
6 bulan kemudian....
"Hufffttt...."
Dios menghela nafas beratnya, saat baru saja tiba di kamar kami.
"Capek. Hem?" aku memijat pundak Dios.
"Sangat. Hari ini dapat klien 5 orang, untuk ngurus pernikahan dibulan depan. Sekarang jadwal bertambah padat, waktuku untuk keluarga jadi tambah berkurang." Jawab Dios.
"Nggak apa sayang. Ini kan demi masa depan anak kita juga kan? sekarang kamu sudah bertambah sukses. Semua orang pengen berada diposisi kamu," aku memberikan semangat untuk suamiku itu.
"Iya kamu benar. Seharusnya aku bersyukur kan ya?" tanya Dios.
"Nanti ada masanya bukan musim kawin. Kalau ada waktu senggang, kita bisa gunakan untuk jalan-jalan,"
"Sayang. Sebaiknya kamu cepat cari info buat kontrol mata mama dan juga terapi untuk kaki papa. Nanti kalau memang aku nggak punya waktu, aku akan menyuruh orang kepercayaanku buat mengantar kalian ke rumah sakit," ujar Dios.
"Emang uangmu sudah banyak ya?" tanyaku.
"Kok malah tanya aku? kan yang pegang ATM nya kamu?" tanya Dios.
"Ya kan kamu kasih ATM nya ada dua. Aku cuma pakai yang buat kebutuhan rumah aja. ATM khusus buat nabung, nggak pernah aku cek." Jawabku.
"Sayangku. Nabung emang perlu, tapi itulah gunanya nabung memang dibutuhkan saat ada keperluan. Contohnya buat berobat mama dan papa. Pakai saja jangan ragu. Nanti Tuhan pasti akan menggantinya dengan yang lebih banyak lagi," ujar Dios.
"Makasih ya sayang," ucapku sembari memeluk Dios dari belakang.
"Aku butuh pijatan lagi yank. Tapi pijatan beda," ujar Dios.
"Pijatan beda? pijatan apa yang beda?" tanyaku yang masih belum mengerti.
"Pijat plus-plus." Jawaban Dios membuatku refleks memukul pundaknya.
"Udah lama juga kan yank?" tanya Dios.
"Baru kemarin kali yank libur. Udah lama apaan." Jawabku.
"Kamu kan tahu kebutuhanku sangat besar. Sekarang energiku sedang habis, aku butuh asupan tenaga. Jadi butuh Charger dulu ini colokkan," ujar Dios sembari terkekeh.
"Mandi dulu. Kakak udah bauk asem," ujarku.
"Nanti aja. Pijat plus-plus dulu, baru mandi bersama." Jawab Dios.
Dios langsung merebahkan tubuhku dan mulai melepaskan pakaiannya. Tidak butuh waktu yang lama bagi dia membuatku polos sama sepertinya.
"Ah...emmmpptt..."
Kegiatan ini sangat menyenangkan buatku akhir-akhir ini. Karena kesibukkannya, Dios jadi tidak membuatku lelah karena permintaannya yang menurun. Namun aku akan kesal, saat dirinya libur seharian di rumah, karena dia bisa memintanya sepanjang hari. Mungkin karena usia suamiku sudah terbilang tua, jadi saat ini dia sedang mengalami puber kedua.
"Ah...Caren sayang...."
Dios semakin mempercepat hujamannya. Jangan ditanya bagaimana suaraku saat ini. Suaraku memenuhi kamar kami dengan saling bersahutan. Beruntung saat ini Marta sedang berada di kamar papa dan mama, jadi aku bisa leluasa berteriak di dalam kamar yang memiliki peredam suara itu.
Percintaan panas itu cukup menguras keringat kami berdua. Setelah hampir satu jam kami bertempur, kamipun sama-sama mengerang. Dan aku mendapatkan pelepasanku untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Hosh
Hosh
Hosh
"Kamu luar biasa sayang," ucap Dios.
Itulah yang aku suka dari Dios. Setiap selesai bercinta dengannya, dia selalu memujiku luar biasa. Padahal pada kenyataannya, dialah yang luar biasa menurutku. Dia selalu bisa memuaskan keinginan hasratku yang dulu tidak pernah aku dapatkan dari Delano.
"Sayang. Apa kamu yakin menyuruhku melepas kontrasepsi IUD ku?"
Aku harus meyakinkan Dios sekali lagi. Beberapa hari ini dia selalu menyuruhku melepas kontrasepsi yang tengah aku kenakan. Sebenarnya aku tidak setuju, karena Marta masih sangat kecil menurutku. Tapi saat Dios membicarakan soal umurnya, aku jadi tidak tega juga.
"Sayang. Apa kamu tahu alasanku ingin memiliki anak yang banyak denganmu?" tanya Dios
"Kenapa emang?" tanyaku.
"Selain usiaku yang sudah tua. Aku ini seorang anak tunggal, kamu juga seorang anak tunggal. Kita sama-sama pernah merasakan tidak enaknya jadi anak tunggal tanpa saudara. Saat kita sedang kesulitan, kita tidak memiliki teman untuk bercerita, berbagi, atau dimintai tolong. Setiap ada masalah, tidak ada yang membantu."
"Aku tidak ingin hal seperti itu terulang kembali pada anak kita. Bukannya aku menganggapmu sebagai mesin pencetak anak, tapi minimal suatu hari nanti usaha kita ini akan ada yang meneruskan," sambung Dios.
Aku terdiam. Semua yang Dios katakan ada benarnya juga. Aku jadi teringat setiap kali menemukan kesulitan, dibenci keluarga. Orang asinglah yang menolongku. Seandainya aku memiliki banyak saudara, tentu aku akan terbantu.
