
Sekar menenteng sebuah tas berukuran sedang. Sekar pulang kerumah sekitar 2 jam yang lalu. Setelah membersihkan diri, sarapan dan menyiapkan pakaian ganti untuk Dios, Sekarpun kembali ke rumah sakit. Saat dia akan menekan handle pintu, seorang dokter keluar dari ruangan dimana Dios dirawat.
"Ibu Caren sudah datang? suami anda selalu memanggil-manggil nama anda tadi. Mungkin karena suhu tubuhnya masih tinggi, jadi pak Dios sedikit mengigau," ujar dokter.
"Caren? maaf nama saya bukan Caren.Tapi Sekar," ucap Sekar.
Dokter itu diam seketika. Ada rasa tidak enak hati dia menyebutkan nama wanita lain, sementara Sekar adalah istri dari pasiennya.
"Maaf. Jadi siapa Caren yang dia sebut? mungkin dengan kehadirannya, pak Dios jadi cepat sembuh," tanya dokter.
"Dia saudara jauh kami." Jawab Sekar asal.
"Ya sudah kalau begitu silahkan anda temani suami anda. Kami baru saja mengambil sample darah, dan akan di cek di laboratorium. Dikhawatirkan pak Dios terkena tipus atau demam berdarah," ujar dokter.
"Silahkan," ucap Sekar.
Dokter melangkah pergi, sementara Sekar masuk kedalam ruangan. Perlahan Sekar mendekat, dan benar saja. Dios masih saja mengigau menyebut nama Caren.
"Caren. Sayang, jangan tinggalkan aku lagi. Kembalilah...aku sangat mencintaimu,"
Kata-Kata itu disebut Dios berulang-ulang, hingga membuat Sekar jadi mengerutkan dahinya.
"Di-Dios mencintai Caren? Caren yang mana dia maksud? tidak mungkin Caren temanku kan? atau nama mantan kekasih yang di cintainya itu bernama Caren juga? selama ini aku memang tidak pernah tahu namanya," ucap Sekar lirih.
Namun saat Dios menyebutkan kata-kata anak, Sekar sangat syok mendengarnya. Rasanya dia tidak percaya kalau Caren yang dimaksud Dios, adalah Caren yang sama.
"Sayang. Jangan bawa anak kita. Bawa juga aku bersamamu. Caren, aku sangat merindukanmu," air mata Dios meleleh dipipinya.
Sekar menutup mulutnya, dia jadi ikut menangis. Saat dia dalam kebingungan, seorang suster masuk kedalam ruang perawatan, karena ingin memberikan jatah obat untuk Dios.
"Suster. Saya boleh minta tolong tidak?" tanya Sekar sembari menyeka air matanya.
"Minta tolong apa ya bu?" tanya Perawat.
__ADS_1
"Saya mau pulang sebentar.Tolong jaga suami saya, ada yang ketinggalan dan itu sangat penting," ujar Sejar.
"Baiklah." Jawab Perawat.
Sekar bergegas pulang karena ingin memastikan sesuatu. Selama perjalanan pulang, Sekar berpikir keras dan mengingat-ngingat sesuatu agar semuanya jadi terhubung. Namun Sekar tidak ingin menyimpulkan secara dini. Dia tidak ingin menuduh suaminya sebelum ada bukti yang nyata.
Setelah sampai kerumah, Sekar bergegas menaikki anak tangga, untuk menuju kamarnya. Sekar langsung memeriksa lemari untuk mencari petunjuk dari segala pertanyaan dibenaknya. Namun sampai semua isi pakaian Dios dikeluarkan, Sekar sama sekali tidak menemukan apapun.
Sekar lalu memeriksa kedalam laci, kedalam loker dan dibawah ranjang. Namun juga tidak menemukan petunjuk apapun. Sekar terlihat lesu dan duduk ditepi tempat tidur. Namun matanya tiba-tiba menatap sebuah koper diatas lemari. Koper Dios yang dibawa pria itu ketika pertama kali menginjakkan kaki dirumahnua itu.
Sreeetttt
Sekar menarik resleting koper itu perlahan. Jujur saja, degup jantungnya saat ini sangatlah kencang. Dia sangat takut, apa yang dia pikirkan beberapa waktu yang lalu adalah sebuah kenyataan.
