
"Jadi apa yang ingin tante bicarakan denganku?"
Kali ini aku bertanya dengan kepala tegak. Tidak seperti sebelumnya aku melihat wanita itu dengan penuh rasa takut. Tapi kali ini tidak lagi. Entah mengapa adanya Dios membuatku sedikit ada keberanian dan merasa sangat terlindungi.
"Aku akui akulah yang menyuruh orang untuk menculik anakmu. Aku menyuruhmu kesini karena ingin membuat kesepakatan denganmu didepan Rendy dan yang lain." Jawab Leni.
Mendengar pengakuan Leni, tentu saja aku sangat syok. Lain denganku, lain pula dengan reaksi Dios. Ayah dari putraku itu sampai berdiri dari duduknya dengan nafas yang memburu dan tatapan mata yang membunuh.
"Apa anda ini jenis kelamin saja yang perempuan? atau anda ini adalah jelmaan iblis?" tanya Dios dengan penuh amarah.
Kali ini aku tidak menghalangi Dios memarahi tante Leni. Dios sudah mewakilkan rasa amarahku yang juga ingin meledak saat mendengar pengakuannya yang seperti tanpa dosa itu.
"Dios jaga bicaramu. Walau bagaimanapun dia ibuku," hardik Rendy.
"Kamu diam saja! aku tidak perduli meski dia itu ibumu, nenekmu, atau leluhurmu sekalipun. Jangankan cuma ibumu, nenek moyangmu saja akan aku obrak abrik tanah pekuburannya." Jawab Dios.
"Kenapa kamu yang lebih antusias marah, daripada Caren? kamu itu bukan siapa-siapa disini!" Rendy mulai mengeluarkan amarahnya.
"Yang ibumu culik itu anak kandungku brengsek! kamu dengar tidak? Marta itu anak kandungku. Caren adalah wanita yang aku cari selama ini, yang sangat aku cintai. Kamu dengar itu? dengar tidak?" suara Dios terdengar menggelegar diruang tamu itu.
Sementara itu langkah kaki Rendy jadi mundur beberapa langkah, saat mendengar pengakuan Dios. Rendy tahu Dios jujur, dia bisa melihat sorot mata Dios menajam dan memerah karena amarah.
"Ca-Caren apa itu benar?" tanya Rendy ingin memastikan ucapan Dios.
"Benar kak. Ternyata selama ini jarak kami terlampau dekat, tapi kami memang harus mengalami ujian ini dulu baru bisa disatukan." Jawabku dengan tegas.
"Anda dengar tidak? jadi cepat beritahu kami dimana anak kami anda sembunyikan. Anda tidak perlu lagi khawatir putra anda yang putri duyung ini akan menggaet seorang janda. Karena janda ini milikku," ucap Dios.
Aku mengulum senyumku saat dios mengatai Rendy seorang putri duyung. Aku baru tahu kalau Dios punya sisi humoris seperti ini.
Kulihat tante Leni membrengut, saat putranya dikatai putri duyung. Sementara Rendy sendiri matanya jadi melotot.
"Baguslah kalau kamu itu pria si janda ini. Anakku masih perjaka, masih bisa mendapatkan perawan. Bukan bekas orang sembarangan," ujar tante Leni dengan sombongnya.
"Apa anda yakin putra anda ini masih perjaka? dia sendiri yang bilang sering nyelup disana sini,"
Ucapan Dios membuat mata Rendy semakin membulat. Sementara tante Leni dan Suwito jadi menatap tajam putranya. Sedangkan aku menatap Dios penuh selidik. Kulihat Dios mengedipkan mata kearah Rendy, Rendy langsung membuang muka dengan kesal. Kini aku mengerti, Dios sengaja berkata demikian, karena ingin menurunkan gensi orang tua Rendy.
"Sudahlah. Sudah cukup basa basinya. Sekarang katakan dimana anakku kalian sembunyikan?" tanya Dios.
"Kamu antar mereka ke rumah Rudi. Rudi dan Mia yang mengasuh anak itu." Jawab Leni yang mengarah ke Rendy.
"Aku harap anda tidak berbohong. Kalau sampai aku tidak menemukan Marta, maka aku langsung akan menyeret anda ke kantor polisi," ucap Dios.
__ADS_1
Dios lansung memgajakku pergi dari rumah itu.
"Sebaiknya mama juga ikut dengan kami. Aku takut obsesi mbak Mia akan mempersulit kami mengambil Marta," ujar Rendy.
Leni tampak berpikir keras, namun akhirnya diapun setuju. Karena khawatir, Suwito juga ikut pergi ke rumah Rudi dan Mia.
"Ah...aku sangat senang. Akhirnya aku bisa bertemu dengan putraku lagi kak," aku bersandar dibahu Dios, sementara Dios konsentrasi menyetir sambil sesekali mencium puncak kepalaku.
"Aku juga. Pantas saja aku merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan Marta. Dan entah mengapa pula aku ingin marta memanggilku dengan sebutan papa. Ternyata dia memang putraku," ujar Dios.
"Emmm...kak. Bagaimana kabar tante Sekar?" tanyaku yang penasaran dengan kehidupan tante Sekar setelah bercerai dari Dios.
"Aku tidak tahu. Kebetulan ponselku hilang. Jadi aku kehilangan seluruh kontak orang-orang termasuk kamu." Jawab Dios.
"Pantas saja saat aku menghubungimu, nomormu sama sekali tidak aktif," ujarku dengan bibir mengerucut.
"Kamu menghubungiku? kapan?" tanya Dios.
