
"Sekar. Aku punya rencana ingin mengembangkan usaha kita ini di kota lain. Bagaimana menurutmu?" tanya Dios.
"Aku tidak masalah. Tapi itu artinya kamu akan meninggalkan aku sendiri disini?" tanya Sekar.
"Ya tidak begitu juga. Kamu bisa ikut kemanapun aku pergi." Jawab Dios.
"Aku lelah kalau harus mengikutimu kesana kemari. Usiaku sudah tua," ujar Sekar.
"Kalau tempatnya sudah ketemu yang sesuai, palingan aku akan mengontrolnya sesekali," ucap Dios.
"Kota mana yang kamu inginkan?" tanya Sekar.
"Bandung. Aku yakin prospeknya sangat bagus disana." Jawab Dios.
"Tapi kalau kamu tidak mengizinkan, ya tidak usah," sambung Dios.
"Mana mungkin. Aku akan selalu mendukungmu. Kamu masih muda, kamu pasti bisa mengembangkan usaha ini," ucap Sekar.
Dios memeluk Sekar. Dirinya memang ingin mengembangkan usaha itu. Tapi saat ini keinginan dirinya yang ingin mengembangkan usaha, harus dibarengi dengan ucapan dusta.
"Maafkan aku Sekar. Aku belum bisa menceritakan tentang Caren padamu. Sekarang situasinya sudah berbeda. Kamu sudah memiliki perasaan padaku, dan aku harus menjaga perasaanmu itu semampuku. Nanti kalau saatnya sudah tepat, aku akan jujur padamu," batin Dios.
"Jadi kapan kamu akan mulai merintis usaha dibandung?" tanya Sekar.
"Aku akan mencari lokasinya dulu. Tapi mungkin aku akan dibandung sedikit lebih lama. Karena harus mencari lokasi yang cocok bukan? atau kamu mau ikut kesana?" tanya Dios.
"Tidak. Nanti saja kalau pas peresmian dibuka, aku akan datang kesana. Kalau kamu butuh sesuatu, atau ada yang tidak mengerti, kamu boleh bertanya denganku nanti," ujar Sekar.
"Tentu. Ya sudah, kalau gitu aku mau berkemas. Nanti urusan klub biar aku serahkan pada orang kepercayaan kita," ucap Dios.
__ADS_1
"Iya. Nanti urusan klub disini biar aku bantu juga," ujar Sekar.
Dios tidak ingin membuang banyak waktu lagi. Pria itu segera menurunkan koper dari atas lemari. Namun saat dia membuka kopernya, matanya terpaku pada sebuah kotak berwarna merah. Sekar sekilas melihat ekspresi Dios, saat pria itu melihat kotak di dalam koper itu. Dios pura-pura tidak perduli dengan kotak itu, dan segera memasukkan beberapa pakain ke dalam koper.
"Pergilah dengan pesawat agar cepat sampai," ujar Sekar.
"Iya." Jawab Dios.
"Malam ini biarkan dulu tubuhmu istirahat dengan tenang," ujar Sekar.
"Emm." Dios mengangguk.
Dios menuruti apa yang Sekar katakan. Dirinya segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dios memejamkan mata, saat tubuhnya tengah disiram oleh air shower dari atas kepalanya.
"Apa keputusanku membohongi Sekar sudah benar? tapi aku memang ingin memperluas bisnis disana, tapi sembari menemui Caren. Hah...kenapa aku jadi terjebak situasi seperti ini," batin Dios.
"Aku tidak bisa menyakiti Sekar. Dia sudah sangat baik padaku. Tapi aku juga tidak mungkin mengabaikan orang yang kucintai, terlebih dia tengah mengandung anakku saat ini. Entah apa yang akan Sekar pikirkan, saat tahu aku sudah membohonginya dan bertemu Caren diam-diam di belakangnya,"
Dios tidak ingin membuat Sekar jatuh terlalu dalam dengan perasaannya, meskipun sebenarnya Sekar sangat berhak. Dios bergegas mencari baju di dalam lemari, namun gerakkan tangannya terhenti saat tiba-tiba Sekar memeluknya dari belakang. Tangan Sekar bergerak dengan lembut, meraba otot-otot diperutnya. Otot yang menjadi daya tariknya sebagai seorang pria.