Sekar menatap sebuah kotak berwarna merah yang diletakkan didinding koper bagian dalam. Sekar meraih kotak itu, dan menemukan sebuah kalung berbahan logam mulia. Didalam kotak itu juga ada sebuah surat yang sedikit agak lecek, namun tulisan didalamnya masih bisa Sekar baca.
Alangkah terkejutnya Sekar, saat membaca kata-kata terakhir, sang penulis surat bernama Caren Martadinata. Nama yang sama dengan sang penulis surat untuk dirinya beberapa hari yang lalu. Sekar terhuyung lemas, dengan air mata yang terjun bebas.
Sekar jadi teringat kilas balik, saar pertemuan antara Dios dan Caren. Saat itu Sekar baru menyadari tatapan yang Caren berikan untuk suaminya adalah tatapan kerinduan, sementara Dios menatap Caren dengan tatapan benci tapi rindu.
"Ya Tuhan...apa yang sudah aku lakukan. Aku bahkan saat itu selalu beradegan mesra dengan Dios. Caren pasti merasa cemburu dan sakit hati. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Eh? kalau anak yang dikandung Caren anak Dios, itu artinya anak itu anakku juga kan?"
Sekar tiba-tiba tersenyum semringah. Dia sangat senang, saat mengetahui dirinya bisa menjadi seorang ibu meskipun hanya ibu sambung. Namun saat teringat Caren sudah pergi entah kemana, Sekar jadi kembali bersedih.
"Pokoknya aku harus menyuruh orang ahli untuk menyelidiki keberadaan Caren. Aku sudah tua, dan usiaku sudah tidak lama lagi. Harus ada yang meneruskan usahaku, minimal itu anak sambungku," ucap Sekar.
"Tapi...."
Sekar tiba-tiba menghela nafas panjang. Dia sadar usianya sudah tidak lama lagi. Dan dia sadar pernikahan antara dirinya dan Dios bukan seperti pasangan normal pada umumnya. Namun sekuat apapun dirinya membentengi diri, pada akhirnya dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Dios sang suami berondongnya. Namun sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaannya dari Dios, karena dia sadar betul dirinya sudah tua dan tak lagi menggairahkan.
Setelah merenung agak lama, Sekar memutuskan kembali ke rumah sakit. Kini perasaannya cukup lega, karena semua yang tersimpan akhirnya terungkap. Kini dia hanya memikirkan bagaimana cara agar bisa menemukan Caren dan menyatukan Dios dengan wanita itu.
__ADS_1
"Sekar. Kamu harus sadar usia. Kamu hanya butuh Dios untuk menjagamu sampai kamu tutup usia. Sementara Dios sama sekali tidak mencintaimu sampai kapanpun. Hatinya hanya milik Caren seorang, kamu tidak boleh egois. Paling tidak kamu melakukannya demi anak sambungmu," batin Sekar.
Setelah memakan waktu hampir 30 menit, Sekar akhirnya tiba di ruamh sakit. Yang ternyata kesadaran Dios sudah membaik.
"Kamu darimana saja?" tanya Dios.
"Pulang. Ada yang harus aku pastikan " Jawab Sekar.
Dios mengerutkan dahinya saat melihat mata Sekar agak sembab dan merah.
"Kamu kenapa? habis nangis? kenapa?" tanya Dios.
"Aku nangisin kamu, karena kamu lama sadarnya." Jawab Sekar asal.
"Kemarilah!" ujar Dios yang langsung didekati oleh Sekar.
Dios meraih tangan Sekar, dan meletakkannya dipipinya.
"Maafkan aku sudah membuatmu khawatir," ujar Dios.
"Tidak masalah. Asal jangan sering-sering. Kamu bisa membuatku mati dengan cepat, karena terlalu khawatir," ucap Sekar.
"Tidak lagi. Aku sudah agak membaik, kamu atur saja agar aku pulang hari ini," ujar Dios.
"Jangan bandel. Patuhi dokter. Kata dokter minimal kamu harus dirawat selama 3 hari, atau sampai keadaanmu benar-benar baik," ucap Sekar
"Ah...baiklah," ujar Dios.
Sekar menatap mata Dios. Tatapan yang membuat kening Dios jadi mengerut.
"Ada apa?" tanya Dios.
"Tidak apa-apa. Cepatlah sembuh." Jawab Sekar.
__ADS_1
Ternyata Sekar masih belum sanggup membongkar semuanya saat ini. Mungkin Sekar butuh waktu dan keberanian untuk membahas masalah Caren dengan Dios.
To be continue...🤗🙏