TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
101. Sukses


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Mutia menjalani bisnis berjualan online, akhirnya hal itu terdengar juga ditelinga sang ibu mertua.Sebulan berbisnis online, kini Mutia tidak hanya menjual ratusan pcs pakaian, tapi hingga mencapai seribu pcs dari kalangan usia. Mutia sampai bisa menggaji dua orang karyawan untuk membantunya berjualan barang.


"Mama?" Mutia terkejut, saat akan membuka pintu, karena ada sosok ibu mertuanya yang berada didepan pintu saat ini.


"Kenapa? kok kayak lihat hantu?" ucap Leni.


"Hantu apa. Mama apa kabar? sehat ma?" tanya Mutia sembari mencium tangan Leni.


"Mama dengar kamu bisnis online sekarang? apa benar-benar bisa menghasilkan duit? takutnya malah rugi," tanya Leni dengan pandangan meremehkan.


"Nah ini kamu mau kemana pula? kok bawa kitab gini?" sambung Leni.


"Masuk dulu yuk ma. Mutia rencananya mau datang kepengajian. Mama bisa tunggu Mutia dirumah? Mutia pergi sekitar dua jam. Ada karyawan Uti yang lagi live sama ngepak barang," ujar Mutia.


"Karyawan? sok banget kamu pakai gaji karyawan segala. Emang ada berapa banyak barang yang diju-al,"


Leni terdiam, saat melihat tumpukkan pakaian yang hampir memenuhi sebagian ruang tamu itu. Leni bisa melihat pegawai Mutia ada dua orang perempuan berhijab, tengah sibuk menjual pakaian dan itu pergerakkan lakunya begitu cepat. Leni menoleh kearah menantunya yang tengah mengacungkan jempol kearah karyawannya.


"Bukankah dia sangat hebat? diusia semuda ini, bisa menghasilkan uang yang aku bisa menafsirkan nilainya hingga puluhan juta," batin Leni.


"Mama tunggu disini ya ma? bentar lagi bang Rendy pulang. Mutia mau ngisi pengajian dulu, soalnya hari ini jadwal tafsir Al-Qur'an," ujar Mutia.


"Mama ikut kamu saja. Tapi...."


Leni melihat penampilannya yang tidak menggunakan hijab dan gamis. Mutia tersenyum, karena sedikit-sedikit dia bisa mengetuk pintu hati mertuanya.


"Mama mau ikut? Uti sangat senang sekali. Kemari ma,"


Mutia menarik tangan Leni, dan kemudian meraih salah satu baju jualannya yang besteller dan terlaris.


"Tunggu! yang itu jangan dijual. Cuma tinggal satu ya? kalau gitu nggak usah jual, itu punya mama saya," ujar Mutia saat melihat karyawannya akan menjual baju gamis berwarna milo.


"Mama suka tidak yang ini? ini produk terlaris minggu ini. Kalau mama suka, mama bisa pakai ini buat kepengajian," tanya Mutia.


Leni menatap stelan gamis yang Mutia pegang, dan kemudian meraih baju itu. Leni kemudian mencoba gamis itu dan kemudian memperlihatkan hasil dandanannya.


"Subhanallah. Mama sangat cantik kalau menggunakan hijab. Mama bisa jadi model pakaianku nih. Mama mau? model secantik mama, pasti mahal bayarannya," ucap Mutia sembari terkekeh.


"Kamu mau gaji mama jadi model pakaian kamu?" tanya Leni dengan wajah datar.


"Eh? maaf ma, Uti nggak bermaksud," ucap Mutia yang langsung terdiam.


Suasana jadi hening seketika. Namun sesaat kemudian Leni tersenyum, senyum yang tidak pernah Mutia lihat selama dirinya jadi menantu.


"Mama mau kok. Lumayan kan, buat tambah-tambah uang dapur," ujar Leni yang membuat Mutia jadi memeluk mama mertuanya itu.


"Ayo kita pergi pengajian ma," ujar Mutia.


"Emm. Tapi apa mama benar-benar pantas pakai hijab? mama ngerasa aneh gitu," ujar Leni.


"Cantik kok ma. Terlihat keibuan sekali. Lagipula hijabkan hukumnya kan wajib ma. Tapi nggak apa, mama belajar pelan-pelan saja. Kita berangkat yuk ma?"


"Emm." Leni mengangguk.


Leni dan Mutiapun pergi kepengajian bersama.

__ADS_1


"Mama tunggu disini sebentar ya ma?" ucap Mutia.


"Kamu mau kemana? mama nggak kenal orang-orang disini," ujar Leni.


"Mutia nggak kemana-mana. Cuma didepan bersama pak Ustad." Jawab Mutia.


Meski bingung, Leni akhirnya menyetujui ucapan Mutia. Dia ingin melihat apa yang dilakukan menantunya itu. Leni melihat kearah ibu-ibu yang duduk membentuk segi 4 dengan ada seorang ustad dan Mutia di depan mereka. Namun ketika Mutia membaca ayat-ayat Al-Quran tanpa melihat kitab, Leni sangat terkejut dibuatnya. Terebih suaranya sangat merdu dan mampu menggetarkan hari Leni yang sekeras batu.


Tes


Tes


Tes


Air mata Leni mengucur tiba-tiba. Dia merasa malu pada dirinya sendiri, karena selalu mementingkan urusan dunia selama ini. Leni sangat bangga pada menantunya itu. Disaat wanita bersuami kebanyakkan sibuk membelanjakan uang suami, tapi diusia belia Mutia malah sibuk mencari uang dan mencari ilmu.


