
Aku mengintip dari tirai jendela, untuk memastikan Rendylah yang datang. Saat aku sudah memastikannya, akupun langsung membukakan pintu. untuk sahabatku itu.
"Ada apa sih? kok ditelpon terdengar serius sekali," tanya Rendy.
"Emang sangat serius. Masuklah! kami sudah lama menunggumu," ucapku.
Rendy mulai melangkahkan kakinya dan bergabung bersama Dios di ruang tamu.
"Ada apa sih Di?" tanya Rendy dan mulai menjatuhkan bokongnya pada sofa.
Dios menoleh kearahku dan aku menganggukkan kepalaku kearahnya.
"Sebelumnya aku minta maaf padamu, kalau apa yang akan aku sampaikan ini kurang berkenan dihatimu. Tapi aku tidak bisa diam saja, karena aku sudah menganggapmu seperti keluargaku sendiri," ujar Dios yang memulai kata-katanya.
"Katakanlah jangan ragu. Aku sangat percaya dengan kalian berdua," ucap Rendy.
"Tadi. Saat kamu membawa calon istrimu kesini, sepertinya dia bukan gadis baik-baik Ren," ujar Dios yang membuat dahi Rendy jadi mengerut.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?" tanya Rendy yang sedikit bernada tinggi.
Karena Rendy sudah bernada seperti itu, aku mulai membuka suaraku juga.
"Sebelum kejadian di meja makan, aku sempat melihatnya mencuri-curi pandang kearah Dios. Tapi aku mencoba untuk berpikiran positif, karena aku takut salah lihat. Tapi saat dimeja makan tadi, Dios mengatakan kalau kaki calon istrimu merayap-rayap di kaki suamiku. Dan itu bukan hanya sekali dia melakukannya,"
Aku bisa melihat ekspresi terkejut diwajah Rendy. Bukan itu saja, wajah Rendy jadi tampak memerah.
"Apa perkataan kalian bisa dipertanggung jawabkan? karena kalau sampai ini tidak benar, akibatnya tentu akan fatal," tanya Rendy dengan tegas.
"Lalu apa untungnya bagiku untuk berbohong padamu?" tanya Dios.
"Kak. Kami cuma menyampaikan kebenarannya. Aku juga harus waspada kalau kakak tetap menjadikan dia sebagai istrimu. Kami nggak masalah kok kalau kakak tetap ingin menikahinya? tapi kami cuma berpesan, berhati-hati saja," ujarku meluruskan.
"Ya Ren. Kamu bisa tetap nikah sama Dia kok. Beri dia pengertian, mungkin saja kamu bisa membuat dia mengerti dan benar-benar bisa menerimamu apa adanya," ucap Dios.
"Nggak perlu. Nanti akan aku putuskan dia." Jawab Rendy yang membuatku syok.
"Kok kakak santai banget ngomongnya?" tanyaku heran.
"Aku sudah pernah punya trauma berpacaran lama, kemudian dikhianati. Ini sepertinya punya bibit-bibit seperti itu lagi. Pacaran 5 tahun saja bisa kutinggalkan, apalgi cuma 5 bulan. Apa kalian tidak percaya dengan ucapanku?" tanya Rendy.
Aku dan Dios terdiam. Sejujurnya kami tidak menyangka kalau Rendy bakal sesantai itu. Melihat kami terdiam, Rendy kemudian mengeluarkan ponselnya. Namun yang berdering malah ponsel milik Dios.
"Kamu salah telpon?" tanya Dios.
"Tidak."Jawab Rendy.
Dios melihat panggilan dilayar ponselnya yang ternyata dari nomor tidak di kenal. Dios segera mengangkat panggilan itu, dan langsung membuat pengeras suara.
__ADS_1
"Hallo selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dios dengan sopan. Karena dia mengira itu calon kliennya.
"Bisa pak. Bagaimana caranya bisa merebut hatinya pak Dios untukku."
Rendy tahu betul siapa pemilik suara itu. Sementara aku sangat syok, karena mendengar secara langsung ada seorang wanita yang merayu suamiku. Aku langsung mencubit pinggang Dios untuk bertanya siapa pemilik. dari suara itu. Dan Dios hanya membalas dengan gelengan kepala dan juga telapak tangannya.
Rendy kemudian memperlihatkan ketikkan diponselnya. Mataku terbelalak saat Rendy mengatakan bahwa itu suara Resti sang tunangan. Rendy menyuruh Dios agar berakting dan meladeni ucapan Resti, Rementara Rendy merekam percakapan itu.
"Maaf saya tidak kenal dengan nona. Mungkin nona salah sambung?"
"Kalau salah sambung, tidak mungkin saya bisa tahu nama kakak. Ini Resti kak, yang datang kerumah kakak tadi," ujar Resti.
"Ada apa Res?" tanya Dios.
"Apa kakak bisa menemuiku? ada hal penting yang ingin aku bicarakan,"
Dios bertanya lewat alisnya, Rendy menganggukkan kepalanya.
"Emang kenapa kalau lewat telpon?" tanya Dios
"Kurang greget kak. Ini masalah perasaan." Jawab Resti.
"Masalah perasaan? ada apa dengan perasaan kamu?"
"Sebenarnya saya tidak menyukai Rendy. Tapi sejak tadi bertemu dengan kakak, aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kakak. Kakak terlihat sekali pria matang dan berwibawa. Apa kakak cinta dengan istri kakak yang gendut itu?"
Dios jadi bingung harus menjawab apa, karena takut aku akan kembali murka.
"Istri kakak pasti baru lahiran kan? nifasnya lama tuh? apa kakak bisa tahan?"
