TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
95. Galau Mencari Jodoh


__ADS_3

Hoekkk


Hoekkk


Hoekkk


Mia sudah tiga hari ini selalu mual muntah. Terlebih saat mencium bau masakkan yang terlalu menyengat. Hingga dia sampai dibuat lemas karenanya.


"Kamu kenapa sih sayang? kamu masuk angin? kerumah sakit saja ya? itu bibir kamu sampai kering begitu," tanya Rudi.


"Nggak tahu mas. Kepalaku juga pusing. Badan juga panas dingin begini. Kayaknya aku masuk angin." Jawab Mia.


"Ya sudah siap-siap. Kita ke dokter sekarang," ujar Rudi.


"Emm." Mia menganggukkan kepalanya.


Mia dan Rudi pergi ke rumah sakit setelah sebelumnya pergi ke salah satu dokter umum praktek. Dokter menyarankan agar mereka pergi konsultasi dengan dokter kandungan, karena diduga Mia tengah mengandung saat ini.


"Mas. Seandainya pas diperiksa nanti ternyata aku tidak hamil, kamu jangan kecewa ya mas?" tanya Mia yang tampak khawatir.


"Kenapa kamu ngomong gitu sayang? kita sudah menikah hampir 12 tahun. Apa pernah aku nuntut kamu agar kamu cepat memberiku keturunan? nggak kan? aku juga selalu setia sama kamu." Jawab Rudi.


"Aku percaya dengan kesetiaan kamu. Sudah hampir dua tahun belakangan ini kita menjadi orang yang lebih baik. Entah mengapa aku sangat berharap keajaiban itu selalu ada, karena kita sudah benar-benar bertaubat dari semua kesalahan yang pernah kita lakukan," ujar Mia.


"Berharap boleh, kecewa jangan. Mas takutnya kamu kecewa saat diperiksa ternyata kamu tidak hamil sama sekali. Dan rasa kecewa itu malah membuat kadar keimanan kamu jadi berkurang," ucap Rudi.


"Aku akan sabar mas. Apapun yang terjadi selalu dampingi aku ya mas?"


"Iya." Jawab Rudi sembari mengelus lembut pipi Mia.


Bukan apa-apa. Mia sangat mengkhawatirkan kesuburannya berkurang, karena usianya hampir mencapai 35 tahun. Saat subur saja mereka tidak berhasil memperoleh keturunan, apalagi saat kurang subur. Tapi Apapun yang terjadi Mia dan Rudi tidak menyesal, jika memang mereka tidak mendapat keturunan. Karena mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, termasuk dengan mencoba proses bayi tabung.


Mereka juga sempat berkeinginan mengadopsi anak di panti asuhan, tapi entah kenapa niat itu jadi urung dilakukan. Jadi dua tahun belakangan ini mereka hanya menyisihkan pendapatan usaha mereka dengan banyak bersedekah dan mengikuti banyak pengajian.


Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, merekapun tiba disalah satu rumah sakit terbesar di kota Yogya. Mereka langsung mendaftar untuk berkonsultasi pada dokter kandungan.


"Wah...ternyata dugaan kita benar. Selamat ya bu, ternyata anda memang sedang hamil saat ini. Dan berita baiknya, anda sedang mengandung anak kembar," ujar dokter saat sedang memeriksa perut Mia melakui alat USG.


"Ap-Apa? saya beneran hamil dok? kembar?" tanya Mia tak percaya.


"Iya bu. Selamat ya?" ucap dokter.

__ADS_1


"Mas. Aku hamil mas...kita akan punya anak mas," ujar Mia dengan lelehan air mata.


"Allahhu Akbar...Alhamdulillah Ya Allah,"


Rudi sampai bersujud syukur dilantai sembari terisak. Pria itu kembali berdiri dan memeluk mia dengan rasa haru. Tangis pasangan suami istri itu pecah memenuhi ruangan itu.


"Sekali lagi selamat ya pak, bu. Ini adalah kehamilan pertama anda, jadi harus dijaga betul-betul. Karena usia ibu sudah 35 lebih saat lahiran nanti, ditambah ini kehamilan kembar, jadi saya sarankan persalinannya melalui bedah cesar ya bu. Karena sudah termasuk kehamilan beresiko," ujar dokter.


"Terima kasih dok. Apapun saran dokter akan kami lakukan," ucap Rudi.


"Untuk sementara jangan dulu berhubungan suami istri ya pak. Kalaupun ingin berhubungan, gunakan pengaman dan harus hati-hati. Usia kehamilan bu Mia baru 6 minggu. Jadi masih sangat rawan," ujar dokter.


"Setahun nggak berhubungan juga nggak apa dok. Yang penting istri dan anak-anak saya sehat." Jawab Rudi dengan senyum semringah.


"Ini tebus vitaminnya ya bu? untuk mengatasi agar makan tidak dimuntahkan semua, disarankan makan sedikit tapi sering. Juga banyak makan sayur dan buah ya,"


"Siap dok." Jawab Mia.


Setelah menebus resep vitamin. Mia dan Rudi memutuskan pulang ke rumah. Sejak tahu Mia hamil, Rudi memperlakukan istrinya seperti seorang ratu. Tidak hanya Rudi, keluarga Rudi dan keluarga Miapun juga memanjakannya. Namun disela kebahagiaan itu, ada seseorang yang sedang merana saat ini. Siapa lagi kalau bukan Rendy.


