
"Bik. Aku minta tolong bibi ngurus Marta dulu ya? soalnya aku sedang dapat klien ribet.Dia ingin pemiliknya langsung yang menangani acara pernikahannya," ujar Dios.
"Baik tuan." Jawab pelayan sembari mengambil alih Marta, dari tangan Dios.
"Sayang. Papa pergi kerja dulu ya? nanti papa belikan ayunan untukmu," ujar Dios.
Dios memang memutuskan ingin Marta memanggilnya dengan sebutan papa. Dia tidak suka dipanggil uwak, Om, apalagi kakek, meski usianya memang sudah tua. Dengan hati berat Dios meninggalkan Marta di rumah, entah mengapa rasa sayang cepat sekali dia rasakan pada bayi yang baru dua hari dia urus itu.
Dios melambaikan tangan ke arah Marta, seolah-olah bayi itu mengerti dengan isyarat yang dia berikan. Sementara itu Rendy saat ini tengah berada di rumah sakit, dan sedang menyuapiku makan satu mangkok bubur saring untukku.
"Kak. Kamu tanyain dokter dong. Kapan aku diperbolehkan pulang,"
Aku memang sudah tidak sabar ingin segera pulang. Selain aku tidak ingin membebani Rendy lagi, aku juga sangat merindukan Marta. Aku juga tidak ingin membuat sahabat Rendy jadi susah, padahal dia sendiri tidak berpengalaman.
"Kamu tidak perlu memikirkan apapun dulu. Fokus saja dengan kesembuhanmu. Coba kamu bayangkan seandainya kamu pulang dalam keadaan belum sembuh total? kamu akan kembali jatuh sakit, dan malah akan membuat Marta lebih lama kamu tinggal," Rendy berusaha membuatku patuh. Namun apa yang Rendy katakan memang benar adanya.
Sejujurnya tubuhku memang masih sedikit lemas dan sedikit pusing. Ditambah pikiranku sudah bercabang pada Marta, membuat kesembuhanku sedikit terhambat.
"Kakak kalau mau kerja, ya kerja saja. Jangan terpaku dengan keadaanku disini. Kakak juga punya kesibukkan, jangan sampai tante tahu kakak terus mengunjungiku disini. Aku tidak mau menimbulkan masalah lagi," ucapku.
Bukannya bergegas pergi, Rendy malah menggenggam erat tanganku, dan menciumnya.
"Aku tidak tahu kamu sangat meremehkan perasaanku. Tapi kamu harus tahu Caren, sedikitpun aku tidak akan pernah mundur untuk memperjuangkan cintaku ke kamu," ucap Rendy.
Aku perlahan menarik tanganku dari gengaman tangannya. Mungkin dia juga merasa, kalau sebenarnya aku menolak tegas perasaannya itu.
"Bukannya aku tidak menghargai perasaan kakak, tapi aku mohon dengan sangat kakak cari orang lain saja. Aku masih sangat sayang dengan nyawaku, dan kakak masih bisa mendapatkan wanita yang jauh segalanya daripada aku,"
"Kak. Asal kakak tahu, mungkin mama kakak memang tidak menyukaiku, tapi akulah disini yang lebih tidak menyukainya. Seumur hidupku, aku tidak pernah diperlakukan dengan kasar seperti ini, tapi ini nyawaku hampir melayang karena ulah beliau."
"Atau jangan-jangan memang sebenarnya kakak senang ya membuat aku menderita?" tanyaku.
"Kamu ngomong apa sih? aku itu mencintaimu, mana ada aku senang melihat kamu menderita." Jawab Rendy.
"Aku hanya ingin menagih janjimu saja waktu itu. Mungkin caraku memang salah, tapi aku tidak menyangka kalau mama senekat itu ingin memisahkan kita," ujar Rendy.
"Sekarang kakak sudah tahu Resiko apa yang akan kita hadapi, kalau kakak masih memaksakan perasaan kakak itu. Kalau aku yang kehilangan nyawa itu tidak apa, tapi kalai sampai aku kehilangan Marta, mungkin aku tidak mau bernyawa lagi," ucapku dengan tegas.
"Jadi pada intinya menyerahlah. Kita bisa berteman seperti biasa, dan bertemu sesekali. Kita...."
Ucapanku terhenti, saat ponsel Rendy berdering tiba-tiba.
"Ya Di?" tanya Rendy.
"Gawat Ren. Pelayanku bilang Marta di culik oleh dua orang pria. Sekarang aku sedang menuju rumahku. Aku ingin memeriksanya sekali lagi lewat cctv." Jawab Dios dengan suara yang sedikit bergetar.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang sedang Rendy dan temannya bicarakan. Tapi Aku melihat ekspresi Rendy tiba-tiba berubah cemas. Dan aku ikut khawatir, karena teringat dengan Marta.
"Aku segera nyusul ke rumahmu," ucap Rendy yang langsung mengakhiri percakapan mereka.
"Ada apa kak?" tanyaku yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kenapa Rendy berwajah panik.
"Ini. Temanku bilang stok ASI Marta habis. Kamu harus memerah ASI lagi. Mumpung aku masih disini, aku bisa langsung mengantarkannya." Jawab Rendy.
Aku bisa bernafas lega. Aku sempat mengira kalau sudah terjadi sesuatu pada Marta. Tanpa banyak bicara aku segera memerah ASIku. Aku sangat senang, karena meski aku berada di rumah sakit, aku masih bisa memberikan ASIku pada putraku.
