
"Eh? ke-kenapa aku tidak mengenakan pakaian?"
Aku cukup terkejut, saat aku menyadari saat ini aku tengah tidak mengenakan apapun di balik selimut.
"Apa mungkin saat bermimpi aku melepaskan pakaianku sendiri?"
Aku bergegas bangkit dari tempat tidur, dan mematut diriku di cermin. Mataku terbelalak, saat melihat ada banyak tanda merah di dadaku. Aku tiba-tiba merasakan aliran darahku terasa terhempas dari ujung kepala ke ujung kakiku. Aku jadi merinding seketika, kurasakan nafasku naik turun. Aku masih tidak mengerti apa yang sudah terjadi padaku saat ini.
Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah kalung yang melingkar di leherku. Kalung emas dengan bandul bulat yang begitu indah. Aku merabanya, namun bukannya aku senang, aku malah merasakan takut yang luar biasa.
"Ya Tuhan...ja-jadi yang semalam itu nyata atau mimpi? tapi tidak mungkin dia ada disini bukan? atau jangan-jangan aku bermimpi melakukan itu dengan Dios, sementara pada kenyataannya aku melakukannya dengan orang lain? tapi siapa?"
Aku bergegas keluar kamar setelah mengenakan pakaianku kembali. Tak ada siapapun di dapur maupun ruang tamu. Aku memeriksa pintu rumahku, namun masih dalam keadaan terkunci. Begitu juga dengan jendela rumahku. Hanya satu yang lolos dari pantauanku, yaitu jendela kamarku.
"Ap-Apa aku sudah diperkosa oleh mahluk halus?"
Ah...aku sungguh setres memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Aku kemudian bergegas mandi, meskipun ribuan pertanyaan mengusik pikiranku. Setelah itu aku langsung memakai pakaianku dan langsung pergi bekerja.
Karena kejadian semalam, aku jadi tidak enak makan. Seharian aku terpikir oleh kejadian itu. Aku jadi tidak enak hati. Seharian aku berpikir tentang kejadian tadi malam.
Karena terlalu asyik melamun, aku jadi terkejut saat seorang anak remaja menyapaku.
"Kak. Beli bunga," ujar remaja laki-laki itu.
"Bunga apa dek?" tanyaku.
"Mawar. Pamanku ingin memberikannya untuk kekasih hatinya, jadi jangan pula kakak lupa tuliskan kartu ucapannya," ujar remaja lelaki bermulut tua itu.
"Berapa tangkai?" tanyaku kembali.
"Satu bucket."
"Baiklah tunggu ya?
"Ya."
Aku mulai merangkai bunga mawar itu dengan indah. Dan setelah selesai ku letakkan dihadapan lelaki remaja itu.
"Kartu ucapannya kak tolong tulis," ujar lelaki remaja itu.
Aku mengambil kartu ucapan dari laci berbahan plastik. Dan sebuah pena berwarna hitam dari sana.
"Apa isi ucapannya?" tanyaku.
__ADS_1
"Teruntuk wanita tercantik di dunia,"
"Terus?" aku bertanya setelah selesai menuliskan kalimat pertama yang disebutkan oleh lelaki remaja itu.
"Aku mencintaimu,"
"Apa itu saja?" tanyaku kembali.
"Masih ada dua kata lagi kakak." Jawab lelaki remaja itu.
"Apa?" tanyaku.
"Carenina Martadinata."
Tanganku tiba-tiba terhenti. Aku menatap adik laki-laki di depanku. Namun wajahnya hanya memandangku dengan datar.
"Ada apa kak?" dia bertanya padaku dengan wajah serius.
Aku menghela nafas. Kejadian semalam membuatku selalu berpikiran macam-macam. Ditambah hari ini secara kebetulan adik di depanku menyebut namaku dengan tepat. Aku kemudian menuliskan saja nama itu di kartu ucapan.
"Berapa kak?"
"150 ribu." Jawabku.
"Makasih kak,"
"Emm." Aku mengangguk. Ku tatap punggung lelaki remaja itu yang kian lama kian menjauh dan hilang diantara kerumunan orang.
Seperti hari-hari sebelumnya, aku pulang dari tempat bekerja tepat pada pukul 5 sore. Aku pulang dengan berjalan kaki, dan mampir membeli makanan sebelum benar-benar sampai ke rumah.
