
Hanya butuh waktu 20 menit bagi mereka untuk tiba di rumah sakit. Rendy bergegas turun dari mobil, namun tidak dengan Dios.
"Ayo ikut turun. Sekalian kamu berkenalan dengannya," ujar Rendy.
"Kamu saja. Aku tunggu dimobil. Kalau dia memaksa ingin pulang, turuti saja. Lebih baik dia dirawat dirumah, daripada dia bertambah setres dirumah sakit," ucap Dios.
"Baiklah. Perkataanmu ada benarnya juga," ujar Rendy.
Rendy bergegas masuk ke rumah sakit dan menuju ruanganku. Entah kenapa sejak tadi aku merasa gelisah tidak menentu. Namun setelah Rendy membuka kamar ruanganku, aku sedikit bernafas lega. Paling tidak aku ada tempat untuk berbagi cerita, tentang kegelisahanku saat ini.
"Kak. Aku mau pulang. Aku benar-benat setres disini. Aku rindu berat dengan Marta. Please bawa aku pulang," ujarku dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah. Biar aku urus administrasinya dulu," ucap Rendy.
Sungguh ucapan Rendy seperti angin segar buatku. Aku sangat bahagia mendengarnya. Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat, sembari menyeka air mata yang meleleh dipipiku.
Akhirnya setelah menandatangani surat pulang paksa, akupun bisa bernafas lega dan segera berkemas pulang. Rendy mendorongku yang duduk diatas kursi roda. Dan berhenti saat kami sudah berada disamping mobil berwarna hitam.
Aku melihat pria bertopi hitam dan bermasker hitam turun dari mobil. Dan entah mengapa jantungku berdegup tanpa sebab. Pria itu kemudian membantu Rendy memasukan barang-barangku kedalam bagasi. Namun Rendy mendorong pria itu saat dia akan membantuku memasuki mobil.
"Eh? apa aku tidak salah lihat? aku tadi melihatnya mengepalkan tangan, dengan wajah tertunduk. Apa dia tersinggung dengan sikap Rendy?"
Mobil yang aku tumpangi melesak pergi meninggalkan halaman parkir rumah sakit. Aku dan Rendy duduk berdua di belakang. Aku bisa merasakan, kalau pria yang menjadi supir kami itu sedang mengawasi kami saat ini.
"Kamu kenapa tiba-tiba pakai masker dan topi Di? Caren cuma gegar otak, bukan kena TBC atau penyakit menular lainnya," tanya Rendy.
Namun pria yang Rendy tanyai sama sekali tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Aku jadi tidak enak hati. Setelah Rendy menyebut namanya, kini aku tahu. Kalau supir itu adalah pengasuh sementara anakku. Aku jadi berpikir, kalau pria itu keberatan dan lelah mengasuh Marta.
"Mas Di. Aku ucapin terima kasih sudah merepotkan mas Di menjaga Marta. Tapi hari ini tidak lagi, hari ini aku pengen mengurus Marta sendiri," ucapku.
Namun pria itu masih saja diam. Yang membuatku jadi bertanya-tanya.
"Kamu kenapa diam sih? sakit gigi? tadi kamu baik-baik aja. Ini ditanyain wanitaku loh," ucapan Rendy membuat mataku terbelalak dan mencubit pahanya.
"Aduh...sakit sayang. Kamu kenapa galak sekali hari ini. Padahal saat diranjang kamu sangat menggairahkan," ucap Rendy yang bertambah ngawur.
Shiittttttt
"Awwww..."
Kepala Rendy terbentur tempat duduk. Beruntung dia memelukku, jadi kepalaku tidak ikut terbentur. Aku bisa mendengar nafas supir itu naik turun. Aku sempat mengira pria itu kena asma atau terkena serangan jantung. Pria itu juga mencengkram erat setir mobilnya, dan dia melirik kebelakang dengan bantuan kaca depan.
Deg
Jantungku terasa terkena hujaman. Mata itu sepertinya aku pernah melihat sepasang mata merah itu. Tatapan pria itu begitu membunuh, hingga akupun spontan mendorong tubuh Rendy yang sedang memelukku.
__ADS_1
"Kamu sudah gila ya Di? kalau mau mati, mati saja sendiri. Hari ini kamu sudah dua kali begini. Kamu kenapa sih?" tanya Rendy.
Tanpa menjawab Pria itu kembali menginjak gas mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan. Rendy sesekali menunjukkan jalan yang harus dilalui. Setelah memakan waktu hampir 25 menit, kamipun sampai di rumah kontrakkanku.
"Turun dulu mas. Biar aku buatkan dulu kopi buat kalian," ucapku yang serius mengajak pria dingin itu buat mampir sekedar minum kopi.
Namun ajakkanku seperti angin lalu baginya. Rendypun sampai menghela nafas panjang dengan sikap sahabatnya itu.
"Biarkan dia di luar. Aku ingin bicara sesuatu yang penting denganmu," ucap Rendy.
"Ada apa kak?" tanyaku.
"Kita masuk saja dulu."Jawab Rendy.
Aku melirik kearah pria bertopi itu. Entah mengapa aku merasa begitu familiar dengan pria berpakaian serba hitam itu.
"Ada apa kak?" aku kembali bertanya pada Rendy setelah kami masuk ke dalam rumah.
