TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
24. Petarung Gila


__ADS_3

Disarankan baca pas buka ya?πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Aku membuka mataku, saat sinar matahari masuk dari celah jendela kamar Dios. Aku merasakan tubuhku terasa sakit semua, akibat percintaan panas kami yang membara tadi malam. Aku melirik kearah pria yang memuaskanku puluhan kali. Dia tampak tidur dengan damai, dan aku akui dia sangat tampan.


Perlahan aku beranjak dari tempat tidur. Aku tidak mau lama melihatnya, yang akan membuatku tergoda lagi dan akan dilahap habis oleh kejantanannya yang perkasa. Aku segera membersihkan diriku, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Aku buka kulkas Dios. Dan aku hanya menemukan telur didalam sana. Aku juga melihat ada dua bungkus mie instan goreng. Aku memutuskan akan membuat omelet mie dari bahan itu. Aku ingin dia memakannya setelah terbangun nanti.


Setelah selesai, aku putuskan pulang kerumah. Ah...ya Tuhan...aku sampai lupa memasukkan motor maticku kedalam rumah. Beruntung motor itu tidak hilang, meski berada dihalanan rumahku.


Setelah kembali kerumah, aku mencoba menghubungi Delano kembali. Tapi nomor poselnya masih saja tidak aktif. Aku jadi berdecak kesal dibuatnya. Sudah tiga minggu dia di apartemen itu, apa dia tidak ada niat untuk pulang?


Namun saat malamnya aku mendapat chat dari Delano, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, disaat ponselnya sudah aktif. Aku langsung menghubunginya dan beruntung dia juga menjawab panggilan telponku.


"Kamu kapan pulang sih? kangen tauk," tanyaku yang sedikit bersuara manja.


"Minggu depan." Jawabannya jadi membuatku kesal.


"Kok lama banget? kamu punya simpanan di luar kota ya?" tanyaku asal.


"Simpanan apa. Aku hanya mencintaimu saja. Disini banyak klien yang ingin menggunakan jasa kami. Aku sampai kualahan dibuatnya. Sabar ya sayang, satu minggu nggak lama. Aku juga sudah menyuruh temanku buat ngecek rumah baru kita." Jawab Delano.


"Jadi kamu sudah mencari rumah baru kita? dimana?" tanyaku antusias.


"Sudah dong. Aku itu sangat mencintaimu. Aku akan berusaha mewujudkan semua keinginanmu. Aku bahkan mencari rumah yang ada di pusat kota, sesuai keinginamu." Jawab Delano.


"Emm...makasih sayang. Aku sangat senang mendengarnya," ujarku terharu.


"Jadi tunggu aku pulang ya? saat pulang, kita akan langsung pindah dari situ. Kamu pak saja semua barang-barang yang akan kita bawa kerumah baru itu," ujar Delano.


"Iya sayang. Siap." Jawabku.


Delano mengakhiri panggilan itu, dan nomor ponselnya kembali tidak aktif. Ah...apa yang aku lakukan? aku bermain api dibelakangnya, sementara dia tulus membuatku senang dengan giat mencari nafkah. Tapi sesuatu yang terjadi, tidak bisa ku ubah lagi.


Sesuai intruksi dari Delano, aku mulai mengepak barang-barangku. Aku ingin segera pindah dari situ dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.

__ADS_1


Ting


Aku melihat ada suara chat yang masuk. Dan itu berasal dari Dios.


"Sayang. Makasih omeletnya. Aku mencintaimu,"


Aku hanya membacanya saja, tanpa ada niat membalas chat itu. Entah apa yang terjadi padaku. Saat bersamanya, aku menginginkannya. Saat jauh darinya, aku ingin menjauhinya selamanya. Tapi jujur saja, rasa ingin bersamanya lebih kuat dari ingin berpisah dengannya. Apa mungkin aku sudah jatuh cinta padanya?"


Ah...tubuhku yang sakit dan lelah, jadi membuatku ingin tidur kembali. Aku bahkan lupa mengunci pintu depan rumahku, sehingga Dios bisa masuk kamarku dengan mudah.


Aku merasakan ada sesuatu yang men**lat milikku. Aku melengguh, mende**h, karena aku pikir aku tengah berada dialam mimpi saat ini. Namun perasaan itu semakin menjadi dan saat aku maraba bagian bawahku dengan mata terpejam, aku bisa me**mas rambut seorang pria dibawah sana.


