
"Sayang. Kenalkan, ini teman baru aku. Namanya Caren, dia baru merantau di kota ini," ujar tante Sekar memperkenalkan aku dengan pria yang sangat aku rindukan itu.
Dengan tangan bergetar, aku mengulurkan tanganku kearah pria yang menatapku dengan tatapan datar. Tidak! bukan datar, melainkan tatapan dingin. Sebisa mungkin aku menahan laju air mataku, agar jangan sampai menetes di hadapannya. Tante Sekar sangat baik padaku, dan dia terlihat sangat bahagia menikah dengan Dios. Aku tidak ingin menghancurkan harapan wanita senja itu, saat aku membongkar segalanya.
"Caren Om," ucapku lirih.
Ah...akhirnya kesampaian juga aku menyebut namanya dengan sebutan nama Om. Aku jadi teringat, saat pertama kali diriku memanggilnya dengan sebutan itu. Dia sangat tidak terima, dan memarahiku. Sama seperti saat itu, tatapan saat ini menjadi semakin dingin.
Aku tidak salah kan? dia menikah dengan tante Sekar. Sudah seharusnya aku memanggilnya dengan sebutan Om. Aku menarik kembali tanganku, karena Dios sama sekali tidak membalas uluran tanganku.
"Maaf ya Ren. Seperti yang tante katakan waktu itu, dia ini cuek dengan wanita. Kamu jangan tersinggung ya?" bisik tante Sekar yang aku jawab dengan Senyuman lebar.
"Ayo silahkan duduk Ren. Santai ya," ujar tante Sekar.
"Makasih tante," ucapku.
Aku duduk di salah satu sofa. Tante sekar duduk di sebelahku, sementara Dios duduk di kursi kebesarannya. Aku melihat dia sangat pantas duduk disitu. Dia terlihat seperti pengusaha hebat. Aku senang sekarang dia sudah sukses, meskipun sukses mengendalikan usaha istrinya.
"Aduh...sejak tadi sebenarnya tante nahan pipis, kamu tunggu disini sebentar ya?" ucap tante Sekar.
"Toilet di dalam sedang mampet. Besok akan datang tukang sedot wc," ujar Dios.
"Begitu ya? ya sudah aku pergi ke toilet umum saja. Kamu jagain teman baruku ya? jangan galak-galak sama dia," ucap tante Sekar sembari terkekeh.
Saat tante Sekar keluar, keheningan tercipta. Dios seperti sedang konsentrasi dengan laptop di depannya, tanpa menghiraukan kehadiranku.
"Apa kabarmu?" tanyaku berbasa basi.
Namun perkataan Dios sungguh menusuk perasaanku.
__ADS_1
"Diamlah! aku sama sekali tidak ingin mendengar suaramu, ataupun ucapan basa-basimu itu. Bersikaplah seolah kita tidak saling mengenal, karena aku sejujurnya tidak ingin melihat wajahmu lagi," hardik Dios.
Aku lihat nafasnya naik turun. Baru kali ini dia bersikap kasar padaku, sehingga air mataku tidak tahan untuk tidak meluncur dengan bebas.
Aku melihat Dios memalingkan wajahnya saat melihatku menangis. Aku bergegas menyeka air mataku, tanpa dia tahu aku mengelus perut dari balik bajuku. Aku tidak ingin anakku membenci ayahnya yang sudah bersikap kasar pada ibunya.
Rasanya ingin sekali aku pergi dari situ, kalau saja tidak ingat dengan tante Sekar. Aku tidak ingin tante Sekar tahu dan curiga tentang hubunganku dengan Dios. Aku diam sembari tertunduk, sembari *******-***** ujung gaunku. Andai saja Dios tidak berada dihadapanku, pastilah aku akan menangis sembari meraung-raung.
Dios kembali menatap layar laptop. Namun aku masih bisa melihat kilatan amarah di matanya itu.
Krieekkk
"Maaf. Lama ya Ren?" ucap tante Sekar saat memasuki ruangan.
"Tidak masalah." Jawabku.
