TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
61. Hilang


__ADS_3

Dios saat ini tengah diliputi rasa gelisah, karena ponselnya hilang entah kemana. Semua berawal saat dirinya tengah menangani klien yang ingin menggunakan jasa Wedding organizer miliknya. Dia menerima panggilan di ponselnya yang berasal dari pegawainya, namun setelah selsai dia lupa meletakkan ponsel itu dimana.


Suasana Galery saat itu memang tengah ramai pengunjung. Karena sekarang usahanya kini merambah ke studio foto juga. Yang Dios sesalkan adalah, di dalam ponsel itu penuh dengan foto-foto kenangannya dengan Caren, dan juga nomor kontak pujaan hatinya yang belum sempat dia hafal.


"Ponselmu kenapa sih? kok nggak bisa dihubungi?" tanya Rendy.


"Ponselku hilang. Aku sangat sedih saat ini." Jawab Dios.


"Beli aja yang baru. Gitu aja kok repot," ujar Rendy.


"Ini bukan masalah uang atau ponselnya. Tapi didalam ponsel itu sangat banyak kenangan antara aku dan kekasihku itu. Disana juga ada nomor kontaknya yang belum sempat aku hafal. Sekarang aku sudah kehilangan segalanya. Kehilangan dia, anakku, bahkan seluruh kenanganku bersamanya."


"Kamu bisa mengurus kartumu yang baru, namun masih dengan nomor yang sama. Datang saja ke kantornya langsung," ujar Rendy.


"Benar juga. Kenapa nggak kepikiran ya?" unar Dios yang langsung diberi cebikkan bibir oleh Rendy.


"Kamu pernah berpikir nggak sih? kalau sebenarnya semua yang terjadi pasti ada alasannya. Apa kamu pernah berpikir, kalau sebenarnya kalian itu memang tidak di takdirkan bersatu," ujar Rendy.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Dios.


"Coba kamu pikir. Tiap kalian memiliki kesempatan bersatu, ada-ada saja halangannya. Apa tidak sebaiknya kamu ikhlaskan saja dia?" tanya Rendy yang disambut gelengan kepala oleh Dios.


"Mungkin kalau tidak ada anak diantara kami, aku bisa melakukan itu. Tapi sekarang ceritanya berbeda. Aku tidak akan mundur, sebelum dia dimiliki orang lain. Bahkan meski dimiliki orang lainpun, aku akan kembali menggoyahkan pikirannya agar kembali padaku,"


"Jangan gila. Sudah cukup kamu melakukan kesalah satu kali dengan mengajaknya bermain api," ujar Rendy.


"Aku memang sudah lama gila sejak dia meninggalkan aku." Jawab Dios.


Rendy hanya bisa menghela nafas, saat melihat Dios yang tampak frustasi. Dia tidak mungkin memaksa Dios agar melupakan wanita pujaannya, karena dirinya tidak berada di posisi Dios saat ini.


*****


"Ada apa dengan wajahmu itu? kok kusut sekali kelihatannya?" Rendy bertanya padaku, saat melihat bibirku mengerucut hampir balapan dengan hidungku.


"Si brengsek ini. Aku sudah berbaik hati ingin memaafkan dia, dan mencova merajut hubungan kami demi anak.Tapi apa sekarang? dia malah menghilang dan nomor ponselnya sama sekali tidak bisa di hubungi," aku bersungut kesal.

__ADS_1


"Jangan begitu. Siapa tahu ada insiden yang tidak kita ketahui yang membuat ponselnya terpaksa tidak aktif. Emang sejak kapan kamu berusaha ngubungin dia?" tanya Rendy.


"Dari 3 hari yang lalu. Entahlah, sepertinya aku memang harus menyerah dengan hubungan yang nggak jelas ini."


"Jangan putus asa. Pandanglah Marta putra semata wayangmu. Tapi kalau memang Tuhan tidak mentakdirkan kalian bersama, kamu juga harus bersabar. Tuhan pasti punya rencana lain buat kamu," ujar Rendy.


"Makasih kak. Kakak selalu ada buat aku selama ini. Entah apa yang terjadi kalau aku cuma sendirian menghadapi semuanya selama ini," ucapku.


Rendy tiba-tiba kembali menatapku dengan tatapan yang tidak biasa, membuat jantungku jadi berdebar.


"Aisshh...kenapa wajah Caren nggak bosan dilihat ya? aku nggak mungkin menyukai dia kan? aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri," batin Rendy.


