TERJEBAK HASRAT TERLARANG

TERJEBAK HASRAT TERLARANG
82. Sampai Kapan?


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu dari kematian tante Sekar, Dios masih belum bisa di ajak bicara dengan normal. Baru kemarin dia pulang dari Surabaya untuk mengurus semua aset-aset peninggalan tante Sekar. Aku tidak tahu dia menganggapnya sepenting apa, tapi yang pasti hatiku sedang bertanya-tanya saat ini. Sampai kapan dia bersikap dingin seperti ini!


"Kemarilah!"


Malam hari setelah dia pulang dari kota Surabaya, dia memanggilku. Aku bisa melihat ada 5 tumpuk kotak perhiasan yang ukurannya besar, di depan Dios yang tengah duduk saat ini.


Aku duduk di tepi tempat tidur sembari memangku Marta.


"Sesuai amanat Sekar. Perhiasannya ini semua untukmu. Simpanlah!" ujar Dios.


Tanganku sama sekali tidak bergeming, meskipun Dios sudah memerintahkan aku untuk mengambil kotak perhiasan itu.Dios kemudian membukanya satu persatu. Untuk ukuran wanita yang gila harta, pastilah matanya akan berbinar saat melihat keindahan perhiasan itu. Tapi bagiku itu tidak berarti, karena aku sudah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu.


Aku menilai tante Sekar orang yang sangat apik. Setiap kotak berisi barang yang berbeda. Semua jenis cincin dia satukan dengan kumpulan cincin. Begitu juga sebaliknya. Namun aku hanya meliriknya sekilas, aku lebih tertarik ingin berbicara dengan Dios saat ini.


"Apa kita masih belum bisa berbicara dengan normal? sampai kapan?" tanyaku.


"Kamu kenapa lagi sih yank?" tanya Dios.


"Kamu itu yang kenapa? kamu sebenarnya nganggap aku ada nggak sih? kapan terakhir kamu gendong Marta?" tanyaku denga air mata yang sudah mengucur.


Dios melirik kearah Marta, dan tiba-tiba ingin menggendong putraku itu. Namun secepat mungkin aku menarik Marta menjauh, aku tidak ingin Dios menyentuhnya.


"Tidak perlu basa basinya. Kamu juga nggak kepikiran buat gendong dia kalau aku nggak nanya," ucapku dengan berapi-api.


Dios kemudian menghela nafas panjang, dan menyingkirkan semua perhiasan itu kedalam tas.


"Apa kamu nggak capek kita bertengkar terus? dan bahan pertengkaran, pasti ada sangkut pautnya dengan Sekar yang sudah meninggal,' tanya Dios.


"Aku tidak perduli soal yang sudah meninggal? aku tanya kamu, kamu itu kenapa sekarang ini berubah? apa kamu sudah bosan sama aku?" tanyaku asal.


"Astaga...kok mikirnya kemana-mana sih? akhir-akhir ini aku merasa kecapek'an. Tolong kamu sedikit mengertiku ya?"


"Ya sudah. Karena aku ingin mengertiin kamu, bagaimana kamu terima saja usulku ini?" tanyaku.


"Usul? usul apa?" tanya Dios.

__ADS_1


"Aku ingin kita pisah." Jawabku.


"Apa maksudmu? jangan pernah ada muncul ide gila begitu. Nggak! aku nggak akan setuju," ujar Dios.


"Kamu harus setuju. Aku ingin kita sama-sama menyadari, seberapa penting arti kita masing-masing,"


"Tidak perlu lagi kamu pertanyakan itu. Tentu saja kamu dan Marta sangat penting bagiku. Sayang, percayalah. Tidak ada masalah diantara kita sebenarnya. Aku hanya lelah akhir-akhir ini. Aku cuma butuh waktu buat nenangin diri," ujar Dios.


"Sama seperti dirimu, aku juga butuh menenangkan diri. Aku ingin kita pisah selama 6 bulan. Kalau selama 6 bulan itu kamu nemuin orang yang bisa membuatmu bahagia, kamu boleh menggugat cerai aku. Begitu juga sebaliknya."


"Jangan gila kamu. Mana mau aku pisah sama kamu. Yank, masalah kita masih bisa diselesaikan dengan baik-baik," ujar Dios.


"Tentu saja bisa. Tapi aku sudah lelah, aku ingin sendiri dulu." Jawabku dengan tegas.


"Aku harus bagaimana agar kamu percaya, kalau aku itu sangat mencintaimu dan menyayangimu Caren. Jangan hanya karena aku bertingkah sedikit nyeleneh, kamu selau seenaknya bilang mau pisah," ucap Dios.


"Mungkin bagimu komunikasi tidak terlalu penting, tapi bagiku itu sangatlah penting. Nanti disaat aku tidak ada, kamu bebas untuk bersikap diam semaumu. Karena kalau aku ada disini, dan kamu bersikap seperti itu. Aku sangat merasa sekali cuma hidup numpang disini. Terlebih ada kedua orang tuaku yang juga menjadi bebanmu,"


"Aku nggak pernah berpikir begitu yank...astaga, darimana kamu punya pemikiran seperti itu?"


Aku langsung berdiri dari tepi tempat tidur, namun dihalangi oleh Dios.


"Kumohon jangan seperti ini yank. Aku malu sama papa dan mama," ujar Dios.