Leni menyeka air matanya, saat mendengar mutia menerjemahkan ayat-ayat yang dia bacakan. Setelah itu mereka kemudian mengulang apa yang Mutia bacakan secara bergantian.


"Uti. Maafkan semua kesalahan mama selama ini sama kamu ya? maaf kalau mama selalu berkata kasar sama kamu," ucap Leni setelah mereka selesai pengajian.


"Mutia juga ya ma? maaf kalau Uti belum bisa jadi menantu yang baik buat mama," ujar Mutia.


"Tidak Mutia. Kamu salah satu menantu terbaik yang pernah ada dimuka bumi ini. Rendy sangat beruntung memiliki istri sepertimu," ucap Keni


Mutia memeluk Leni dan tersenyum dibalik cadarnya.


"Ayo kita pulang ma. Bang Rendy pasti sudah pulang," ujar Mutia.


"Emm." Leni mengangguk.


Sementara itu Rendy dengan gelisah menunggu Mutia pulang kerumah. Dia sangat takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu setelah tahu dari karyawan istrinya, bahwa Mutia pergi dengan ibunya.


"Assalammu'alaikum," ucap Mutia saat akan memasukki rumah.


Rendy segera menoleh ke sumber suara. Namun alangkah terkejutnya dia, saat melihat Mutia dan Leni masuk rumah dengan bergandengan tangan. Terlebih saat melihat Leni tengah memakai hijab saat ini.


"Apa aku tidak bermimpi? mamaku menjelma menjadi bidadari hari ini," puji Rendy saat dirinya sudah berada di depan Leni.


"Apa mama sungguh pantas mengenakan ini?" tanya Leni.


"Tentu saja. Harum surga bahkan bisa tercium dari aroma tubuh mama." Jawab Rendy.


Pukkkk


Leni memukul lengan Rendy saat mendengar jawaban putranya itu.


"Bang Rendy benar ma. Aura mama lebih terpancar," timpal Mutia.


"Kalau begitu mama harus beli banyak baju gamis dan jilbab," ujar Leni.


"Tidak perlu ma. Besok stok barang akan datang lagi. Mama bisa pilih sepuasnya," ujar Mutia.


"Benarkah?" tanya Leni antusias.


"Tentu saja. Pokoknya mama boleh pilih sesuka hati mama." Jawab Mutia.

__ADS_1


Greppppp


Leni memeluk Mutia dengan erat. Dan pelukkan itu langsung Mutia balas. Mata Rendy berkaca-kaca saat melihat pemandangan indah itu. Diapun ikut berpelukkan dengan kedua wanita yang paling dia sayang itu.


Cup


Rendy mengecup puncak kepala Mutia dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih sayang," ucap Rendy lirih.


"Sekarang mama dan abang ngobrol saja dulu ya? Uti mau masak buat makan malam kita," ujar Mutia.


"Mama pulang saja. Kasihan papa tinggal sendirian di rumah," ucap Leni.


"Mama tunggu saja disini sembari lihat karyawan Uti jualan. Nanti biar Rendy jemput papa kesini. Kita makan malam bersama malam ini," ujar Rendy.


"Baiklah." Jawab Leni.


Sungguh hari ini Rendy sangat bahagia sekali. Rasanya semua beban dihatinya pupus sudah. Semenjak menikah dengan Mutia, banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya. Rendy lebih religius dan sering banyak membaca tentang ilmu agama.


*****


Hoekkkk


Hoekkk


Hoeeekk


"Sayang. Kamu kenapa? kamu masuk angin ya? kayaknya kamu kecapek'an deh?" tanya Rendy.


"Nggak tahu bang. Perut Uti terasa diaduk-aduk. Uti juga sedikit pusing." Jawab Mutia.


"Kita pergi ke dokter ya? takutnya kamu kenapa-kenapa," ujar Rendy.


"Iya." Jawab Mutia.


Mutia dan Rendypun memutuskan pergi ke dokter. Namun saat akan membuka pintu, Leni dan Suwito ternyata ingin bertamu ke rumah mereka.


"Loh kalian mau kemana?" tanya Leni.


"Mau ngantar Mutia berobat ma. Pagi ini dia mual muntah dan pusing juga." Jawab Rendy.


Suwito dan Leni saling berpandangan. Sesaat kemudian mereka saling tersenyum satu sama lain.


"Kalau begitu mama dan papa ikut kalian saja," ujar Leni.


"Eh? nggak apa kalian tunggu di rumah aja. Ada karyawan Uti juga kok," ucap Rendy.


"Biarkan saja papa mama ikut bang," ujar Mutia.


"Ya sudah ayo," ucap Rendy.


Merekapun pergi bersama. Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, merekapun akhirnya sampai di rumah sakit yang ingin mereka tuju.


"Selamat ya pak. Benar dugaan dokter sebelumnya, istri bapak memang positif hamil," ujar dokter kandungan saat melihat perut Mutia dengan bantuan alat USG.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah. Sayang, kita akan jadi orang tua," ucap Rendy dengan mata berkaca-kaca.


Mutia hanya membalas ucapan Rendy dengan senyuman. Dia sangat bahagia, jika melihat suaminya itu bahagia. Setelah menebus resep yang diberikan dokter, merekapun akhirnya pulang ke rumah. Leni dan Suwito juga ikut senang, karena menantu kesayangan mereka itu tengah mengandung cucu mereka saat ini.


__ADS_2