
"Aku pamit ya?" ujar Dios sembari melerai pelukkannya pada Sekar.
"Tunggu!" Lagi-Lagi langkah kaki Dios terhenti.
Sekar meraih dompetnya yang berada diatas meja. Wanita itu menarik sebuah kartu ATM dari dompetnya dan menyodorkannya pada Dios.
"Apa ini?" tanya Dios.
"Ini adalah hakmu. Kamu sudah bekerja keras mengelolah klub selama ini. Jadi sudah sepatutnya kamu memperoleh hasil jerih payahmu." Jawab Sekar.
"Tidak perlu. Aku memang butuh uang, tapi aku ini seorang pria. Aku bisa menghidupi diriku sendiri," ujar Dios sembari mendorong ATM itu kearah Sekar.
"Aku mohon kamu jangan menolaknya. Aku megang uang banyak juga buat apa? Kalau kamu, kamu bisa memanfaatkan uang ini buka usaha. Dios, aku ingin kamu mengelola uang ini dengan benar. Kalau suatu saat aku mati, tolong sedekahkan sedikit penghasilanmu atas namaku."
"Aku tidak punya sanak saudara, suami, maupun anak. Hanya kamu orang yang aku percaya. Jadi anggap saja aku menitipkan hartaku untukmu, dan bantu aku menyalurkan sedekah sedikit-sedikit untuk orang yang membutuhkan,"
Dios menghela nafas. Pria itu akhirnya menerima pemberian Sekar.
"Baiklah kalau kamu menginginkan hal itu, aku akan menerimanya," ujar Dios sembari meraih kartu itu.
"Dios. Saat kamu mendengar aku tiada nanti, maukah kamu pergi menziarahi kuburanku meskipun satu kali?" tanya Sekar.
"Kenapa kamu selalu bicara sembarangan. Kamu pasti baik-baik saja," ucap Dios.
"Berjanjilah Dios," ujar Sekar.
"Ya. Aku janji." Jawab Dios.
Dios kemudian pergi, sementara tangis Sekar jadi pecah. Dios kemudian pergi kebandara langsung membeli tiket dan ikut penerbangan hari itu juga. Setelah melakukan perjalanan beberapa waktu, Dios akhirnya tiba di kota Yogyakarta.
Dios merenggangkan tubuhnya saat dirinya turun dari taksi setelah tiba di kota Yogyakarta. Dios menyeret koper dan menggendong tas ranselnya menyusuri jalan Malioboro untuk mencari kontrakkan disekitar sana.
"Aku pasrahkan hidupku saat ini. Aku akan melangkah sesuai tuntunan Tuhan," batin Dios.
Setelah bertanya-tanya kontrakkan murah, akhirnya Dios menemukannya juga. Dios bergegas membersihkan diri, dan segera beristirahat. Dios melihat foto-foto Caren yang tengah lelap tertidur, dan foto perut buncit Caren. Dan entah mengapa setiap mengingat wanita itu, air mata Dios jadi menetes.
"Sayang. Kamu ada dimana? waktu kelahiranmu sudah dekat. Aku ingin sekali berada disisimu, dan menemanimu saat-saat kahiran anak kita. Aku tahu aku salah, tapi jangan menghukumku sekejan ini juga. Ini benar-benar membuatku sakit," ujar Dios dengan lelehan air mata.
Karena terlalu lelah, Diospun jatuh tertidur.
__ADS_1
*****
"Caren. Apa kamu sudah sarapan?" tanya Rudi.
"Sudah kak. Tadi sarapan sama kak Mia." Jawabku.
Saat ini Aku tengah tinggal bersama pasangan Rudi dan Mia. Pasangan yang sudah 10 tahun menikah, tapi tidak dikaruniai anak. Saat tiba di Kota tempatku berada saat ini, Aku hampir ditabrak oleh pasangan itu saat akan menyeberang jalan. Karena syok, Akupun jatuh pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit.
"Rendy jadi antar kamu ke rumah sakit buat periksa?" tanya Rudi sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Jadi kak. Sekalian dia mau nemenin aku buat cari kontrakkan disekitar sini." Jawabku
"Jadi keputusanmu sudah bulat buat tinggal dikontrakkan?" tanya Mia.
"Iya kak Mia. Nggak enak kalau kita terus-terusan tinggal satu atap begini. Nanti dikira yang enggak-enggak." Jawabku.
