
Aku menggeliat ke kiri dan ke kanan, ketika aku bangun tidur. Hari ini aku harus bangun pagi, karena hari ini aku harus masuk bekerja kembali. Setelah kesadaranku pulih penuh, aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku menjalankan kewajibanku sebagai mahluk Tuhan.
Aku mematut diriku di cermin. Aku oleskan sedikit bedakku dan juga lipstik agar tidak terlalu pucat. Setelah itu aku pergi ke toko bunga, karena pelanggan tetap akan datang setiap dua hari sekali. Dan menurut perhitunganku, hari ini pelanggan yang aku layani tempo hari pasti akan datang kembali.
"Kayaknya sarapan bubur ayam enak nih,"
Aku memutuskan untuk makan bubur ayam sebagai menu sarapanku pagi ini. Setelah menemukan gerobak tukang bubur, akupun memesan bubur yang aku inginkan dan makan dengan tenang.
Setelah selesai sarapan, Akupun melanjutkan perjalananku, untuk menuju toko bunga. Yah...toko bunga tempatku bekerja memang tidak jauh dari tempat tinggalku. Aku bisa menempuhnya dengan berjalan kaki.
Sesuai dugaanku. Saat tiba disana, sudah ada beberapa pelanggan yang menunggu agar toko bunga tempatku bekerja, buka. Aku melihat bosku juga baru datang, dan akupun bergegas membantunya.
Aku ditugaskan oleh bos untuk segera melayani pelanggan, sementara dia dan yang lainnya membuka box kiriman bunga dari langganannya tempat dirinya membeli bunga itu.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat aku bersiap akan menutup toko, dan jam kerjaku juga berakhir di jam itu. Aku kemudian bersiap pulang, karena hari ini sangat melelahkan.
Saat menuju pulang tidak lupa aku mampir ke tempat penjual makanan. Makanan yang akan aku makan saat makan malam nanti. Aku bergegas membersihkan diri saat tiba dirumah. Setelah itu aku membaringkan diri untuk meluruskan pinggangku yang terasa sangat pegal.
__ADS_1
Tanpa terasa akupun tertidur, dan aku terbangun karena mendegar suara adzan dari masjid yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Aku bergegas mencuci mukaku, dan berwudhu. Setelah itu aku menunaikan kewajibanku.
Aku meraih makanan yang aku beli, dan memakannya. Setelah menyantap makan malamku, aku berbaring sembari bermain ponsel. Aku menunggu panggilan adzan kembali, agar setelah itu aku bisa tidur kembali karena sejujurnya aku masih sangat lelah.
Namun tidurku terasa terganggu, saat ditengah malam aku merasakan ada sebuah tangan memelukku dari belakang. Namun aku hanya mendiamkannya saja, karena aku pikir itu hanya sebuah mimpi.
Aku bertambah yakin kalau itu hanyalah sebuah mimpi, saat aku membalikkan tubuhku aku melihat sosok Dios berada tepat didepan wajahku. Aku tersenyum saat melihat sosok itu, terlebih mata kami saat ini sedang beradu. Aku sangat bahagia meski ini hanyalah sebuah mimpi.
"Aku merindukanmu sayang. Meskipun kita bertemu di alam mimpi, itu sudah cukup bagiku. Apa kamu tahu? saat ini aku tengah mengandung buah cinta kita. Kata dokter jenis kelaminnya laki-laki. Aku sangat berharap dia mirip sepertimu, agar aku bisa memilikimu lagi namun dengan versi anak kita,"
Dios kemudian men*ium bi**rku dengan lembut, setelah menyeka air mataku. Aku membalasnya tak kalah lembut. Dan seperti biasa, ci*man itu semakin lama semakin menuntut. Ah...aku membiarkannya meny**tuhku sesukanya. Karena sejujurnya aku merindukan apapun yang ada dalam dirinya maupun dengan s**tuhannya. Mungkin, ini juga karena pengaruh kehamilanku.
Aku merasakan saat tangan Dios mulai men**lajah ku*itku. Aku membiarkannya, menikmati setiap s*ntuhannya. Apa yang dilakukan Dios lakukan padaku, aku juga melakukannya juga padanya. Dan kamipun saling membantu melepaskan pa*aian kami masing-masing.
Dios kemudian perlahan me*baringkan t*buhku diatas tempat tidur. Dia kemudian men*ium keningku sedikit lebih lama. Kemudian turun kemata, hidung dan bi**rku. Dios kumudian men*ium perutku sedikit lama disana. Sungguh aku merasa sangat bahagia saat ini, karena Dios bertemu dengan putraku meskipun cuma di dalam mimpi.
"Sayang. Aku mencintaimu,
__ADS_1
Rasanya mimpi itu terasa begitu nyata, saat kami sudah menyatu. Aku begitu sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Mungkin mata dan hatiku sedang buta saat ini.
Ku kalungkan kedua tanganku di lehernya. Dan aku bisikkan kata-kata cinta, disela kegiatan kami yang semakin panas.
"Aku mencintaimu Dios," ucapku disela nafasku yang terengah oleh hu**mannya.
"Aku juga sangat mencintaimu," ucap Dios dengan nafas yang memburu.
Suaranya begitu nyata terdengar di telingaku. Ingin sekali ku rekam suara itu, agar saat aku terbangun nanti aku bisa memutar suaranya lewat ponselku.
Cukupp lama kami bersatu. Mungkin kami sama-sama saling rindukan, hingga dalam mimpipun aku bisa merasakan detaj jantungnya yang berdebar. Tubuhnya yang mengeluarkan aroma khas laki-laki.
Nafasku dan nafasnya saling memburu. Dios menatap mataku dengan dalam. Aku kemudian men*ium kening, kedua matanya dan terakhir men**cup bi*irnya sebelum akhirnya dia mencabut kepemilikkannya. Dios kemudian membawaku kedalam dekapannya. Karena lelah, aku merasa dalam mimpipun aku merasakan kantuk yang sangat luar biasa. Aku mulai memejamkan mataku, diiringi usapan lembut dikepalaku yang membuat ku terlelap jauh menembus mimpi.
*****
Aku menggeliat, saat ku dengar adzan subuh berkumandang. Tidak seperti malam sebelumnya, saat terbangun kali ini tubuhku sedikit rileks. Ada perasaan senang dan lega kurasakan di dadaku. Aku membuka mataku, namun ada yang aneh dengan tempat tidurku saat ini. Seprei yang kutiduri terlihat kusut dan tidak terpasang dengan benar. Aku tersenyum sendiri, saat mengingat mimpiku tadi malam Mungkin karena aku terlalu menikmati permainan di dalam mimpi, sehingga di dunia nyatapun kamarku kubuat berantakan.
__ADS_1