"Tapi tanpa kamu sadari, mereka juga merasa kalau mereka menjadi beban untukmu. Mereka merasa kamu membenci mereka karena mereka menjadi bebanmu disini. Jadi aku sudah memutuskan kami ingin kembali ke kota J,"


Dios langsung melepas genggaman tangannya padaku, dan berlari keluar. Aku pikir dia sedang marah karena keputusanku itu, tapi ternyata dia menemui papa dan mama di kamar mereka.


"Pa, Ma," sapa Dios setelah masuk kedalam kamar kedua orang tuaku.


"Di? ada apa? kemarilah!" ujar Papa.


"Pa, ma, aku ingin minta maaf sama kalian. Aku mohon jangan pernah merasa kalau aku membenci kalian, atau merasa kalian merepotkan aku. Ini rumahku dan rumah Caren.Yang berarti ini rumah kalian juga. Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini sikapku agak dingin, aku sedang banyak pikiran," ujar Dios panjang Lebar.


Aku yang mengintip mereka dari balik tembok, sempat melihat kalau papa menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Papa dan mama tidak masalah. Tapi Caren , kamu tahu sendiri usianya baru mau menginjak 24 tahun. Dia bersikap dan bertindak sesuai apa yang ada dipikirannya. Tapi meski begitu, kamu juga tidah boleh mengabaikan semua keluhannya itu."


"Kalian itu pasangan suami istri. Apapun masalahnya, apapun yang ingin direncanakan, seharusnya kalian diskusikan bersama. Istri itu bukan cuma sekedar teman hidup, teman tidur, dan pencetak anak. Istri adalah tempat kita berbagi segala hal, baik suka maupun duka," sambung papa.


"Iya pa aku sadar aku salah. Aku egois karena merasa usialu lebih tua darinya. Aku pikir karena aku lebih tua, semua keputusan yang aku ambil adalah yang paling bijak. Tapi ternyata aku keliru. Sekarang Caren sangat marah padaku, dia bahkan berencana ingin meninggalkan aku. Aku harus bagaimana sekarang? hiks...."


Aku melihat Dios terisak. Aku menutup mulutku, agar isak tangisku tidak terdengar ke dalam.


"Tolong papa bujuk dia. Aku nggak mau pisah dari dia pa. Cuma Caren dan Marta hartaku yang paling berharga saat ini," ucap Dios.


"Kalau soal itu papa akan coba bantu ngomong ya? tapi papa nggak menjamin kalau dia bakal mau tetap tinggal disini. Caren itu orangnya sabar sekali selagi dia mau bersabar. Tapi dia akan hilang kesabaran, kalau sudah dia rasa cukup," ujar papa.


"Dan kesabaran itu sudah mencapai pada batasannya. Kamu tidak perlu lagi membujuk papa dan mama soal ini. Besok kami akan perhi dari rumah ini,"


Aku masuk tiba-tiba mengejutkan semua orang. Dios bergegas berlari kearahku dan meraulih kedua kakiku. Pria itu terisak dan memohon agar aku tidak pergi dari rumah itu.


"Sayang aku mohon maafkan aku. Aku janji nggak akan ngulang kebodohan itu lagi. Please..."


"Rasanya adegan seperti ini sudah berapa kali kamu lakukan ya? tapi kenyataannya kamu ulangi lagi kan?" tanyaku.


"Aku tahu aku salah yank. Tolong minimal lakukan ini demi Marta. Please...."


"Tidak bisa. Keputusanku sudah bulat, kita akan berpisah dulu selama 6 bulan. Biarkan hati kita diberikan waktu dulu untuk menata hati dulu. Dios, jujur saja aku sangat lelah menghadapi permasalahan kita selama ini. Karena disini akulah yang selalu berpikir keras cara menyelesaikan masalah yang selalu kamu anggap enteng itu,"


"Aku juga memohon padamu. Berikan juga waktu padaku. Aku benar-benar butuh sendiri dulu. Aku ingin berpikir ulang dulu, apa hubungan kita ini memang layak di pertahankan, atau kita bubarkan saja," sambung Dios.


"Baik kalau kamu memang butuh waktu buat sendiri, aku beri waktu kamu selama 3 bulan. Aku tidak setuju kalau selama 6 bulan. Aku pasti akan merasa tersiksa. Kalau selama 3 bulan, aku bisa menganggapmu pergi berlibur. Kamu tidak perlu pulang ke kota J, aku akan menyiapkan penginapan disebuah pulau yang cocok untuk kamu nenangin diri,"


Ucapan Dios lagi-lagi membuatmy tersenyu. sinis. Tanpa pria itu sadari, pria itu kembali mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan pendapatku di dalamnya..


"Maaf. Tapi aku tidak mau kepergianku ada ikut campur tanganmu di dalamnya. Kamu tudak perlu mengatur tempat kepergianku, karena aku ingin kemanapun akan menjadi urusanku,".


"Kok gitu yank? aku mengkhawatirkan keselamatan kamu dan Marta. Aku tetap ingin kalian berada dalam pengawasanku," tanya Dios.


"Selama kamu tidaj ada aku bisa mengurhs Marta dan diriku sendiri. Aku tidak butuh kamu terlibat di dalamnya." Jawabku dengan tega.

__ADS_1


Dios menatapku dengan dalam. Pria itu kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat. Dios kemudian keluar kamar itu, dan kembali ke kamar kami.


__ADS_2