TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
50. Kembali


__ADS_3

"Sayang. Kamu kembali?" tanya Sekar yang langsung berhambur kepelukkan Dios.


Sekar kemudian mencium bibir Dios, namun Dios tidak membalas ciuman itu hingga Sekar melepaskannya.


"Ada apa? apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sekar yang heran.


"Sekar. Aku ingin bicara serius denganmu," ujar Dios.


Dios tidak ingin membuang waktu lagi. dia duduk ditepi tempat tidur dan dan disusul oleh Sekar. Dios meremas jari-jarinya, sejujurnya dia sangat berat mengatakan hal itu pada Sekar. Tapi dia sudah bertekad akan menyelesaikan semuanya dengan cepat. Dia tidak ingin terlambat, dan membiarkan anaknya lahir tanpa status yang jelas.


"Ada apa?" tanya Sekar.


"Sekar. Saat di Bandung aku kembali bertemu dengan Caren," ujar Dios yang kemudian menghentikan kata-katanya untuk melihat ekspresi diwajah wanita itu.


Sesuai dugaannya, senyum yang semula terbit, mendadak hilang di bibirnya.


"Sekar. Aku tidak bisa membiarkan anakku lahir tanpa status yang jelas. Aku...."


"Apa kamu menginginkan kita bercerai?" tanya Sekar yang langsung memotong ucapan Dios.


"Ya." Jawab Dios singkat.


"Tapi aku tidak mau. Aku tidak masalah dimadu, asalkan kamu tidak menceraikanku,"ujar Sekar.


"Tapi Caren tidak ingin dimadu. Dia tidak ingin berbagi, terlebih aku juga tidak sanggup." Jawab Dios.


"Jadi kamu akan meninggalkan aku sendiri lagi? apa kamu rela kehilangan segalanya?" tanya Sekar dengan lelehan air mata.

__ADS_1


"Maafkan aku Sekar. Ku mohon jangan menangisiku. Jangan membuatku merasa bersalah," ujar Dios sembari menyeka air mata Sekar.


"Tapi aku sangat mencintaimu. Aku tidak masalah dimadu, kenapa Caren tidak memberiku kesempatan bahagia disisa umurku?"


"Biarkan aku bicara dengan Caren. Aku yang akan membuatnya mengerti," sambung Sekar.


"Yang jadi masalahnya status anak kami akan dipertanyakan kalau kami menikah secara siri. Kami ingin anak kami punya status yang Sah."


"Kalian bisa melakukan itu setelah aku mati." Jawab Sekar.


"Kamu ngomong apa sih? kenapa selalu ngomong tentang kematian? kamu pasti sembuh, pasti sehat?" tanya Dios.


"Aku tidak melarangmu bersatu dengannya, asal tunggu sampai aku mati dan kamu menunaikan kewajibanmu sebagai suami." Jawab Sekar.


"Sekar. Aku minta maaf padamu, mungkin kesannya aku sudah memanfaatkan keadaan, memanfaatkanmu. Mungkin kedepannya kamu bisa mencari pria lain yang bisa menjagamu hingga akhir hayat," ujar Dios.


Dios terdiam. Kata-Kata Sekar me gingatkan dia saat dulu meminta hal itu dari Caren. Namun tetap saja Caren meninggalkannya, dan mereka sama-sama hidup dalam penyesalan. Dios tidak mau keadaan seperti itu terulang lagi, yang akan membuatnya menyesal karena menyia-nyiakan orang yang dicintainya dan juga calon anaknya.


"Sekar. Aku mohon mengertilah dengan posisiku. Terus terang aku juga sulit membuat keputusan ini. Semua ini aku lakukan demi anakku," ujar Dios.


"Aku tidak masalah. Anakmu juga anakku. Kita bisa menbesarkannya bersama. Pokoknya jangan tinggalkan aku. Please...hiks,"


Sekar berhambur kepelukkan Dios. Dios jadi kebingungan. Namun dia sudah menguatkan tekadnya sekuat baja. Meski terlihat kejam, tapi dia harus melakukan itu demi anak dan orang yang dicintainya.


Dios menjauhkan Sekar dari dekapannya, dan menghapus air mata wanita parubaya itu.


