TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
65. Baby sittor


__ADS_3

"Dimana dia?" tanya Dios saat melihat Rendy tergesa-gesa sembari menggendong bayi dan menenteng sebuah tas yang Diospun tidak tahu isinya apa.


"Ada di mobil. Aku nggak punya banyak waktu. Ini Marta, dan ini keperluan Marta. Kalau ada yang kurang tolong belikan dulu. Terutama susu dan botol susu. Kamu cek sendiri deh apa yang kurang. Aku pergi ke rumah sakit dulu," ucap Rendy sembari menyerahkan Marta ke tangan Dios.


Dios melirik kearah mobil Rendy, yang memperlihatkan kepala seorang wanita yang bersandar di pintu mobil, dengan rambut tergerai menutupi wajah. Setelah Rendy pergi, barulah Dios sadar saat Marta yang berada dalam gendongannya menangis.


"Eh? ka-kamu lapar ya? kita beli dulu susunya ya?" ujar Dios sembari membawa Marta masuk ke dalam rumah. Dios yang kini sudah memiliki rumah pribadi, langsung memanggil pelayan rumahnya untuk meminta bantuan.


Dios cukup kelabakkan, karena ternyata Marta tidak memiliki pempers cadangan setelah Pup. Dan yang lebih membuat dirinya syok adalah, Rendy hanya membawa baju Marta, tanpa membawa celana anak itu.


"Rendy kutu kupret. Panik sih panik, tapi ini bagaimana urusannya. Mana aku ngak ngerti bagaimana cara mengurus bayi. Dia masih terlalu lembut. Aku masih takut-takut menggendongnya,"


"Tuan pergi saja ke supermarket buat cari keperluan Marta. Nanti biar saya yang nungguin dia disini," ujar pelayan.


"Baiklah. Tolong ya Bi," Dios bergegas pergi ke Mall untuk mencari kebutuhan Marta di supermarket.


Dios bahkan lupa diri saat membeli pakaian bayi yang terlihat lucu-lucu. Dios juga membeli pempers beberapa ball dan susu beberapa kotak untuk stok.


"Hah...gini kali ya rasanya ngurus anak. Menyenangkan sekaligus kerepotan," batin Dios.


Meski demikian, Dios sangat senang melakukan semua itu. Entah mengapa dia sangat antusias saat melakukannya. Setelah selesai belanja, Dios bergegas pulang. Karena dia takut Marta sudah kelaparan. Terlebih saat ini dia tidak menggunakan pempers dan hanya dilapisi dengan handuk tebal.


"Marta. Papa pul...."


Kata-Kata Dios terhenti, saat dirinya menyadari perkataan spontannya yang sangat salah itu.


"Ada apa denganku? kenapa aku sangat ingin Marta menyebutku papa?" batin Dios.


Dios menatap Marta yang tengah tertidur. Rupanya pelayan sudah memakaikan Marta pempers saat ini.


"Maaf tuan. Marta tidak bisa tidur dengan nyenyak karena sering pipis. Jadi aku mengajaknya ke warung buat beli satu pempers rentengan," ujar Pelayan.


"Tidak masalah. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Sekarang kamu tolong masakkan air panas dan masukkan kedalam termos. Sekalian tolong rebus dulu botol susunya," ucap Dios.


"Baik tuan." Jawab Pelayan.


Sembari menunggu air panas datang, Dios iseng foto-foto dengan Marta yang tengah terlelap.


"Kenapa setelah diperhatikan Marta sangat mirip denganku ya? Benar kata Rendy, Marta sangat mirip denganku," ucap Dios lirih.


Setelah menunggu beberapa saat, Pelayanpun datang dengan membawa termos air panas dan botol susu yang sudah di rebus.

__ADS_1


"Terima kasih bik," ujar Dios.


"Maaf tuan. Apa dia anak tuan? kenapa wajahnya sangat mirip dengan anda," ujar Pelayan.


"Benarkah? aku juga merasa begitu. Tapi sayangnya dia bukan anakku. Dia anak kekasih Rendy yang sering main kesini," ucap Dios.


"Tapi aku juga punya satu anak. Ya...meski aku tidak tahu dia ada dimana sekarang," sambung Dios dengan wajah murung.


"Tuan harus banyak-banyak berdo'a. Suatu saat pasti tuan akan dipertemukan dengan anak tuan," ujar pelayan.


"Amiin." Jawab Dios.


Marta mulai menggeliat dan hendak menangis, karena dia sudah lapar. Dios bergegas membuatkan susu untuk Marta, sesuai petunjuk di kotak susu. Dios kebingungan, saat Marta awalnya menolak saat dirinya memberikan susu formula. Mungkin karena Marta sudah terbiasa meminum asi ibunya.


"Marta sayang. Mamamu sedang sakit. Marta jadi anak baik ya? untuk sementara Marta minum Asi palsu dulu. Nanti kalau mama sudah sembuh, baru deh Marta bisa ***** lagi," Dios seolah membujuk anak berusia 5 tahun agar mau menuruti kata-katanya.


Namun ajaibnya, Marta memang mau meninum susu formula yang Dios buatkan. Ada perasaan senang dan bahagia tersendiri yang Dios rasakan saat ini.


Sementara itu di tempat berbeda, Rendy baru tiba di rumah sakit dan segera menggendongku untuk meminta pertolongan dokter. Dengan sigap petugas rumah sakit menanganiku. Dokter berusaha membuat aku sadar, namun saat sadar aku kembali mengalami muntah-muntah. Setelah aku sudah bisa di anamnesa, Dokter memutuskan buat melakukan CT scan pada kepalaku. Dan hasilnya Aku didiagnosa mengalami gegar otak.


