TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
60. Repot


__ADS_3

Dua hari berada di rumah sakit, aku diperbolehkan pulang. Karena minim pengalaman, aku menyewa seorang perawat untuk merawat anakku hingga lepas tali pusatnya. Terlebih jahitan lukaku masih terasa sakit, gerakkankupun terbatas.


Anakku memang terlahir dengan berat badan 3500 gram. Untuk ukuran anak pertama, ternyata kata dokter itu sudah lumayan besar. Itulah sebabnya saat lahiran, tempat anakku lahir sedikit digunting. Entah bagian apa tepatnya yang digunting, akupun tidak tahu, tidak ingat dan tidak merasakannya. Mungkin karena efek kesakitan yang aku alami waktu itu.


Dan tidak terasa saat ini putraku sudah berusia 1 minggu. Tepat diusia satu minggu, tali pusat anakku sudah lepas. Entah mengapa lepas tali pusat saja hatiku jadi gembira. Sebab saat melihatnya nyaris putus saja, aku masih merasakan ngeri untuk menyentuhnya.


Namun kali ini ada masalah yang lebih gawat menurutku. Karena takut jahitanku terlepas, mood BAB pun jadi hilang. Dan sekarang aku harus dihadapi susah BAB hingga mataku berair. Suster menyarankanku agar banyak memakan buah pepaya dan buah berserat lainnya. Namun entah mengapa semuanya tidak mempan. Dan alternatif terakhir, aku terpaksa memasukkan obat pencahar yang aku masukkan lewat lobang daruratku.


Kini aku baru sadar betapa sulitnya jadi seorang ibu. Tidak hanya kesulitan yang aku sebutkan tadi saja menghampiriku. Puncak dadaku saat ini masih terasa perih, karena lecet saat menyusui putraku. Mengingat kesulitan ini, aku jadi teringat dengan mamaku. Entah apa gerangan yang terjadi disana, hingga aku sama sekali tidak bisa menghubungi ponsel mereka. Aku ingin bercerita banyak hal dengan mamaku dan juga nenekku. Tapi pada kenyataannya aku seperti anak yang sudah tidak diinginkan lagi.


Aku tatap wajah putraku yang tembam. Dia begitu montok dan menggemaskan. Lagi-Lagi melihat dia air mataku mengucur tak tertahankan, dan sialnya harus tertangkap basah saat Rendy sedang main kerumah.


"Kamu nangis?" tanya Rendy.


Ditanya seperti itu tentu saja air mataku bertambah mengucur. Karena melihatku terisak, Rendy akhirnya membawa kepalaku didadanya.


"Ada apa hem? apa mbak Mia dan mas Rudi kesini lagi?" tanya Rendy.


"Hiks...nggak kak. Aku cuma teringat orang tuaku. Kenapa mereka tidak menginginkan aku lagi. Hiks...." Aku semakin terisak.


"Tunggu waktu yang tepat. Saat ini mereka masih marah padamu. Tapi percayalah, tidak mungkin orang tuamu marah berlama-lama denganmu, terlebih kamu anak semata wayangnya."


"Kamu juga harus intropeksi diri. Rasa kecewa yang kamu beri pada mereka memang cukup besar. Jadi jangan mudah mengambil hati. Urus saja anakmu, jadi saat kamu pulang nanti kamu bisa membuat mereka bangga," sambung Rendy.


"Tapi aku butuh mereka kak. Aku butuh mamaku," ucapku disela isakku.


"Bersabarlah. Emm...kamu sudah makan?"


Aku tahu Rendy berusaha mengalihkan kesedihanku. Karena aku belum makan, tentu saja aku menggelengkan kepalaku.


"Aku membawakan ini untukmu," ujar Rendy sembari menyodorkan kantung plastik kearahku.

__ADS_1


"Apa ini kak?" tanyaku.


"Katamu kemaren pengen makan bakso jumbo." Jawab Rendy.


"Makasih ya kak?"


"Emm. Makanlah! tunggu sebentar biar aku ambilkan mangkok untukmu," ujar Rendy.


"Ya." Jawabku senang.


"Suster kemaren udah kamu berhentikan?" tanya Rendy.


Rendy kedapur sembari mengajakku mengobrol. Karena memang jarak antara dapur dan ruang tengah sangat dekat.


"Iya kak. Lagian tali pusat Marta juga udah lepas. Aku juga sudah mulai bisa memandikan dia sendiri." Jawabku.