Beruntung tiba-tiba Marta menangis, karena ternyata dia sedang pup. Adanya tangisan Marta merubah kecanggungan diantara kami. Aku menimang Marta dengan sengaja, agar kami tidak lagi mengalami kecanggungan.


"Uwak Rendy. Kapan nikah? buruan nikahnya, agar aku cepat punya teman," ujarku sembari membersihkan pup Marta dengan menggunakan tisu basah.


"Kok Uwak sih?" tanya Rendy.


"Lalu kamu mau dipanggil apa? pakde?" aku mengulum senyumku yang sebenarnya ingin tertawa lepas.


"Kakak itu lebih tua dari aku, jadi nggak boleh dipanggil om. Harusnya kan dipanggil Pakde alias Uwak," aku tak kalah sengit.


"Ya sudah panggil Ayah saja," perkataan Rendy membuat aku terdiam. Sejujurnya dalam lubuk hatiku aku sangat menolak putraku memanggil ayah pada orang lain selain ayahnya. Melihat aku yang tampak murung, Rendy segera meralat ucapannya.


"Bercanda. Kamu nggak suka banget anakmu memanggilku ayah," ujar Rendy.


"Bukan gitu kak. Kakak jangan marah ya?"


"Nggak marah. Emm...Ren, kita nikah aja yuk?"


Perkataan Rendy membuat mataku terbelalak dan langsung memukul bahunya.


"Jangan meledekku ya? mentang-mentang aku janda, kakak seenaknya mau ngeledek aku. Lagian perawan masih banyak di dunia ini, ngapain milih janda beranak satu kayak aku," ucapku dengan bibir mengerucut.


"Cuma bercanda Ren. Lagian kamu benar juga, perawan masih banyak di dunia ini. Aku masih laku," ujar Rendy.

__ADS_1


"Makanya kakak cepat cari cewek, biar nggak iseng gangguin aku terus," ujarku.


"Kalau aku cepat kawin, ntar yang jagain kamu dan anak kamu siapa?"


Aku jadi menatap Rendy, setelah aku selesai membersihka Pup putraku.


"Kak. Kita ini terbilang baru kenal. Kakak juga tidak ada hubungan kerabat denganku. Jadi kakak tidak perlu memikirkan nasibku dan Marta.Karena itu bukan kewajiban kakak,"


"Kalau seperti ini, jatuhnya aku dan Marta seperti jadi beban buat kakak. Lebih baik kami pergi saja dari tempat ini," sambungku.


"Kok gitu sih ngomongnya? enak aja main pergi-pergi gitu aja. Kayaknya kabur sudah jadi hobymu ya?"


Lagi-Lagi kupukul bahu Rendy, namun pria itu membalasku dengan kekehan.


"Jangan meledekku. Nanti kusumpahin jadi perjaka tua,"


"Jahat banget mulutnya. Ngapain sampai mau jadi perjaka tua. Janda juga masih bertebaran. mending aku nikahin kamu," Rendy menaik turunkan alisnya.


Entah kenapa hari ini dia lebih sering menggodaku. Berutung aku ini cepat tahu diri dan sadar dengan statusku yang seorang janda beranak satu. Kalau tidak menyadari hal itu, pasti aku sudah termakan oleh rayuan recehnya. Siapa yang akan menolak pesona tampan abdi negara berseragam loreng itu.


Rendy memiliki pesona sendiri, yang mampu memikat lawan jenisnya. Sementara aku di posisi yang tidak boleh banyak memilih, karena aku tidak lagi sempurna.


Tok


Tok


Tok


Kami sedikit teperanjat, saat pintu kontrakkanku diketuk oleh seseorang. Pintuku memang sengaja kubuka lebar, agar tidak menimbulkan fitnah untuk kami. Aku sedikit terkejut, karena aku melihat ibu Rendy berada tepat di depanku dengan tatapan sinis. Aku sudah mulai bisa membaca situasi, kalau saat ini akan terjadi drama yang sedikit panas.


"Mana Rendy?"


"A-Ada tante." Jawabku terbata.


"Bisa nggak sih kamu cari laki-laki lain saja yang bisa kamu pikat? kamu sadar diri dong kamu itu siapa. Anak saya itu tampan dan berwibawa, dia masih bisa cari perawan dan wanita yang jelas asal usulnya,"

__ADS_1


Mama Rendy menghinaku habis-habisan. Mendengar keributan, Rendy bergegas keluar untuk memastikan sesuatu.


__ADS_2