku keluar dari persembunyianku, yang membuat Dios sangat terkejut.


"Orang-Orang mengerti?" tanya Vika.


"Ya. Misalnya kita pergi ke dinas sosial mungkin? kita tanya-tanya dengan pihak yang berwenang, mungkin ada tempat bagi penampungan orang-orang yang terkena penyakit serupa." Jawabku.


Vika tampak terdiam. Sementara Dios melihat kearahku sembari tersenyum.


"Caren benar. Semua masalah pasti ada solusinya. Kalaupun tidak ada solusinya, aku akan membelikanmu rumah sederhana untuk tempat tinggal. Nanti kami akan membantumu buat mencari cara pengobatan yang biasa dilakukan orang-orang terkena virus HIV," ujar Dios.


"Aku setuju. Atau apa kakak mau tinggal dirumahku yang pernah aku tempati bersama Delano saat kami bercerai? sekarang rumah itu sedang tinggal, daripada tidak ada penghuninya, mending kakak saja yang menunggu rumah itu."


"Rumah itu sangat mewah dan berada dipinggiran kota. Kakak tidak perlu khawatir, karena takut ada tetangga yang membullymu. Bagaimana?" tanyaku antusias.


Vika menatapku dan bergantian menatap Dios. Wanita itu kemudian tersenyum.


"Kini aku mengerti. Kenapa jodoh orang baik, dapatnya orang baik juga. Maaf ya Di, aku tadi sempat memaksamu agar mau menerimaku disini, tapi sekarang aku sudah lega karena aku sudah mendapat solusinya. Dan sepertinya aku akan menerima tawaran Caren buat tinggal dirumahnya yang ada di kota J." Jawab Vika.


Aku tersenyum. Dan aku sangat senang, karena akhirnya rumah peninggalan Delano ada yang mengurus.


"Aku akan membelikanmu tiket pesawat ke kota J. Kamu bisa pergi besok pagi. Untuk malam ini apa boleh Vika nginap disini yank?" tanya Dios.


"Boleh." Jawabku mantap.


"Makasih ya Di, Ren," ujar Vika.


"Kamu harus tetap semangat. Banyak sekali orang yang terkena HIV tapi bisa hidup lama. Asal kamu rajin kontrol, dan patuh minum obat," ucap Dios.


"Aku mengerti," ucap Vika.

__ADS_1


"Sekarang kita pergi makan keluar yuk? aku lagi pengen makan gudeg kak," ajakku.


Vika mengangguk. Dan kamipun pergi makan bersama, dan berbincang banyak hal bersama Vika.


__ADS_2