Blammmm


Mataku terbuka seketika, namun aku tidak bisa melihat apapun, karena ternyata suasana kamarku sangat gelap. Entah sudah berapa jam aku tertidur, yang pasti saat ini hari pasti sudah larut malam.


"Delano," ucapku lirih karena aku masih menikmati apa yang dilakukan pria itu padaku


Aku pikir Delanolah yang melakukan itu padaku, dan sengaja ingin memberikan kejutan padaku dengan mematikan lampu kamar kami. Untuk sesaat pria itu menghentikan aksinya, saat aku menyebut nama Delano.


Pria itu kemudian mempermainkan milikku hingga tubuhku bergelinjang hebat. Sesaat kemudian tubuhku menggelepar, dan aku menekankan kepalanya dalam-dalam.


"Ah...ano sayang. Aku mencintaimu...ah...." tubuhku mengejang.


Pria itu kemudian melepaskan pakaian atasku hingga aku tidak mengenakan apapun. Dia kemudian bermain dipuncak dadaku. Namun saat perlahan dia mulai memasukkan miliknya padaku, dan mataku sudah bisa menyesuaikan dengan cahaya disekitar kamarku, aku tahu itu bukan Delano. Aku sangat mengenal pemilik benda besar dan panjang itu.


"Heggghhh"


Aku merasakan sesak penuh dibawah sana, saat Dios membenamkan miliknya itu secara utuh. Aku jadi tegang dibuatnya, entah bagaimana perasaan Dios saat aku menuju puncak kenikmatan, aku malah meriakkan nama pria lain. Tapi bukan salahku kan? ini kamarku, Delano juga suamiku. Dia hanya jadi pelampiasan nafsuku saja, karena Delano tidak pernah bisa memuaskanku.


"Kenapa? masih ingin memanggilku dengan nama suamimu. Hem?" bisik Dios, sembari memompa perlahan milikku.


"Kamu keterlaluan kak. Bagaimana bisa kamu menjadikan kamarku, sebagai pelampiasan nafsu kita." Jawabku.


"Kenapa tidak? kita juga sering melakukannya di kamarku," ujar Dios.

__ADS_1


Dios semakin gencar memompaku, hingga suara derit ranjangku semakin berisik.


"Oh...jadi begini suara derit ranjang kalian saat kalian sedang bercinta?" pertanyaan Dios sungguh konyol.


Aku tidak bisa menjawab perkataannya, karena dibawah sana sudah membuatku merasakan nikmat, hingga aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Karena aku tidak menjawabnya, dan aku menahan suara merduku, Dios menyerbu bibirku. Setelah puas dia menegakkan tubuhnya, dengan kedua tangan berpegang pada kedua bukit kembarku. Dios bergerak semakin keras, hingga tubuhku berguncang hebat. Ah...Dios memang luar biasa, Aku mengerang berkali-kali dibuat olehnya. Dan malam itu kami kembali melakukannya secara berulang-ulang. Kini giliran dia yang tidur dikamarku.


*****


Puk


Puk


Puk


"Kak. Bangunlah!" aku menepuk wajahnya dengan pelan. Pria itu menggeliat, hingga selimut yang menutupi tubuhnya tertarik, dan memperlihatkan kejantanannya yang terbangun.


Aku tarik lagi selimut untuk menutupinya. Aku tidak mau kembali melahapnya dengan liangku.


"Sayang. Kamu sudah bangun? apa mau lagi. Hem?" dia menggodaku dengan senyum tampannya.


"Jangan gila. Kakak harus pulang, takutnya Delanio datang." Jawabku.


"Iya sayangku," ujar Dios.


Dengan tidak tahu malunya dia beranjak tanpa menutupi kejantanannya. Seolah dia menganggapku miliknya, dan tidak malu sama sekali. Dios pergi ke kamar mandi dan berpakaian setelahnya.


"Peluk aku sebelum pergi," ujar Dios.


Aku menurutinya, agar dia cepat pergi dari rumahku. Aku akui pelukkannya sangat membuatku nyaman, dan enggan melepaskannya.


Cup


Dios mencium keningku cukup lama, entah mengapa aku jadi benar-benar merasa sangat dicintai oleh pria itu.

__ADS_1


__ADS_2