Aku terpaksa harus di opname, agar mendapat perawatan yang sesuai. Dokter juga sudah mengobati luka-luka yang ada di wajahku.


Rendy bisa melihat wajahku yang tampak pucat, dan lemas.


"A-Aku terjatuh." Jawabku dengan suara lemah.


"Apa kamu pikir aku ini bodoh? apa kamu pikir aku ini tidak bisa membedakan luka karena jatuh, atau karena luka kena cakaran? katakan! siapa yang melakukan ini sama kamu, biar aku menjebloskan dia ke penjara," tanya Rendy.


"Kamu ribut dengan tetanggamu?" tanya Rendy lagi.


Aku terdiam. Aku bingung harus beralasan apalagi. Aku tidak mungkin memfitnah tetanggaku, yang ada Rendy akan menyambangi tempatnya dan memenjarakan orang yang tidak bersalah.


Melihatku yang terdiam, Rendy mengernyitkan dahinya. Matanya tiba-tiba melebar, karena sepertinya sudah menyadari sesuatu.


"Ap-Apa ini perbuatan mamaku?" tanya Rendy yang perlahan kuanggukkan kepalaku.


Rendy meraup wajahnya berkali-kali. Sungguh dia tidak menyangka bahwa ibunya bisa berbuat sekejam itu.


"Caren. Aku minta maaf atas nama mamaku. Tapi kamu tenang saja, siapapun orangnya harus mendapatkan pelajaran yang sama dimata hukum. Nanti aku akan meminta dokter untuk melakukan visum padamu. Aku minta maaf padamu, karena aku kamu jadi begini," ucap Rendy yang terlihat sekali merasa bersalah padaku.


"Tidak perlu kak. Tante Leni sudah tua, kasihan kalau harus dipenjara. Dia memang salah, tapi aku nggak mau mengambil langkah hukum. Kita selesaikan secara kekeluargaan saja," ucapku.

__ADS_1


Aku memang tidak ada niat untuk mengambil langkah hukum, karena aku masih memandang Rendy yang terlalu banyak membantuku selama ini.


"Tapi kalau boleh tahu, kenapa kakak mengatakan pada tante Leni kalau aku tengah hamil? dia tidak terima karena beliau beranggapan aku benar-benar sedang mengandung anak kakak," tanyaku yang begitu penasaran dengan alasan Rendy.


"Tidak perlu ditanya kamu sendiri pasti sudah tahu. Aku mengatakan hal itu, karena aku ingin mereka merestui aku menikah denganmu. Tapi aku tidak menyangka kalau mama akan melakukan hal ini padamu. Maafkan aku Caren," ujar Rendy.


"Sudahlah kak jagan memaksakan kehendak lagi. Memang sebaiknya kita tidak usah bersama, itupun kalau kakak tidak ingin membahayakan nyawaku dan anakku. Anak?"


Aku tiba-tiba panik, saat teringat tentang anakku Marta.


"Ka-Kak. Marta dimana?" tanyaku cemas.


"Dia ada dirumah temanku. Sahabat karibku. Kamu tenang saja, dia sudah tua. Pasti dia bisa menghandle semuanya." Jawab Rendy.


"Apa dia sudah berkeluarga? apa suaminya setuju kakak menitipkan Marta pada istrinya?" tanyaku yang penasaran.


"Dia seorang laki-laki. Duda tidak punya anak. Ada sih anak, tapi dia tidak tahu keberadaan anaknya itu." Jawab Rendy dengan enteng.


"Astaga. Apa kakak yakin dia bisa? tua tidak menjamin laki-laki yang tidak berpengalaman ngurus anak bisa melakukannya. Kakak tolong telpon dia sekarang, kakak pastikan kalau Marta baik-baik saja dan tidak merepotkan teman kakak itu," aku mendadak panik.


"Baiklah tuan putri," ucap Rendy sembari mengeluarkan ponselnya.


"Hallo Di? gimana Marta? amankah?" tanya Rendy.


"Sialan loe. Panik sih panik, tapi nggak bawa baju tanpa celananya juga kali Ren. Aku jadi kelabakkan tadi buat nyari kebutuhan dia. Apalagi dia tadi pup dan pempers nggak ada." Jawab Dios yang dibalas kekehan oleh Rendy.


"Aku nggak nyangka kalau kamu bisa jadi baby sittor yang baik. Mungkin karena naluri seorang bapak-bapak kali ya?" ledek Rendy.


"Semprul. Tadi aku sempat panik, soalnya Marta kayaknya nggak suka susu formula. Mungkin karena kelaparan, dia jadi mau minum juga. Suruh janda kamu memerah ASI nya gih! takutnya Marta nggak cocok minum susu formula. Bila perlu kamu bantuin tuh meras Asinya," ledek Dios.


Blussssh


Wajah Rendy bersemu merah saat mendengar ucapan Dios. Beruntung dirinya tidak membuat pengeras suara, hingga Caren sama sekali tidak mendengar apa yang Dios katakan.


"Terus gimana kabar janda loe itu?" tanya Dios.


"Sudah agak membaik. Ntar gue ceritain semuanya." Jawab Rendy.


"Katakan sama dia. Nggak perlu mikirin anaknya. Fokus saja buat sembuh dulu. Tapi jangan lupa buat ngirim ASI kesini," ujar Dios.


"Oke." Jawab Rendy.

__ADS_1


Rendy dan Dios mengakhiri percakapan itu. Sementara aku menunggu Rendy menceritakan hasil percakapannya dengan sahabatnya itu.


__ADS_2