Dios menelan ludahnya. Jujur saja, lama tidak menyentuh intin wanita, dirinya merasa cukup terganggu dengan sentuhan itu. Saat belum bertemu dengan Caren, Dios sudah pernah ingin memberikan hak pada Sekar. Tapi Waktu itu Sekar menolak. Dan sekarang Dios bertemu kembali dengan Caren, dan dia hanya ingin menyentuh Caren saja. wanita yang masih sangat dicintainya itu.
Sekar tiba-tiba menyelinapkan tangannya pada sesuatu yang berada dibalik handuknya. Tentu saja benda itu langsung tegang sempurna.
"Ya Tuhan...aku harus bagaimana sekarang? Sekar memang istriku, tapi milikku hanya punya Caren. Bagaimana caranya agar aku bisa menolak Sekar," batin Dios.
"Sayang. Aku menginginkanmu," bisik Sekar.
Jujur saja Sekar sangat takjub saat memegang kejantanan Dios yang ukurannya luar biasa. Milik Dios juga terlihat kokoh dan tangguh.
__ADS_1
"Se-Sekar. Bisakah kita melakukannya lain kali? hari ini aku benar-benar lelah," ucap Dios sembari melepaskan tangan Sekar dari kepemilikkannya.
Sekar menatap mata Dios, Dios segera menghindari tatapan itu. Dan bergegas mencari bajunya dan mengenakannya.
"Apa ini hanya perasaanku saja? Dios sepertinya sedang menghindariku. Sepertinya dia tidak suka aku menyentuh milik pribadinya. Apa setelah bertemu Caren kembali dirinya jadi berubah pikiran?" batin Caren.
"Apa aku ini teralu egois? tapi apa salahku? bukankah itu sudah menjadi hakku?"
"Ayo kita tidur," ujar Dios sembari menarik tangan Sekar.
Sekar hanya bisa menuruti kemauan Dios, tanpa berkata apapun. Setelah Dios berbaring, pria itupun menutup matanya rapat-rapat. Sekar hanya menatap wajah suaminya yang bergaris tegas.
"Maafkan aku Sekar. Aku belum bisa memberikan hakmu. Entah sampai kapan aku begini padamu. Yang pasti aku harus bertemu Caren dulu," batin Dios.
Sekar kemudian berbalik badan dan membelakangi Dios. Dios perlahan membuka matanya dan menoleh kearah Sekar.
"Aku tahu kamu pasti kecewa dengan sikapku. Tapi maaf Sekar, sejak awal kamu sudah tahu kalau hatiku sejak awal memang hanya milik Caren," batin Dios.
Dios akhirnya berbalik badan, dan kembali memejamkan matanya. Tidak butuh waktu yang lama, Dios akhirnya jatuh tertidur.
*****
Keesokkan harinya....
Aku menggeliatkan tubuhku. Aku rasakan bagian punggung, pinggang dan kakiku terasa pegal. Kemarin pelanggan yang membeli bunga cukup membludak, bahkan kami sampai kualahan melayani pelanggan.
Yah...saat tiba di kota Bandung, aku memang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung mencari kerja di dekat tempat tinggalku. Beruntung ada toko bunga yang mau menerimaku bekerja, dan bisa memaklumi keadaanku.
Oh ya, aku juga bahkan bertemu dengan mantan istri Dios. Dia sempat mengataiku, tapi aku tidak perduli. Mungkin saat dia tahu aku sedang mengandung buah cintaku dengan Dios, biji matanya akan melebar. Sekarang kota Bandung adalah kota masa depanku. Aku akan membesarkan anakku sendiri, dan belajar melupakan masa laluku yang indah. Dan Dios, pria itu tetap akan menjadi kenangan terindahku dan juga ayah dari anakku.
__ADS_1
Hari ini aku harus bergegas bangun. Karena mendekati akhir tahun, pesanan bunga jadi bertambah banyak. Beruntung aku pernah belajar seni merangkai bunga ketika aku kuliah dulu. Jadi aku tidak kesulitan. Selain itu aku memang pribadi yang menyukai bunga dan bercocok tanam. Entah sampai kapan aku disini, yang pasti aku cukup bahagia disini.