TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
98. Halal


__ADS_3

Deg


Deg


Deg


Jantung Rendy berdegup kencang saat ini. Bagaimana tidak? meski dia dibilang menikahi seorang bocah, tapi tetap saja ini moment sakral yang sangat mendebarkan baginya. Berkali-kali dirinya menarik nafas dengan dalam, dan kemudian menghembuskannya. Setelah penghulu hadir, merekapun langsung memulai acara ijab qobul yang dilaksanakan secara sederhana itu.


Hanya dengan satu kali tarikkan nafas, Rendy akhirnya berhasil menjadikan Mutia sebagai istri sahnya. Mutia kemudian keluar dari kamar dengan menggunakan baju pengantin yang juga dilengkapi dengan cadarnya.


Mutia kemudian meraih tangan Rendy dan menciumnya. Rendy juga mencium puncak kepala Mutia, dengan diabadikan oleh beberapa kamera. Rendy dan Mutia kemudian menandatangani beberapa dokumen pernikahan yang juga diabadikan oleh kamera.


Setelah acara ijab qobul selesai, acara selanjutnya hanya diisi dengan mencicipi berbagai hidangan yang telah disediakan. Karena Andullah adalah warga baru, jadi mereka hanya mengundang warga sekitar rumahnya saja.


"Kami pulang ya Ren? sekali lagi kami ucapin selamat menempuh hidup baru, dan semoga langgeng selalu," ujar Dios.


"Makasih ya Di, Ren. Karena kalian sudah meluangkan waktu buat menghadiri acara pernikahan kami," ujar Rendy.


"Sama-Sama. Kalau kamu butuh kiat menaklukkan wanita diatas ranjang, kamu bisa live streaming malam ini. Biar aku yang mengajarimu," bisik Dios.


"Dasar cut patkay sontoloyo. Gue nggak perlu guru urusan yang begituan. Sono pulang! live streaming sendiri ama bini loe," ujar Rendy sembari terkekeh.


Aku kemudian memeluk Mutia sebagai salam perpisahan kami. Tidak hanya kami, keluarga Rendypun kemudian ikut pulang. Sementara Rendy tetap tinggal sementara di rumah mertuanya.


"Apa abang boleh melihat wajahmu sayang?? sekarang kita sudah sah menjadi pasangan suami istri. Seharusnya sudah tidak masalah lagi bukan?" tanya Rendy saat dirinya dan Mutia sudah berada dalam satu kamar yang sama.


Mutia kemudian menarik tali cadar yang dia kenakan saat ini. Entah mengapa jantung Rendy jadi berdebar-debar saat ini. Namun alangkah terkejutnya Rendy, saat melihat wajah asli Mutia. Rendy sampai terpanah, saat melihat kecantikkan istrinya yang bak boneka hidup itu.


"Ini mah bukan manusia lagi, tapi bidadari," batin Rendy.


"Jadi ini alasanmu menutupi wajahmu dengan cadar?" tanya Rendy.


"Uti tidak ingin wajah Uti membangkitkan syahwat para lelaki. Takutnya malah jadi dosa jariyah. Lebih baik ditutup saja. Apa abang tahu awal mula Uti mengenakan cadar? itu karena setiap berjalan keluar rumah, para lelaki menatap Uti dengan pandangan yang sulit ditundukkan. Hingga Uti jadi takut sendiri." Jawab Mutia.


"Sungguh abang lelaki tua yang beruntung, karena bisa menaklukkan bidadari sepertimu sayang,"


"Apa abang boleh melihat keindahanmu yang lainnya?" tanya Rendy.


"Semua yang ada pada Uti adalah milik abang, tapi Uti minta maaf sama abang. Karena kita belum bisa melakukan hal lebih, karena Uti sedang kedatangan tamu bulanan." Jawab Mutia.


"Apa?"