Tiga kali berencana serius dengan seorang wanita, tiga kali pula dirinya gagal naik pelaminan. Hingga dirinya jadi tidak mood lagi buat menjalin kasih dengan wanita manapun.


Rendy mematut dirinya didepan cermin. Kadang tersenyum, kadang cemberut, dan kadang mengerucutkan bibirnya.


"Tergantung kamu cari jodohnya dimana? coba aku tanya sama kamu, ketemu Melisa pertama kali dimana?" tanya Juan.


"Di diskotik." Jawab Rendy.


"Ketemu di tempat seperti itu kok diajak serius. Sudah pasti ngawur kamu itu," ujar Juan.


"Caren nggak ketemu ditempat itu," ucap Rendy.


"Tapi kamu sudah tahu dia punya masa lalu yang tidak bisa dia lupakan. Terlebih dia punya seorang anak. Mencintai wanita seperti itu jelas sekali sangat beresiko," ujar Juan.


"Sementara Bripka Resti. Kamu bilang ketemu di mall. Kamu itu mentang jomblo sembarangan kalau cari pasangan," ucap Juan.


"Iya yang jodohnya guru ngaji," sindir Rendy.


"Nah...itu maksudku. Cari jodoh yang jelas. Kalau guru ngaji, kecil kemungkinan mau serong kanan serong kiri. Jadi kalau mau cari jodoh yang baik, sesuaikan dengan tempatnya. Kalau kamu cari di diskotik, ya jelas ketemu yang modelnya kayak Melisa. Kalau kamu mau jodoh kuntilanak, carinya dikuburan. Nah...kalau kamu mau yang sholeha, ketemunya di masjid dong. Atau bisa juga di pesantren, majlis taklim dan sejenisnya," ujar Juan panjang lebar.


Rendy jadi terdiam. Tapi penjelasan Juan begitu masuk akal menurutnya.

__ADS_1


"Begitu ya? tanyain bini loe deh, kali aja punya teman yang belum kawin," ucap Rendy.


"Wah...kamu telat. Semua teman-teman istriku sudah pada laku. Ya kamu tahu sendiri, usia kita ini sudah 30 tahunan. Anakku aja sudah dua Ren, mana ada yabg cantik dan sholeha masih nganggur. Pasti udah di garap semua," ujar Juan sembari terkekeh.


"Sialan. Jadi kamu mau ngingatin aku kalau aku ini sudah tua?" tanya Rendy.


"Emang iya toh? emang situ ngerasa masih 17 tahun? tuh...uban aja udah pada nongol," ujar Juan.


"Mana uban?" tanya Rendy dengan panik sembari mencari-cari dengan bantuan cermin.


"Bercanda." Jawab Juan terkekeh.


"Sialan," Rendy meninju pelan pundak Juan.


"Ah...pulang dulu lah. Udah hampir magrib," sambung Rendy.


"Singgah noh di masjid besar. Barangkali ketemu jodoh sholeha disana," ledek Juan.


"Loe ledekkin aja terus gue. Lihat entar, bini gue pasti lebih cantik dari bini loe. Bini gue ntar keturunan orang timur tengah punya," ucap Rendy.


"Ho'oh. Pensiun dari tentara, jualan kurma loe," ucap Juan tertawa keras dan di cebikki oleh Rendy.


Rendy segera pergi dari rumah dinas tentara milik sahabatnya itu. Karena sudah waktunya Sholat magrib, Rendy benar-benar mampir ke salah satu masjid terbesar di kota itu. Tidak bayak do'a yang di panjatkan oleh pria berseragam loreng itu. Karena semua hal baik sudah dia miliki selama ini, kecuali perkara jodoh. Hanya urusan jodoh yang ingin dilancarkan oleh sang maha penciptanya, disamping minta pengampunan atas semua dosa-dosanya.


Setelah selesai sholat, Rendy pergi ketempat penitipan sepatunya. Saat sedang mengenakan sepatu, sepasang kaki perlahan menghampirinya dengan tangan saling bertautan satu sama lain. Rendy mendongakkan kepalanya, menatap seorang wanita bercadar yang juga tengah menatap dirinya.


"Assalammu'alaikum pak tentara," sapa wanita bercadar yang membuat Rendy jadi geli.


"Wa'alaikum salam nona bercadar," balas Rendy.


"Mungkin bapak tentara adalah jawaban dari do,'a yang saya panjatkan saat dalam masjid tadi,"


"Do'a?" tanya Rendy.


"Apa mungkin do'a kami sama-sama diberikan jodoh secepatnya?" batin Rendy.


"Iya pak. Saya baru 2 hari di kota ini, karena ada keperluan saya pergi keluar. Tapi saya lupa jalan pulang. Ponsel saya juga ketinggalan di rumah. Mau tanya-tanya orang, tapi saya takut." Jawab Wanita itu.


"Lalu kenapa kamu percaya sama saya?" tanya Rendy yang geli sendiri karena dirinya sudah berpikiran yang tidak-tidak.


"Soalnya bapak pakai seragam tentara. Bukankah abdi negara tugasnya mengayomi masyarakat?" tanya wanita itu.

__ADS_1


Rendy tersenyum mendengar ucapan wanita bercadar itu. Pria itu kemudian berdiri dan menatap mata indah dibalik cadar itu. Wanita itu tiba-tiba menundukkan pandangannya karena jantungnya jadi berdebar tiba-tiba.


__ADS_2