"Baiklah. Besok aku akan datang ke tempat dokterku memasang IUD waktu itu," ujarku.
"Jam berapa mau kesana?" tanya Dios.
"Sore. Dokter prakteknya buka dari jam 4 sore." Jawabku.
"Emm." Aku mengangguk.
*****
"Bagaimana dok? apa mata mama saya masih bisa disembuhkan?" tanyaku.
"Masih. Nanti kalau ada donor kornea mata yang cocok, akan kami kabari segera." Jawab dokter.
Hari ini aku mendengar dua kabar yang sangat menggembirakan menurutku. Meskipun pengobatannya berhasil atau tidak, tapi perkataan dokter cukup membuatnu lega. Mulai besok papa akan mulai melakukan terapi, sementara mama hanya tinggal menunggu donor kornea mata yang cocok.
Untuk hari-hari berikutnya aku mulai menemani papa terapi. Untuk sementara waktu aku juga menyewa seorang baby sitter untuk mengasuh anakku. Dan setelah melakukan terapi selama 3 bulan, kini papa sudah mulai bisa berjalan meski dengan bantuan tongkat. Terapi terus dilakukan, dan tidak terasa itu benar-benar menguras biaya.
"Sayang. Uang tabungan makin menipis. Apa sebaiknya terapi papa kita hentikan sementara waktu?" tanyaku.
"Jangan. Terapi saja terus, lakukan sampai sembuh." Jawab Dios.
"Tapi WO kamu juga lagi sepi kan? ini bukan musim kawin, belum lagi buat biaya kita sehari-hari. Aku nggak enak sama kamu yank," ujarku.
"Nggak enak apa sih? pokoknya kalau aku bilang teruskan, ya teruskan saja. Percayalah, nanti pasti akan dapat rejeki dari hal yang tak terduga," ucap Dios.
Hah...aku tidak mengerti kenapa Dios memiliki hati setulus itu. Disaat aku yang anak kandung mulai menyerah, dia yang cuma menantu malah lebih bersikeras. Kadang aku berpikir, apa mungkin keajaiban itu benar-benar ada?
Belum selesai aku dengan ke khawatiranku, tiba-tiba ponsel Dios berdering.
"Hallo bos. Apa anda bisa datang ke Galery?" tanya salah seorang pegawai Dios.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dios.
"Ada klien yang datang sebanyak 3 pasang."
"Aku akan datang kesana sekarang," ujar Dios.
Dios mengakhiri percakapan itu, dan kemudian mencium bibirku dengan keras.
"Ada apa?" tanyaku.
"Sudah aku bilang, akan ada rejeki kalau niat kita baik. Tadi orangku nelpon, ada 3 pasang klien yang datang pengen pakai jasa WO kita." Jawab Dios.
"Benarkah?" tanyaku antusias.
"Emm." Dios mengangguk.
"Yeyyy," Aku berhambur kepelukkan Dios. Ada rasa senang yang membuncah. Aku jadi tidak ragu lagi buat meneruskan terapi papaku.
*****
"Selamat ya pak. Kaki bapak sudah dinyatakan sembuh," ujar dokter.
Aku berpelukkan dengan papa. Papa dan aku sama-sama menangis haru. Setelah hampir 8 bulan berjuang, papa akhirnya bisa sembuh dan tentu saja menelan biaya yang tidak sedikit. Dan kini tinggal mama yang menjadi beban pikiranku. Karena sampai saat ini, mama belum menemukan donor kornea mata yang cocok untuknya.
"Sayang." Aku berhambur kepelukkan Dios, untuk meluapkan rasa bahagiaku hari ini.
"Ada apa. Hem? sepertinya kamu senang sekali hari ini," tanya Dios.
"Ya. Coba kamu lihat,"
Aku menunjuk kearah papa yang tidak lagi menggunakan kursi roda, tongkat, atau alat bantu berjalan semacamnya. Dios melihat kearah papa dengan takjub. Dios kemudian mendekat kearah papa, dan memeluk papa dengan erat.
"Selamat ya pa? sekarang papa sudah bisa jalan lagi," ucap Dios.
"Terima kasih nak. Ini semua berkat kamu. Kamulah pahlawan papa yang sebenarnya. Kalau bukan biaya dari kamu, mana mungkin papa bisa sembuh," ujar Papa.
"Papa ngomong apa. Rejeki itu datang dari Tuhan. Aku cuma jadi perantara saja. Sekarang kita hanya tinggal menunggu kabar dari dokter. semoga secepatnya mama dapat donor kornea mata yang cocok," ucap Dios.
"Amiin," kami mengaminkan ucapan Dios.
"Oh ya...karena aku punya waktu senggang, dan papa sudah sembuh. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" tanya Dios.
"Jalan-Jalan? kemana?" tanyaku.
"Terserah kemanapun yang kamu mau." Jawab Dios.
"Sayang. Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi teringat dengan tante Sekar. Bagaimana kalau kita ke Surabaya saja? sekalian silahturahmi sama dia. Karena kejadian terakhir itu, aku merasa bersalah sama tante Sekar," ucapku.
"Baiklah. Kalau begitu kemasilah pakaian papa dan mama. Kita liburan bersama," ujar Dios.
"Tidak perlu. Kalian saja yang pergi. Mama dan papa sudah tua. Tidak kuat lagi buat jalan-jalan," ucap Papa.
"Apa papa yakin?" tanya Dios.
"Ya. Kami tukang tunggu rumah saja. Bukan kalian saja butuh berdua, papa mama juga tidak mau diganggu kalian," ucap papa yang membuat kami jadi terkekeh.
__ADS_1
Aku dan Diospun menyiapkan rencana keberangkatan kami ke Surabaya.