Saat aku pulang ke rumah, aku menemukan sebuket bunga mawar di meja teras depan rumahku. Aku mengerutkan dahi saat melihat bunga itu. Aku meraihnya dan membaca kartu ucapan yang sangat aku kenal.
"Sebenarnya siapa yang ingin bermain-main denganku. Kalau ini perbuatan Dios, aku rasa tidak mungkin. Sangat jelas dia sangat membenciku, dan tidak ingin bertemu denganku lagi. Lagipula dia sudah punya istri, mana mungkin dia berada disini,"
Sejak kejadian itu sudah satu minggu tiap hari aku menerima bucket bunga yang sama setiap harinya. Hanya saja aku masih bertanya-tanya dalam hatiku, apakah kejadian malam itu benar-benar nyata? tapi kalau tidak nyata, kenapa ada tanda kepemilikkan di dadaku?
Dan sejak kejadian itu pula aku jadi mengunci pintu dan jendela secara rapat. Bahkan aku sengaja menggembok rumahku secara double.
*****
"Apa kamu sudah menemukan lokasi yang bagus?" tanya Sekar diseberang telpon.
"Sudah. Saat ini aku sedang negosiasi harga tanah. Aku ingin membangunnya dari nol. Aku juga akan mengurus surat IMB dan surat izin usaha." Jawab Dios.
__ADS_1
"Kapan kamu kembali? aku merindukanmu," tanya Sekar.
Dios memijat kepalanya. Malam ini dia berencana menemu Caren kembali. Sejak kejadian malam itu, dirinya memang belum menemui Caren lagi karena terlalu sibuk mengurus pengembangan usahanya. Dios hanya mengirim bunga untuk wanita yang di cintainya itu.
"Aku akan mengabarimu saat aku kembali nanti." Jawab Dios.
"Aku menunggumu. Aku berubah pikiran. Aku ingin meminta hakku sebagai seorang istri. Dan aku akan memberikan hakmu sebagai suami. Apa kamu senang?" tanya Sekar.
"Eh? i-iya senang." Jawab Dios sembari memijat dahinya.
"Ya sudah kamu istirahat saja ya? jangan lupa makan dan jaga kesehatan," ujar Sekar.
"Emm." Dios dan Sekar mengakhiri percakapan itu.
Dios lagi-lagi menghela nafas panjang. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak dalam hatinya, namun dia bisa apa? dia sudah bertekad akan menemui Caren secara jantan. Dia tidak ingin membiarkan Caren menanggung penderitaan seorang diri. Sudah cukup dia membiarkan Caren melalui masa-masa sulit seorang diri selama ini.
Tepat pada pukul 7 malam Dios datang ke rumah kontrakkan Caren, dengan membawa sekotak martabak keju kesukaan wanita yang dicintainya itu.
Tok
Tok
Tok
Krieekkk
Aku membuka pintu, karena aku pikir tetangga samping rumahku yang mengetuk pintu rumah. Namun aku sangat terkejut, saat melihat Dios berada tepat di depan wajahku.
"K-Kak Dios," bibirku bergetar saat menyeru namanya.
Dios menyodorkan sesuatu dihadapanku, namun aku lebih fokus melihat wajahnya. Matanya sangat berbinar saat menatapku, dan tubuhku menegang, saat tiba-tiba Dios memelukku dengan erat.
"Aku merindukanmu sayang," ucap Dios lirih.
Perlahan aku mendorong tubuh Dios, karena aku sadar dia sudah memiliki istri. Meski aku ingin, tapi aku juga harus membatasi diri. Kini pikiranku jadi beralih pada kejadian seminggu yang lalu, aku jadi berpikir itu adalah nyata.Dan tentu saja Dioslah pelakunya.
Aku menghela nafas, aku tidak mungkin mengusirnya. Aku akan memperlakukan dia sebagai tamu, dan akan bertanya apa maksud dari perbuatannya itu.
"Masuklah kak," ujarku sembari membuka lebar pintu rumahku.
"Maaf tidak ada kursi. Aku cuma ada karpet kecil ini saja," sambungku namun sama sekali tidak di timpali oleh Dios.
Ceklekkk
__ADS_1
Dios menutup pintu rumahku dan sekaligus menguncinya. Tubuhku berbalik, sembari mengerutkan dahi kearahnya.