TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
52. Dios Syok


__ADS_3

Dios bergegas pergi ke toko bunga. Dia masih berharap Caren berada disana dan masih sempat bertemu dengannya. Dengan nafas terengah Dios berlari kearah toko itu, dan pada saat sampai, pemilik toko bunga menatap kearah Dios yang terlihat ngos-ngosan.


"Mau cari bunga apa mas?" tanya pemilik toko.


Hosh


Hosh


Hosh


"Caren. Dimana Caren?" tanya Dios.


"Oh. Jadi kamu pria yang selalu di tunggu-tunggu si Caren? dia sudah pergi jauh, dia cuma nitip surat untukmu. Tunggu sebentar," ucap wanita itu.


Wanita parubaya itu pergi masuk kedalam untuk mengambil titipan surat dari Caren. Sementara Dios sudah terduduk lemas, saat tahu Caren sudah pergi meninggalkannya kembali.


Tidak berapa lama kemudian Pemilik toko keluar dengan membawa sepucuk surat tanpa sampul. Wanita itu menyodorkan surat itu dihadapan Dios. Dios meraihnya dan menatap surat itu dengan perasaan sedih luar biasa.


Dios perlahan membuka surat itu dengan menahan air matanya yang akan meluncur bebas dipipinya.


Untuk orang yang sudah mengecewakanku....


Maaf. Sekali lagi aku harus pergi jauh dan tidak akan pernah kembali. Aku anggap urusan kita sudah impas. Waktu itu aku memilih Delano dan meninggalkanmu tanpa perasaan. Dan sekarang kamu memilih Sekar, dan meninggalkanku tanpa perasaan.


Aku tidak menyalahkanmu. Mungkin kamu ingin membalas dendam padaku, hingga kamu tidak ingin aku menghubungimu sama sekali. Kamu tidak usah khawatir, calon anak kita adalah bayi laki-laki yang hebat dan kuat. Dia tidak butuh ayahnya saat dia menikah nanti. Jadi mari kita saling melupakan, karena kita sudah tidak pantas lagi mengingat masa lalu yang buruk.


Selamat tinggal Dios Almigo. Aku do'akan semoga kamu bahagia bersama Sekar. Kalau mengingat suaranya disiang itu, sepertinya kalian sama-sama saling mencintai. Selamat ya? selamat sudah menghancurkan hatiku sekali lagi.


Dariku yang terluka....


Carenina Martadinata.

__ADS_1


"Hikz...kamu salah paham sayang. Kamu salah paham," air mata Dios sudah membasahi wajahnya.


Tubuh pria itu merosot kelantai sembari terisak. Pemilik toko itu tidak sampai hati melihat Dios yang terlihat frustasi dan patah hati sembari memeluk kertas pemberian Caren. Tiba-Tiba Dios bangkit dari duduknya, dan menatap pemilik toko bunga.


"Aki mohon katakan padaku kemana Caren pergi bu. Ini cuma salah paham. Aku mohon bantuan anda," ujar Dios.


"Maaf. Tapi aku benar-benar tidak tahu keberadaan Caren. Dia hanya meninggalkan surat itu tanpa mengatakan apapun atau meningalkan pesan apapun. Dia juga tidak memberitahuku, meskipun aku sudah bertanya kemana tujuannya pergi," ujar pemilik toko bunga.


Dios beranjak pergi dari situ dengan langkah kaki gontai. Tidak hanya langkah kakinya yang gontai, air matanya juga mengiringi kepedihan hatinya itu. Sekar yang menunggu kedatangan Dios sejak tadi mondar mandir didepan rumah kontrakkan Caren. Usianya yang tua memang tidak bisa mengikuti langkah kak Dios yang berlari tergesa-gesa menuju toko bunga. Dia kehilangan jejak, dan akhirnya kembali ke kontrakkan Caren.


"Di-Dios," Sekar tersenyun senang saat melihat kehadiran Dios.


Wanita parubaya itu sangat takut kehilangan Dios, bahkan dia segera berhambur kepelukkan hangat pria itu. Dios yang seolah kehilangan nyawa, sama sekali tidak menggubris pelukkan itu. Karena teringat Caren, Dios jadi marah pada Sekar. Dia sedikit mendorong tubuh Sekar dan menatap wanita di depannya itu.


