TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
23. Tak Terlihat


__ADS_3

Tawa Dios mereda, saat aku menatap tajam kearahnya. Dia tahu aku tidak senang melihat tawanya itu. Setelah berdehem satu kali, Dios kembali menatap mataku ya g menatapnya dengan tidak senang.


"Sayang..ap...."


"Aku bukan sayangmu!" aku langsung memotong ucapannya. Aku tidak ingin dia terbiasa memanggilku dengan sebutan itu, dan keceplosan di depan Delano.


"Caren. Kadang apa yang kita lihat, tidak harus seperti apa yang kita lihat itu. Tapi kalau kamu melihatnya dengan teliti, kamu pasti akan menemukan jawabannya," ujar Dios meyakinkanku.


"Omong kosong. Kamu masih saja memprovokasiku.Terserah kamu mau ngomong apa. Yang pasti aku percaya dengan suamiku," ucapku sembari kupalingkan wajahku kearah lain.


Aku melirik Dios dengan ekor mataku. Aku melihat pria itu tersenyum hambar kearahku.


"Kamu tidak melihatnya, karena kamu punya hati yang baik. Kamu selalu berprasangka baik dengan suamimu, meskipun sudah berkali-kali dia membobongimu."


"Maafkan aku yang tidak bisa memberitahumu secara langsung, karena aku ingin kamu tahu sendiri kebenarannya. Dan disaat kamu sudah tahu, kamu boleh datang padaku lagi," sambung Dios.


"Terserah! tapi bisa kupastikan tidak ada hal seperti yang kamu ucapkan itu. Aku harap kakak Dios menjaga batasan kakak. Tetaplah ditempat, jangan pernah melangkah kearahku lagi," ujar Dios.


Aku berbalik badan dan memegang handle pintu. Namun tiba-tiba Dios memelukku dari belakang. Aku jadi tegang dibuatnya.


"Aku merindukanmu," bisiknya ditelingaku.


Dios kemudian bermain di ceruk leherku, hingga bulu halus ditubuhku jadi meremang. Aku berusaha melepaskan pelukkannya, namun dia semakin mengeratkan tangannya.


"Kak aku mohon jangan seperti ini. Ini salah kak, aku tidak bisa melakukan itu lagi dengamu. Rasanya beban moral dihatiku sangat besar. Aku mohon mengertilah perasaanku,"

__ADS_1


Aku coba merayu Dios, agar pria itu mau melepaskanku. Dios memang melepaskan tangannya, namun sesaat kemudian dia membalikkan tubuhku dan langsung me**mat habis bibrku.


Ah...pria ini memang mampu membuatku terbuai dengan pesonanya. Hingga yang tadinya aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh, kini malah aku jadi terbuai oleh cumbuannya itu.


Dan entah bagaimana ceritanya, kini kami sudah berada diatas sofa. Dengan tangkas dia melepas pakaianku dan pakaiannya. Dasar tubuhku yang brengsek! kenapa selalu lebih jujur dari mulutku. Saat mulutku mengatakan jangan, tapi dia malah menginginkan Dios melakukan lebih.


Aku bahkan bisa melihat senyum kemenangan dari bibir Dios, saat pria itu sudah memasukkan kejantanannya kedalam liang basah milikku. Dan aku tidak kuasa untuk tidak meneriakkan namanya berkali-kali, karena apa yang dia lakukan padaku, sungguh benar-benar bisa diterima oleh tubuhku.


Dios semakin menghujamkan miliknya dengan keras, sembari mendekap tubuhku. Dan sesaat kemudian, dia membawaku keatas pangkuannya. Dia ingin aku yang bergerak diatasnya. Dan tentu saja aku menurutinya, aku bergerak naik turun sementara Dios bermain diatas puncak dadaku secara bergantian. Ah...aku akui bermain dengannya sangatlah menyenangkan. Ternyata aku memang bukan tipe wanita yang mudah puas, jika hanya main barang semenit dua menit. Hingga dimenit hampir ke 10 pun aku belum sama sekali mendapat pelepasan pertamaku.


Dios sosok petarung ranjang yang cocok denganku. Aku menyukai setiap kali dia menghujamku dengan keras sembari mencumbu mesra diriku. Dan saat ini keringat kami sudah menjadi satu, dengan nafas kami yang saling memburu.


