
"Ba-Bagaimana mungkin?" bibirku gemetar. Bayang-Bayang kematian mantan suamiku itu terasa begitu dekat.
"Entah siapa yang membawa penyakit itu pertama kali. Mungkin ini ada kaitannya saat kami mengadakan pesta kaum gay, ketika ulang tahun teman kami di salah satu klub malam." Jawab Delano.
"Ano. Sudah berulang kali aku katakan padaku, berhentilah melakukan hubungan laknat seperti itu. Kenapa kamu tidak mengerti juga. Sekarang ketakutanku terjadi bukan?"
Dios bertanya lewat alisnya, namun aku memberikan isyarat agar Dios menunggu penjelasanku setelah aku selesai.
"Nasi sudah menjadi bubur Caren. Lagipula aku memang tidak bisa membohongi perasaanku, aku memang tidak menyukai wanita. Kalau untuk orang yang memiliki orientasi normal, tentu tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan."
"Tapi Caren. Ada hal yang lebih penting dari itu. Itulah tujuanku menelpon kamu. Karena itu baru dugaanku, aku juga menduga kalau pasanganku itu sudah terinfeksi virus karena sering jajan tanpa sepengetahuanku. Tapi entahlah, aku tidak bisa menduga-duganya. Aku sangat stres saat ini," ucap Delano.
"Apa Pasanganmu juga kena?" tanyaku.
"Ya. Sekarang bahkan dia jadi bercerai dengan istrinya. Beruntung istrinya sudah lama tidak dia gauli, jadi dia dinyatakan negatif." Jawab Delano.
"Jadi kamu ada dimana sekarang?" tanyaku.
"Aku ada dirumah kita. Aku diasingkan oleh kedua orang tuaku dan saudaraku. Mereka sangat syok saat tahu kalau aku terkena penyakit terkutuk ini. Karena takut tertular, mereka melarangku datang kerumah. Jangankan mereka, bahkan pelayan dirumahku saja sudah mengundurkan diri semua." Jawab Delano.
"Ano kamu harus semangat ya? jangan jadikan penyakitmu itu sebagai beban. Banyak kok yang kena penyakit itu bisa bertahan hidup lama. Yang penting kamu harus rajin berobat untuk menekan penyakit itu," ucapku.
"Caren. Aku menelpon karena aku juga ingin memastikan padamu," ujar Delano.
"Memastikan? memastikan apa?" tanyaku.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya aku terinfeksi virus ini. Ditakutkan saat kita menikah, ternyata aku sudah terkena saat itu. Karena jujur saja, aku sudah melakukan hubungan seperti itu, sejak aku masih duduk dibangku SMA."
Jawaban Delano sangat mengguncang perasaanku. Tubuhku tiba-tiba jadi gemetar, aku tahu persis apa yang ingin Delano katakan padaku.
"Kalau itu benar, aku takut kamu juga tertular Caren, tidak hanya kamu. Suami dan anakmu ada kemungkinan kena juga," sambung Delano.
Pyaaaaaarrrrrr
Ponsel yang aku pegang jatuh terhempas ke lantai. Tubuhku limbung dan nyaris ikut ambruk, kalau saja Dios tidak menahan tubuhku dari belakang.
"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Dios yang cemas, karena melihat wajahku yang pucat pasi.
"K-Kak. Delano positif HIV." Jawabku dengan bibir bergetar.
"Benarkah?" tanya Dios.
"Ya. Sekarang yang jadi persoalannya adalah, dia sudah melakukan hal itu sejak SMA. Dia tidak tahu kapan sudah terinfeksi penyakit terkutuk itu,"
"Jadi?" tanya Dios yang belum juga mengerti arah pembicaraanku.
__ADS_1
"Delano nelpon karena ingin mengatakan, ada kemungkinan kalau aku juga terinfeksi saat menikah dengannya. Dan otomatis bisa jadi kakak dan anak kita juga kena kak."
Jawabanku membuat Dios melepaskan pelukkannya dariku. Dia menatap kearahku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit. Untuk memastikannya kita harus memeriksakan diri," ujar Dios.
"Kak. Aku takut. Bagaimana kalau ternyata kita jadi terinfeksi juga?" tanyaku dengan air mata yang berderai.
Dios terdiam. Aku bisa melihat ada raut wajah marah disana. Entah dia ingin marah pada siapa. Tapi yang jelas kalau itu benar, aku jadi ikut merasa bersalah karena dia berhubungan denganku.
"Apapun itu, kita harus memeriksakan diri dulu. Jagan mudah panik. Kasihan anak kita yang ada dalam kandunganmu itu," ujar Dios.
"Hiks...aku takut kak. Aku takut...hiks,"
Dios kembali memelukku karena ingin menenangkan aku yang tengah gemetar saat ini. Setelah aku sedikit tenang, aku dan Dios akhirnya memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri ke rumah sakit besar.
"Kapan hasilnya akan keluar dok?" tanya Dios.
"Tunggu sekitar 30 menit ya pak," ujar dokter.
Aku menciumi Marta. Aku sudah pasrah kalau memang aku juga terinfeksi virus itu. Tapi aku berharap anak-anakku tidak mengalami nasib serupa. Membayangkan hal itu sungguh membuatku ketakutan.