Pokkkk


Rendy menepuk dahinya. Melihat reaksi Rendy, Mutia jadi terkekeh. Tawa yang membuat Rendy terpesona saat melihat gigi-gigi putih yang kecil berbaris rapi.


Tap


Brukkkkk


Rendy menarik tangan Mutia, hingga istrinya itu tertarik dan duduk dipangkuan Rendy. Jantung Mutia berdebar-debar saat ini. Karena ini kali pertama kali dirinya berdekatan dengan lawan jenis secara intim.

__ADS_1


Rendy kemudian menarik hijab yang mutia kenakan, dan menarik gelungan rambut panjang Mutia hingga tergerai indah.


"Subhanalllah. kamu cantik sekali sayang," ucap Rendy sembari membelai pipi Mutia yang lembut.


"Bolehkah abang menciummu?" tanya Rendy yang kemudian diangguki oleh Mutia.


Rendy perlahan mendekatkan wajahnya, dan me**mat lembut bibir Mutia. Meski terasa kaku, Mutia mencoba membalas ciuman itu, dengan degup jantung yang tidak bisa dikendalikan lagi.


"Ah...sayang...rasanya abang sangat frustasi karena tidak bisa menyentuhmu secara utuh. Apa haidmu selesainya lama?" tanya Rendy saat mereka selesai berciuman panjang.


"Dua hari lagi bang." Jawab Mutia.


"Benarkah?" tanya Rendy semringah.


"Ya." Jawab Mutia.


"Semoga anak kita nanti cepat jadi ya? abang nggak mau menundanya lagi. Kamu nggak keberatankan sayang?" tanya Rendy.


"Nggak bang. Semuanya kita pasrahkan saja sama Allah," ucap Mutia.


"Ah...apapun itu, anak kita pasti akan sangat tampan dan cantik. Karena kedua orang tuanya sangat tampan dan cantik," ujar Rendy.


Mutia hanya bisa tersipu mendengar ucapan Rendy.


"Sayang. Untuk sementara kamu nggak masalah kan tinggal satu rumah dengan orang tuaku dulu?" tanya Rendy.


"Tidak masalah bang. Kemanapun abang pergi, aku pasti akan mengikuti abang. Memangnya apa yang abang rencanakan?" tanya Mutia.


"Tidak apa bang. Apapun rencana abang, Uti pasti akan patuh, selama itu baik," ujar Mutia.


"Emm...tapi...."


"Tapi apa bang?" tanya Mutia.


"Tapi mamaku orangnya sangat cerewet. Dia...."


"Bang istigfar. Tidak baik menjelekkan orang tua begitu meskipun itu benar. Uti bisa mengerti kenapa beliau bisa begitu terhadapku. Uti nggak masalah, Uti pasti bisa berbaur dengan mama nanti," ucap Mutia.


Rendy menggenggam kedua tangan Mutia dan kemudian menciumnya.


"Tuhan maha baik, karena menjodohkan aku dengan wanita sepertimu. Meskipun usiamu belia, tapi pemikiranmu jauh lebih dewasa dari abang," ujar Rendy.


"Kemarilah, biarkan abang memelukmu," sambung Rendy.


Mutia mendekat kearah Rendy. Dan kemudian duduk dihadapan Rendy, dengan posisi Rendy dibelakang dirinya. Mutia duduk bersandar didada Rendy, sembari berbincang sesekali mereka berciuman mesra.


*****


"Jaga diri baik-baik. Pandai-Pandai membawa diri dirumah suamimu. Patuhi semua ucapan suamimu selagi itu benar," ujar Umi Salamah


"Iya Umi." Jawab Mutia.

__ADS_1


"Nak Rendy. Umi dan Abi titip Mutia ya? dia masih sangat belia, masih banyak butuh bimbingan," ujar Abdullah.


"Iya Abi." Jawab Rendy.