Aku merasa tubuhku bergetar, aku bisa merasakan kalau sebentar lagi aku akan mendapatkan pelepasanku. Aku mengerang, berteriak memanggil namanya, dan dia semakin keras menghujamkan miliknya padaku.


Kepalaku jauh terdorong kebelakang saat gelombang dahsyat itu memporak-porandakan pertahananku. Namun tentu saja itu belum berakhir, karena Dios sama sekali belum selesai dengan hajatnya. Dia kemudian berpindah kebelakangku dan memasukiku dari arah belakang.


Aku kembali diguncangnya, mungkin karena sudah lama tidak merasakan hal itu, tidak berapa lama kemudian Dios mengerang panjang sembari meneriakkan namaku.


"Ah...ah...Caren. Aku mencintaimu,"


Dios menekan miliknya dengan dalam, menumpahkan semua ca*ran cintanya didalam milikku. Dan dia membawaku kedalam pelukkannya, setelah percintaan itu usai.


"Kak. Kenapa kamu lakukan ini padaku. Kamu tahu kelemahanku, sehingga kamu berkali-kali memperdayaku," ucapku.


"Kita tidak bisa seperti ini terus kak. Bagaimana kalau aku jadi terbiasa dan tidak bisa melepaskanmu lagi, sementara aku tidak bisa melepaskan suamiku juga," sambungku.

__ADS_1


"Sudah aku katakan padamu, aku tidak perduli kamu mencintaiku atau tidak. Biar aku saja yang mencintaimu juga tidak masalah. Tapi aku mohon jangan pernah menjauh dariku. Selagi aku tidak lelah nencintaimu, biarkan aku menjadi pria simpananmu," ujar Dios.


Sungguh perkataan Dios terdengar gila ditelingaku. Sebagai wanita bersuami, tentu sangat bertentangan dengan hati nuraniku.


"Kapan sidang perceraianmu dengan Vika?" tanyaku.


"Sekali lagi. Sejak kamu pergi beberapa minggu yang lalu, kami sudah melakukan sidang sebanyak dua kali. Dan saat sidang terakhir nanti aku tidak akan datang. Agar cepat diputuskan." Jawab Dios sembari membelai punggung polosku.


"Setelah bercerai nanti. Cepatlah membuka hati untuk wanita lain, agar kakak tidak tergoda lagi dengan istri orang lain," ujarku.


Dios tiba-tiba menjauhkan wajahnya dan menatap mataku.


"Apa kamu pikir cintaku padamu mudah padam begitu saja karena menghadirkan wanita lain dalam hidupku?" tanya Dios.


"Kenapa tidak? buktinya kakak menikah dengan Vika bertahun-tahun, pacaran bertahun-tahun. Tapi bisa melupakan dia begitu saja, dan berpaling dengan wanita lain." Jawabku.


"Kamu tidak akan mengerti dan tidak akan percaya, bahwa perasaanku padamu itu tulus. Aku akui aku sudah bermain api darinya, tapi itu bukan murni kesalahanku saja. Dia tidak pernah menganggapku ada, dan lebih memuliakan pria lain."


"Tapi kamu berbeda. Meski kamu bermain api dari suamimu, tapi itu bukan salahmu. Akulah yang memulai semuanya. Suatu saat kamu pasti akan berpisah dari Delano, dan aku akan selalu setia menunggumu," sambung Dios.


Entah dia dapat pikiran dari mana, kalau aku suatu saat akan berpisah dari Delano. Tapi yang pasti aku tidak bisa bersikap keras terhadapnya, karena itu percuma saja.


Sepertinya aku akan membiarkan dia jadi pria simpananku, sampai aku pindah rumah nanti dan meninggalkannya tanpa pesan apapun. Aku akan nikmati hari-hari terakhirku bersamanya, sebelum akhirnya aku menghilang dari kehidupannya.


Entah apa yang ada dipikiranku saat ini, tanganku tiba-tiba menyentuh miliknya lagi. Tentu saja dia sangat senang, karena ini kali pertama inisiatifku yang memulainya lebih dulu. Tanpa basa basi dia menggendong tubuhku dan membawaku kekamarnya. Entah sudah berapa kali kami mengulang percintaan itu, yang pasti aku sampai tidur dirumahnya malam itu. Bukan bisa dibilang tidur juga, karena kami menghabiskan malam saling berbagi keringat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2