"Ya sudah kalau itu sudah keputusanmu, tapi carilah kontrakkan yang dekat sini saja. Agar kami bisa mengontrolmu," ujar Mia.
"Iya kak. Nah itu kak Rendy datang," aku menunjuk ke arah Rendy yang baru datang.
Rendy adalah adik dari Rudy. Dia seorang tentara berusia 27 tahun. Meski kami baru kenal, tapi kami sudah sangat akrab. Keluarga Rendy juga sangat baik padaku, meskipun statusku seorang janda yang tengah mengandung seorang anak.
"Udah kok. Aku ambil tas bentar ya?"
Aku bergegas pergi untuk mengambil tas selempangku di dalam kamar. Setelah selesai, aku bergegas keluar dan pergi bersama Rendy. Setelah memakan waktu hampir 25 menit, kamipun tiba di rumah sakit. Aku sangat bersemangat hari ini, karena aku akan bertemu putraku. Aku ingin tahu keadaannya.
"Bayinya sehat, semuanya normal. Nanti jangan lupa diminum vitaminnya ya?"
"Baik dokter." Jawabku.
Setelah selesai, akupun keluar dari ruangan dokter dan menemui Rendy yang menungguku diruang tunggu.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Rendy.
"Semuanya baik. Aku sangat senang " Jawabku sembari mengusap-usap perutku.
"Ayo kita cari kontrakkan yang kamu mau," ujar Rendy.
"Emm." Aku menganggukkan kepala.
__ADS_1
Mobil Rendy melaju perlahan. Sembari mencari kontrakkan, kami sembari mengobrol.
"Maaf ya kak. Jadwal kencanmu jadi terhalang karena aku," aku merasa tidak enak hati dengan Rendy. Karena jatah liburnya, malah kupakai buat mengantarku.
"Tidak masalah. Dia pengertian kok orangnya. Lagian hari ini katanya dia mau nemanin mamanya ke salon," ujar Rendy.
"Jadi kapan nih rencana kalian nikah!" tanyaku kepo maksimal.
"Insya Allah tahun depan. Saat ini kami tengah sama-sama ngumpulin uang buat biaya nikah." Jawab Rendy.
"Wah...aku turut senang kak. Moga disegerakan ya,"
"Amiin. Ngomong-Ngomong aku ada rekomendasi kontrakkan yang bagus nih," ujar Rendy.
"Dimana?" tanyaku.
"Ada dekat rumahku." Jawab Rendy.
"Murah?" tanyaku.
"6 juta pertahun. Lumayanlah." Jawab Rendy.
"Ya udah ayo kita lihat kesana," ucapku.
"Makan dulu deh. Laper nih," ujar Rendy.
"Oh iya. Nggak tahu diri banget yang minta temani. Udah ditemani malah nggak ngajak makan," aku terkekeh renyah.
"Nggak gitu juga. Ini memang sudah waktunya makan siang. Kasihan anakmu butuh asupan makanan," ujar Rendy.
Mobil Rendy berbelok kearah sebuah rumah makan, yang menyediakan makanan khas kota itu. Setelah memesan makanan kami, kami asyik berbincang banyak hal sembari menunggu pesanan kami datang. Namun kata-kata Rendy terhenti, saat pria itu melihat seseorang yang dikenalnya.
Melisa. Gadis yang dia pacari selama 5 tahun, tengah bergandengan mesra saat masuk ke rumah makan itu. Gadis itu terlihat sangat seksi, dan tampak tertawa ringan dengan tangan yang berpaut di lengan pria yang tinggi tegap.
"Ka-Kak. Bukannya itu Melisa?" tanyaku.
Aku memang pernah satu kali bertemu dengan Melisa. Saat itu Rendy mengajak Melisa menjengukku saat aku berada di rumah sakit karena Rudi hampir menabrakku.
"Ya aku tahu. Sepertinya dia diam-diam jalan dengan sahabatku." Jawab Rendy dengan santai.
__ADS_1
Aku tidak tahu kenapa Rendy bisa sesantai itu. Padahal itu gadis yang dia kencani selama 5 tahun dan punya rencana akan menikah. Sesaat kemudian makanan kami sampai. Aku melihat Rendy makan dengan santai tanpa beban ataupun marah saat melihat Melisa kencan dengan pria lain. Padahal sejatinya pasangan kita akan cemburu, saat melihat kita selingkuh dengan orang lain.