Sementara itu ditempat berbeda, Delano tampak menangis sesegukkan. Dia sesaat menatap kearah cctv rumahnya dan kemudian bangkit dari tempat duduk dan naik keatas. Ponsel yang dia tinggalkan diatas meja tampak berderit, namun berapa kalipun ponsel itu berderit, Delano tidak mengetahuinya.
Saat menuju pulang ke rumah, kami saling berdiam diri didalam taksi yang kami tumpangi. Kami larut dalam pemikiran masing-masing. Dan tanpa terasa kamipun sudah tiba di rumah.
Dios mengajakku duduk di ruang tamu, dan hasil test kami dia letakkan diatas meja.
"Sayang. Aku sudah memikirkannya disepanjang jalan kita pulang ke rumah ini. Aku sudah memutuskan, apapun hasil dari test ini nanti, kita harus saling menerima apapun hasilnya. Semua yang terjadi pada kita, itu adalah kehendak Tuhan. Kita tidak perlu menyesalinya lagi," ujar Dios.
"Hiks...maaf. Gara-Gara aku kakak jadi kena. Gara-Gara berhubungan denganku, kakak jadi terkena sial. Hiks...maaf," air mataku sudah tidak terkendali lagi.
"Hey...sayang. Itu kan belum tentu. Kita belum membuka hasilnya. Pokoknya apapun yang terjadi, kita harus ikhlas. Apapun yang sudah terjadi, tidak bisa diubah lagi. Kita harus berlapang dada atas ketetapan Tuhan. Mungkin dengan ini Tuhan ingin memperingatkan kita, agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi," ujar Dios.
"Apa kamu punya niat tertentu kalau hasil test kita ini negatif?" tanya Dios.
"Aku ingin memberi sumbangan pada penderita HIV dan juga para anak yatim di panti asuhan." Jawabku dengan mantap.
"Itu bagus. Aku akan mendukungmu, ini kesempatan kita untuk membantu Sekar menyalurkan rejekinya buat sedekah. Karena dia pernah nitip amanat padaku. Pokoknya apapun hasilnya, kita akan tetap bersedekah," ujar Dios yang langsung kuangguki.
"Hasil siapa dulu nih yang mau dibuka?" tanya Dios yang masih dengan santai bercanda.
"Kak...." mataku mendelik, karena aku sama sekali tidak suka dengan candaannya itu.
Dios kemudian meraih hasil test milikku. Mungkin Dios pikir dengan membuka hasil test milikku, maka hasilnya akan mengikuti. Aku tertunduk takut, sembari meremas jariku satu sama lain.
__ADS_1
Perlahan Dios merobek ujung amplop berwarna putih dan menarik kertas didalamnya yang sudah terlipat menjadi 3 bagian. Dios membaca kata demi kata isi tulisan di kertas itu, dan saat hasilnya dinyatakan negatif, Dios malah berpura-pura memasang wajah sedih dan menangis. Mungkin dia lupa dengan kondisiku yang tengah hamil saat ini. Belum mengetahui hasil yang sebenarnya, aku malah jatuh pingsan lebih dulu.
*****
"Sayang. Hey...kamu sudah bangun?" tanya Dios.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Dios, aku malah kembali terisak saat teringat hasil test yang sudah kami jalani.
"Hey...maafin aku sayang. Aku hanya ingin bercanda. Maafkan aku, karena aku lupa kalau kamu sedang hamil. Maaf ya yank?"
Tangisku tiba-tiba mereda saat mendengar ucapan Dios. Aku masih ingin memastikan ucapan Dios yang belum sepenuhnya aku pahami.
"Maksud kakak apa?" tanyaku.
"Jadi hasil dari test itu kita berdua dinyatakan negatif." Jawab Dios.
Mataku membulat, dengan mulutku yang menganga.
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
"Kakak jahil ya? mau bunuh aku ya? biar cepat jadi duda lagi, terus kawin lagi. Kalau aku mati aku hantuin kakak,"
Tanganku terus memukul-mukul Dios karena kesal akan kejahilannya itu. Tapi bukannya kesakitan, dia malah tertawa keras saat menerima pukulanku itu. Setelah aku lelah, dia memelukku dengan erat.
"Kita harus segera kembali ke Yogya untuk melaksanakan niat sedekah kita," ujar Dios.
"Emm. Kak,"
"Hem?"
"Apa aku boleh minta satu permintaan sebelum kita kembali ke Yogya?" tanyaku.
"Katakan! aku akan menuruti semua permintaanmu." Jawab Dios.
"Aku ingin sebelum kita pergi, kita menemui orang tua Delano dan juga Delano. Saat ini Delano sedang dijauhi seluruh keluarga dan kerabatnya, karena mereka menganggap penyakit Delano seperti penyakit kutukkan. Mereka beranggapan penyakit itu menularnya sangat cepat. Mungkin mereka takut jika serumah dengan Delano,"
"Sebagai orang berpendidikkan dan mengerti, kita harus meluruskan anggapan yang salah itu. Kasihan Delano kak. Disaat seperti ini seharusnya dia jangan dijauhi, tapi harusnya dirangkul dan diberikan semangat," sambungku.
Dios tersenyum kearahku, dia kemudian mengangguk setuju.
__ADS_1