"Ren. Sebelumnya aku dan temanku ingin minta maaf padamu. Ma-Marta menghilang."
Aku mengerutkan dahiku, karena aku pikir Rendy sedang bercanda.
"Menghilang apa sih kak? candaannya nggak lucu tahu nggak sih?" tanyaku lagi.
Rendy kemudian menceritakan kronologi kejadian saat Marta diculik hari ini. Mendengar itu tentu saja aku menjerit histeris. Hal pertama yang aku lakukan setelahnya, aku berlari kearah luar pintu. Yang ternyata sudah ada pria bertopi itu didepan pintu.
Aku menangis histeris sembari memukul-mukul dada pria itu. Pria itu sama sekali tidak mengelak, bahkan cenderung seolah sedang pasang badan.
"Caren hentikan! sadarlah," ucap Rendy.
Rendy berusaha menarik tubuhku dari pria dihadapanku. Namun tiba-tiba pria itu mendorong Rendy. Seolah dia ingin aku melampiaskan rasa sedih, kesal dan amarahku padanya. Disaat situasi sedang memanas, tiba-tiba ponsel Rendy berdering.
"Hallo?"
"Kamu dimana? pulang sekarang juga!" tanya Leni.
"Aku sedang ada urusan ma." Jawab Rendy.
"Urusan apa? jangan kamu kira mama tidak tahu, kalau saat ini kamu tengah berada di rumah wanita itu. Kamu masih mau coba-coba dengan mama?"
Deg
Rendy tiba-tiba teringat tentang Marta. Dan dia harus setuju pulang, karena dia ingin memastikan sesuatu.
"Di aku pulang duluan ya? ada yang ingin aku pastikan terlebih dahulu. Biar aku naik taksi saja."
__ADS_1
"Caren. Kamu tolong bicara baik-baik dulu dengan temanku ya? ini bukan salahnya, ini musibah. Kami janji, kami pasti akan menemukan Marta. Tadi kami sudah ke kantor polisi, dan membuat laporan. Mereka akan segera memberikan kabar. Terlebih kami sudah memberikan video pelakunya," ujar Rendy.
"Di aku pergi dulu ya?" pria dihadapanku hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah Rendy pergi, pria itu tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Aku mengekor dibelakangnya, dan hal tak terdugapun terjadi. Pria itu tiba-tiba menutup pintu dan menguncinya.
Greppp
Pria itu tiba-tiba memelukku erat, hingga membuat tubuhku mematung. Dan anehnya aku merasa sangat nyaman berada dipelukkannya itu. Namun setelah aku sadar, aku segera mendorong tubuhnya menjauh.
"Ma-Mas jangan begitu. Ini pelecehan namanya. Me-Meski aku janda, tapi aku juga punya orang yang aku cintai," aku terbata. Sungguh aku takut pria ini memperkosaku.
"Siapa? Rendy?" ini kali pertama kudengar suara pria itu. Suaranya terdengar berat dan belum pernah kudengar sama sekali.
"Bu-Bukan. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan dia." Jelasku.
"Apa kamu sungguh pernah berhubungan badan dengannya?"
"Tidak."
"Berciuman?"
"Tidak."
"Eh? untuk apa aku menjelaskan itu sama Mas? mas memang temannya, tapi itu privasiku," sambungku.
"Lalu siapa yang kamu cintai itu?" tanya pria itu lagi.
"Tentu saja ayah dari anakku. Tapi kenapa anda kepo sekali dengan urusanku? yang anda harus pikirkan adalah, anda itu harus segera menemukan anakku. Karena keteledoran anda, anakku jadi hilang," aku berkata dengan membara.
Pria itu tiba-tiba tertunduk dan diam. Namun hal yang tak terduga lainnya kembali terjadi. Pria itu malah berlutut di depanku, dan merangkul kedua pahaku. Tentu saja perlakuannya membuat tubuhku jadi tegang. Sentuhan itu menurutku terlalu intim.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang selalu membuatmu terluka. Hiks...."
Aku mematung seketika saat mendengar suara pria itu kembali berubah. Suara yang sangat aku kenali, suara yang sangat aku rindukan selama ini. Mungkin dia bisa merasakan, kalau saat ini tubuhku sedang bergetar.
"Di-Dios," ucapku lirih.
Aku meraih topi Dios dengan tangan bergetar, karena aku takut salah mengenali seseorang. Namun saat topi itu terlepas, dan masker itu kutarik, aku bisa melihat wajah Dios sudah dipenuhi dengan air mata.
"Dasar brengsek! kamu tahu aku disini tapi kamu tidak menemuiku? nomorku sengaja kamu blokirkan? aku benci kamu Dios, aku benci kamu. Hiks...."
Aku memukul-mukul dada Dios lumayan keras. Tanpa sadar akupun menampar wajahnya karena aku ingin meluapkan rasa kesalku saat ini.
"Pukul aku. Maki aku. Aku sudah menghilangkan anak kita. Aku ayah yang tidak berguna. Aku tidak bisa melindungi anakku sendiri. Hiks...."
__ADS_1
Kami sama-sama terisak dan saling berpelukkan. Rasanya semua bebanku terangkat, saat Dios memelukku dengan erat.