"Belum,"
Tok
Tok
Tok
"Nah...sepertinya yang kita tunggu-tunggu sudah datang," ujar tante Sekar.
Tante Sekar kemudian membuka pintu dan mempersilahkan pelayan masuk. Pelayan itu meletakkan 3 kaleng softdrink dan beberapa camilan diatas meja.
"Sayang gabung sini dong. Nanti lagi ngecek itunya," ujar Sekar.
__ADS_1
Dios terlihat menghentikan gerakkan tangannya, dan menatap kearah kami.Aku segera menundukkan kepalaku, aku mearasa tidak sanggup menatap matanya yang sangat membenciku.
Dios kemudian berdiri dari tempat duduknya dan duduk disebelah tante Sekar. Tante Sekar bergelendot manja dilengan pria itu, aku segera memalingkan wajahku. Terlebih aku melihat Dios seperti sengaja ingin membuatku cemburu dengan mencium puncak kepala tante sekar berkali-kali. Hal yang sering dia lakukan padaku dulu, dan aku sangat menyukainya.
"Ya ampun Caren. Maaf ya? tante suka lupa diri kalau lagi bersama berondong gantengku ini. Maklum tante lagi puber kedua, pengennya disayang-sayang sebelum mati," ujar tante Sekar.
"Kamu jangan bicara sembarangan," ujar Dios yang kemudian mencium bibir tante Sekar. Dios melakukannya dihadapanku, tanpa menjaga perasaanku sama sekali.
"Ya Tuhan...ini rasanya sakit sekali. Mungkin seperti inilah rasa sakit yang dirasakan Dios, saat aku meninggalkannya tanpa perasaan waktu itu,"
Aku menelan ludahku berkali-kali, sembari meremas ujung gaunku. Lututku terasa lemas, sementara jantung dan hatiku terasa di remas-remas.
"Sayang sudahlah.Tidak enak di lihat Caren," ujar tante Sekar sembari menyeka sisa ciuman mereka di bibir Dios.
Untuk menghilangkan kecanggungan, aku meraih sekaleng softdrink dan meminumnya. Aku juga meraih kentang goreng, dan bersikap seolah tidak melihat apapun. Kami lalu berbincang banyak hal tentang bisnis yang di kelola tante Sekar. Saat aku bicara, Dios terlihat Diam sembari memain-mainkan rambut tante Sekar. Aku tahu dia sengaja membuat panas hatiku, dan ingin rasanya aku mengucapkan selamat padanya. Selamat karena sudah berhasil membuatku cemburu setengah mati.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, saat tante Sekar mengajakku pulang. Akhirnya Dios mengantar kami pulang. Aku duduk dibelakang, sementara Dios dan tante Sekar duduk di depan. Mereka bersenda gurau, seolah lupa ada aku diantara mereka. Dan aku putuskan, daripada aku melihat rasa sakit itu, lebih baik aku memejamkan mata dan tertidur.
Saat kami tiba, aku mendengar percakapan antara tante Sekar dan Dios.
"Sayang. Kamu gendong dia ya? malam ini biarkan dia tidur di rumah kita. Kasihan dia, sepertinya dia kelelahan," ucap tante Sekar.
"Bangunkan saja dia. Suruh tidur di rumahnya sendiri." Jawab Dios.
"Sayang. Ini sudah malam, dia memang tinggal di kontrakkan seberang. Kasihan dia hidup sendiri, dia baru bercerai dari suaminya," ucap tante Sekar.
Dios terdiam dan mungkin menoleh padaku. Akhirnya dia menggendongku. Ah...ya Tuhan...aku sangat merindukan pria ini. Aroma tubuhnya sangat menenangkan. Dan akupun mengusap perutku, berharap anakku juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
Dios perlahan meletakkan aku diatas tempat tidur tamu. Dan aku tidak mendengar suara apapun lagi setelah pintu tertutup. Perlahan aku membuka mata, diiringi dengan jatuhan air mataku karena masih ingin berada dalam pelukkanya.
__ADS_1