Setelah memeras hampir 30 menit, akupun sudah mendapatkan dua botol ASIP. Rendy bergegas pergi dengan alasan tidak ingin terlambat memberikannya.
Rendy berlari setelah turun dari mobil. Dia bergegas masuk ke dalam rumah Dios.
"Apa yang sebenarnya terjadi tanya Rendy setelah masuk ke dalam ruang kerja Dios.
"Pelayanku membawa Marta main ke halaman rumah, saat aku pergi bekerja. Kemudian ada dua orang pria datang memasuki pagar, dan menghampiri pelayan dengan modus bertanya alamat. Namun nyatanya mereka tengah mengamati situasi, dan saat merasa sudah aman, mereka langsung merampas Marta dari gendongan bibi pelayan." Jawab Dios.
"Aku sudah melihat cctvnya dan sudah menyalinnya," sambung Dios.
"Bagus. Tunggu apalagi? ayo kita berangkat ke kantor polisi," ucap Rendy.
"Baiklah. " Jawab Dios yang kemudian menutup layar laptopnya.
"Belum. Aku tidak mau dia setres dan malah memperlambat proses penyembuhannya." Jawab Rendy.
"Tapi menurutku dia berhak tahu Ren. Kita ini cuma sekedar membantunya, bukan keluarga Marta. Dia pasti akan marah besar, kalau kita terlambat memberitahunya, terlebih kalau sampai terjadi apa-apa pada Marta," ujar Dios.
"Pokoknya jangan dulu. Sekarang kondisinya belum stabil. Nanti kalau sudah membaik, barulah kita beritahu dia. Tapi semoga saja sebelum dia sembuh, Marta sudah di temukan," ucap Rendy.
Dios mempercepat laju mobilnya. Selang 20 menit kemudian merekapun tiba di kantor polisi.
"Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya Polisi, setelah mempersilahkan Dios dan Rendy untuk duduk di depannya.
"Kami ingin melaporkan berita tentang penculikkan anak pak. Ini kami juga sudah menyiapkan barang bukti, berupa cctv ditempat kejadian." Jawab Dios.
Dios kemudian menyodorkan sebuah disk pada Polisi. Dia ingin bergerak cepat. Polisi kemudian memutar kaset itu dan segera membuatkan laporan untuk Dios dan Rendy.
"Siapa nama bayi yang hilang?" tanya Polisi.
"Marta pak." Jawab Rendy.
"Marta saja?" tanya Polisi.
"Marta Almigo." Jawab Rendy.
__ADS_1
Deg
Jantung Dios serasa berhenti berdetak, saat Rendy menyebutkan nama belakang dari Marta. Pria itu sampai menoleh kearah Rendy, yang membuat Rendy jadi bingung.
ada banyak rangkaian pertanyaan yang ditanyakan polisi pada mereka. Setelah selesai, merekapun pulang. Namun perasaan Dios benar-benar tidak tenang. Dios jadi kepikiran tentang nama belakang Marta yang sama persis dengan dirinya.
"Kamu kenapa? kok jadi diam dari tadi? kamu mengkhawatirkan Marta? tanya Rendy.
"Ren. Apa nama belakang Marta nama belakang ibunya?" tanya Dios.
"Bukan. Kata ibunya itu nama belakang orang yang menghamilinya." Jawab Rendy.
Deg
Deg
Deg
"La-Lalu siapa nama belakang ibunya?" tanya Dios.
"Martadinata." Jawab Rendy.
Shhhiiitttttttt
Dios ngerem mendadak, hingga membuat kepala Rendy jadi terbentur. Jujur Dios jadi takut saat mengetahui fakta, bahwa bayi yang hilang itu adalah putranya sendiri. Namun saat dirinya teringat tentang cerita Rendy soal jandanya itu, Dios baru menyadari kalau banyak kemiripan tentang kisah hidup wanita itu dengan kisah hidupnya sendiri.
"Kamu sudah gila ya? kira-kira dong kalau ngerem? jangan mendadak gini," ucap Rendy.
"Boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Dios.
Rendy tanpa banyak bertanya langsung memberikan ponselnya, meskipun dahinya masih terasa sakit. Dios kemudian mengecek galery Rendy, untuk mencari petunjuk sendiri. Padahal seharusnya dia tidak perlu melakukan itu. Dia cuma perlu bertanya langsung tentang nama panjang wanita yang berujung dengan nama Martadinata itu.
Dios tersandar lemas, saat melihat foto Caren dengan jelas di ponsel Rendy. Air mata pria itu bahkan jatuh laksana air terjun dari ketinggian. Dios bergegas menghapus air matanya, dia ingin menemui Caren meskipun belum bisa secara langsung. Namun dia sangat ingin mengetahui keadaan orang yang dia cintai itu.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang. Kita harus memberitahu janda itu," ucap Dios sembari menyerahkan ponsel pada Rendy.
"Kan aku sudah bilang, kita harus nunggu dia membaik dulu." Jawab Rendy.
"Dia ibunya. Dengan memberitahu keadaan Marta, bisa jadi nantinya akan menjadi kekuatan untuk Dia," ujar Dios.
Dios hanya ingin mengetahui keberadaan Caren dirawat. Itulah sebabnya dia memaksa Rendy, agar memberitahu Caren tentang keadaan Marta.
"Benar juga. Ya sudah, kita ke rumah sakit kasih bunda kalau gitu," ujar Rendy.
Diospun bergegas memutar haluan. Dan tancap gas menuju rumah sakit yang Rendy maksud.
__ADS_1