"Kamu bicara gini. Apa kamu tidak takut pernikahanmu dan Rendy terancam batal?" tanya Dios.
"Batal ya batal saja. Aku masih muda, masih menarik, dan yang pasti lebih sexy dari istri kakak yang gendut itu." Jawab Resti.
"Tapi anakku udah tiga loh," ujar Dios.
"Kak kalau laki-laki mah nggak kelihatan kalau punya anak 3. Kalau perempuan, sudah pasti nggak enak rasa barangnya kalau sudah ngeluarin anak 3,"
Perkataan gadis itu tidak bisa aku tolelir lagi. Sungguh pemikirannya tidak bisa aku percaya. Tidak jauh berbeda denganku, Rendy juga tidak menyangka kalau calon istrinya gadis yang seperti itu.
Aku langsung merampas ponsel Dios dan langsung bersumpah serapah pada gadis itu.
"Kenapa kalau punyaku sudah longgar? yang nyoblos juga suamiku, yang keluar juga anak suamiku. Apa urusannya sama situ yang gatal pengen minta garuk sama suami orang?" hardikku.
"Eh sadar diri kali mbak. Badan situ gendut, mungkin suami situ terpaksa nyentuh situ. Makanya pandai-pandai rawat diri dong kalau nggak mau suaminya kepincut wanita lain. Tadi aja suami situ udah kegoda? karena dia sudah lihat langsung bodyku yang lebih oke dari situ."
"Gendut-Gendut badan aku bukan badan situ. Yang kasih makan suami aku, bukan orang tua situ. Biar nggak terawat juga udah laku, nggak kayak situ! situ ngaku body oke, tapi nggak percaya diri buat dapat bujangan. Ngapain gatal sama suami aku?"
__ADS_1
Rendy dan Dios hanya bisa ngurut kening mereka saat melihatku adu mulut dengan gadis gatal diseberang telpon.
"Kok situ sewot. Mending sadar diri aja deh. Lepasin aja tu suaminya, dia juga pasti terpaksa ngasih makan situ yang tukang ngabisin beras,"
Nafasku benar-benar naik turun dengan gigi bergemeratuk.
"Kayaknya situ punya nyali. Biar situ punya pistol, kemari aja deh. Kita adu jotos, dan jangan bertengkar lewat hp. Biar situ rasakan gimana rasanya dicakar sama kulit duren," ucapku dengan membara.
Dios segera merampas ponselnya dari tanganku, dan mengakhiri panggilan itu. Aku melotot kearahnya karena aku tidak suka Dios mengakhiri panggilan itu, sebab aku belum puas memaki-maki calon pelakor itu.
"Kenapa dimatikan? apa perkataan si gatal itu benar? kamu keberatan kasih makan aku? kamu nggak selera lagi sama aku karena aku gendut? aku nggak cantik dan bodyku tidak sebagus dia?" aku mengomel dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu ngomong apa sih yank? omongan orang gila kok ditanggepi? mana mau aku sama dia. Emang didunia ini nggak ada wanita lain selain dia?"
"Oh jadi kamu berniat mau cari wanita lain?" tanyaku dengan air mataku yang sudah mengucur.
Dios langsung memelukku, agar aku cepat tenang. Sementara Rendy jadi tidak enak hati karena melihat pertengkaran kami. Rendypun segera membuat panggilan untuk Resti.
"Ya sayang," ujar Resti diseberang telpon.
"Resti. Aku mau kita putus," ujar Rendy yang membuatku jadi berhenti menangis.
"Kamu ngomong apa sih beb? kok ngawur gitu? kamu mau ngeprank aku ya?" tanya Resti sembari terkekeh.
"Nggak Resti. Aku merasa kita sama sekali tidak cocok. Aku butuh patner hidup yang setia. Dan kamu tidak bisa memberikan itu, bahkan diawal-awal hubungan kita." Jawab Rendy.
"Apa maksud kamu tidak setia?" tanya Resti.
"Kamu suka Dios kan?" tanya Rendy langsung.
"Jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku suka sama suami orang? kamu yang benar saja dong kalau membuat alasan ingin putus," ucap Resti.
"Ini bukan alasan. Tapi aku sudah mendengarnya secara langsung saat kamu merayu Dios. Aku juga mendengar, saat kamu bertengkar dengan Caren. Dan itu sudah cukup menjadi bukti kalau kamu benar-benar menggoda Dios saat makan siang tadi. Jadi Resti, aku rasa aku tidak perlu lagi menjelaskan pada orang tuamu. Terserah kamu mau membuat alasan apa. Yang pasti aku tidak ingin pernikahan kita dilanjutkan," ucap Rendy yang langsung mengakhiri panggilan itu.
Rendy juga langsung memblokir nomor ponsel Resti tanpa pertimbangan lagi. Rendy kemudian menatap aku dan Dios yang masih dengan posisi saling berpelukkan.
"Kalian yang akur terus ya? jangan lagi bertengkar karena wanita nggak penting seperti itu," ucap Rendy.
"Kakak nggak apa-apa kak?" tanyaku yang mengkhawatirkan Rendy.
"Tentu saja tidak apa-apa. Kakak sudah biasa patah hati. Bahkan patah hati terhebatku waktu kamu balikkan sama cut patkay satu ini." Jawab Rendy.
"Cut patkay? siapa cut patkay?" tanyaku yang sama sekali tidak tahu.
"Noh cut patkay si hidung babi." Jawab Rendy yang membuatku jadi terkekeh.
Sementara Dios jadi melempar Rendy dengan permen yang ada diatas meja.
__ADS_1