Rendy dan Mutiapun pergi setelah memasukkan koper kedalam bagasi mobil. Disepanjang perjalanan menuju rumah Rendy, mereka berbincang, bersenda gurau. Dan saat menemui lampu merah, mereka sesekali berciuman mesra.


"Kita sudah sampai," ujar Rendy.


Mutia segera mengenakan cadarnya, karena sebelumnya sengaja dia lepas saat berada didalam mobil suaminya. Rendy dan Mutia masuk kedalam rumah dengan saling bergandengan tangan.


"Assalammu'alaikum," ucap Mutia, saat melihat kedua mertuanya menyambut kedatangan mereka.


Mutia mencium tangan kedua orang tua itu. Seramah mungkin dia mengajak Leni berbincang. Rendy hanya bisa diam, karena Mutia sudah menegaskan, kalau dia tidak suka dirinya berdebat dengan ibunya. Meskipun sesekali Leni berbicara dengan penuh sindiran, tapi Mutia sangat pandai mengatasi ucapan itu tanpa harus menyakiti orang tua itu.


"Dia benar-benar istri yang luar biasa. Aku sangat beruntung memiliki dia," batin Rendy.


"Makasih ya sayang. Karena kamu sudah hadir dalam hidup abang. Abang sudah melihat sendiri, bagaimana kamu berbicara dengan mama, meskipun dia berkali-kali ingin menjatuhkanmu dengan ucapannya," ucap Rendy.


"Mama orang tuaku juga. Dia belum mengenalku dengan baik. Nantu saat kami bicara berdua, Uti akan membuka cadar. Jadi mama akan merasa nyaman bicara denganku," ujar Uti.


"Ah...beruntungnya abang punya kamu," ucap Rendy sembari memeluk Mutia.


"Abang mandi gih, setelah itu Uti mau mandi wajib," ujar Mutia.


"Mandi wajib? kamu sudah selesai haidnya?" tanya Rendy antusias yang kemudian diangguki oleh Mutia.


"Yes...yuhuuu...akhirnya belah duren juga. Yes...yes...yes," Rendy berjingkrak dan Mutia hanya bisa tertawa saat melihat ulah suaminya itu.


Rendy kemudian mandi, dan bergantian dengan Mutia. Rendy tidak berkedip, saat melihat Mutia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk dan rambut basah tergerai.


Glekkkkk


Rendy menelan ludahnya sendiri, saat melihat kulit bening istrinya itu. Rendy langsung bangun dari tempat tidur dan menghampiri istri belianya itu. Sementara itu jantung Mutia jadi berdegup kencang, karena Mutia bisa melihat ada kilat nafsu dimata suaminya itu.


"Ba-Bang. Nanti malam saja ya? Uti nggak mau mandi lagi," ujar Mutia.


"Ya. lagipula ini waktu yang nanggung. Sudah jam 5 sore. Abang ingin kita melakukannya sepuasnya malam ini. Ini malam pertama kita, jadi harus bertempur habis-habisan," ucap Rendy sembari menghirup aroma tubuh Mutia dari belakang tubuh istrinya itu.


Mutia hanya bisa memejamkan mata, ketika Rendy dengan nakal menghembuskan nafas berat ditengkuknya. Meski dia belum berpengalaman, namun dia bisa mengerti kalau ditempat itu merupakan salah satu daerah sensitifnya.


Rendy tiba-tiba membalikkan tubuh Mutia menghadap dirinya. Rendy kemudian kembali mencium bibir istrinya itu dengan penuh ga*rah yang tidak bisa mutia tolak.


Hah


Hah


Hah


"Aku bisa gila karena tidak sabar menunggu malam datang," ujar Rendy sembari menyeka sisa air liur yang menempel dibibir Mutia.


"Sabar ya bang," ucap mutia sembari mengedipkan mata nakal yang membuat Rendy jadi melongo.

__ADS_1


Mutia terkekeh saat melihat ekspresi wajah Rendy yang terpesona dengan kedipan matanya.


__ADS_2