"Sekar. Aku minta maaf, sungguh aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku terkesan seperti pria brengsek. Tapi aku benar-benar tidak bisa meneruskan pernikahan kita ini. Aku yakin kamu bisa jadi ibu yng baik untuk anakku, tapi bagaimana dengan Caren? kamu sudah tahu sendirikan? kalau orang yang aku cintai selama ini adalah dia. Sekarang aku sudah diberi kesempatan untuk bersatu dengannya, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu," ujar Dios.

__ADS_1


"Besok aku akan mengurus surat perceraian kita. Aku tidak akan meminta harta gono gini atau apapun itu. Aku ucapkan banyak terima kasih padamu, karena kamu selama ini sudah banyak membantuku," ujar Dios.


Tangis Sekar bertambah pecah. Dios yang sudah bertekad langsung pergi dari kamar itu. Tanpa Dios tahu, Sekar tidak sadarkan diri diatas tempat tidur.


*****


Tiga hari kemudian....


waktu menunjukkan pukul 11 malam, aku menunggu kedatangan Dios dengan gelisah. Aku bertambah gelisah, saat nomor ponsel Dios sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Dios. Kalau kamu mengecewakan aku kali ini, aku tidak akan pernah kembali lagi padamu. Aku akan beranggapan bahwa kamu lebih memilih wanita berharta, daripada aku dan anak kita. Dan aku bisa pastikan, kalau kamu tidak akan pernah bertemu denganku lagi untuk selamanya,"


Karena pekerjaan hari ini cukup melelahkan, akupun tanpa sadar jatuh tertidur. Dan aku baru terbangun saat adzan terdengar berkumandang. Akupun melirik ke kanan dan kekiri, berharap Dios memberikan kejutan untukku. Namun yang kudapatkan hanya rasa kecewa. Dan keadaan tanpa kabar itu berlanjut hingga seminggu kemudian. Aku hanya bisa menangisi nasib burukku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, karena nomor ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Bahkan saat aku mencoba menghubungi Sekar, nomor wanita itu juga sama-sama tidak aktif.


Karena aku mengkhawatirkan Dios, aku meminta izin pada bosku ingin pergi ke Surabaya untuk memastikan sesuatu. Aku gunakan hatiku untuk yang terakhir kalinya, agar keputusan yang aku ambil nantinya tidak akan aku sesali.


Saat ini aku tengah berada diatas pesawat. Aku ingin segera sampai ke Surabaya agar semuanya jelas. Setelah memakan beberapa waktu, akhirnya aku tiba dibndara Juanda dengan selamat. Aku hanya membawa pakaian satu tas ransel kecil, karena aku memang tidak berniat lama tinggal di kota itu.


Setelah sampai di bandara, aku langsung memesan taksi dan minta diantar kealamat tujuanku. Aku tiba pada pukul 10 pagi, dan aku yakin Dios pasti ada di rumah. Saat aku tiba di depan pintu gerbang, satpam yang pernah kutitipi surat waktu itu menyapaku.


"Non Caren? apa kabar?"


"Baik mang. Om Dios dan tante Sekar ada?" tanyaku.


"Ada. Silahkan masuk Non. Nyonya pasti senang saat melihat nona datang kesini lagi,"


Satpam itu membukakan pintu pagar untukku. Namun perasaanku saat ini sedang campur aduk. Kalau Dios ada dirumah dan baik-baik saja, kenapa dia tidak menemuiku? apa dia berubah pikiran dan tidak perduli lagi denganku?

__ADS_1


Seorang pelayan membukan aku pintu dan mempersilahkan aku masuk. Saat pelayan tengah lengah membuatkan aku minuman, aku diam-diam naik keatas untuk memastikan sesuatu. Namun naas bagiku, saat aku tiba di depan pintu sebuah kamar, aku mendengar suara-suara merdu dari kamar itu. Suara Sekar terdengar melengking-lengking meski aku tidak mendengar suara Dios menyahutinya, namun aku yakin Sekar melakukan hal itu dengan Dios, terlebih Sekar meneriakkan nama pria itu berkali-kali.


__ADS_2