Rendi meletakkan satu buah mangkok dan satu buah sendok di depanku. Dibukanya kantung bakso yang dia beli, beserta kecap dan saus.


Aku mulai menyantap bakso dengan ukuran luar biasa itu. Sementara Rendy menimang Marta. Sesekali aku menoleh keduanya, perasaanku kembali campur aduk lagi.


Ah...andai saja Rendy adalah Dios. Pasti aku akan sangat bahagia sekali. Pasti putraku akan cepat mengenali ayahnya, bukan orang lain yang dia anggap sebagai ayah. Diantara gamang dan bimbangku. Ingin sekali aku membuka blokiran kontak Dios. Ingin sekali rasanya aku menghubungi dia dan memberitahunya, bahwa anaknya sudah lahir. Tapi aku takut saat berbicara dengannya, aku mulai kembali terkena panah-panah asmaranya, yang membuat aku jadi bimbang kembali.


Niatku sudah bulat. Aku ingin menyudahi hubunganku dengan dia dalam bentuk apapun.


"Kak. Apa menurutmu aku harus menghubungi ayah dari putraku?" tanyaku yang ingin mendapat sedikit pencerahan.


"Kalau menurutku sih iya. Walau bagaimanapun dia adalah ayah dari Marta. Dia berhak tahu." Jawab Rendy.


Aku meraih ponselku dan menghentikan makanku. Ku lihat Rendy menghela nafasnya saat melihatku melamun sembari memegang ponselku.


"Habiskan dulu makananmu. Nanti baru bicara dengan benar," ujar Rendy.

__ADS_1


Aku menuruti ucapan Rendy. Karena suasana hatiku kurang baik, aku tidak sampai menghabiskan makananku. Aku kembali membuka blokiran nomor ponsel Dios. Begitu blokirannya dibuka, puluhan pesan masuk kedalam ponselku. Aku sampai gugup, saat membacanya satu demi satu.


"Sayang. Kamu dimana? jangan tinggalkan aku. Dengarkan dulu penjelasanku, kamu salah paham. Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak bisa tanpa kamu,"


"Aku kangen kamu yank,"


"Sayang. Kamu ada dimana? jangan lama-lama marahnya,"


Masih banyak lagi pesan yang aku terima. Namun yang membuat mataku terbelalak adalah, saat aku membaca pesan nomor 5 dari terakhir.


"Sayang. Aku sudah bercerai dengan Sekar. Sekarang aku pergi merantau lagi. Aku akan melangkah kemanapun asalkan aku bisa menemukanmu,"


"Di-Dia sudah bercerai?" gumamku.


"Sayang. Aku sudah sampai di kota tujuanku. Kali ini aku merantau ke kota Yogyakarta. Kamu sekarang ada dimana yank?"


"Sayang tadi aku sempat melihatmu dipasar tradisional Yogyakarta. Benarkah itu kamu? tapi aku kehilangan jejakmu,"


"Sayang. Ini adalah bulan kelahiran anak kita. Entah kenapa hatiku sangat gelisah hari ini. Aku sangat merindukanmu. Jika ada kesempatan, aku ingin menemanimu melahirkan,"


Aku melihat tanggal pesan itu dikirim oleh Dios. Itu adalah tanggal dimana anak kami dilahirkan. Air mataku mengucur tiba-tiba. Sesuai dugaanku, aku kembali mengalami dilema. Haruskah aku memaafkan dia dan segera kembali padanya?


"Ada apa? kenapa kamu menangis?" tanya Rendy.


"Aku memang tidak mau membuka blokiran nomornya, karena takut terpengaruh. Dan sesuai dugaanku, si brengsek itu paling bisa membuatku baper." Jawabku sembari menyeka air mataku.


"Itu tandanya kamu masih mencintai dia. Masih memiliki perasaan sama dia. Kenapa harus membohongi perasaan. Kalian saling mencintai kan?"


"Tidak semudah itu aku mau kembali padanya.. Aku harus memberinya pelajaran dulu. Sekarang dia sudah bercerai dari istrinya itu. Tapi bukan berarti aku mau secepat itu kembali padanya,"


"Huuu...itu namanya susah dibuat sendiri Ren," ujar Rendy.

__ADS_1


Aku terdiam. Entah mengapa perasaanku jadi campur aduk sekarang. Antara aku akan kembali pada Dios, atau aku tetap akan meninggalkan dia selamanya.


__ADS_2