
Sesuai kesepakatan, aku, Dios dan Marta hari ini kami berangkat ke kota Surabaya buat liburan, sekalian ingin bersilahturahmi ke rumah tante Sekar. Anakku yang sudah mulai mengoceh, terlihat senang saat melihat keramaian di bandara. Setelah menunggu beberapa lama kemudian, pesawat kami akhirnya mengudara.
"Ah...akhirnya kita tiba juga," ujar Dios saat kami baru tiba di bandara Juanda.
Aku merasakan pinggangku lumayan pegal, karena terlalu lama duduk.
"Kita mau kemana sekarang kak? apa kita langsung saja pergi ke rumah tante Sekar?" tanyaku.
"Apa kamu tidak masalah dengan itu?" tanya Dios.
"Tidak. Lebih cepat lebih baik. Setelah itu kita bisa langsung cari penginapan buat liburan." Jawabku.
"Baiklah. Biar aku pesan taksi dulu ya?"
"Emm." Aku mengangguk.
Setelah mendapatkan taksi, kamipun segera pergi ke rumah tante Sekar. Hanya butuh waktu 45 menit, kami akhirnya tiba di kediaman tante Sekar. Satpam bergegas membukakan pagar, saat melihat Dios turun dari taksi.
"Tuan Dios. Akhirnya anda datang juga. Kenapa nomor ponsel tuan tidak bisa dihubungi? nyonya sedang sakit keras, dia selalu menyebut-nyebut nama tuan," ujar Satpam.
Perkataan satpam itu terhenti, saat melihat aku dan Marta turun dari taksi.
"Non," sapa satpam itu dengan senyum kaku. Mungkin pria itu sudah tahu, penyebab perceraian tuannya adalah aku.
"Dimana nyonya sekarang?" tanya Dios.
"Di kamarnya. Tapi tuan, anda jangan terkejut saat melihat nyonya sekarang. Dia...."
Suara pria itu tercekat ditenggorokkannya, dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa banyak kata lagi Dios bergegas masuk kedalam, bahkan dia sampai lupa ada aku dan Marta yang mengekor dibelakangnya.
Semua mata pelayan tertuju pada kami, saat kami memasuki rumah. Ada rona bahagia diwajah mereka saat melihat kehadiran Dios di rumah itu. Aku perlahan menaiki anak tangga mengikuti Dios dari belakang. Meski sembari menggendong Marta, namun akhirnya aku bisa sampai diujung tangga juga.
Kriekkkk
Aku bisa melihat kalau Dios menekan handle pintu dengan tidak sabar. Mata Dios dan mata Tante Sekar bersitatap. Bisa Dios lihat air mata wanita yang tergolek lemah diatas tempat tidur itu mengucur tiba-tiba saat melihat kedatangan Dios.
"Di-Dios. Kamu datang? kamu akhirnya datang? hikz...." Tante Sekar terisak dipelukkan Dios. Karena Dios meraih tubuh kurus kering itu masuk kedalam pelukkannya.
Aku tidak tahu mengapa, aku masih bisa merasakan ada letupan cemburu didadaku ini. Padahal aku tahu Dios sudah menjadi milikku secara utuh. Aku bisa melihat, tubuh Dios juga bergetar. Yang menandakan kalau pria itu juga sedang menangis.
"Ada apa denganmu? kenapa kamu bisa begini? bukankah aku sudah mengatakan padamu, kalau kamu harus hidup dengan baik setelah aku pergi?" tanya Dios disela isak tangisnya.
Bukan tanpa alasan Dios berkata demikian. Melihat tubuh tante Sekar saat ini memang sangatlah memprihatinkan. Tubuh tante Sekar hanya tinggal kulit dengan tulang. Aku bahkan sangat sulit mengenali wajah asli wanita itu lagi. Tubuhnya terlampau kurus, tante Sekar tidak mampu lagi buat berjalan menginjakkan kakinya ke bumi.
"Aku tidak bisa tanpa kamu. Cuma kamu penyemangat hidupku. Kalau penyemangat hidupku tidak ada, itu artinya kematianku akan segera datang." Jawab Tante Sekar.
Jawaban yang membuat jantungku berdebar lebih cepat.
"Sekarang aku sudah datang. Kamu harus semangat buat sembuh," ucap Dios.
__ADS_1
"Apa itu artinya kamu ingin tinggal disini lagi?" tanya Sekar.
"Iya."
Jawaban Dios seperti petir menyambar tubuhku. Aku tidak tahu perkataannya itu serius, atau hanya sekedar ingin menyenangkan hati wanita itu saja. Tapi jujur saja, aku merasa sangat kecewa dengan keputusan Dios yang dia buat secara sepihak itu.
Aku merasa aku seolah tidak dia anggap ada. Aku tahu tante Sekar sedang sakit, tapi bukan berarti dia harus membuat wanita itu sembuh, sementara dia membuatku yang sakit dan menderita.
Aku bisa melihat tante Sekar tersenyum bahagia dalam pelukkan suamiku itu.
"Ehem...." Aku berdehem, Dios akhirnya melepaskan pelukkannya pada Sekar, dan membantu wanita itu berbaring perlahan.
"Kamu sudah menemukan Caren? apa itu anak kalian?" tanya tante Sekar.
"Ya. Aku sudah menemukannya, dan itu juga anak kami." Jawab Dios.
"Apa kalian sudah menikah?" tanya Sekar.
Dios tiba-tiba terdiam. Tanpa Dios sadari, diamnya itu membuat hatiku sangat terluka. Dia seolah begitu berat mengakui kalau aku ini istrinya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Tapi yang pasti aku sangat kecewa padanya. Aku menunggu-nunggu apa yang ingin Dios jawab, namun pria itu malah mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan tante Sekar.