"Sekar. Aku sudah kehilangan segalanya sekarang. Aku kehilangan wanita yang aku cintai, juga kehilangan anakku. Jadi sudah kepalang rugi, aku sudah memutuskan untuk bercerai denganmu."


"Sekar. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi," ucap Dios.


"Ti-Tidak Dios. Kamu tidak bisa melakukan ini sama aku. Bukan salahku kalau Caren pergi. Aku mohon cabut kata-katamu itu. Caren sudah pergi, jadi apa salahnya kamu tetap bersamaku. Aku sangat mencintaimu Dios, aku sangat mencintaimu. Hiks...." Sekar mengguncang tubuh Dios sembari terisak.


"Maaf Sekar, keputusanku sudah bulat." Jawab Dios yang kemudian langsung pergi begitu saja.


"Dios tunggu! kamu tidak bisa bersikap seperti ini sama aku. Kamu tidak akan mendapat apa-apa," teriak Sekar.


Langkah kaki Dios terhenti saat mendengar kata-kata Sekar. Pria itu menatap Sekar dengan tajam, hingga membuat wanita parubaya itu jadi takut.


"Apa selama ini kamu menganggapku orang yang seperti itu?" tanya Dios.


"Bu-Bukan begitu. Pokoknya kamu tidak bisa meninggalkan aku. Aku janji, setelah aku mati semua hartaku semuanya akan menjadi milikmu," ujar Sekar.


Dios jadi tersenyum sinis kearah Sekar.

__ADS_1


"Ternyata benar. Kamu menganggapku seperti itu. Apa kamu pikir aku menikahimu karena harta? aku sama sekali tidak tertarik dengan hartamu. Tapi aku ucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah membiarkan aku memakan nasi dan sedikit uangmu," ujar Dios.


"Bu-Bukan begitu. Kamu jangan salah paham," ucap Sekar.


"Salah paham apa? ucapanmu itu sudah sangat jelas. Makan saja semua hartamu, bila perlu saat mati juga minta kuburkan dengan hartamu itu," ujar Dios sembari berlalu pergi.


"Dios jangan pergi! Dios....hiks...Dios jangan pergi,"


Brukkkk


Tubuh Sekar merosot di tanah dengan uraian air mata. Sementara itu Dios bergegas kembali pulang ke kota Surabaya untuk mengambil semua barang-barangnya. Dios pergi mengontrak untuk sementara, sampai akta cerai mereka dikeluarkan oleh pengadilan.


*****


Dua bulan kemudian....


Dios tersenyum saat menatap akta cerainya dengan Sekar. Dios juga sudah mendengar kalau Sekar jadi jatuh sakit. Tapi Dios telah bertekad untuk memulai kehidupan yang baru, sembari mencari keberadaan Caren.


Dios berencana akan merantau ke kota Yogyakata. Namun sebelum itu dia akan berpamitan terlebih dahulu dengan Sekar, sebagai tanda ucapan terima kasihnya pada wanita itu yang sudah banyak membantunya selama dia ada di kota Surabaya.


Dios menatap wajah Sekar yang terlihat pucat, dan di lehernya dililiti sebuah syal tebal. Matanya berbinar saat melihat kedatangan pria yang sudah resmi bercerai darinya dua hari yang lalu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Dios.


"Tidak perlu kamu tanyakan, kamu pasti tahu aku tidak baik-baik saja. Kamu pasti sudah tahu, kalau aku akan mati tanpamu." Jawab Sekar.


"Maaf.Tapi aku harap kamu bisa mengikhlaskan aku Sekar. Aku datang kesini karena ingin berpamitan denganmu. Aku akan kembali merantau ke kota lain. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas semua kebaikkanmu selama ini," ujar Dios.


"Kamu jaga kesehatan. Jangan pikirkan lagi yang sudah-sudah. Aku pamit ya?" ucap Dios.


Air mata Sekar meleleh di pipinya. Dios memberikan pelukkan terakhir pada Sekar, untuk menenangkan mantan istrinya itu. Namun tangis Sekar jadi pecah seketika sembari memeluk Dios dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2