"Sekitar seminggu setelah lahiran. Waktu itu aku sempat membuka blokiran nomormu, dan banyak menerima pesan darimu."
"Aku minta maaf soalku dan Sekar. Aku terlalu gegabah menerima begitu saja persyaratan darinya. Padahal setelah kupikir-pijir, kamulah yang lebih membutuhkan aku ketimbang dia," ujar Dios.
"Ja-Jadi saat aku mendengar suara-suara disiang itu, kamu benar-benar melakukan itu dengannya?" tanyaku yang masih merasakan rasa cemburu.
"Lalu dia minta syarat apa darimu, hingga kamu tega mengingkari janji kita?" tanyaku yang mulai tersulut emosi.
"Dia setuju bercerai denganku, asal aku mau melakukan peran suami istri yang sesungguhnya dengan dia. Termasuk melakukan hubungan suami istri dengannya." Jawab Dios.
"Berapa kali?" tanyaku.
"Apanya yang berapa kali?" tanya Dios yang tidak mengerti dengan pertanyaanku.
"Berapa kali dalam sehari kamu melakukan itu dengannya?" tanyaku yang menahan ledakkan emosi didadaku.
"Mati aku. Haruskah aku jujur?" batin Dios.
"Diossss...." aku kembali menyebut nama pria itu.
"Sa-Satu kali." Jawab Dios gugup.
"Berapa kali?"
"Satu." Jawab Dios.
__ADS_1
"Berapa ka-li?" aku bertanya dengan penuh penekanan.
"Tiga kali." Jawab Dios dengan gugup dan tertunduk.
"Dios. Sepertinya aku tidak kuat hidup denganmu. Mungkin hubungan kita bisa cuma sebatas ada Marta diantara kita. Aku bisa serangan jantung kalau kamu kembali menghianatiku karena kamu tidak bisa mengendalikan ular dalam celanamu itu," air mataku kembali merebak.
Shiiitttttt
Dios mengerem mendadak, saat mendengar ucapanku. Dia segera meraih kedua tanganku dan menciumnya berkali-kali.
"Jangan katakan itu sayang. Aku sungguh minta maaf dan minta ampun padamu. Aku berani bersumpah, kalau saat melakukan itu aku tidak pernah memintanya lebih dulu. Terlebih saat melakukannya aku membayangkan saat itu sedang bercinta denganmu. Demi Tuhan aku tidak bohong,"
Aku bisa melihat Dios sungguh-sungguh mengatakannya. Tapi saat membayangkan dia bertempur dengan wanita tua itu tentu saja hatiku merasakan sakit yang teramat sangat.
"Aku akan menerima hukuman apapun, asalkan kamu jangan pernah lagi meninggalkan aku. Aku bersumpah kalau kamu melakukan itu, aku akan mati bunuh diri,"
Sungguh terdengar konyol ucapaan Dios di telingaku. Tapi saat melihat air matanya yang membasahi wajah, aku jadi merasa iba.
"Baiklah. Karena kamu melakukan itu sebanyak tiga kali dalam sehari, maka kamu tidak akan menyentuh aku selama 3 tahun,"
"Ap-Apa? mana bisa seperti itu? bagaimana nasib ularku kalau begitu?" tanya Dios.
"Kalau kamu menolak, itu artinya kamu memang tidak bisa mengendalikan hawa nafsumu. Dan kalau sudah begitu, aku akan kembali meninggalkanmu." Jawabku.
"Ja-Jangan. Baiklah aku setuju," ucap Dios dengan wajah mendung.
Aku mengulum senyumku tanpa sepengetahuan Dios.
"Ya sudah. Lanjut jalan lagi. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Marta,"
Dios kembali menginjak gas mobilnya, dan melaju dengan kecepatan sedang. Selang 20 menit kemudian, kami tiba di kediaman kak Rudi dan juga kak Mia. Dan tidak berapa lama kemudian, Rendy dan orang tuanya tiba di belakang kami.
Kami beberapa kali menekan bel rumahnya, namun sama sekali tidak ada pergerakkan dari dalam untuk membukkan pintu untuk kami. Rendy kemudian menelpon Rudi dan Mia, namun nomor keduanya sama sekali tidak aktif. Tidak hanya Rendy, Leni dan Suwito juga mencobanya, tapi nomor mereka memang tidak aktif.
Rendy kemudian bertanya-tanya pada tetangga kakaknya itu, namun jawaban mereka cukup mencengangkan semuanya. Tubuhku jadi lemas, beruntung Dios menangkap tubuhku dari belakang. Sehingga aku tidak tumbang ditempat.
"Maaf Ren. Kesabaranku sudah melebihi batasanku. Dengan terpaksa aku harus menyeret mamamu ke penjara. Sebelum saudaramu mengembalikan anakku, jangan harap mamamu bisa keluar dari sana," ujar Dios.
Rendy terdiam. Dia tidak bisa menolong mamanya lagi. Leni yang ketakutan jadi menangis histeris.
"Kamu tenang saja. Aku yang akan mengantarkan mamaku ke penjara. Aku berjanji padamu akan menemukan keberadaan kakakku, dan mengembalikan anak kalian."
"Aku harap kamu tepati janjimu. Karena kalau tidak, sesuai perkataanku tadi, tidak hanya keluargamu yang kuhancurkan. Aku juga akan mengobrak abrik tanah kuburan nenek moyangmu kalau sampai anakku tidak saudaramu kembalikan," ucap Dios.
__ADS_1
Dios kemudian menggendongnu yang sudah lemas. Dios kemudian membawaku pulang. Bukan pulang ke rumah kontrakkanku, namun pulang ke rumahnya yang megah.