"Kamu sudah makan dan minum obat belum?" tanya Dios.
"Belum." Jawab tante Sekar.
"Tunggu sebentar, biar aku ambilkan makanan untukmu," ujar Dios.
Dios berlalu dari hadapanku, tanpa perduli dengan perasaanku. Ada apa dengannya? hatiku masih bertanya-tanya.
Aku mendekat perlahan, dan kugenggam salah satu tangan tante Sekar.
"Tante cepat sembuh ya?" ucapku.
"Caren. Apa kalian sudah menikah?" tanya tante Sekar.
"Soal itu tanyakan saja pada Dios. Tante jangan dulu banyak pikiran, nanti kesehatan tante terganggu." Jawabku.
"Caren. Usia tante tidak akan lama lagi. Maukah kalian tinggal disini sampai ajal tante datang? penyakit tante sudah menggerogoti organ dalam tante, dan dokter sudah memvonis kalau usia tante kurang dari dua bulan lagi," ucap tante Sekar.
Perkataan tante Sekar membuatku sangat terkejut. Aku sangat prihatin dengan dengan keadaan beliau saat ini.
"Dokter itu bukan Tuhan. Kalau Tuhan sudah berkehendak, tante pasti bisa sembuh kok. Aku kesini karena ingin menjenguk tante. Maaf tante, dirumahku orang tuaku sedang sakit juga. Jadi tidak ada yang mengurus. Papa baru sembuh dari lumpuh, sementara mama saat ini sedang buta. Jadi aku tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama."
Aku menjawab dengan tegas. Karena aku tidak ingin memberikan harapan untuk tante Sekar.
"Kalau begitu bolehkah Dios yang menemaniku disini?" tanya tante Sekar.
Aku terdiam. Aku bingung harus menjawab apa. Fisikku memang sehat, tapi aku dan Marta juga butuh Dios disamping kami.
"Kalau soal itu tante juga harus menanyakan padanya. Aku tidak ada kewenangan untuk menjawabnya." Jawabku.
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki semakin mendekat kearah kami. Dios datang dengan membawa semangkok bubur dan segelas panjang air putih.
"Makan dulu ya? biar cepat sembuh," ujar Dios.
Dios kemudian menyuapi Sekar makan dengan telaten. Dios seolah tidak peka, kalau saat ini aku lelah, karena sejak tadi menggendong Marta.
"Kamu mau kemana?" tanya Dios saat aku ingin melangkah keluar kamar itu.
"Mau cari angin." Jawabku seadanya.
"Aku sudah menyuruh pelayan buat menyiapkan kamar tamu dibawah. Kamu bisa beristirahat disana," ujar Dios.
"Emm." Aku menganggukkan kepalaku kemudian melangkah pergi.
"Aku sudah bicara dengan Caren. Dios, dokter sudah memvonis umurku tidak lebih dari bulan lagi," ujar Sekar.
"Dokter bukan Tuhan. Aku yakin kamu akan cepat sembuh," ucap Dios.
"Aku tahu dokter bukan Tuhan. Tapi aku pribadi juga bisa merasakan, kalau penyakit itu semakin hari semakin menggerogotiku. Saat sakit itu datang, nyawaku seakan hendak terputus saat itu juga,"
"Dios maukah kamu menuruti permintaan terakhirku?" tanya Sekar.
Dios jadi teringat dengan permintaan Sekar yang aneh. sehingga membuat hubungannya dan Caren cerai berai.
"Selagi aku mampu dan masuk akal, aku akan mengabulkannya." Jawab Dios.
"Maukah kamu menemaniku disini sampai ajal menjemputku? aku ingin kamu berada disisiku., menemani saat-saat terakhirku," tanya Sekar.
"Aku akan bicarakan in dengan Caren dulu," ujar Dios.
"Tapi Caren menyuruhku bertanya padamu," ucap Sekar.
Dios terdiam. Dia jadi dilema kembali. Dios menatap wajah Sekar yang kering kerontang. Sesaat kemudian Dios menganggukkan kepalanya. Sekar ingin bangkit, dan dibantu oleh Dios. Merekapun saling berpelukkan.
Sementara aku yang mendengar dan menyaksikan hal itu, hanya bisa menangis dalam diam. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Dios. Aku tahu dia orang yang baik. Kebaikkannya itu memang tidak bisa diukur. Aku bahkan masih bisa merasakan kebaikannya itu begitu tulus terhadap orang tuaku. Tapi seharusnya dia juga mengerti, saat ini dia sudah memiliki istri dan anak. Dan aku sudah bertekad akan meluruskan hal ini seecepatnya.
"Sayang. Aku perlu bicara penting denganmu, ini soal Sekar yang...."
"Bukankah kamu sudah mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya dulu padaku? lalu untuk apa kamu bertanya lagi padaku , kalau cuma kamu jadikan formalitas saja. Disini kamulah imamnya, jadi kamu tidak perlu bertanya lagi pendapatku karena itu sama sekali tidak penting,"
Aku berkata dengan penuh emosi, hingga Dios jadi mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu?" tanya Dios.
__ADS_1
"Sudalah kak. Aku sudah mendengar semuanya tadi. Kamu sudah menyetujui permintaan Sekar buat tinggal disini sampai waktu yabg tidak ditentukan. Iya kalau matinya 2 bulan, kalau matinya 2 tahun apa kamu akan tinggal disini 2 tahun juga?"
Entah ada apa denganku. Emosiku benar-benar meluap saat ini. Aku seolah hilang kendali dan melebihi batasanku hari ini, dan aku bisa melihat, kalau Dios tidak suka mendengar perkataanku yang kasar.